Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 ( Axel berubah )
Sukma yang melihat Axel berlari keluar ruangan Adven tanpa mengenakan atasan, langsung mengejar Axel meski dengan kaki terpincang-pincang, dia tidak tahu apa yang terjadi tapi teriakan Adven dan juga Axel terdengar sampai ke meja miliknya, Sukma khawatir tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun karena Adven pasti akan memarahinya lagi.
"Axel... kamu mau kemana? kantor sudah sepi" panggil Sukma masih terus berusaha mengejar Axel.
"Axel, kaki kakak sakit!" panggil Sukma lagi dan berhasil membuat Axel berhenti lalu berbalik.
"Hiks..."
Tak ada kata kata, hanya isakan yang bisa di lihat Sukma, bahkan semua luka di tubuh Axel juga bisa di lihat Sukma yang langsung membuka blazer yang dia pakai untuk menutupi tubuh kecil Axel yang terlihat kedinginan.
"Tenanglah, ada kakak di sini, kamu akan baik baik saja" bujuk Sukma
"Tidak, Axel tidak akan baik baik saja kalau Daddy menikah dengan perempuan penyihir itu, dia akan membuat Axel mati" jawab Axel memeluk Sukma.
"Jangan bicara seperti itu, Daddy Axel pasti tidak akan melakukan itu, kalau Daddy Axel memilih dia, pasti Daddy Axel juga bisa melihat kalau dia baik untuk jadi mommy Axel" bujuk Sukma
"Tidak, Daddy tidak bisa melihatnya, yang Daddy lihat hanya kebohongan, dia yang asli adalah saat tidak ada Daddy, Daddy juga selalu memperhatikan dia tanpa memperhatikan Axel, Axel mau pergi saja dari Daddy, Axel jadi anak panti asuhan saja karena Axel sama dengan mereka, tidak merasakan kasih sayang orang tua" jawab Axel membuat Sukma semakin memeluknya.
"Axel ayo pulang, Daddy sudah bawa semua berkas untuk di kerjakan di rumah" panggil Adven yang sudah membawa tas kerjanya dan langsung menggendong Axel.
"Lepaskan! Axel mau sama kakak cantik saja tidak aku dengan Daddy!" pekik Axel
"Cukup Axel, kamu baru bertemu dia satu kali, dan Daddy yakin pasti kamu di hasut dia kan! luka ini karena kamu di bully di sekolah, Daddy sudah menelpon Monica dan dia mengatakan itu" ucap Adven
"Hahaha... lagi, sekali lagi Daddy percaya pada dia, Daddy bodoh!" ucap Axel datar
Adven melotot, dia bingung dengan apa yang terjadi pada Axel karena Axel tidak pernah bersikap seperti itu terhadapnya, bahkan begitu kasar dan terlihat liar.
"Daddy tidak akan ijinkan kamu ikut Daddy lagi, dia bawa pengaruh buruk untuk kamu" ucap Adven tegas
"Iya, ambil semuanya, Axel juga tidak punya apapun, mommy Axel nggak ada, Daddy nggak ada, dan kakak cantik juga nggak ada, ambil saja Axel sudah terbiasa!" jawab Axel datar membuat hati Sukma terasa sakit.
"Pak.. Axel sedang marah, dia mungkin akan lebih marah lagi, sebaiknya bapak jangan mengungkit apa yang membuatnya marah" ucap Sukma
"Tahu apa kamu tentang mengurus anak! punya anak saja kamu tidak!" bentak Adven pergi dari sana.
"Ya Allah, lindungi Axel, anak itu tidak tahu apa apa, jangan sampai pak Adven lebih melukai perasaannya" gumam Sukma berjalan tertatih ke arah mejanya lagi.
Sukma sudah berada di depan motornya sekarang, tapi dia bingung bagaimana dia pulang menaiki motornya itu sementara kakinya bengkak dan motornya tidak bisa di starter. matanya melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun jad dia mendorong motornya itu sampai ke depan pos satpam.
"Pak Doyok" panggil Sukma
"Pak Doyok sudah pulang non, dia kan bagian pagi" jawab teman Doyok
"Oh... bisa minta tolong nyalakan motor saya tidak pak, kaki saya terkilir dan tidak bisa menyelah motor" ucap Sukma
"Bisa non, tapi apa tidak sebaiknya non ke rumah sakit saja? biar Jono antar?" tanya satpam bernama Jono itu
"Tidak perlu pak, saya punya minyak urut di rumah, saya akan pakai itu saja" jawab Sukma.
"Baiklah, tapi non hati hati ya, siku non juga berdarah itu, segera di obati" ucap Jono dan Sukma mengangguk dengan buliran air mata yang mulai jatuh karena satpam saja bisa melihat kalau dia terluka, tapi kenapa Adven menganggap apa yang terjadi padanya hanya pura pura.
Brum.
"Ini non, non hati hati naiknya" ucap Jono
"Iya pak, kalau rem saya akan pakai rem tangan saja" jawab Sukma segera melajukan motornya setelah mengucapkan terima kasih pada Jono.
"Kasihan, baru hari pertama kerja sudah babak belur, apa dia bisa bertahan di sini" gumam Jono merasa prihatin.
