DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Usaha Mengakhiri?
Setelah di tarik kasar Fattah agar keluar dari club, Aqqela berakhir memaki-maki cowok itu di parkiran.
Tapi Aqqela lupa yang dia hadapi adalah Fattah Andara. Cowok nakal yang masa bodoh dan selalu bertindak sesukanya.
"Pegangan yang bener!" perintah Fattah datar.
"Nggak sudi."
"Ya udah terserah."
Fattah mendengus dan secara tiba-tiba menarik gas motornya hingga Aqqela hampir terjengkang dan reflek memeluknya.
"Ck, elo nggak usah banyak tingkah bisa nggak?!" Aqqela menabok helm belakang Fattah kesal.
"Gue udah suruh lo pegangan," kata Fattah tak mau di salahkan.
Raut wajah Aqqela makin keruh.
Sejak tadi memang sudah badmood karena di paksa pulang bareng, padahal Aqqela nggak mau.
Fattah mengancam akan lapor ke pihak sekolah kalau Aqqela kerja di club, jadinya dia menurut.
"Rumah gue udah pindah. Pertigaan depan belok kiri."
Fattah menurut. Membelokkan motornya memasuki kawasan cukup kumuh dan padat penduduk.
"Tuh-tuh yang tembok hijau." Aqqela memukul-mukul pelan helm Fattah, "Kiri-kiri!"
Fattah menggerakkan lidah di mulutnya, menahan emosi dan memelankan motornya, lalu berhenti.
"Makasih!" kata Aqqela singkat sambil turun.
"Bentar!"
Fattah melepas helm fullface-nya dan mendongak melihat bangunan di depannya.
"Lo yakin tinggal di sini? Jelek banget," komentarnya.
"Kenapa? Nggak boleh?" kata Aqqela datar.
Fattah memandang Aqqela dingin, "Rumah sama mobil lo kemana?"
"Udah gue bilang, itu nggak ada urusannya sama lo," kata Aqqela masih sabar.
"Ya tapi kan gue pengen tau," kata Fattah kesal.
Aqqela memutar bola matanya malas, "Di sita. Puas?"
Fattah tersentak, "Kenapa?"
"Karena gue nggak bisa bayar sisa cicilan rumah sama mobil."
Fattah mengatupkan bibir dan diam seribu kata. Lidahnya seolah kelu.
"Ya udah, bagi nomor rekening lo!"
Aqqela mengangkat alis, "Apa? Lo mau ngasih gue duit? Udah gue bilang gue nggak mau."
"Batu ya lo? Kasih gue bilang!" Kesal Fattah.
Aqqela melipat kedua tangan di depan dada, memandang cowok itu, "Makasih atas tumpangannya!" katanya singkat dan berbalik pergi.
Fattah menghembuskan napas jengah dan menyusulnya menaiki tangga. Dia berhenti di depan gadis itu, membuat Aqqela kaget.
"Kalau gitu, gue bantuin lo cari kerjaan."
Aqqela mengangkat alis, "Nggak perlu."
"Ck, gue bantuin pokoknya," kata Fattah kekeuh membuat Aqqela mendelik.
"Kok jadi maksa?" protes Aqqela, "Denger ya, sampai kapanpun, gue nggak akan kasih celah buat anak pembunuh kayak lo, masuk ke kehidupan gue. Ngerti lo?"
Fattah memandang Aqqela tenang.
"Nggak ngerti! Gue pengennya tetep gangguin lo terus," katanya santai.
Aqqela melengos, berusaha untuk menyabarkan diri, "Maksud lo?"
Fattah tak berekspresi banyak, "Karena lo anak Michael. Gue nggak suka lihat hidup lo tenang."
Raut wajah Aqqela langsung berubah sangar.
"Karena gue nggak berhasil nge-hancurin bokap-AGHRRRR ANJING!" teriak Fattah merintih kaget saat rambutnya di tarik kasar oleh Aqqela dan kakinya di tendangi oleh gadis itu bringas.
"Nggak usah berani ya lo!" omelnya sambil mendorong sebal muka Fattah dengan telapak tangan.
Fattah masih mengaduh memegangi kepalanya, "Aw, sakit tau," katanya merintih kesakitan.
Aqqela melirik, "Minggat lo! Enek gue lihat muka lo," katanya datar.
"Gue pengen lihat kamar kos lo se-jelek apa," katanya ingin beranjak.
"HEEEE!" kesal Aqqela menarik lengan Fattah menghentikannya, "Lo budeg, ya? Minggat gue bilang!"
