⚠️MC NON MANUSIAWI‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kematian 8
Keheningan di dasar gua itu terasa absolut, namun bukan jenis keheningan yang damai. Itu adalah keheningan dari sebuah makam yang isinya baru saja bangkit.
Lu Daimeng melangkah keluar dari kawah batu yang kini kering kerontang. Tubuhnya yang baru saja ditempa ulang bergerak dengan keagungan mematikan. Tidak ada lagi sisa-sisa kelemahan manusiawi di dada kirinya; tidak ada lagi detak jantung yang rentan. Di balik dada kanannya, Jantung Naga Hitam berdetak lambat, anggun, namun memompa tenaga murni ke seluruh jaringan selnya.
Di dalam perutnya, sembilan Singularitas Anti-Dao berotasi dalam harmoni yang mengerikan, menciptakan gaya gravitasi internal yang menyerap setiap partikel energi Yin yang tersisa di udara. Kapasitas energinya kini setara dengan Ranah Roh Tahap 1, namun kepadatan destruktifnya berada di tingkat yang sama sekali berbeda.
Langkah kaki telanjangnya menginjak bebatuan basal yang membeku. Dia berjalan menuju mulut gua, bersiap untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam permainannya dengan Keluarga Lu.
Namun, dunia kultivasi tidak pernah membiarkan sebuah pencurian sebesar ini berlalu tanpa konsekuensi.
BUM... BUM... BUM...
Bumi di luar gua mulai bergetar. Getaran itu tidak acak seperti gempa bumi, melainkan memiliki ritme yang teratur. Langkah kaki. Sesuatu yang sangat masif sedang mendekat.
Suhu udara yang seharusnya sudah sangat dingin akibat residu Air Mata Yin, mendadak berubah menjadi padat. Kabut hitam beracun di luar gua tersapu bersih, seolah-olah alam itu sendiri menyingkir untuk memberikan jalan kepada sang penguasa yang sebenarnya.
Lu Daimeng berhenti di mulut gua. Enam pupilnya (Triple Pupil ganda) menyipit, menyesuaikan fokus ke dalam kegelapan jurang.
Sebuah bayangan raksasa melangkah keluar dari kegelapan.
Tingginya mencapai 30 meter. Bentuk fisiknya menyerupai perpaduan antara singa raksasa, rusa jantan, dan naga. Sisiknya memancarkan kilau biru langit yang menyilaukan, bertolak belakang dengan lingkungan Jurang Hitam yang kelam. Di sekujur tubuh bersisiknya, terukir rune-rune alam kuno yang menyala keemasan, berdenyut seirama dengan napasnya. Di kepalanya, sepasang tanduk yang menyerupai pilar batu giok menusuk ke atas, memancarkan kilatan petir surgawi.
Itu adalah Kirin Kuno Pilar Langit (Ancient Pillar Sky Kirin).
Meskipun secara umur monster ini masih tergolong "muda" untuk spesiesnya, aura yang dipancarkannya tidak bisa dibantah oleh akal sehat manusia mana pun.
Ranah Kuno Tahap 5 (Ancient Realm Stage 5).
Satu ranah besar + lima tahap kecil di atas Lu Daimeng. Perbedaan kekuatan di antara mereka sama seperti jurang antara bayi kucing dan Singa dewasa.
Mata Kirin itu yang sebesar kereta kuda menatap langsung ke arah Lu Daimeng. Hidungnya mengendus udara. Bau kolam Yin Murni—harta karun yang telah dijaganya sejak ia menetas, yang sengaja ia simpan untuk ritual kedewasaannya—kini memancar kuat dari setiap pori-pori manusia setinggi 2,1 meter di depannya.
Manusia itu telah meminum airnya. Mencuri warisannya.
"ROOOOOAAAAARRRRRR!"
Auman Kirin itu tidak hanya berupa suara. Itu adalah gelombang sonik yang secara harfiah menghancurkan realitas. Dinding basal gua tempat Lu Daimeng berdiri langsung retak menjadi bubuk. Tekanan udara menekan dada Lu Daimeng seperti palu raksasa.
Lu Daimeng tidak terkejut, tidak juga panik. Otaknya segera melakukan analisa.
