Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bau antiseptik di koridor Rumah Sakit Umum Seoul Selatan, pagi ini terasa lebih menyengat dari biasanya—seolah-olah zat kimia itu sengaja berusaha menembus setiap serapan udara, meresap ke dalam sistem pernapasan hingga ingin menembus pertahanan mental Samuel yang kian menipis seiring waktu. Di depan meja perawat yang terletak di persimpangan koridor utama, Dokter Han—kepala departemen bedah umum yang dikenal dengan ketegasannya—berdiri dengan tegak, kedua tangan dilipat rapat di depan dadanya, menatap Samuel seolah bisa membelah tulang dan melihat langsung ke dalam rahasia yang tersembunyi.
"Dokter Samuel. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini Dokter Bahng terlambat untuk visit pagi ke ruang rawat inap. Kalau hanya sekali atau dua kali, mungkin bisa aku maafkan karena keadaan darurat. Tapi tiga kali dalam seminggu? Itu bukan angka yang bisa diterima untuk seorang dokter residen senior."
Samuel merasakan bagaimana keringat dingin mulai menetes perlahan dari pelipisnya ke lehernya, meskipun jas medisnya yang dikenakan sudah cukup tebal untuk melindunginya dari dinginnya ruangan. Ia mengeratkan genggaman pada tas dokter yang dipegangnya, kemudian memaksakan senyum kecil yang ia tahu terdengar sangat garing bahkan di telinganya sendiri.
"Ah, itu... Anda tahu sendiri kan, Dokter Han? Axel itu orangnya sangat perfeksionis. Belakangan ini dia sedang mengerjakan jurnal riset tentang mutasi genetik langka—jenis yang sangat jarang ditemukan di populasi Korea Selatan. Dia bekerja sampai begadang setiap malam di rumah atau di perpustakaan kampus. Anda tahu betapa keras kepalanya dia kalau sudah menemukan data yang menarik dan merasa perlu mengeksplorasinya lebih dalam. Saya bahkan harus menyeretnya pulang dari perpustakaan tempo hari karena dia sudah mulai mengantuk di atas meja dan hampir menjatuhkan buku referensinya yang berat itu ke wajahnya sendiri."
Dokter Han menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresi wajahnya tetap tidak berubah—masih penuh dengan keraguan dan sedikit kemarahan. Ia menjangkau tangan kanannya untuk mengambil selembar kertas dari atas meja perawat, kemudian mengayunkannya sedikit di udara untuk menunjukkan bahwa itu adalah catatan kedisiplinan yang sudah dibuatkan untuk Axel.
"Begadang karena pekerjaan bisa dimengerti, Samuel. Tapi begadang tidak membuat seorang dokter residen senior hampir menabrak troli obat yang sedang didorong oleh perawat muda itu karena dia sedang melamun di tengah koridor. Saya sendiri melihatnya kemarin di kantin, dia duduk di sudut paling dalam, memegang cangkir kopi tapi tidak menyentuhnya sama sekali. Wajahnya pucat, dan matanya tampak kosong. Dia terlihat seperti pasien anemia kronis yang baru saja bangkit dari kubur, bukan seorang dokter yang seharusnya menjaga kesehatan orang lain."
Ia menghentikan pembicaraannya sejenak, menatap Samuel dengan tatapan semakin dalam. "Sampaikan padanya. Jika dia tidak bisa menjaga performanya dan kedisiplinan kerja dengan baik dalam waktu tiga hari ke depan, saya tidak punya pilihan selain menonaktifkannya sementara dari jadwal operasi dan memindahkannya ke tugas administratif saja. Kami tidak butuh dokter yang tangannya gemetar saat sedang berdiri di depan meja bedah. Kesalahan satu detik saja bisa merenggut nyawa pasien."
Setelah itu, Dokter Han memberikan catatan kedisiplinan itu kepada Samuel, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan meja perawat. Samuel hanya bisa menatap sosoknya yang menjauh, merasa seperti ada batu besar yang menekan dadanya dengan sangat kuat. Ia mengembuskan napas panjang, bahunya yang tadinya masih ditegangkan kini meluruh ke arah depan seolah-olah semua kekuatan yang ada di dalam tubuhnya tiba-tiba menghilang.