Fattah menatap Aqqela sengit, membuat Aqqela melotot tak takut.
"Nggak usah ikutin gue lagi!" ancam Aqqela dan beranjak pergi.
Cowok itu menggeram sebal sambil mengumpat frustasi.
"Tuh cewek...nantang banget sialan," kata Fattah penuh dendam.
***
Pandangan Adit berputar melihat ke sekitar. Tidak menemukan kehadiran gadis kecil itu.
"Cari siapa?" tanya Axel.
"Aqqela kemana? Kok nggak kelihatan?"
Axel mengerutkan kening, "Elo kenal Aqqela?"
Adit mengangguk, "Iya. Kemana dia? Gue kemarin baru sempat kenalan bentar."
Axel memicingkan matanya. Sedikit ragu menjawab, sebab dia tau pamor playboy seorang Adit.
"Dia udah resign kemarin."
Adit langsung tersedak alkohol yang dia minum, "Demi apa lo?" tanyanya sambil batuk-batuk.
"Iya. Kata bos sih gitu."
"Brengsek!" umpatnya dan melangkah menuju ke ruangan tujuh.
Ceklek!
"Akhirnya Rel, ke sini juga. Ngapain aja sih di luar nggak kelar-kelar? Lo serius nyariin cewek itu?" tanya Zou.
Adit mendudukkan diri ke sofa sambil menghembuskan napasnya panjang.
"Sial, tuh cewek udah resign ternyata," katanya sambil menghisap rokoknya.
"Ya elah Dit, kalau nggak ada dia, cari yang lain aja. Di sini banyak yang lebih cakep."
Adit mendengus dan meneguk bir-nya, "Gue pengennya sama dia."
"Kamu kenapa sih marah-marah terus?" tanya Vela-wanita penghibur di tempat ini sambil meraih rahang Adit.
"Lo kenal Aqqela?"
"Of course. Dia pelayan di tempat ini. Masih SMA," sahut Vela mengecup pipi Adit yang tampak diam.
Adit menoleh kaget, "A-apa? SMA?"
"Menurut kamu? Dia masih 17 tahun, loh."
"Gue tertarik sama dia," kata Adit singkat.
"Tertarik? Dalam segi apa?"
Adit tersenyum miring, "Menurut lo apa? Bukannya lo udah ngerti?"
"Aku bakalan bantuin kamu buat bisa tidur sama dia."
Adit memandangnya serius, "Yakin, lo bisa bantu gue, Vel?"
Vela mengangguk cepat, "Tapi transfer aku 50 juta kalau aku berhasil."
Adit mengerling, "Deal."
***
Aqqela menghembuskan napasnya pelan.
Duduk berjongkok di depan minimarket 24 jam, sambil memandang hujan yang tak kunjung reda.
"Kapan redanya, sih? Gue mau pulang," gumamnya.
Sebuah mobil memasuki parkiran minimarket, dengan lampu depan menyorot ke arahnya membuat Aqqela merasa silau.
"Loh, Aqqela?"
Sosok perempuan berbaju seksi kini menghampirinya sambil membawa payung.
"Eh, kak Vela? Ngapain di sini, kak?" tanya Aqqela ramah.
"Mau beli sesuatu sih sebenarnya. Kamu sendiri, ngapain?"
"Aku nunggu hujan reda, soalnya nggak bawa payung."
"Mau bareng aku aja?"
Aqqela menggeleng cepat, "Nggak perlu, kak! Kos aku deket kok."
"Nggak papa, ih. Ayo! Kasihan juga lihat kamu sendirian gini."
Aqqela mengulum bibir saat di paksa berdiri, "Beneran nggak ngerepotin?"
"Iya Qell. Ayo masuk mobil!" kata Vela sambil merangkul pundak gadis itu.
Vela mengukirkan senyum lebar.
Saat memasuki mobil, dia meraih ponselnya.
Vela: Transfer aku! Aku udah berhasil bawa
Aqqela.
Adit: Serius?
Vela: Haha, kapan aku pernah bohong? Kamu dimana? Biar aku yang antar dia ke kamu.
Darrel: Apartemen Permata Gandaria. Lantai 6, kamar nomor 16.
Vela tersenyum puas menatap chat itu.
***
Bendera hitam putih di angkat oleh wanita berbaju seksi, membuat Fattah segera menginjak
gas meninggalkan garis start.
Mobil sport milik Fattah masih meliuk-liuk di jalan raya yang licin.
Jefan, Noel dan Matthew merapat, melihat mobil Fattah yang saling kejar dengan mobil lain.