"Kirin Kuno Tahap 5. Tubuh fisik: Setara pusaka tingkat saint. Elemen: Petir Surgawi dan Hukum Ruang. Tidak mungkin bisa menang. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah kabur."
Dalam seperseribu detik sebelum auman itu menghancurkan tubuhnya, Lu Daimeng merespons.
SREET!
Logam hitam cair melesat dari pori-pori tangannya, memadat menjadi Pedang Jiwa Surgawi. Dia melapisi bilah pedang itu dengan Dark Null pekat dari sembilan Anti Dao-nya, lalu mengayunkannya lurus ke arah cakar raksasa Kirin yang menampar turun ke arahnya.
TRANGGGGG!
Bunyi logam beradu bergema. Percikan api seukuran rumah meledak di titik benturan.
Tangan Lu Daimeng mati rasa seketika. Tubuhnya terdorong mundur sejauh sepuluh meter. Dia melihat ujung pedangnya—pedang yang bahkan bisa menembus Fisik Berlian Kristal milik Lu Huang—hanya meninggalkan goresan putih tipis yang tidak lebih tebal dari sehelai rambut di atas sisik Kirin tersebut.
Tidak tembus. Kepadatan Dark Null pada tingkatannya saat ini belum cukup untuk memakan hukum Ranah Kuno Tahap 5 dalam waktu singkat.
"Keras," gumam Lu Daimeng dingin.
Menyadari raungan tidak mempan, Kirin itu semakin murka. Ia mengangkat tanduk gioknya ke atas. Rune di tubuhnya menyala terang.
"Mati kau, pencuri!" Suara telepati purba yang berat menghantam pikiran Lu Daimeng.
Seketika, ruang dalam radius seratus kilometer berubah warna menjadi biru transparan. Dunia luar menghilang. Hukum gravitasi dan waktu di dalam area itu diambil alih secara paksa.
Domain Kirin Langit: Penjara Pilar Langit.
Tubuh Lu Daimeng membeku di udara. Dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun. Tekanan domain ini menyegel segalanya secara mutlak. Bagi makhluk apa pun di bawah Ranah Kuno, tertangkap di dalam domain ini sama dengan menjadi serangga di dalam tetesan getah pohon yang mengeras menjadi amber. Kematian hanyalah masalah waktu sampai Kirin itu menginjaknya.
Kirin raksasa itu melangkah pelan, mendekati Lu Daimeng yang membeku, membuka rahangnya untuk mengunyah pencuri itu bulat-bulat demi mengambil kembali sisa energi Yin di darahnya.
Namun, Kirin itu tidak memahami satu hukum fundamental tentang Lu Daimeng.
Kirin menggunakan Qi dan Hukum Dao untuk menyegel.
Tapi Lu Daimeng adalah perwujudan dari Anti-Dao. Dia adalah Lubang Hitam yang melahap Cahaya.
Di dalam perut Lu Daimeng yang membeku, sembilan lubang hitam berputar. Mereka tidak mencoba mendorong atau melawan tekanan domain tersebut. Melawan ruang dengan tenaga fisik adalah kebodohan.
Sebaliknya, kesembilan Anti Dao itu membuka diri mereka dan mulai memakan Domain itu sendiri.
Krrrrrk...
Kirin itu menghentikan langkahnya, matanya membelalak bingung.
"Bajingan!!" Teriak Kirin tersebut melalui raungan.
Di udara biru transparan yang mengelilingi Lu Daimeng, retakan hitam mulai muncul. Dark Null menyerap struktur energi penyegel itu layaknya asam yang memakan kaca. Retakan spasial itu menyebar dengan cepat, menghancurkan integritas Domain Penjara Pilar Langit dari dalam.
PRANG!
Seperti kaca cermin yang dipukul godam, sebagian dari domain Kirin itu pecah, menciptakan sebuah celah kecil sebesar tubuh manusia.
Lu Daimeng tidak membuang waktu satu milidetik pun.
"Sayap."
Pedang Jiwa Surgawi di tangannya mencair, mengalir dengan cepat ke punggungnya. Kali ini, sayap itu tidak berbentuk sayap logam kelelawar, melainkan memadat menjadi sayap naga logam hitam legam dengan bentangan mencapai sepuluh meter.
WUUUUZZZZZ!