Berbohong demi Axel telah menjadi pekerjaan paruh waktu yang melelahkan bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dan spiritual. Setiap hari ia harus membuat alasan baru, setiap hari ia harus memasang wajah yang rileks dan percaya diri padahal dalam hatinya ia tahu bahwa semua yang mereka lakukan adalah sesuatu yang salah dan berbahaya.
Tanpa berlama-lama lagi, Samuel segera melangkah hati-hati menuju ruang loker dokter yang terletak di ujung koridor paling dalam.
Pintu ruang loker terbuka, dan begitu masuk, Samuel langsung mendapati Axel sedang duduk di lantai di antara dua buah loker yang berdampingan. Jas medis putihnya sudah dilepas dan diletakkan di atas lantai di sebelahnya, sementara dasi lehernya sudah dilonggarkan dan kancing baju dalamnya sedikit terbuka. Ia sedang menatap kosong ke arah lantai ubin, matanya kosong dan tidak fokus pada apa pun, sementara tangan kanannya masih memegang botol air mineral yang belum dibuka labelnya.
"Sampai kapan?" tanya Samuel tanpa basa-basi, menutup pintu ruangan dengan suara yang lembut agar tidak mengejutkan Axel yang tampak sedang dalam dunia sendiri.
"Sampai kapan aku harus jadi badut yang terus membuat alasan di depan Dokter Han dan orang lain? Tadi dia nyaris benar-benar mencabut izin operasimu. Jika itu terjadi, kamu tidak hanya kehilangan kesempatan untuk melakukan operasi—nama baikmu sebagai dokter juga akan tercoreng."
Axel mendongak perlahan ke arah Samuel. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih mengerikan dari biasanya, dan kulitnya kini tampak pucat dan kusam. Ia menggerakkan bibirnya dengan susah payah, kemudian mengangkat botol air mineral yang masih belum dibuka ke arah bibirnya, meskipun tidak melakukan apa-apa selain hanya memegangnya di sana.
"Terima kasih, Sam." Ia menurunkan pandangannya kembali ke lantai. "Aku tahu kamu sudah banyak melakukan hal untukku. Aku hanya butuh waktu sedikit lagi. Riset tentang sel darah manusia yang baru ini—kalau aku bisa menemukan kombinasi zat yang tepat, mungkin bisa benar-benar mengendalikan kondisi Lusy tanpa harus membuatnya menderita seperti sekarang."
"Persetan dengan riset itu!" kata Samuel dengan suara yang tiba-tiba meninggi, membuat Axel terkejut.
Ia menendang pintu loker terdekat dengan keras. "Lihat dirimu, Axel! Kau pucat seperti mayat, kau sering melupakan makan dan minum, kau bahkan sudah mulai mencuri stok darah dari bank darah rumah sakit untuk diberikan pada Lusy. Kita bukan lagi dokter yang menjunjung tinggi etika dan keselamatan pasien. Kita sudah menjadi kriminal yang menyalahgunakan wewenang dan fasilitas rumah sakit untuk kepentingan pribadi!"
Axel berdiri dengan cepat, menggunakan bantuan tangan yang ditempatkan pada permukaan loker untuk menopangnya. Wajahnya yang tadinya pucat kini mulai memerah karena kemarahan yang muncul di dalam dirinya.
"Aku melakukannya untuk Lusy, Sam! Kau tahu itu kan? Kau tahu betapa aku mencintainya dan betapa tidak adilnya apa yang terjadi padanya. Jika ada satu-satunya cara untuk menyelamatkannya, aku akan melakukan apa saja—bahkan jika itu berarti harus menjadi orang yang aku benci sendiri!"
"Dan itu membunuhmu secara perlahan!" bentak Samuel. Ia melangkah cepat mendekati Axel, kemudian mencengkeram kerah jas putih yang masih dikenakan Axel dengan kuat, memaksa sahabatnya itu untuk menatap wajahnya secara langsung.
"Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku benar-benar lekah memasang badan untuk semua kegilaanmu. Setiap hari aku harus melihatmu merusak dirimu sendiri dan merusak karirmu yang sudah kau bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Kita tidak bisa terus begini selamanya. Dinding kebohongan yang kita bangun bersama sudah terlalu tinggi dan terlalu rapuh. Suatu saat nanti dia akan runtuh dan menimpa kita semua—dan tidak hanya kita yang akan terluka, tapi juga orang-orang lain yang kita cintai."