"Shit!" umpat Fattah saat hampir di salip.
He is a bad boy. Fattah hanya remaja 17 tahun yang masih suka membuat ulah, nakal, dan bertindak semaunya.
"ANJAY, DIA NGE-DRIFT!" sorak para penonton melihat aksinya.
"Fattah kalau soal racing, emang jagonya sih," kata Noel melihat Fattah yang berbelok licin, tapi tetap mampu mengendalikan mobilnya.
Matanya menajam memandang jalanan di depannya dengan tangan mencengkram setir kemudi kuat. Rahangnya mengeras tanpa sadar, mengingat gadis itu lagi.
"Sebenarnya lo itu siapa sih, sampai bikin gue kepikiran terus?"
Fattah benci mengakui bahwa dia harus kasihan dengan anak pembunuh itu.
CITTTTTTT!!!
Mobil berhenti di garis finish.
"Fattah, good job, man!" Jason penyelenggara racing mendekatinya, di susul Noel, Jefan dan Matthew.
Fattah tersenyum miring, masih duduk di mobil sport-nya, "Mana kunci motor gue?"
Jason tertawa dan merogoh sakunya, "Nih, buat lo. Motornya di sebelah sana. Bangkrut gue ngajakin elo."
Fattah terkekeh, melempar kunci motornya ke Noel, "Bawa lo, El!"
"Oke bos, siap."
Fattah memakai kaca matanya lagi, "Gue cabut."
Mereka semua mengangguk, bersamaan dengan Fattah menginjak gas mobilnya pergi. Entah apa yang dia pikirkan, mobilnya justru mengarah ke Jakarta Pusat.
***
Mobil Vela memasuki area basement sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan.
"Kak, katanya mau beli makan?"
"Aku mau ambil baju buat ke club nanti. Bentar aja, kok. Ayo!" kata Vela.
Aqqela menggeleng, "Aku tunggu di sini aja, deh."
"Ih, ayo! Sekalian bantu bawain aku barang dari sana ke mobil. Please!"
Aqqela mendesah berat dan akhirnya menurut, membuat Vela senang.
Keduanya memasuki lift menuju ke lantai 6.
Aqqela mengerutkan kening saat Vela memencet tombol bel.
Bukannya ini apartemen dia? Kenapa pencet bel segala?
Kebingungan Aqqela berhenti saat sosok pria tampan membuka pintu dan hanya mengenakan jubah tidur berwarna hitam, membuat bagian dadanya terlihat.
"Wow!" Vela mengerling nakal memandang tubuh Adit.
"Udah sampai?"
Aqqela melebarkan mata saat sadar di depannya ini siapa, "Kamu?"
Adit tersenyum padanya, "Hai, Aqqela! Ketemu lagi," sapanya.
Vela mendorong tubuh Aqqela agar masuk ke dalam apartemen.
"Loh, kak? Ini kenapa?" tanya Aqqela mulai panik.
"Aku nitip Aqqela ya, Adit! Aku masih ada urusan soalnya."
Aqqela menggeleng cepat, "Nggak, aku nggak mau. Aku ikut sama kakak."
Vela menatapnya, "Ini urusan ranjang. Aku ada di kamar sebelah, kok. Kamu di sini dulu, oke?"
Vela kemudian berbisik di telinga Adit, "Have fun!"
Adit mengukirkan senyum, "Thanks!"
"Kak, kak Vela, aku nggak mau kak. Aku mau pulang sendiri aja." Aqqela ingin beranjak namun Adit lebih dulu menahan pinggangnya
"Hei! Nggak papa, nggak usah takut! Kamu di sini aja!"
Aqqela membelalak saat perutnya di rengkuh oleh Adit.
"Apaan, sih? Lepasin nggak!?" sentak Aqqela menepisnya kasar.
"Wow!" gumam Adit tak menyangka dengan kegalakannya.
"Jangan macem-macem ya lo!" kata Aqqela bergerak mundur.
Adit tersenyum dan mendekatinya.
"Nggak macem-macem kok."
"Jangan deket-deket!" teriak Aqqela melemparkan sandalnya ke arah Adit yang malah terkekeh.
Gemesin banget.
Aqqela hendak mundur lagi, namun pinggangnya lebih dulu di tahan Adit membuat gadis itu meronta-ronta minta di lepaskan.
"LEPASIN GUE BILANG!" sentak Aqqela memukul-mukuli dada Adit dengan kasar.
Brugh!!