Dengan dorongan ledakan ketiadaan dari bawah kakinya, Lu Daimeng melesat melalui celah domain yang retak itu. Kecepatannya memecahkan batas suara tiga kali lipat, menciptakan sonic boom berturut-turut yang menyapu sisa kabut jurang.
Dia terbang lurus ke atas, keluar dari dasar jurang, dan melesat ke arah wilayah terdalam dari Lembah Kematian.
Kirin muda yang kebingungan domain absolutnya bisa dipecahkan oleh seekor semut, kini meraung dengan kemarahan yang melukai langit. Harga dirinya sebagai Divine Beast (Binatang Ilahi) telah diinjak-injak.
"TIDAK ADA TEMPAT BERSEMBUNYI!"
Kirin itu menghentakkan keempat kakinya, dan dalam sekejap, ia merobek ruang, melompat melintasi kehampaan untuk mengejar bayangan hitam di langit kelabu.
Kejar-kejaran epik melintasi wilayah terlarang pun dimulai.
Pemandangan di bawah Lu Daimeng berubah dengan cepat. Lembah Kematian bukan sekadar ngarai, melainkan sebuah wilayah mandiri yang sangat luas—ukurannya bisa mencakup seluruh wilayah tata surya bumi.
Dia terbang melintasi ribuan kilometer dalam hitungan menit, melewati hutan batu berapi, danau darah mendidih, dan barisan pegunungan yang terbuat dari tulang-tulang raksasa purba.
Di belakangnya, langit terus-menerus robek. Kirin Pilar Langit tidak terbang; ia berlari melintasi udara dengan memadatkan awan petir di bawah telapak kakinya. Setiap langkahnya memangkas jarak antara mereka.
JZZZT!
Sebuah pilar petir surgawi ditembakkan dari tanduk Kirin, membelah langit.
Mata Triple Pupil Lu Daimeng melihat lintasan petir itu. Sayap naga logamnya berputar secara asimetris, memaksanya melakukan manuver putaran laras yang sangat tajam di udara. Pilar petir itu meleset dari jantungnya, namun sambaran pinggirnya menyapu sayap kirinya.
"Ugh!"
Lu Daimeng mengerang tertahan. Suhu petir itu melelehkan ujung sayap logamnya, mengacaukan teknik terbangnya. Keseimbangannya goyah, dan kecepatannya menurun drastis.
Mereka kini telah terbang jutaan kilometer jauhnya dari titik awal, memasuki Zona Inti Kuno—wilayah di mana bahkan para Patriark sekte besar juga tidak berani melangkah. Tempat di mana udara sendiri sangat berat hingga terasa seperti bernapas di dalam minyak mendidih.
Kirin itu semakin dekat. Jarak mereka kini hanya lima ratus meter. Sang Divine Beast membuka rahangnya, memadatkan bola energi pemusnah massal berwarna biru di tenggorokannya. Kali ini, areanya terlalu luas untuk dihindari.
Otak Lu Daimeng bekerja dengan kecepatan tinggi. Energinya menurun 40%. Serangan mematikan akan mengenainya dalam 1.2 detik. Tidak ada waktu untuk membentuk Avatar. Harus mengorbankan lengan kiri untuk menahan benturan.
Dia bersiap untuk pengorbanan logis.
Namun, di dunia kultivasi, analisis sering kali bertentangan dengan logika, karena kemunculan pemain ketiga.
Tepat saat Kirin itu melepaskan tembakan meriam petir pemusnahnya...
"ROOOOOOOAAAAAARRRRRR!"
Sebuah raungan yang begitu kuno dan berwibawa hingga membuat langit itu sendiri bergetar ketakutan, meledak dari balik deretan pegunungan hitam di depan Lu Daimeng.
Sebuah bayangan masif melesat naik, menutupi seluruh cakrawala.
Itu adalah seekor Naga Hitam (Black Dragon).
Namun, ini bukanlah naga biasa. Tingginya mencapai 100 meter, panjang tubuhnya merentang ratusan meter melintasi langit. Sisiknya sekokoh berlian gelap, memancarkan aura dominasi mutlak dari penguasa rantai makanan.
Ranah Kuno Tahap 6.
