NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Danish memejamkan mata dalam-dalam mencoba mengusir rasa yang berdentum kuat memekak tubuh inti bawahnya. Namun semakin ia terpejam, wajah Hana yang tengah mengumpatinya bak tarian khas bali dengan lirikan tajamnya.

"Arghhh!!!! Nggak, nggak! Kelamaan berendam malah nggak bener ini jadinya." Danish sekuat tenaga mencoba bangkit sambil menahan nyeri di pusat hidupnya.

Dalam keadaan polos, pria itu berlalu menghidupkan air dingin demi meredakan hasrat gilanya sore itu. Sambil meredakan napasnya yang sejak tadi berdetak kuat, Ayah Keira akhirnya mampu meredakan semuanya yang bergejolak hebat.

10 menit membersihkan diri, Danish menyambar handuk lalu melilitkannya sebatas pinggang.

Dalam keadaan rambut basah serta siulan kecil yang menyamai, hal itu semakin membuat jiwa maskulin Danish terpancar. Apalagi wangi sabun yang membekas pada tubuhnya, semakin membuat para gadis menjerit kegirangan.

Pintu lemari terbuka. Danish membolakan mata lebar kala mendapati semua pakaian itu bukan miliknya. Tangan kekar itu menggapai sesuatu yang menyelip diantara tumpukan baju.

"Ini pasti miliknya Lukman!" tebak Danish ketika kedua tanganya merentangkan sebuah boxer dengan motif Spongebob tadi. "Tapi, masak Bik Inem sampai salah masukin? Atau... Jangan-jangan...."

Sementara di bawah, Hana yang sudah rapi, kini segera keluar berniat untuk memberikan Asi lagi pada Keira. Dan ternyata setelah di cari-cari, bayi 5 bulan itu tengah bermain bersama Bu Ana di ruang tengah.

Hana mendekat dengan sikap segannya. "Bu... Keira anteng, ya?"

Bu Ana menoleh. Ia masih duduk dilesehan karpet yang membentang luas di depan televisi. Dan disana sudah di putar acara Baby Bus, kartun kesukaan cucunya. "Iya, Han... Lihat, deh... Suka dia sama kartun bayi itu," gemasnya sambil menciumi pipi gembul Keira.

Mendengar suara Hana, Keira yang sedang berlatih duduk dikursi balonnya, sontak menoleh menunjukan kedua gusinya-tanpak menggemaskan.

Baru saja Hana ingin bergerak untuk melangkah, tiba-tiba dari arah tangga, Lukman turun tergesa sambil memekik, "Mah... Mamah....."

Bu Ana sudah lebih dulu menahan napas dalam. Sejak dulu pun, sebelum Lukman pergi dari rumah, pria itu pasti tak lepas dari beberapa pertanyaan mengenai keberadaan barang-barangnya. Sekalipun itu pakaian dalam miliknya sendiri.

"Mah-"

Bu Ana menatap dengan malas. "Kamu ini kenapa sih, Luk? Teriak-teriak kaya di hutan aja! Kenapa? Barang mana lagi yang hilang?!"

Wajah Lukman menekuk, tanganya menggaruk bagian kepala belakang, mencoba mengingat-ingat namun hasilnya tetap sama-nihil. "Mah... Mamah lihat nggak, boxer Lukman yang motifnya Spongebob?" bisiknya meskipun Hana cukup mendengar semua itu.

Dalam tertunduk, Hana menyembunyikan tawa lebarnya. Jadi, boxer yang sempat ia lihat tadi pagi, ternyata milik putra kedua Majikannya.

"Kamu taruh mana, Lukman? Emangnya tu boxer Mamah yang pakai?! Kebiasaan kalau cari barang nggak pernah bener!" cerca sang Mamah merasa geram.

Lukman kembali memajukan setengah badanya. Lalu berbisik, "Mah, malu di dengeri sama Hana!"

Sementara dari atas, terdengar suara hentakan kaki yang mulai menuruni tangga dengan begitu santainya. Dalam balutan kaos serta celana training biasa itu, Danish tetiba melemparkan sesuatu kearah adiknya.

Lukman terkejut. Namun setelah melebarkan benda tadi, senyumnya merekah.

"Astaga, Lukamnnnnnn!!!! Gimana mau menikah?!" pekik Bu Ana ketika melihat putra keduanya kegirangan mendapat boxernya.

Danish dengan santainya berkata, "Gimana bisa kolor Patrick itu sampai nyelip di dalam lemariku?"

