Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Jengukan
Berita tentang insiden yang menimpa Melinda akhirnya sampai ke telinga Linda, yang tak lain adalah adik dari ayah Melinda. Dengan tangan gemetar, ia menutup telepon, lalu memanggil Mawar yang langsung turun dari kamarnya dengan wajah penuh tanya.
Mawar bisa melihat jelas kegelisahan di raut ibunya. Ia menghampiri dengan langkah cepat. "Ada apa, Mah?" tanyanya, suaranya ikut tegang meski belum tahu apa yang terjadi.
"Melinda, sayang…" Linda menelan ludah, berusaha mengatur napas sebelum melanjutkan. "Dia… diculik. Sekarang sudah di rumah sakit. Tapi kondisinya…" Erangan sesak di dadanya tak terbendung lagi. Air mata mengalir deras sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya.
Menghadapi ibunya yang begitu terbebani, Mawar berusaha tetap tenang. Ia tak ingin mendesak dengan pertanyaan lebih lanjut—yang penting sekarang adalah mendampingi. Dengan sigap, ia membantu ibunya mengenakan jaket, lalu mengajaknya pergi menggunakan mobilnya.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa panjang. Mawar menyetir di jalanan yang masih basah oleh hujan deras yang baru reda. Langit malam yang kelam menambah suasana muram, dan di dalam hati, Mawar terus menggumamkan harapan yang sama: Semoga Melin baik-baik saja…
Hubungan mereka bukan sekadar sepupu—Melinda adalah sahabat dekat Mawar, partner dalam hampir segala hal sejak kecil. Belakangan ini, Melinda memang lebih sering sibuk dengan kegiatan kuliah dan pertemuan dengan teman-teman kampusnya—lingkaran yang tak terlalu akrab dengan Mawar. Namun ikatan di antara mereka tak pernah pudar.
Kabar buruk ini tak hanya menghantam Linda, tapi juga Mawar. Kecemasan menyelimutinya, membuatnya tak sabar ingin sampai. Kakinya semakin menekan pedal gas, membawa mobil melaju lebih cepat di tengah malam yang sunyi.
Sesampainya di rumah sakit, Mawar dan Linda langsung bergegas keluar mobil begitu kendaraan berhenti. Langkah mereka cepat, hampir terburu-buru hingga beberapa kali nyaris tersandung. Namun akhirnya, mereka tiba di depan kamar Melinda dan bertemu dengan Tari—ibu Melinda—yang berdiri di depan pintu dengan wajah penuh beban, campur aduk antara duka dan kelegaan.
Begitu melihat Mawar dan Linda, senyum tipis mengembang di bibir Tari. “Mawar, Linda… kalian sudah sampai,” sambutnya dengan suara lirih penuh kelelahan.
“Iya, Tante,” jawab Mawar singkat, langkahnya mendekat dengan sigap. “Melin di mana? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya, suara bergetar di balik usaha terdengar tegar.
Tari hanya mengangguk pelan, tanpa kata-kata ia mendorong pintu kamar perlahan dan mempersilakan mereka masuk. Mawar segera menyusul sambil menggandeng tangan ibunya. Di dalam, mereka melihat Melinda duduk di atas ranjang, tubuhnya terlihat kecil di balik selimut. Pandangannya kosong, tertuju ke arah jendela yang gelap.
“Sayang… Mawar dan Bibi Linda sudah datang,” ucap Tari lembut, membuyarkan lamunan Melinda.
Pelahan, Melinda menoleh. Gerakannya lambat, seperti masih terbawa sisa-sisa ketakutan yang belum sepenuhnya pergi.
Melihat Mawar, Melinda menyunggingkan senyum lemah, lalu kembali diam saat sepupunya itu mendekat dengan wajah campur aduk. Mawar tak pernah menyangka, sosok Melinda yang selalu ceria dan bersinar bisa berakhir dalam kondisi seperti ini—hancur dari dalam, bahkan lebih menyakitkan daripada luka fisik sekalipun.
Ya Tuhan, Melin… Siapa yang tega melakukan ini padamu? Pikiran Mawar dipenuhi amarah sekaligus keprihatinan yang dalam. Tanpa kata-kata, ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Melinda erat-erat.
Di belakangnya, Linda berdiri dengan tubuh bergetar, menahan isak tangis yang nyaris meledak. Ia menganggap Melinda seperti anaknya sendiri—selalu hadir dalam setiap tahap tumbuh kembangnya. Melihat gadis itu seperti ini terasa seperti pisau yang mengoyak hatinya.
