"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ketakutan yang selama ini Nickholes pendam, ketakutan bahwa Nadine akan meninggalkannya—akhirnya menjadi kenyataan.
Selama ini, Nick merasa aman karena ia tahu Nadine selalu ada, selalu menunggu, dan selalu memaafkan. Namun, pesan singkat yang dingin itu adalah tamparan keras bagi egonya.
Malam itu, Nickholes tidak merayakan kemenangan timnya di bar. Ia meninggalkan pesta, mengabaikan Clarissa yang terus meneleponnya, dan memacu mobilnya dengan kecepatan gila menuju asrama Nadine.
Pukul dua pagi, koridor asrama wanita sudah sepi. Nickholes berdiri di depan pintu kamar 402. Ia tidak lagi peduli jika ada penjaga atau mahasiswa lain yang melihatnya. Napasnya memburu, tangannya gemetar saat ia mengetuk pintu kayu itu berkali-kali.
"Nadine! Buka pintunya!" bisik Nick dengan suara serak yang penuh keputusasaan. "Nadine, kumohon. Aku tahu kau di dalam."
Tidak ada jawaban. Sunyi.
Nick menyandarkan dahinya ke pintu. "Aku salah, Nadine. Aku pengecut. Aku takut kehilangan segalanya, tapi aku baru sadar bahwa kehilanganmu jauh lebih mengerikan daripada kehilangan reputasiku. Aku tidak bisa tidur tanpa memikirkanmu. Aku tidak bisa bernapas jika kau menjauh seperti ini."
Di balik pintu, Nadine duduk memeluk lututnya. Ia mendengar setiap kata, setiap isakan kecil yang keluar dari mulut pria yang selama ini ia puja. Dulu, kata-kata ini akan membuatnya luluh dalam sekejap. Tapi sekarang, kata-kata itu terdengar seperti racun yang ingin kembali menjeratnya.
Nadine akhirnya berdiri dan membuka pintu, tapi hanya sedikit—masih menahannya dengan rantai pengunci. Matanya menatap Nickholes dengan dingin, sebuah tatapan yang belum pernah Nick lihat sebelumnya.
"Pulanglah, Nick," ucap Nadine datar. "Pergilah pada Clarissa. Dia yang kau pilih di depan ribuan orang, bukan aku."
"Itu hanya akting, Nadine! Kau tahu itu!" Nick mencoba meraih tangan Nadine melalui celah pintu, namun Nadine menarik tangannya menjauh.
"Aktingmu terlalu bagus, Nick. Sampai-sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang bohong," suara Nadine bergetar. "Selama bertahun-tahun aku menjadi alatmu. Kau mencintaiku dalam kegelapan, tapi kau malu memilikiku di bawah cahaya. Aku lelah menjadi rahasia yang kotor."
Nickholes jatuh terduduk di depan pintu kamar Nadine. Sang bintang lapangan, pria paling populer di kampus, kini tampak hancur dan kecil di lantai koridor yang kusam.
"Aku akan memperbaikinya, Nadine. Aku bersumpah. Aku akan memberitahu semua orang. Aku akan memberitahu ayahku, ibumu... siapapun," Nick memohon, air mata benar-benar jatuh di pipinya.
"Hanya... jangan tinggalkan aku. Aku tidak tahu cara hidup tanpamu."
Nadine menatap pria yang hancur di kakinya itu. Ada bagian dari hatinya yang masih sangat mencintai Nick, tapi bagian yang lain sudah terlalu lelah untuk terluka.
"Pergilah, Nick... Aku menyerah, Aku tidak lagi berharap pada pengakuan mu di depan pintuku saat semua orang sedang tidur," ucap Nadine sebelum menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Pagi itu, Nickholes berdiri di depan lokernya, dikelilingi oleh teman-teman atletnya yang masih membicarakan kemenangan semalam. Dari kejauhan, ia melihat Nadine berjalan mendekat.
Biasanya, Nadine akan menunduk malu atau setidaknya mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan memuja yang hangat tatapan yang diam-diam menjadi sumber energi Nick.
Namun kali ini, Nadine berjalan dengan dagu terangkat. Ia melewati Nickholes begitu saja, seolah pria itu hanyalah bagian dari dekorasi dinding koridor yang membosankan.
Nickholes membeku. Ia sengaja menghentikan pembicaraannya dan menatap Nadine, menunggu gadis itu memberikan sinyal sekecil apa pun. Tapi Nadine justru sedang tertawa kecil sambil mendengarkan musik dari earphone-nya, matanya lurus ke depan, dingin dan kosong saat melintasi posisi Nick.
"Hei, Nick? Kau mendengarku tidak?" tanya salah satu temannya sambil menepuk bahunya.
Nick tidak menjawab. Matanya terus mengikuti punggung Nadine yang menjauh. Tidak ada lagi kerinduan, tidak ada lagi rasa haus akan perhatiannya. Nadine benar-benar telah menarik diri.
Clarissa datang mendekat dan mencoba merangkul lengan Nick. "Sayang, nanti siang kita makan di..."
"Lepaskan," desis Nickholes ketus, menyentak tangan Clarissa hingga gadis itu terperangah di depan banyak orang.
Nick tidak peduli lagi pada citra couple favorit kampus. Pikirannya kacau. Ia merasa seperti kehilangan oksigen saat menyadari bahwa ia bukan lagi pusat semesta bagi Nadine Saville.
Nasib membawa mereka di satu kelas yang sama siang itu. Nick sengaja duduk di barisan belakang Nadine, berharap bisa menangkap perhatiannya. Sepanjang kuliah, Nick terus menatap bagian belakang kepala Nadine, mengirimkan pesan teks memohon, bahkan melempar gumpalan kertas kecil ke mejanya.
Nadine hanya melirik kertas itu sekilas, lalu menyapunya ke lantai tanpa membacanya. Ia tidak menoleh sedikit pun. Saat kelas berakhir, Nadine mengemasi bukunya dengan tenang.
Nick menghadangnya di pintu keluar. "Nadine, kita perlu bicara. Sekarang."
Nadine mendongak. Tidak ada lagi binar cinta di matanya. Hanya ada kelelahan yang mendalam.
"Bicaralah pada Clarissa, Nick. Atau bicaralah pada penggemarmu. Aku ada kelas lain."
"Nadine, jangan seperti ini! Aku tahu aku brengsek, tapi jangan menatapku seolah aku orang asing!" Nick memohon, suaranya mulai meninggi hingga beberapa mahasiswa menoleh.
"Tapi kau memang asing bagiku sekarang, Nick," jawab Nadine dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.
"Pria yang kucintai dulu tidak akan membiarkanku menangis di toilet sementara dia berpelukan dengan wanita lain. Jadi, siapa kau?"
Nadine melangkah melewati Nick, meninggalkan sang Raja Kampus yang kini tampak menyedihkan, berdiri mematung di tengah kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik melihat kehancurannya.
Nickholes sadar, cara biasa tidak akan berhasil lagi. Nadine tidak lagi naif. Ia telah membunuh gadis pemuja itu dengan tangannya sendiri. Kini, Nick berada di titik di mana ia rela membakar seluruh dunianya hanya untuk mendapatkan satu tatapan hangat dari Nadine kembali.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰🥰