NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Fakta Yang Tidak Menutup Apapun.

"Benar, ini syndrome cauvade?"

Pertanyaan telak, tanpa basa-basi. Sagara menatap lurus ke mata dokter Raka, seolah menjaga sahabatnya itu agar tak berkelit.

"Dari gejalanya, iya," jawab Raka tenang. "Tapi bisa juga tidak."

"Kau selalu memberi diagnosis abu-abu begini pada pasienmu?"

Sarkas.

Kalau tidak sarkas, bukan Sagara namanya.

Raka, yang sudah terlalu paham, hanya tertawa ringan. "Karena kau pasien istimewa."

Ia mengubah posisi duduk, lalu menatap Sagara lagi. Kali ini wajahnya lebih serius.

"Kalau ini syndrome couvade--kehamilan simpatik--arahnya ke siapa?"

Sagara menunggu.

"Ariana sudah meninggal. Itu faktanya."

"Dan prosesnya--??"

"Aman. Sesuai prosedur." Raka berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Dan dia meninggal seminggu setelah inseminasi itu, Sagara."

Fakta itu seharusnya menutup cerita.

Tapi justru membuka pertanyaan baru.

Agam yang dari awal terlihat santai, kini terlihat menegakkan punggungnya. Mengambil napas pelan.

Sagara menatapnya.

"Ada yang mau dijelaskan?"

Agam diam. Bukan tidak ada. Hanya memilih.

"Ini sudah hari ke empat." Sagara berkata tanpa penekanan. Juga pada kalimat berikutnya. "Harusnya laporannya aku terima di hari ketiga." Dan justru di sanalah tekanannya.

Agam tersenyum ringan. Berkelit.

"Maaf, Bos. Dua hari yang lalu masih sibuk mengurus pernikahan."

Kalau tidak pandai berkelit dari Sagara, bukan Agam namanya.

Raka tertawa kecil. Ia tahu Agam sedang menyindir siapa. "Akhirnya, yang gak pernah mau menikah, malah jadi mantunya kyai."

Agam tertawa agak keras bersama Raka.

Sagara diam. Tawa mereka tak mengusik. Tatapannya tetap datar.

Dan hal itu membuat dua orang di depannya segera mengakhiri aksi menertawakan itu.

"Tentang Ariana--"Agam akhirnya mulai membuka pembicaraan serius.

Ariana. Nama itu disebut beberapa kali.

Siapa dia sebenarnya?

Di keluarga Adinata, garis keturunan bukan sekadar urusan pribadi.

Ia dikelola.

Dijaga seperti aset lain dalam keluarga itu--perusahaan, tanah, atau jaringan bisnis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sagara memahami aturan itu. Ia tahu posisinya sekarang sebagai pengendali jaringan bisnis Adinata tidak benar-benar aman sebelum ia punya keturunan.

Masalahnya, ia hanya tidak pernah merasa perlu menikah.

Bagi Sagara, pernikahan adalah institusi yang terlalu penuh kompromi.

Sementara keluarga Adinata hanya membutuhkan satu hal darinya: penerus.

Karena itu ia memilih cara yang paling sederhana--secara sistem.

Inseminasi.

Prosedurnya dilakukan di Adinata Medical Center. Tertutup. Legal. Dengan persetujuan semua pihak yang terlibat.

Tidak diketahui Adinata yang lain.

Perempuan yang dipilih adalah Ariana.

Bukan orang asing. Ariana adalah penerima beasiswa penuh di Universitas yang dikelola Adinata. Smart, lulusan terbaik dengan nilai cum laude.

Ia kemudian bekerja di salah satu unit riset di bawah yayasan keluarga Adinata. Riwayat kesehatannya jelas, latar belakangnya bersih, dan--yang paling penting bagi keluarga itu--ia berada di dalam lingkaran yang bisa mereka awasi.

Pilihan yang aman.

Setidaknya begitu yang mereka pikirkan saat itu.

Ariana juga menyetujui pilihan itu atas alasannya sendiri. Ia memahami konsekuensi, juga kemungkinan-kemungkinan yang mungkin harus ia hadapi di kemudian hari.

Di sisi lain, Sagara menolak mengenal Ariana. Ia bahkan tidak pernah ingin bertemu langsung dengannya.

Bagi Sagara, jarak itu penting--agar tidak ada ikatan emosional yang terbentuk sejak awal. Dia hanya harus punya anak, tidak yang lainnya.

Pada saat yang ditentukan. Proses inseminasi pun dijalankan.

Semua berjalan sesuai rencana. Aman. Rapi. Tetap rahasia, dan terjaga.

Sampai seminggu setelah prosedur itu dilakukan, Ariana tidak lagi muncul dalam laporan pemantauan.

Tak hanya itu, semua akses komunikasi putus. Keberadaannya bahkan tidak bisa terdeteksi.

Agam yang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres, menelusuri itu diam-diam. Ia memastikan informasi raibnya Ariana tidak sampai lebih dulu ke telinga Sagara.

Sagara sendiri tidak pernah mempertanyakan apapun. Ia sudah menyerahkan semua urusan itu di tangan Agam dan dokter Raka. Ia hanya tahu menunggu hasil. Baginya itu, cukup.

Sampai kemudian, Anjani mendesaknya untuk membawa bukti--kalau ia punya, atau akan punya pewaris.

Saat itulah Sagara meminta dipertemukan dengan Ariana.

Dan pada saat yang sama fakta terkuak, Ariana meninggal dalam sebuah kecelakaan--seminggu setelah proses inseminasi dilakukan.

Dan sejak saat itu, program tersebut dianggap selesai.

Mata rantainya terputus.

Tapi tidak dengan tuntutan Anjani. Sagara harus tetap datang membawa bukti. Dan dari situlah, nama Shafiya kemudian terseret.

Lalu, jika benar sekarang Sagara mengalami syndrome cauvade, arahnya ke siapa? Yang seharusnya mengandung benihnya adalah Ariana.

Dan Ariana telah meninggal, sebelum benih itu sempat bertumbuh.

..

...

Di titik itu kemudian Agam menyampaikan penemuannya terkait kecelakaan Ariana.

Awalnya ia mengira itu hanya musibah biasa. Laporan yang masuk terlalu singkat. Sebuah kendaraan yang kehilangan kendali di jalan luar kota. Ariana meninggal di tempat.

Selesai.

Tapi semakin ia membaca, semakin banyak bagian yang terasa tidak pada tempatnya.

Seperti tidak ada saksi yang benar-benar melihat kejadian itu.

Tidak ada kendaraan lain yang tercatat terlibat.

Bahkan rekaman kamera lalu lintas di jalur tersebut tidak menyimpan apa pun pada jam kejadian.

Seolah satu ruas jalan itu mendadak kosong pada malam itu.

Agam mulai menelusuri lebih jauh.

Ia kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Data medis Ariana di Adinata Medical Center sempat diakses oleh seseorang di luar tim yang menangani prosedur tersebut.

Aksesnya hanya beberapa menit. Tapi cukup untuk mengetahui jadwal inseminasi itu dilakukan.

Cukup untuk mengetahui siapa yang menjalani prosedur itu.

Di titik itulah Agam berhenti menyebutnya kebetulan.

Seseorang rupanya mengetahui program itu. Program yang seharusnya tidak diketahui siapa pun di luar ruangan tersebut.

Dan seminggu kemudian, Ariana mati dalam sebuah kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan.

Kesimpulannya sederhana.

Program inseminasi itu telah bocor.

Dan Ariana--bukan sekadar korban kecelakaan. Tapi Ia dihilangkan.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!