NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Words That Become Weapons

Koridor selir — pagi hari

Gaun sutra berdesir saat dua wanita berpapasan.

Selir Vivin Kesan tersenyum tipis, matanya menyapu dari atas ke bawah sebelum berhenti pada wajah Elena Miller.

“Selir Elena sangat memukau,” ucap Vivin lembut—

terlalu lembut untuk tulus.

Elena berhenti melangkah.

“Pujian yang jarang kudengar darimu.”

Vivin mencondongkan kepala.

“Bukan pujian. Hanya pengamatan.”

Ia menambahkan pelan,

“Anak-anakmu akhir-akhir ini sering terlihat… berisik.”

Wajah Elena mengeras.

“Sebaiknya kau urus putrimu sendiri,” balas Elena dingin.

“Genevieve terlalu sering berada di sisi Tuan Putri Nelia.”

Senyum Vivin memudar.

“Setidaknya dia tidak bermimpi tentang takhta.”

Keduanya saling menatap tajam—

lalu melangkah pergi, meninggalkan udara penuh racun.

Aula Dewan Etika Bangsawan — siang hari

Aula dipenuhi bangsawan.

Di tengah, Anthenia Blackwood berdiri tegak. Gaunnya sederhana, sikapnya tenang.

Di kursi pengamat—

Permaisuri Lunara duduk diam.

William berdiri di sisi aula, wajahnya tak terbaca.

Ketua Dewan membuka sidang.

“Putri Anthenia Blackwood,” ucapnya formal,

“kau dipanggil untuk menjelaskan posisi dan perilakumu

terkait Putra Mahkota Araluen.”

Bisik-bisik menyebar.

Anthenia mengangkat dagu.

“Aku siap menjawab.”

“Apakah benar,” lanjut sang ketua,

“kau sering terlihat bersama Putra Mahkota di luar keperluan resmi?”

“Benar,” jawab Anthenia tanpa ragu.

“Dalam konteks latihan, audiensi, dan tugas istana.”

Beberapa bangsawan mengernyit.

“Namun,” sela seorang anggota dewan wanita,

“perlindungan berlebihan dari Yang Mulia Putra Mahkota

telah menimbulkan spekulasi.”

Anthenia tersenyum tipis.

“Spekulasi adalah pilihan mereka,” katanya tenang.

“Bukan tanggung jawabku.”

Aula berdesir.

“Apakah kau berniat—”

“Tidak,” potong Anthenia tegas.

“Aku tidak berniat menghalangi aliansi apa pun.”

Ia menatap satu per satu anggota dewan.

“Namun aku juga tidak akan menerima

jika keberadaanku dijadikan kambing hitam

untuk kegelisahan politik.”

Sunyi.

William mengepalkan tangannya.

Ia belum bergerak.

Belum.

Sudut aula — saat yang sama

Heilen Valerius mengamati dengan mata menyipit.

Tenang. Terlalu tenang.

“Putri Blackwood,” ucap ketua dewan lagi,

“jika kau tidak memiliki kepentingan pribadi,

maka apakah kau bersedia meninggalkan istana

hingga keputusan lamaran Kerajaan Kairo ditetapkan?”

Pertanyaan itu—

adalah pisau.

Aula menahan napas.

Anthenia terdiam sejenak.

Lalu menjawab.

“Aku bersedia kembali ke wilayahku,” katanya jelas,

“bila itu keputusan Kaisar atau Permaisuri.”

Ia berhenti.

“Namun bukan karena tekanan sosial

yang disamarkan sebagai etika.”

Gedebrak.

William melangkah maju satu langkah.

Namun Anthenia—

mengangkat tangannya sedikit.

Isyarat kecil.

Jangan.

William berhenti.

Sindiran berubah menjadi interogasi.

Etika berubah menjadi alat tekan.

Dan Anthenia—

tidak runtuh.

Ia berdiri dengan kepala tegak,

di hadapan istana yang berharap melihatnya goyah.

Namun sidang ini

belum selesai.

Dan satu kalimat lagi

akan menentukan

siapa yang benar-benar berkuasa.

Aula Dewan Etika Bangsawan — keheningan menegang

Udara di aula terasa berat setelah jawaban Anthenia.

Ketua dewan saling pandang dengan anggota lain.

Ini bukan reaksi yang mereka harapkan.