Naga hitam raksasa itu menerjang tepat di antara Lu Daimeng dan serangan Kirin. Naga itu mengibaskan sayap kanannya yang sebesar pulau kecil, menangkis bola petir pemusnah itu.
BLAAARRRRRR!
Ledakan energi menutupi langit, melepaskan gelombang kejut yang melempar Lu Daimeng ke bawah. Dia memutar tubuhnya, membiarkan sayap logamnya mencair kembali, dan mendarat dengan kasar di sebuah tebing tebing batu obsidian.
"Argghhhh"
"Kooeghh"
Lu Daimeng memuntahkan seteguk darah, karena dampak dari hempasan serangan Kirin tersebut.
Lu Daimeng dengan cepat bersembunyi di balik sebuah patahan batu raksasa. Dia mematikan seluruh auranya, menggunakan Dark Null untuk menutupi keberadaannya secara total.
Dari tempat persembunyiannya, mata Triple Pupil miliknya memindai naga raksasa yang baru saja menyelamatkannya.
Dan saat itulah, otak naga Lu Daimeng menangkap sebuah ironi beast yang luar biasa gelap.
Naga Hitam itu sangat kuat, ya. Tapi dia tidak dalam kondisi prima. Di sepanjang perut bawah naga raksasa itu, membentang sebuah luka tebasan pedang yang sangat mengerikan, meneteskan darah hitam korosif. Luka itu dipenuhi oleh sisa-sisa Hukum Pedang tingkat tinggi—jelas merupakan hasil pertarungan melawan sekelompok ahli kultivasi manusia kelas atas beberapa tahun lalu.
Otak naganya mengatakan jika dia adalah ibu dari telur naga yang ditemukan dan dimakan oleh Lu Daimeng di Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting.
Otak naga Lu Daimeng berdenyut, secara pasif mengirimkan gelombang frekuensi yang hanya di ketahui oleh bangsa naga. Dan gelombang Ingatan memasuki Otak Naga Lu Daimeng.
Luka pedang di tubuh Naga itu adalah bukti bahwa dia telah mengamuk dan bertarung melawan para kultivator manusia yang mencoba mencuri telurnya di alam rahasia Gunung Jinting.
Para manusia itu berhasil kabur keluar alam rahasia dan membuat Naga itu juga keluar.
Kerena tidak bisa mengejar para kultivator manusia itu naga itu memutuskan untuk kembali ke sarangnya, tapi sialnya portal Alam Rahasia itu telah tertutup.
Ibu naga itu tidak bisa pulang, tidak bisa bertemu anaknya, naga itu menunggu berhari hari, hingga berbulan-bulan.
Sambil mencari cara untuk kembali ke sarangnya menemui anaknya, namun sialnya kepanikan telah melanda di sekitaran wilayah Gunung Jinting, membuat para kultivator tingkat tinggi ras manusia tidak tinggal diam dan mulai memburuhnya karena di anggap ancaman.
Peperangan tidak terhindarkan naga tersebut berhasil membunuh banyak kultivator tapi sayangnya dia juga terluka parah dan terpaksa pergi menuju bagian hutan yang lebih dalam.
Dan pertanyaannya?, mengapa ibu naga itu menyelamatkan Lu Daimeng?
Jawabannya adalah.
Karena di dalam dada Lu Daimeng, terdapat Jantung Naga Hitam, yang juga memancarkan resonansi genetik.
Naga raksasa itu tidak melihat penampilan luar Lu Daimeng. Dengan Indra Beast-nya yang terluka dan pikirannya yang dipenuhi kerinduan pada telurnya serta rasa sakit yang luar biasa selama bertahun-tahun, membuat dia hanya "mencium" dan "merasakan" gelombang energi dari Jantung dan Otak anaknya yang hidup di dalam tubuh Lu Daimeng.
Bagi insting keibuan sang naga purba yang sedang kalut, manusia kecil setinggi dua meter yang memancarkan aura naga murni itu adalah anaknya yang entah bagaimana telah berevolusi dan bertahan hidup dalam wujud yang berbeda. Dia melompat ke medan pertempuran untuk melindungi "anaknya" dari cengkeraman Kirin.
Di balik batu persembunyiannya, mengetahui fakta biologis yang sangat tragis ini, apakah Lu Daimeng merasa bersalah? Apakah dia tergerak oleh cinta kasih pengorbanan seorang ibu?