Sukma sudah menjalankan motor itu dengan pelan, bahkan dia sengaja mengambil jalur pinggir supaya tidak ada motor ataupun mobil lain yang membuat fokusnya terganggu. tapi rasa sakit di kakinya terus menjalar membuatnya tidak fokus saat di belokan dan dia pun terjatuh.
Brak. Bruk.
"Aakhhh! Hiks.. mama, papa" ringisnya memeluk lututnya yang terkena aspal
"Ma... Sukma nggak kuat pusing" lirihnya lalu kesadarannya mulai hilang dan pandangannya semua gelap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Eungh.., di mana aku?"
Sukma terbangun di sebuah kamar asing yang belum pernah dia datangi, tangannya diinfus bahkan bajunya juga sudah di ganti, dia bukan di rumah sakit karena dia tahu bagaimana bentuk kamar di rumah sakit.
"Kakak Cantik!" panggil Axel masuk ke dalam kamar itu dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sukma kebingungan
"Ini rumah Daddy, semalam Daddy mau mengembalikan jaket kakak Cantik, tadinya mau Daddy buang tapi Axel marah, jadi Daddy kembali ke kantor dan saat di jalan kami melihat kakak cantik terjatuh dari motor" jawab Axel memberikan air minum untuk Sukma
"Terima kasih sudah menolong, maaf kakak jadi merepotkan" ungkap Sukma
"Kalau kamu tahu kamu merepotkan, segera pergi dari sini" ucap Adven yang berdiri di depan pintu kamar yang di tempati Sukma
"Daddy! Daddy tahu kalau kakak cantik ini terluka parah, kakinya terkilir saat di kantor Daddy, tangannya juga terluka, di tambah jatuh dari motor, kita sudah sepakat kalau kakak cantik boleh jadi sekertaris Daddy tapi jangan ketus dan jahat pada kakak cantik!" kesal Axel
"Kamu sudah berani melawan Daddy sekarang"
"Itu karena Daddy tidak pintar"
"Kamu mengatai Daddy bodoh!"
"Axel tidak bilang begitu, Daddy yang bilang. stop mengatur Axel, Axel sedang perang dingin dengan Daddy, Axel mau demo kalau Daddy tetap menikahi Tante penyihir itu, Axel akan hancurkan pernikahan Daddy!"
"Axel! itu urusan keluarga Alkhatiri, jangan bicarakan di depan orang lain!"
"Mulai sekarang kakak cantik adalah keluarga Axel selain Oma, Opa, papa Adam dan mama Tsania!" jawab Axel
Adven masuk ke dalam kamar itu dan duduk di samping Axel dengan tatapan tajam.
"Lalu Daddy ini siapa?"
"Daddy akan tetap jadi Daddy Axel kalau tidak menikah dengan Tante penyihir, tapi kalau Daddy menikah dengan dia, Daddy adalah orang lain untuk Axel" jawab Axel membuat Adven mengeratkan rahangnya sambil menatap tajam Sukma.
"Saya akan pulang, apa saya bisa meminjam handphone saya pak, saya mau telepon seseorang" ucap Sukma merasa tak enak melihat tatapan Adven
"Siapa? pacar kamu?" tanya Adven
"Tetangga saya pak"
"Siapa namanya biar saya yang telepon, kamu tulis nomornya di sini" ucap Adven memberikan kertas dan balpoin pada Sukma.
"Ini pak, namanya kak Syahrul, bilang saja kalau Sukma minta di jemput, dia pasti datang" ucap Sukma menyodorkan kertas itu.
"Mirip anjing, yang di panggil majikannya langsung datang" sinis Axel
"Sama Daddy juga, Daddy selalu segera datang kalau Tante penyihir minta tolong, mirip guguk" celetuk Axel membuat mata Adven melotot.
"Dokter bilang kamu harus istirahat tiga hari dan tidak boleh bekerja, tinggal di sini dan rawat anak kurang ajar ini" ucap Adven
"Tapi pak, saya tidak bisa tinggal di sini, saya harus pulang"
"Kenapa kakak cantik tidak mau di sini? Kakak cantik nggak suka sama Axel ya?" tanya Axel mulai berkaca-kaca membuat Adven mengernyitkan alisnya karena anaknya sangat berubah banyak.
"Bukan begitu, kakak sudah merepotkan, jadi kakak tidak mau semakin merepotkan, jangan nangis ya" bujuk Sukma menghapus air mata Axel
"Justru dengan kamu pulang, itu akan semakin merepotkan, siapa yang mau merawat kamu yang sekarang pincang ini di rumah? Di sini ada asisten rumah tangga dan dokter bisa langsung datang saat di telepon!" ucap Adven
"Tapi saya baru satu hari bekerja pak"
"Ya kamu juga di sini tetap kerja, tuh di meja, kamu pisahkan berkas berkas yang tercampur itu, tadi anak ini membuatnya berantakan" jawab Adven lalu pergi untuk bersiap ke kantor.
"Tidak apa apa kakak cantik, nanti Axel bantu, Daddy memang jahat tapi dia juga baik" bujuk Axel membuat Sukma tersenyum manis dan mengusap rambut Axel.