NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Action / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

LEGENDA SANG PENYIMPANG DAO.

Apa itu Moralitas, Sifat moral telah hilang.

Lu Daimeng.

Disiksa dan dibuang oleh keluarganya sendiri karena tidak memiliki dantian untuk berkultivasi.

Daimeng mencoba membalas dendam atas penderitaan yang telah dilaluinya, dan di tengah keputusasaan Lu Daimeng bertemu sosok entitas kosmik yang memberinya pencerahan.

Sebuah pencerahan tentang kekejian yang membuat moralitas tidak lagi menghambatnya.

Dan akhirnya menapaki sebuah jalan yang disebut ANTI DAO.

Jalan kultivasi yang berbeda dan bertentangan dari dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Yang Tertinggal

Lembah Kematian tidak pernah benar-benar tidur.

Di salah satu tebing atas yang telah hancur lebur—bekas arena pertarungan antara Lu Huang dan Lu Daimeng—sebuah pendar cahaya keemasan tiba-tiba merobek udara yang dipenuhi kabut asam.

VWOOM.

Kraak!!

Sebuah retakan spasial terbuka paksa, terhubung dengan penanda koordinat yang sebelumnya diletakkan oleh Lu Huang sebelum meninggalkan Lembah Kematian. Dari dalam retakan itu, tiga sosok tua melangkah keluar. Mereka adalah Tiga Tetua Agung Keluarga Lu dari Kota Jinting.

Ketiganya berada di Ranah Roh Tahap Puncak, eksistensi yang di dunia luar dianggap sebagai dewa-dewa yang memegang kendali atas hidup dan mati jutaan manusia. Namun di tebing lembah ini, berdiri tepat di bibir Jurang Hitam yang tak berdasar, bahu mereka melengkung turun. Wajah mereka sepucat kertas, dan mata mereka memancarkan kewaspadaan yang berbatasan dengan teror murni.

Mereka baru saja menerima titah mutlak dari Lu Yuelin, sang Penatua Ranah Primordial Suci dari Daratan Tengah: Temukan Lu Daimeng. Jika tidak, Keluarga Lu Kota Jinting akan mendapat hukuman dari wilayah pusat.

"Tahan Qi kalian. Jangan pancarkan aura lebih dari radius lima meter," bisik Tetua Pertama, suaranya serak. Dia melangkah ke bibir jurang, melihat ke bawah menuju kegelapan yang pekat.

"Tekanan dari dasar Jurang Hitam di bawah sana... mengerikan," Tetua Kedua mengusap keringat dingin di dahinya. "Ini adalah zona beracun. Kabut racunnya sangat kental. Bahkan ahli Ranah Roh seperti kita bisa hancur jika terlalu lama berada di bawah sana."

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa—di kedalaman lembah yang terdalam—ada pertarungan antara dua beast tingkat kuno. Karena bagi mereka, batas Lembah ini hanyalah sebatas kabut tebal di depan mata.

"Fokus pada misi kita," potong Tetua Ketiga tajam. "Lu Huang meninggalkan penanda di sekitar sini, dan anak itu dikatakan jatuh ke bawah jurang disana. Kita harus turun melacak sisa auranya sebelum kabut menghapus segalanya."

Tetua Pertama mengeluarkan kompas pelacak dari tulang giok, lalu menuangkan setetes darah Lu Huang ke atasnya. Karena Lu Huang dan Lu Daimeng memiliki pertalian darah genetik, kompas itu akan bergetar menuju lokasi terdekat, lalu jarumnya menukik tajam, menunjuk lurus ke dasar jurang.

"Kita turun. Hati-hati dengan tekanan anginnya," instruksi Tetua Pertama.

Mereka melayang turun ke dalam kegelapan, menggunakan pelindung Qi berlapis-lapis untuk menahan korosi kabut asam. Semakin dalam mereka turun, kerusakan lingkungan menjadi semakin tidak masuk akal. Mereka melihat jejak tebing yang hancur karena benturan saat tubuh Lu Daimeng jatuh.

Setelah turun ribuan meter, jarum kompas itu berhenti dan menunjuk ke sebuah celah di dinding tebing basal yang gelap.

"Gua itu," Tetua Kedua menunjuk. "Ada jejak energi aneh yang merobek bebatuan di sekitarnya. Ini pasti tempat Daimeng terjatuh."

Mereka memasuki gua basal yang sempit dan lembap tersebut. Udara di dalam gua jauh lebih dingin secara tidak wajar, menyisakan hawa Yin yang menusuk tulang. Sebagian dinding gua hancur, mungkin akibat longsoran sebelumnya.

Mereka berjalan menyusuri lorong gua hingga tiba di sebuah ruang tengah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kawah batu kecil yang kering kerontang.

Namun, bukan kawah kosong itu yang menghentikan langkah mereka.