Deg!

Hana membolakan mata, lalu tertunduk merutuki kesalahanya. "Duh, ternyata tadi pagi baju kedua pria itu ketuker. Gimana kalau Pak Danish tahu?" bisik Hana dalam hatinya.

"Ini Spongebob, Danish! Dimana Patricknya?" kesal Lukman. Meskipun sudah sebesar itu, kartun Spongebob akan menjadi salah satu kartun favoritnya.

Danish kembali berdesis, "Iya, Patricknya itu kamu!"

Tawa Bu Ana pecah. "Ih, mana ada anak ganteng Mamah ke Patrick yang melongo terus itu," belanya.

Sementara itu, Bik Inem datang dari arah dapur sambil membawakan segelas teh aroma untuk Bu Ana.

"Bu, ini tehnya," kata Bik Inem meletakan teh tadi.

Bu Ana dengan sisa tawanya menjawab, "Iya, makasih ya Bik!"

Baru saja Bik Inem akan berbalik, Danish menghadangnya dengan pertanyaan. "Bik, siapa yang taruh baju-baju, kok punya saya bisa ke tuker sama punya Lukman?"

Lukman tak kalah menyahut, "Iya, Bik... Untung Boxer kesayangan ini ketemu."

Bik Inem seketika menatap ke arah Hana, yang kini wanita cantik itu tengah tersenyum kikuk. "Maaf, tadi pagi saya yang taruh, Pak!" seru Hana hingga membuat semua orang menoleh.

Mendapat tatapan memicing dari Bosnya-Danish, Hana kembali melanjutkan. "Tadi pagi Keira nangis, dan... Saya tergesa menaruh baju-baju itu. Sekali lagi saya minta maaf," tatapan Hana beralih pada Lukman juga. "Maafin saya, Mas Lukman...."

"Nggak papa kok, Han... kamu gak usah minta maaf," sahutnya dengan senyum tulus.

Danish yang melihat seketika meradang. "Ya sudah, Bik Inem boleh kembali," tatapanya kembali kearah Hana. "Hana, ikut saya sebentar!" Langkah kaki itu membawanya menuju ruang samping tepatnya di tepi kolam.

Hana menatap Bu Ana sekilas. Sorot matanya gamang, namun ketika usapan hangat itu terulas dalam lenganya. Seketika senyumnya mengembang. "Saya permisi dulu, Bu."

Sementara itu Lukman hanya menatap Ibunya dengan sorot penuh tanya. Dan hendikan bahu acuh sebagai jawaban atas tidak ketidaktahuan Bu Ana.

*

*

"Ada apa lagi, Pak?" suara Hana merendah, kini sudah berdiri tertunduk di belakang Danish.

Pria tampan berusia 32 tahun itu bersedekap dada, menatap kedepan, wajahnya begitu santai. Namun, kali ini kalimatnya bak lemparan belati yang cukup menancap pada ulu hati Hana.

"Kamu itu gimana sih? Kalau kerja itu nggak pernah bisa profesional?! Saya itu menggaji kamu bukan untuk melihat keteledoran kamu, Hana!" cetusnya.

Hana sudah meradang di belakang tubuh tegap itu. Dadanya naik turun, hingga langkahnya maju dan berhenti tepat di samping Bosnya. "Heh, kek Pak Danish nggak pernah buat kesalahan aja sih?! Hidup Anda emangnya sudah senormal apa? Cuma karena baju ketuker aja sampai marah-marah nggak jelas," tandasnya.

Danish spontan menoleh. "Loh, kok malah jadi kamu yang mencerca saya?! Ingat, Hana...." telunjuk itu terangkat pas didepan wajah Hana. "Kamu itu saja gaji untuk melakukan tugas sebaik mungkin! Jadi, jangan pernah semena-mena karena Ibu saya sangat menyukai kamu! Dan satu lagi... Saya nggak suka kamar saya di masuki sembarang orang, termasuk kamu!"

Selepas itu, Danish berlalu begitu saja meninggalkan bekas luka dalam dada Hana. Mencoba mengenyahkan, namun Hana tetaplah wanita biasa yang kapan saja bisa menangis karena rasa sakit.

Dan kali ini, ucapan Danish sukses menghantam hatinya. Ia tersenyum getir, meskipun air matanya baru saja ia usap.

