Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 ANAK DARI MASA DEPAN
“Ngapain lo duduk di sini?”
Jisoo berdiri di depan Jungkook yang—anehnya—duduk di bangku kantin yang sudah menjadi tempat favorit Taehyung dkk. Persis di samping bangku yang biasanya ditempati Taehyung.
“Kursinya kosong,” jawab Jungkook singkat.
Seokjin menoleh ke sekeliling.
“Semua kursi kosong.”
“Dan gue pilih ini.”
Wonwoo menyipitkan mata.
“Kenapa?”
Jungkook terdiam.
“….”
Tidak ada jawaban.
Dan detik berikutnya, Taehyung datang membawa tas selempang, wajahnya kaget setengah bingung melihat Jungkook di sana.
“Lo bawa minum dua?” Taehyung menunjuk botol di tangan Jungkook.
Jungkook melirik botol satunya.
“Ini… kelebihan.”
“Gue belum pesan.”
“Ya udah diminum.”
Taehyung ragu sesaat… lalu menerima.
“…makasih.”
Hening.
SEMUA GENG:
“???”
Mingyu hampir jatuh dari dudukannya.
“LO DENGER DIA BILANG ‘MAKASIH’?”
“CATAT TANGGAL,” Mingyu lanjut panik.
Jimin menepuk dada sendiri.
“MATA MEREKA KETEMU.”
“GUE MAU LIVE,” Jisoo sudah mengangkat ponsel.
Seokmin menggeleng pelan.
“Ini bukan musuhan.”
Namjoon menyimpulkan cepat.
“Ini PDKT.”
Taehyung langsung berdiri.
“Kenapa semua liat gue?”
Jungkook refleks menjawab, tanpa mikir, tanpa filter—
“Karena lo cantik.”
Sunyi.
“…lo bilang apa barusan?” Taehyung menoleh pelan.
“Gue gak bilang apa-apa,” Jungkook cepat-cepat membelakangi.
“ULANGI,” Jisoo teriak.
“ENGGAK. APAANSI LU!” Jungkook panik total.
Taehyung menatap Jungkook, suaranya lebih rendah.
“Kita masih musuh.”
“Jelas,” Jungkook mengangguk cepat.
“Jangan GR.”
“Siapa yang GR.”
Mereka berdiri.
Dan tanpa sadar—
melangkah berdampingan.
“Katanya musuh tapi tangan ketemu,” Mingyu menunjuk.
“DIAM,” mereka berdua menjawab bersamaan.
Langkah mereka melambat.
Tangan mereka—
bersentuhan sebentar.
Tidak ditarik cepat kali ini.
Hanya diam.
Sadar.
Lalu—
Suara itu terdengar.
Bergema.
Menyebalkan.
“Progress~”
“HOSEOOK?!”
Taehyung dan Jungkook serempak menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi senyum jahil itu terasa jelas…
di udara.
Taehyung menelan ludah.
“…Kok gue ngerasa ini salah?”
Jungkook menghela napas pelan.
“Karena kita mulai nyaman.”
Taehyung menoleh.
Jungkook juga.
Dan untuk pertama kalinya—
tidak ada bantahan.
____
“Oke,” Jimin menyilangkan tangan, wajahnya super serius,
“ini bukan PDKT.”
Jisoo menunjuk Taehyung dan Jungkook bergantian.
“Ini PACARAN SETENGAH JALAN.”
“GUE DENGER,” Taehyung protes.
Mingyu mengangguk mantap.
“Kalian udah jalan bareng.”
“Kebetulan searah aja,” Jungkook membela diri.
Udara sore mulai dingin. Jungkook melepas jaketnya lalu menyodorkannya.
“Pake.”
“Gak usah,” Taehyung menolak cepat.
“Udara dingin.”
Taehyung terdiam… lalu menerima tanpa bicara.
Seokjin langsung menoleh tajam ke Namjoon.
“NAMJOON.”
“IYA.”
“ANAK KITA.”
Seokmin memeluk lengannya sendiri.
“Jujur… gue merinding.”
Wonwoo mengangguk pelan.
“Ini lebih cepat dari WiFi kampus.”
Taehyung berjalan sedikit di depan, pipinya hangat.
Jungkook memperlambat langkah, menyesuaikan.
Tanpa sadar.
Tanpa perintah.
“Daddy…”
Langkah Jungkook langsung berhenti.
“Lo denger?” bisiknya.
Taehyung menelan ludah.
“Iya.”
“GUE GAK,” Jimin menoleh panik.
Angin lewat pelan.
Lalu suara itu muncul lagi—lebih dekat, lebih lembut.
“Good job.”
Keonho.
Bukan wujud.
Hanya suara.
Jungkook dan Taehyung saling tatap.
Dan untuk pertama kalinya—
Mereka tersenyum.
Bukan senyum mengejek.
Bukan senyum defensif.
Tapi senyum kecil…
yang sama.
“Kita masih musuh,” Taehyung bergumam.
“Jelas,” Jungkook mengangguk.
Di antara mereka, suara Keonho terdengar lagi—sedikit mengeluh, sedikit bangga.
“Kepala mereka lebih keras dari batu.”
Taehyung menghembuskan napas pelan.
“…Tapi batunya retak.”
Jungkook meliriknya, senyum tipis tertahan.
“Pelan-pelan.”
Dan di kejauhan—
takdir mencatat satu hal lagi:
Mereka sudah berjalan di jalur yang sama.
Tanpa sadar menggenggam masa depan.