Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN SEORANG PENGGEMAR
Mobil hitam itu melaju senyap meninggalkan area parkir stasiun televisi yang mulai berkabut. Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 03.07. Jalanan Jakarta yang biasanya bengis kini tampak lengang, membiarkan lampu-lampu jalan memanjang di kaca depan seperti goresan cahaya keperakan.
Di dalam kabin, suasana sunyi menyelimuti. Elvario menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang empuk, rahangnya masih tampak tegang meski matanya menatap lurus ke depan. Keletihan yang terpancar dari wajahnya bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan sisa-sisa beban dari ekspektasi ribuan orang yang ia panggul sepanjang hari.
Rizal yang duduk di kursi depan sesekali melirik ke arah kaca spion, memantau situasi di kursi belakang. Adrina duduk tepat di sisi kiri Elvario. Punggungnya masih tegak, tangan bertumpu rapi di pangkuan, sementara matanya mengikuti gerak lampu-lampu kota yang melesat di balik jendela.
"Menurut lo," suara Rizal memecah keheningan, nadanya sengaja dibuat santai, "sebagai asisten... lo tahu kan kita baru pulang jam tiga subuh?"
Adrina menoleh pelan. Ia tidak langsung menjawab—kebiasaan barunya hari ini adalah membiarkan informasi mengendap sebelum bereaksi.
Rizal melanjutkan, "Kira-kira jam berapa besok amannya Elvario mulai shooting? Biar gue bisa segera hubungi orang produksi."
Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan jeda yang penuh antisipasi. Elvario melirik ke arah kaca spion, namun bukan untuk melihat Rizal. Matanya tertuju pada pantulan Adrina.
Tatapan itu tertangkap jelas oleh Adrina, membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ini bukan lagi soal mencatat kebiasaan atau menyiapkan kemeja; ini adalah soal mengambil keputusan yang akan memengaruhi seluruh tim.
Ia menarik napas panjang. "Kalau melihat ritme hari ini," ucap Adrina tenang, "jam enam pagi itu terlalu cepat."
Rizal mengangguk kecil, memberinya isyarat untuk terus bicara.
"Elvario baru benar-benar fokus setelah dua jam pertama beraktivitas," sambung Adrina tanpa ragu. "Dan kalau dia kurang tidur, responsnya menjadi jauh lebih sensitif. Bukan cuma kepada orang lain, tapi juga kepada dirinya sendiri."
Elvario mengangkat sebelah alisnya. Ia terkejut dengan ketajaman analisis perempuan di sampingnya.
"Jadi?" tanya Rizal lagi.
"Jam sepuluh," jawab Adrina mantap. "Itu waktu yang paling aman. Dia punya waktu untuk bangun, mandi dengan tenang, dan sarapan tanpa diburu-buru. Dengan begitu, mood-nya bisa lebih stabil sejak awal."
Keheningan kembali menyergap sesaat, sebelum akhirnya Elvario mengeluarkan tawa pendek. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang baru saja dikejutkan oleh kebenaran.
"Lo cepat juga menyimpulkannya," gumam Elvario.
Adrina menoleh padanya, membalas tatapan itu dengan keberanian yang terukur. "Saya bekerja berdasarkan pengamatan, Mas, bukan sekadar asumsi."
Rizal tersenyum puas di kursi depan. "Oke. Jam sepuluh. Gue atur sekarang."
Mobil kembali hening. Elvario menyandarkan kepala, memejamkan matanya yang terasa berat. Suaranya keluar rendah, hampir terdengar malas namun berisi. "Lo nggak takut salah?"
Adrina terdiam sebentar, menatap kegelapan di luar jendela. "Takut," jawabnya jujur. "Tapi kalau salah, itu bisa dievaluasi. Daripada saya tidak mengambil keputusan sama sekali dan membiarkan segalanya berantakan."
Elvario membuka mata, menatap langit-langit mobil. "Biasanya, asisten gue terlalu takut untuk bicara."
"Saya bukan penggemar Anda," jawab Adrina refleks. Ia baru sadar ucapannya cukup berani setelah kata-kata itu terlanjur meluncur.
Elvario menoleh cepat, alisnya bertaut. "Hah?"
Adrina tetap menatapnya lurus. Tidak menantang, namun tidak pula meremehkan. "Saya bekerja di sini untuk memastikan jadwal dan kondisi Mas berjalan dengan baik. Bukan untuk memuja, apalagi untuk merasa takut."