"Berhentilah sebelum semuanya benar-benar terlambat. Sebelum kau benar-benar kehilangan segala sesuatu yang kamu miliki."
Axel melepaskan cengkeraman tangan Samuel dengan sedikit kasar. Matanya kini menyala oleh kemarahan yang membara dan keputusasaan yang mendalam.
"Berhenti?" ucapnya dengan suara dingin. Ia mengangkat dagunya dengan sikap sombong. "Lalu apa yang harus kulakukan? Membiarkannya mati perlahan-lahan sambil aku hanya berdiri di sana menatapnya menderita? Atau menyerahkannya pada mereka di rumah sakit atau pemerintah yang pasti akan membawanya pergi dan membedahnya seperti hewan percobaan untuk mencari tahu apa yang salah dengan tubuhnya?"
"Mungkin itu lebih manusiawi daripada menyekapnya di bawah tanah dan memberinya makan seperti binatang yang tidak bisa dikendalikan!" suara Samuel mulai pecah di bagian akhir kalimatnya.
"Kau berpikir kamu sedang menyelamatkannya. Tapi sebenarnya kau hanya sedang memperpanjang siksaannya karena kau terlalu pengecut untuk melepaskannya. Kau terlalu takut kehilangan dia sehingga rela melakukan apa saja, bahkan jika itu membuatnya menderita lebih lama!"
Kata-kata itu keluar dari mulut Samuel, menghantam Axel lebih keras daripada pukulan fisik mana pun yang pernah ia terima dalam hidupnya. Ia merasa seperti ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya—sebuah rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang punggungnya. Ruangan itu mendadak menjadi sangat hening, hanya menyisakan dengungan mesin pendingin ruangan yang terdengar seperti bisikan jahat di telinga.
Samuel menatap Axel dengan napas yang masih memburu, sementara Axel berdiri dengan tubuh yang kaku, wajahnya penuh dengan ekspresi campur aduk antara kemarahan, kesedihan, dan perasaan bahwa ia telah dikhianati oleh satu-satunya orang yang bisa ia percayai di dunia ini.
"Jika kau merasa terbebani dengan semua yang aku lakukan, pergi saja," bisik Axel dengan dingin dan tanpa emosi, tidak lagi melihat ke arah Samuel, hanya menatap ke arah dinding loker di depannya dengan pandangan kosong. "Jangan datang lagi ke rumahku dan jangan pernah ikut campur dalam urusanku lagi. Aku akan menyelesaikan semua ini sendiri—tanpa bantuanmu atau siapapun yang tidak mengerti apa yang aku rasakan."
Samuel menatap Axel dengan mata yang penuh kesedihan selama beberapa detik lamanya. Ada kilatan kekecewaan yang jelas di dalam matanya, sebuah perasaan bahwa persahabatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun sudah benar-benar hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"Bagus." Ia mengangkat bahu dengan lambat, kemudian mulai berjalan menuju pintu ruangan. "Lakukan apa yang kau mau. Lakukan sesukamu dan rasakan konsekuensinya sendiri nanti. Tapi jangan pernah menghubungiku atau memanggilku ketika semuanya akhirnya meledak di depan wajahmu. Aku sudah cukup membantumu sampai sejauh ini."
Samuel berbalik dan melangkah keluar dari ruang loker dengan langkah kaki yang mantap meskipun hatinya sedang hancur berkeping-keping. Sebelum keluar, ia membanting pintu ruangan dengan suara yang cukup keras untuk menunjukkan betapa besar rasa sakit dan kekecewaannya, namun tidak cukup keras untuk menarik perhatian orang lain di luar koridor. Tindakan itu meninggalkan Axel sendirian di tengah keheningan yang menyesakkan dan berat di ruang loker yang kecil itu.
Janji persahabatan yang pernah mereka jujungi dengan penuh semangat kini sudah retak parah seperti kaca yang jatuh dari ketinggian, menyisakan Axel yang semakin terisolasi dalam kegelapan ambisinya yang buta dan tekad yang salah arah untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