"Gini amat ya, jika apapun tolak ukurnya uang. Awas aja pria itu," gumam Hana merasakan sesak yang kian menyergap. Namun, ia tak ingin terus meratap. Sudah cukup tangisanya ia tumpahkan untuk Dzaki waktu lalu.

Ia usap, menarik napas dalam, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman seolah tidak terjadi apa-apa.

1
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ardan ODGJ nih ...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Tuh kaaaaaaannnn ....
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ardan gosah jadi arogan gitu dehh... malah jadi nyebelin keleeuuss ... 🙄
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ternyata Nayla kerreeennnzzz .... berjiwa besar ... 😍
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Maksudnya dokter penyakit dalam kalik yaaa ... 🤔
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Lhah ... emang semenjak kapan Danish sakit ?
Kalo emang udah tau sakit parah .. kenapa kmrn rencana melamar ?
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya Happy semua.👍
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
owalaaaaaaaa ..... itu mah bukan adat ... tapi "bisnis" balas budi" ..... sampe segala menjelekkan orang kota ...
betul2 orang2 tua dgn pemikiran yg picik dan t0l0l !!!
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
adat desa yg aneh ... merendahkan wanita, sama sekali gak mempunyai hak suara dan hak memilih ... cuma bisa nrimo...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Apa iya ada aturan adat spt itu ?
Kebetulan aja sejauh ini Ardan orang nya baik.
Kalo yg ngelamar tukang mabok dan main p3l4cur ... apa iya tetap harus diterima lamarannya demi adat ? Sbg pihak perempuan ga bisa menolak ? Kasian banget jadi perempuan ...
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Emang ada aturan begitu ya ?
Bukannya Hana bisa menolak lamaran Ardan ?
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Halah ... bu Laksmi juga gak tau kejadian sebenernya kaaannn ....????
Danish tuh nolaknya juga gak ngotot .. soalnya dia lapar, buuuuuu .... dan tau kalo bubur yg dibawa Rani tuh emang enak. Jadi ... akhirnya mau2 aja di suapin .. 🤪
Itu bukan khilaf kalliiikkkk .... 🤪
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Danish ini CEO nya preman . 🙄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lagi di situasi darurat tapi masih sempet²nya ada dialog bahas panggilan pada staf hotel... maaf Thor harusnya kalau lagi di situasi kayak gitu mending tetap konsisten pake panggilan formal saja karna kurang pas saja.🙏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Perasaan makin mlngedeketin End kok kondlik ceritanya malah makin² ya... awal bab sampe beberapa bab Aku sempet berhwnti baca karna lupa di tinggal terus nyambung lagi dan sekarang bukannya harusnya masalah mereda tapi masih ada saja masalahnya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ini niĥ akibat suka ngambil keputusan sembrono dan ga belajar dari kepahitan di awal jadinya ya begini lagi, biarpun Ardan kamu kenal dulu tapi sekarang belum tentu sifatnya ba9k ngganya Hana dan menikah untuk seumur... masa maen langsung ter8ma tanpa minta waktu untuk berpikir biar ga gagal lagi dengan perceraian.
Keluarganya kok juga sama ga ada yang tegas sama sekali seolah hidup mereka ga punya hak untuk diri mereka.😤
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga belajar dari pernikahan sebelumnya Hana, kenapa ga bisa ambil sikap menolak dan bu Laksmi juga sebagai ibu ga lihat pernikahan Sanas kayak gimana karna selalu memaksa anak untuk nurut tanpa ga tau perasaan mereka.

Bude dan pakde'nya juga kok seolah punya wewenang penuh dengan hidup keponakannya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lah aneh, si ibu masa kalah sama adat tapi anda sebagai orang tua, penduduk sana juga punya keputusan sendiri untuk memutuskan jalan hidup anak anda bukan dengan iyain saja tanpa bertindak membela harga diri anda sebagai manusia juga punya kuasa bu.. emang jalan hidup anda mau di atur adat tanpa mau membela diri sendiri, terus kalau seumpama kehidupan kalian gak bahagia mereka yang punya aturan adat mau bertanggung jawab kah?! kan ngga.
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
owalaaaa .... orang tua nya Rani toh ....
ternyata mereka kerjasama ....
Rangga p3bin0r
Rani dj4l4n9
Ortu Rani .... mmmm ... apa ya ? keknya mak lampir dan gendruwo deh .... 🤔
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
lebay ...
jadi cowo koq lemah banget mau aja dipaksa si dj4l4n9 bl0r0ng ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!