Tubuh Aqqela di lempar ke sofa, sementara Adit menyeringai nakal dan melepaskan jubah tidurnya, menyisakan celana pendek, sementara tubuh atasnya telanjang.
"Apaan sih lo?" jerit Aqqela menendang serampangan saat Adit mulai menindih tubuhnya, "TOLONG, TOLONG!"
Adit terkekeh, "Nggak akan ada yang peduli juga," katanya mencium pipi Aqqela lembut.
PLAK!!
Tamparan keras Adit terima. Bukannya marah, Adit justru gencar memajukan wajah untuk mencium bibir Aqqela, namun gadis itu meronta penuh penolakan.
Sampai tangan Aqqela bergerak meraih vas bunga di meja dan menghantamkan ke kepala Adit.
PRAKK!!
"Aghrrranjing!" umpat Adit kesakitan, membuat Aqqela segera kabur dari sana.
"Aqqela, mau kemana kamu?" Panik, Adit langsung berlari menyusulnya.
Di depan lift, Aqqela panik saat mendengar teriakan Adit.
"Please, ayo buka!"
Ting!
Pintu lift terbuka membuat Aqqela segera masuk.
"AQQELA!!"
Aqqela membelalak dan segera menutup lift itu cepat, sebelum Adit berhasil masuk.
Dalam isak tangisnya karena hampir di lecehkan, gadis itu berlari sekuat tenaga keluar dari apartemen dan menerjang hujan deras.
Kakinya yang tidak memakai apa-apa terus berlari menyusuri trotoar jalan dengan tangisan kian pecah. Berbelok dan hampir terpeleset jatuh, tapi dia tetap berlari tak ingin berhenti.
Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini takdirnya?
***
Aqqela berjalan lemas, sambil memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan karena hujan. Bibirnya tampak pucat, sedangkan matanya memerah karena terlalu banyak menangis.
"Pa, aku capek..."
Dia merunduk dengan isakan pelan.
Berhenti di jembatan, memandang aliran sungai deras di bawahnya.
"Kenapa Aqqela harus hidup kayak gini, pa?
Aku salah apa sebenarnya?" lirihnya dengan suara tercekat.
Demi Tuhan Aqqela mencoba berdamai dengan kehidupan. Tapi kenapa rasanya untuk bernapas saja dia merasa kesakitan sekarang?
"Aku pengen ikut papa aja. Aku takut sendirian di dunia ini. Aku pengen ketemu mama sama papa. Aqqela kangen..."
Hancur.
Mata Aqqela berkaca-kaca menatap sungai deras di bawah sana.
Apakah ini akhirnya?
Dia tersenyum miris.
Di langit sana, kilatan petir begitu mengerikan. Tangan Aqqela gemetar memegang besi pembatas jembatan.
Ya, ini akhir dari kehidupan menyedihkannya.
Byur!!!
Dan setelahnya, dia benar-benar menceburkan dirinya di sungai.
Blubh...blubh...
Aqqela benar-benar jatuh ke air, sama sekali tidak mencoba berenang, walau dia mampu.
Membiarkan tubuhnya semakin tenggelam di dalam air.
Perannya di dunia sudah benar-benar akan selesai. Ha ha, menyedihkan.
Aqqela masih menahan napas di dalam air. Dia merasakan jantungnya berhenti di detik yang sama.
Di saat kesadarannya mulai hilang, Aqqela merasakan seseorang melompat ke air dan berenang ke arahnya.
Pinggang Aqqela di tarik cepat dan di bawa berenang ke daratan.
"Nat! Sialan. Lo ngapain sih, hah?" Fattah menyentak panik sambil menekan dada Aqqela dengan telapak tangannya.
"Qell, bangun brengsek! Nggak-nggak, jangan kayak gini, gue mohon!" kata Fattah sambil menepuk pipinya berulang kali.
Fattah segera membungkuk dan menjepit hidung Aqqela, sebelum akhirnya menyatukan bibir keduanya dan memberikan udara dari mulutnya ke mulut gadis itu.
Dada Aqqela mulai terangkat. Gadis itu seperti mencoba bernapas dan selanjutnya mulai terbatuk-batuk, membuat Fattah mendesah lega.
Tatapan Aqqela mendongak sayu, saat tubuhnya di dekap kuat seseorang.
"Fattah...?"
Kepalanya tampak lemas di dada Fattah dan matanya kembali terpejam rapat.
"Aqqela, nggak! Jangan di tutup matanya! Maafin gue Qell, maafin gue!" kata Fattah khawatir sambil memeluk tubuh gadis itu.
***