“Putri Blackwood,” ucapnya lagi, kali ini lebih hati-hati,

“kau harus memahami bahwa kehadiranmu di istana

dapat memengaruhi stabilitas politik.”

Anthenia mengangguk pelan.

“Aku memahaminya.”

Beberapa bangsawan terlihat puas—

hingga Anthenia melanjutkan.

“Namun izinkan aku bertanya,” katanya tenang.

“Sejak kapan stabilitas politik Araluen

bergantung pada seorang gadis berusia delapan belas tahun?”

Aula bergemuruh.

“Itu—”

“Jika benar aku memiliki pengaruh sebesar itu,” lanjut Anthenia tanpa menaikkan suara,

“maka masalahnya bukan padaku.”

Ia menatap lurus ke kursi dewan.

“Melainkan pada sistem yang rapuh.”

Sunyi jatuh seperti palu.

Permaisuri Lunara menutup mata sesaat.

Berani…

Heilen Valerius mencengkeram sandaran kursinya.

Sudut aula — bisik yang gagal tersembunyi

“Kurang ajar…”

“Dia menantang dewan…”

“Putri Duke Blackwood memang berbeda…”

Bisik-bisik menyebar—

namun kali ini bukan semuanya bernada merendahkan.

Ketua Dewan — suara meninggi

“Putri Blackwood,” katanya tegas,

“jaga ucapanmu! Dewan ini berdiri atas hukum dan tradisi!”

Anthenia menatapnya tanpa gentar.

“Dan hukum,” jawabnya datar,

“tidak pernah melarangku untuk ada di sini.”

Ia menarik napas perlahan.

“Aku tidak meminta perlindungan Putra Mahkota.

Aku tidak meminta perhatian siapa pun.”

Ia menoleh sekilas—

tatapannya bertemu William.

“Jika Yang Mulia memilih melindungiku,” lanjutnya,

“itu karena beliau menganggapnya benar.”

Kepala-kepala menoleh ke arah William.

Inilah momen itu.

William Whiston melangkah maju

Langkahnya berat, mantap.

“Aku yang bertanggung jawab,” ucapnya dingin, suaranya menggema.

“Bukan Putri Blackwood.”

Aula langsung gaduh.

“Yang Mulia Putra Mahkota—!”

“Ini bukan tempat—!”

William tidak berhenti.

“Jika ada yang menganggap kehadirannya mengganggu,” lanjutnya,

“maka itu karena aku mengizinkannya.”

Ia menatap dewan satu per satu.

“Dan aku tidak akan menarik izin itu

karena tekanan, rumor, atau ketakutan politik.”

Keheningan kembali jatuh—

kali ini lebih dalam.

Permaisuri Lunara berdiri perlahan.

“Cukup,” ucapnya lembut namun tegas.

“Sidang ini telah melampaui tujuannya.”

Ketua dewan ragu.

“Yang Mulia Permaisuri—”

“Putri Blackwood tidak melanggar etika,” potong Lunara.

“Dan Dewan Etika tidak berwenang

menentukan keberadaannya tanpa keputusan Kaisar.”

Palunya diketukkan.

“Sidang ditunda.”

Lorong luar aula — setelah sidang

Anthenia berjalan cepat, napasnya akhirnya terasa berat.

William menyusul.

“Kenapa kau tidak membiarkanku bicara sejak awal?” tanyanya pelan.

Anthenia berhenti.

“Karena jika kau bicara lebih dulu,” jawabnya jujur,

“mereka akan berkata aku bersembunyi di balik kekuasaanmu.”

William menatapnya lama.

“Kau sadar,” katanya rendah,

“apa yang kau lakukan hari ini?”

Anthenia mengangguk.

“Aku menjadikan diriku musuh banyak orang.”

William mendekat satu langkah.

“Dan sekutu seseorang.”

Kata itu membuat jantung Anthenia bergetar.

Sudut gelap aula — tatapan penuh racun

Heilen Valerius menatap punggung Anthenia yang menjauh.

“Baik,” gumamnya dingin.

“Kalau kata-kata tidak menjatuhkanmu…”

Senyumnya melengkung tipis.

“…kita ganti cara.”

Sidang berakhir.

Namun perang baru saja dimulai.

Anthenia tidak lagi hanya dipertanyakan—

ia diakui.

William tidak lagi hanya mengamati—

ia memilih berdiri.