Di tepi kawah, tergeletak sebuah objek yang sangat kecil, namun cukup untuk membuat jantung ketiga ahli Ranah Roh itu berhenti berdetak sesaat.

Tetua Pertama mendekat dengan langkah gemetar. Dia berlutut, mengeluarkan sebuah mutiara pendar untuk menerangi objek tersebut.

Sebuah bongkahan daging seukuran kepalan tangan. Warnanya merah gelap, sebagian besar permukaannya telah menghitam karena pembusukan jaringan (nekrosis) dan sisa-sisa residu elemen api. Di bagian tengah daging tersebut, terdapat sebuah luka sayatan lurus yang sangat rapi—luka tembus yang diakibatkan oleh pedang tipis dan tajam.

"Ini..." Tetua Ketiga bergumam, matanya melebar tak percaya.

"Jantung," jawab Tetua Pertama, suaranya terdengar hampa. Dia menggunakan penjepit spiritual untuk mengangkat organ tersebut dengan sangat hati-hati. "Ini adalah jantung manusia. Dan melihat ukuran serta kepadatan ototnya... ini milik seorang pemuda."

Tetua Kedua menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. "Luka sayatan di tengah ini... ini cocok dengan deskripsi Lu Huang. Pedang Giok Teratai Ungu milik Lu Zhuxin menembus jantung anak itu dari belakang."

Ketiga pria tua yang telah hidup ratusan tahun itu saling berpandangan dalam keheningan yang suram. Logika dunia kultivasi berputar di otak mereka, mencoba merasionalisasi apa yang ada di depan mata.

"Apakah mungkin... ada binatang buas yang menemukannya, lalu memakan tubuhnya dan menyisakan jantung ini karena sudah membusuk akibat pedang itu?" tanya Tetua Ketiga, mencari penjelasan yang paling masuk akal.

Tetua Pertama mengangguk pelan. Dia memeriksa pangkal jantung tersebut.

"Melihat urat nadinya... daging ini terkoyak kasar. Sangat mungkin binatang buas menariknya keluar saat mencabik mayatnya," analisis Tetua Pertama, meyakinkan dirinya sendiri. Pikiran bahwa Lu Daimeng mencabut jantungnya sendiri lalu berjalan pergi sama sekali tidak melintas di benaknya, karena hal itu bertentangan dengan hukum kehidupan paling mendasar.

"Yang pasti, tanpa jantung ini, tidak ada satu pun makhluk fana maupun kultivator yang bisa bertahan hidup," putus Tetua Pertama. Dia mengambil sebuah toples kristal penahan waktu dari cincin penyimpanannya. Dia meletakkan jantung busuk itu ke dalam toples dan menyegelnya rapat-rapat.

"Bukti ini sudah mutlak," lanjutnya, berdiri dengan wajah yang sedikit lebih lega. "Jantungnya tertinggal. Lu Daimeng dipastikan telah mati, entah karena lukanya atau dimakan binatang buas dasar jurang. Yang penting, kita punya bukti untuk Patriark."

Mereka bertiga mencoba memperluas pencarian mereka untuk mencari sisa tulang belulangnya, namun tanpa hasil. Terlebih lagi, raungan beast yang samar dari kedalaman lembah membuat bulu kuduk mereka berdiri. Mereka tidak ingin menjadi santapan berikutnya.

"Kita kembali," perintah Tetua Pertama. "Tugas kita selesai. Bencana ini telah berakhir."

Enam Jam Kemudian – Kota Jinting, Kediaman Utama Keluarga Lu.

Ruang kerja pribadi Patriark Lu Daihong tidak seperti aula takhta yang megah. Ruangan ini dipenuhi oleh rak-rak buku kuno, gulungan perkamen strategi, dan artefak-artefak pertahanan.

Di sanalah Lu Daihong duduk. Zirahnya telah dilepas, dadanya dibalut oleh perban putih yang merembeskan sedikit darah akibat serangan Lu Yuelin. Tulang rusuknya telah disatukan kembali, namun rasa sakit dan penghinaan di hatinya belum pudar.

Di depannya, meja kayu eboni yang mengkilap menjadi pusat perhatian.

Di atas meja itu, berdiri toples kristal yang berisi jantung manusia yang telah menghitam.

Tiga Tetua Agung berdiri dengan sikap hormat, sementara Lu Huang—yang lengannya telah diperban dan duduk di kursi—menatap toples itu dengan mata terbelalak lebar. Di sudut lain, beberapa saudara Lu Daimeng, termasuk anak Keempat dan Ketiga, berkumpul dengan wajah tegang.

"Kalian yakin tidak menemukan sisa tubuhnya?" tanya Lu Daihong, suaranya rendah dan serak.