Tidak sama sekali.
Sifat manusia Lu Daimeng telah hilang sejak ia dibuang oleh satu-satunya alasan yang membuatnya untuk tetap hidup 'Keluarga'.
Matanya berkilat dengan kecerdasan iblis yang tak berdasar.
"Ironi adalah senjata paling mematikan bagi alam semesta," bisiknya pada dirinya sendiri, sama sekali tanpa nada simpati.
Otaknya langsung membuang semua narasi sentimental dan mengubahnya menjadi variabel strategis. "Naga itu (Ranah Kuno Tahap 9 tapi terluka parah) melawan Kirin (Ranah Kuno Tahap 5 tapi prima). Kekuatan mereka seimbang. Tugasku sekarang: Menonton, menunggu, dan menjadi pemungut hasil."
Di atas langit, peperangan epik antara dua raksasa mitologi meledak.
Ini bukan sekadar adu cakar atau taring; ini adalah benturan dua binatang mitologi yang mengubah geografi daratan di area Lembah kematian.
Langit wilayah terdalam Lembah Kematian hancur berantakan. Pegunungan di bawah mereka diratakan menjadi kawah dalam setiap kali salah satu dari mereka terbanting jatuh.
Kirin Pilar Langit menggunakan mobilitas spasial dan petir surgawinya untuk terus membombardir area luka di perut naga hitam itu menggunakan domain dan elemen petirnya.
"Mati kau, kadal tua!" auman Kirin melalui telepati.
Naga hitam itu meraung, semburan api gelap (Dark Fire) dimuntahkan dari rahangnya, melelehkan petir-petir itu di udara. Ia bertarung dengan keputusasaan seekor ibu yang melindungi anaknya. Ia tidak mempedulikan luka-lukanya yang semakin parah. Ia menerjang maju, mengabaikan sambaran petir yang membakar sisiknya.
Pertarungan berlangsung selama berjam-jam. Darah biru Kirin dan darah hitam Naga menghujani lembah, menciptakan danau racun di daratan.
Kirin Pilar Langit mulai menciptakan ratusan ribu Hukum Petir Surgawi, mengubah langit seluas seratus ribu kilometer menjadi lautan badai petir berwarna biru. Kirin itu tidak lagi berlari, melainkan berteleportasi melalui kilatan petir, bergerak dengan kecepatan cahaya di berbagai titik.
ZRRRTT! ZRRRTT!
Ribuan tombak petir tercipta dan menghujani daratan, masing-masing sebesar menara istana. Setiap kali tombak petir itu menghantam barisan pegunungan di bawah mereka, puncak-puncak gunung berbatu itu langsung hancur menjadi serpihan pasir.
Menghadapi gempuran itu, Naga Hitam tidak menghindar. Ia membalas dengan gravitasi murni dan dominasi elemen api.
Naga itu membuka rahang raksasanya. Bukan dark fire yang keluar, melainkan napas Api Ketiadaan (Darkfire Breath). Sebuah pilar api berwarna hitam keunguan melesat menyapu langit, membakar habis jaring-jaring petir surgawi Kirin.
Api naga itu meleset menabrak sebuah daratan tinggi sejauh seratus kilometer. Dalam satu detik, daratan batu padat itu meleleh sepenuhnya, berubah menjadi lautan magma yang mendidih dengan miliaran letupan gelembung beracun.
Skala kehancurannya tidak masuk akal. Dan getaran dari setiap kepakan sayap naga raksasa itu menciptakan badai topan hitam kelas 5 yang meratakan hutan-hutan purba di dasar lembah.
BLAAARRRR!
Kirin dan Naga akhirnya bertabrakan secara fisik di udara.
Gelombang kejut dari benturan tubuh mereka menyapu melingkar, membelah awan hingga sejauh sepuluh ribu kilometer. Kirin menggigit leher naga, sementara naga menggunakan ekor cambuk raksasanya untuk melilit dan menghancurkan tulang rusuk Kirin.
Darah biru menyala dan darah hitam pekat menghujani bumi, menciptakan danau-danau kecil di daratan kering.
Namun, Kirin itu sangat cerdas. Ia menyadari kelemahan fatal musuhnya. Menggunakan satu teknik teleportasi spasial instan, Kirin itu melepaskan diri dari lilitan ekor naga, muncul tepat di bawah perut sang naga yang terluka.