Dan bagi mereka yang bermain di balik bayangan,

hari ini menjadi peringatan.

Mulai sekarang,

setiap langkah

akan dibayar mahal.

Sayap barat istana Araluen — senja

Langit mulai memerah.

Anthenia berdiri di balkon kecil, tangannya bertumpu pada pagar batu. Napasnya baru terasa berat sekarang—setelah semua mata tak lagi menatapnya.

Langkah kaki terdengar mendekat.

“Aku tahu kau akan ke sini.”

Anthenia menoleh.

Permaisuri Lunara berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya tenang namun mata penuh emosi tertahan.

“Yang Mulia,” Anthenia menunduk hormat.

“Tidak perlu formalitas,” ucap Lunara lembut.

“Hari ini… kau berdiri lebih tegak dari sebagian besar bangsawan di aula itu.”

Anthenia tersenyum tipis.

“Itu bukan niatku.”

“Namun itu hasilnya,” balas Lunara.

Ia mendekat.

“Kau sadar, bukan, bahwa setelah ini kau tidak bisa lagi dianggap sekadar tamu?”

Anthenia terdiam.

“Aku tahu,” jawabnya pelan.

“Dan itulah sebabnya… aku akan pergi.”

Lunara terkejut.

“Pergi?”

“Besok,” lanjut Anthenia.

“Kembali ke Blackwood.”

Keheningan menyelimuti mereka.

“Kau memilih mundur?” tanya Lunara hati-hati.

Anthenia menggeleng.

“Tidak,” jawabnya tegas.

“Aku memilih mengambil jarak sebelum seseorang terluka lebih jauh.”

Lunara menatapnya lama—lalu menghela napas.

“Kau terlalu dewasa untuk usiamu,” katanya lirih.

Ruang strategi — waktu yang sama

William berdiri menghadap jendela besar. Tangannya mengepal di belakang punggung.

“Yang Mulia,” ucap seorang pengawal,

“Putri Blackwood berencana kembali ke wilayahnya besok.”

William membeku.

“Katakan lagi.”

Pengawal mengulanginya.

William menutup mata sesaat.

Dia memilih pergi… setelah berdiri sejauh itu.

“Apakah itu keputusannya sendiri?” tanyanya rendah.

“Ya.”

William tertawa kecil—tanpa humor.

“Selalu begitu,” gumamnya.

“Dia selalu mengambil beban lebih dulu.”

Ia menoleh tajam.

“Pastikan pengawalan terbaik,” perintahnya.

“Tidak boleh ada insiden.”

Kediaman Selir Valerius — malam hari

Heilen Valerius menerima kabar dengan ekspresi tak terbaca.

“Putri Blackwood akan meninggalkan istana?”

“Ya, Yang Mulia.”

Heilen terdiam lama.

Lalu tersenyum.

“Menarik,” katanya pelan.

“Dia memilih mundur… tepat ketika pengaruhnya mulai diakui.”

Ia berdiri, melangkah ke jendela.

“Namun,” lanjutnya dingin,

“jalan pulang adalah tempat paling mudah untuk ‘kecelakaan’ terjadi.”

Pelayan terkejut.

“Yang Mulia—”

“Tenang,” potong Heilen.

“Aku belum memutuskan apa pun.”

Namun matanya—

tidak menampakkan niat baik.

Kamar Anthenia — malam terakhir di istana

Anthenia merapikan barang-barangnya perlahan.

Setiap lipatan kain terasa berat.

William…

Ia berhenti.

“Jika aku tetap tinggal,” gumamnya,

“aku akan menjadi sasaran.”

Ia menutup koper kecilnya.

“Dan jika aku pergi…”

“…aku memberi waktu.”

Untuk istana.

Untuk William.

Untuk dirinya sendiri.

Ia memandang keluar jendela.

“Ini belum berakhir,” bisiknya.

“Hanya jeda.”

Sidang telah usai.

Namun dampaknya menjalar ke setiap sudut istana.

Anthenia memilih pergi—

bukan karena kalah,

melainkan karena terlalu penting untuk dihancurkan di tempat itu.

William menahan langkahnya—

untuk pertama kalinya tidak mengejar,

namun menjaga dari jauh.

Dan di balik senyum-senyum istana,

bahaya mulai mengintai

di jalan pulang.

Bab berikutnya

bukan tentang kata-kata.

Melainkan tindakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!