"Tidak ada, Patriark," lapor Tetua Pertama, menundukkan kepalanya. "Jurang itu telah menjadi sarang monster. Kemungkinan besar jasadnya telah habis dimakan binatang buas. Tapi bukti ini mutlak. Jantung ini... adalah jantung Lu Daimeng. Luka tembusnya sangat identik dengan pedang Nona Zhuxin."

Lu Huang menghembuskan napas panjang. Udara yang seolah mencekik lehernya sejak pergi dari Lembah Kematian akhirnya terlepas sesaat.

"Dia mati," bisik Lu Huang, senyum lega yang bodoh mulai merekah di bibirnya yang pucat. "Iblis itu benar-benar mati! Tusukan Zhuxin berakibat fatal. Dia hanya memaksakan diri untuk menyerang balik sebelum akhirnya jatuh dan dimakan binatang buas."

"Syukurlah kepada Surga!" Kakak Ketiga menepuk dadanya, nyaris menangis karena lega. "Ancaman yang bisa menghancurkan klan kita telah lenyap! Kita—"

BRAKK!

Meja eboni itu retak akibat hantaman tinju Lu Daihong. Aura Ranah Kuno Tahap 3 meledak, melempar Anak Ketiga-nya hingga menabrak rak buku.

"Aman? Kau bilang AMAN?!" raung Lu Daihong, wajahnya tidak menunjukkan kelegaan, melainkan teror yang memucat. Matanya melotot liar menatap anak-anaknya yang berpandangan sempit.

Senyum Lu Huang langsung lenyap seketika.

"Apakah otak kalian semua sudah tumpul?!" Lu Daihong menunjuk ke arah toples kristal itu dengan jari gemetar. "Tetua Yuelin menginginkan anak itu HIDUP! Dia mengatakan dengan jelas bahwa jika anak itu mati, Keluarga Lu Jinting akan di hukum! Kematian iblis ini bukan keselamatan kita, ini adalah vonis hukuman kita dari Daratan Tengah!"

Kesunyian yang mencekik langsung melanda ruangan itu.

Kelegaan yang baru saja muncul dihancurkan oleh palu realitas. Anak Ketiga yang tadi bersorak kini berlutut sambil memegangi kepalanya, gemetar ketakutan. Lu Huang menatap jantung di atas meja itu, baru menyadari bahwa daging busuk itu adalah bom waktu yang akan meratakan seluruh kediamannya.

"P-Patriark..." Tetua Pertama menelan ludah, keringat dingin membasahi punggungnya. "Lalu... apa yang harus kita lakukan? Apakah kita sembunyikan penemuan ini? Kita katakan dia belum ditemukan?"

"Dan berbohong pada seorang Saint yang bisa membaca jalinan takdir?" Lu Daihong tertawa getir, tawa orang yang sudah putus asa. "Itu hanya akan memperburuk hukuman kita."

Lu Daihong merosot kembali ke kursinya, terlihat menua sepuluh tahun dalam satu tarikan napas.

"Kirimkan pesan ke Daratan Tengah," perintah Lu Daihong dingin, suaranya hampa. "Beri tahu Tetua Yuelin bahwa kita telah menyisir dasar Jurang Hitam. Kirimkan toples jantung ini sebagai bukti bahwa kita tidak berbohong. Lu Daimeng dipastikan tewas."

"T-tapi Ayah, mereka akan mempersulit kita!" Lu Huang memprotes dengan panik.

"Maka bersiaplah!" bentak Lu Daihong. "Aktifkan seluruh formasi pertahanan tertinggi! Kumpulkan semua Tetua! Kita hanya bisa memohon belas kasihan, atau setidaknya... membuktikan bahwa kematiannya di luar kendali kita. Sekarang, keluar dari ruanganku!"

Keputusan telah dibuat dengan penuh keputusasaan. Di mata Keluarga Lu Kota Jinting, babak mimpi buruk bernama Lu Daimeng memang telah berakhir, tapi digantikan oleh kiamat yang jauh lebih pasti dari Keluarga Inti.

Mereka menunggu dalam ketakutan, menghitung mundur hari menuju hukuman mereka.

Bersambung.....

1
Melati Sukma
🔥🔥🔥
Sutono jijien 1976 Sugeng
bapak bego ga ketulungan
CXL Chaos: bapaknya tipe orang yang gak mau disalahin, dan tipe orang yang gak mau ngaku salah.
total 2 replies
CXL Chaos
Lanjut Thor🔥🔥😈
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp😈👍
total 1 replies
CXL Chaos
bener bener iblis thor anak kecil pun dipanen😳🥺
EGGY ARIYA WINANDA: Hehehe😈😈
total 1 replies
Melati Sukma
🔥🔥🔥
CXL Chaos
gas terus thor🔥🔥
EGGY ARIYA WINANDA: Sip😂🔥🔥
total 1 replies
Melati Sukma
Lanjut😈🔥🔥🔥
EGGY ARIYA WINANDA: Gass🔥🔥🔥
total 1 replies
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!