Tanduk giok Kirin memancarkan cahaya menyilaukan, dan dengan satu hentakan keras, tanduk itu menusuk tepat ke dalam luka sayatan pedang di perut sang naga.
CRAAASSH!
"ARGGGHHHH"
"ROOOAAAARRRRR"
Naga Hitam itu meraung panjang yang menyayat langit. Suaranya membuat tebing obsidian tempat Lu Daimeng bersembunyi retak parah. Racun petir tingkat tinggi disuntikkan langsung ke dalam organ dalam sang ibu naga.
Mengetahui bahwa waktunya telah habis, dan jika ia mati, "anaknya" di bawah sana akan dibunuh oleh Kirin Kuno, sang Naga Purba mengabaikan rasa sakit dan insting bertahannya.
Ia memilih kehancuran mutlak.
Naga Hitam itu membakar Esensi Binatang Kuno-nya.
BOOOOOOM!
Aura yang dipancarkannya melonjak gila-gilaan, menerobos batas Ranah Kuno Tahap 6 dan menyentuh ambang batas Tahap 7. Kepadatan ruang di sekitar mereka seketika membeku menjadi beton tak terlihat. Kirin yang mencoba menarik tanduknya keluar dan berteleportasi mendapati dirinya terperangkap dalam domain gravitasi naga.
"TIDAAAK—!" Raungan telepati Kirin itu menjerit panik.
Naga Hitam menerjang. Rahang obsidiannya yang dipenuhi deretan gigi sebesar pilar kuil menjepit leher Kirin dengan kekuatan penuh.
KRAK! SRAAAAK!
Tulang leher Kirin Pilar Langit hancur berantakan. Namun sang ibu naga tidak berhenti. Ia menyedot seluruh sisa kekuatan api gelap di tubuhnya, dan memuntahkannya langsung ke dalam kerongkongan Kirin yang terputus, benyerang bagian dalam dan Jiwa Divine Beast itu menjadi abu murni.
Kirin Pilar Langit Ranah Kuno Tahap 5 itu kejang hebat selama tiga detik di udara, sebelum akhirnya nyawa di matanya padam secara absolut.
Sang ibu naga melepaskan rahangnya. Bangkai raksasa Kirin itu jatuh seperti meteor tak bernyawa, menghantam dasar lembah sejauh puluhan kilometer dari posisi Lu Daimeng, menciptakan kawah selebar kota.
Di langit, kemenangan telah diraih.
Namun, pengorbanan itu telah mencapai batas akhir. Esensi darah binatang kuno-nya habis. Racun petir telah melumpuhkan denyut jantungnya. Sayap raksasa itu kehilangan kekuatannya untuk mengepak.
Tubuh naga hitam yang membentang ratusan meter itu mulai jatuh bebas dari angkasa.
BOOOM.
Naga itu menghantam tanah tak jauh dari mayat kirin, membuat seluruh daratan bergelombang layaknya lautan yang sedang marah.
Di balik celah batunya, Lu Daimeng duduk diam.
Di depan matanya, sang ibu naga terbaring tak berdaya. Napasnya sangat lemah, tersengal-sengal dan nyaris tak terdengar. Darah hitam pekat mengalir dari lukanya membentuk danau di sekitarnya. Sisik-sisiknya telah kehilangan kilau, dan matanya perlahan mulai menutup.
Naga Hitam Ranah Kuno Tahap 6 itu perlahan jatuh pingsan.
Bagi makhluk manapun yang berakal sehat, menyaksikan pengorbanan tragis seekor ibu naga purba akan memunculkan rasa hormat, duka, atau setidaknya rasa haru.
Tapi bagi Lu Daimeng semua hal adalah sumber daya dan alat. Dia tidak beroperasi dengan belas kasihan; dia beroperasi dengan keuntungan dan kerugian.
Mata Triple Pupil ungu-nya berputar, membedah setiap bagian tubuh dari dua raksasa tersebut.
Lembah Kematian hancur lebur, wilayahnya di petakan ulang secara paksa, meninggalkan bekas luka hebat pada daratan yang akan terus membekas hingga ratusan tahun.
Bersambung...