Setelah beberapa saat hening, mereka bertiga keluar dari kamar. Di koridor yang sepi, akhirnya Tari menceritakan semua yang terjadi. Ekspresinya berubah-ubah antara marah, syukur, dan lelah. Tak lupa ia menyebutkan sosok Gerard—pria yang namanya bahkan belum mereka ketahui, tetapi jasanya tak terlupakan.
“Beruntung saat itu… ada seseorang yang menyelamatkan Melin,” ucap Tari dengan suara penuh rasa syukur sekaligus sesak. “Dia berhasil menggagalkan penculikan, tapi… dia sendiri mengalami luka parah. Sekarang dia dirawat intensif.”
Tari berhenti sejenak, menarik napas panjang seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan. “Dia selamat, tapi kata perawat, dia mungkin akan koma beberapa hari… bahkan berminggu-minggu. Gegar otak parah, ditambah luka dalam yang serius. Aku… nggak tega melihat kondisinya. Dia jadi seperti itu… karena menyelamatkan anakku…”
Mawar dan Linda sama sekali tak bisa menyembunyikan keprihatinan yang mendalam. Wajah mereka ikut meredup, seolah ikut merasakan sebagian dari rasa sakit itu. Namun, di baliknya, ada rasa syukur yang tulus—syukur karena Melinda masih bisa selamat.
“Seandainya orang itu tidak turun tangan… mungkin keadaan Melin jauh lebih buruk sekarang,” gumam Linda pelan, matanya berkaca-kaca.
Tari mengangguk perlahan, suaranya terdengar berat namun jujur. “Dia bisa saja tidak terluka kalau memilih untuk acuh tak acuh. Tapi… dia memilih untuk menolong. Dan karena itulah, Melin masih di sini. Aku bersyukur, tapi juga… merasa bersalah.”
Udara di koridor terasa semakin pekat oleh emosi yang tak terucap. Di luar jendela, malam semakin larut, seakan ikut menyimpan segala kisah yang belum selesai.
...*•*•*...
Di sebuah pabrik tua yang sudah lama ditinggalkan, dua mobil gelap terparkir di dalam ruangan yang remang-remang. Tak jauh dari sana, seorang pria berambut cokelat duduk di atas kursi kayu usang, tatapannya menusuk lantai beton yang kotor. Kakinya yang disilangkan di atas lutut bergoyang tak karuan, tanda kegelisahan yang tak tertahankan.
"Bisa-bisanya mereka gagal..." gumamnya sambil menggigit kukunya hingga patah. Tiba-tiba ia mendongak, menatap orang-orang di hadapannya dengan sorot mata dingin. "Kalian tahu kenapa mereka bisa gagal?" Kalimat itu terdengar seperti ancaman, bukan pertanyaan.
Salah satu dari mereka mengangguk gugup, lalu mengeluarkan ponsel dan memutar sebuah pesan suara—rekaman panik dari sopir van yang kabur.
"Bangst! Gue hampir mati tadi! Cewek itu lepas, dibantu sama cowok aneh. Dia kayak kesetanan, bocah-bocah kita gua tinggal di jalan, mereka pingsan semua! Gue lagi ngumpet, tapi jangan hubungin si bos dulu—"
"Itu pesan terakhirnya," lapor pria itu sambil menyerahkan ponsel pada bosnya. "Kami duga dia udah ditangkap. HP-nya mati total. Dan kalau dia sampai bocor—"
"Gue tahu!" potong si pemimpin dengan suara rendah namun penuh tekanan. Tangannya menggenggam ponsel itu erat-erat. "Kita cuma bisa berharap dia tertangkap polisi. Jangan sampai Anton yang duluan nemuin dia—urusannya bakal makin berantakan."
Suaranya berubah, amarahnya terselip ketakutan. Anton—ayah Melinda—bukan sekadar pengusaha. Dia punya koneksi luas, bahkan kaki tangan di dunia bawah tanah yang tak segan menghabisi siapa pun yang mengancam keluarganya.
Penculikan ini sebenarnya hanya pesanan dari "atasan" untuk memberi tekanan pada Anton. Tapi sekarang, segalanya berbalik jadi bumerang. Nasibnya sendiri kini menggantung di ujung tanduk.
"Ahh!" geramnya tak tertahan. Keresahan itu meledak menjadi amarah buta. Ia melempar ponsel ke lantai sekuat tenaga, lalu menghantam lengan kursi kayu hingga berderak. "Cari orang yang udah menggagalkan kita! Jangan biarin dia hidup tenang!" desisnya pada anak buahnya, suara penuh dendam.