Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7: Puing-Puing Bank Miller dan Munculnya Musuh Baru
Pagi itu, ibu kota tidak lagi berbicara tentang cuaca. Aroma tanah basah setelah badai semalam masih tertinggal, namun udara dipenuhi oleh bau tinta koran yang baru saja dicetak. Di setiap sudut jalan, di kedai-kedai kopi yang penuh sesak, hingga ke aula istana, hanya satu nama yang disebut: Adrian Miller.
“KEJATUHAN SANG JENIUS KEUANGAN: SKANDAL JUDI DAN KORUPSI BANK MILLER TERBONGKAR!” “NASABAH MENGAMUK, CADANGAN EMAS MILLER NOL!”
Elara duduk di kursi kerja ayahnya di perpustakaan kediaman Lane. Di depannya, setumpuk dokumen hukum dan surat penyitaan aset telah siap untuk ditandatangani. Ia tidak lagi mengenakan gaun ungu lembut yang biasa ia pakai. Kali ini, ia mengenakan setelan gaun formal berwarna hitam pekat dengan bordir perak yang tajam, memberikan kesan otoritas yang tidak tergoyahkan. Rambut putihnya diikat tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan matanya yang merah muda, berkilat seperti permata beracun di bawah cahaya lampu kerja.
"Nona Elara, pengacara dari firma hukum kekaisaran telah tiba," lapor Martha dengan nada yang jauh lebih hormat dari biasanya. Martha bisa merasakan bahwa nonanya bukan lagi gadis kecil yang butuh dilindungi, melainkan penguasa yang memegang kendali nasib banyak orang.
"Suruh mereka masuk," jawab Elara tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
Dua pria paruh baya dengan kacamata tebal masuk, membungkuk sangat dalam. Mereka adalah pengacara paling mahal di kekaisaran, yang sebelumnya bekerja untuk Adrian. Namun, seperti tikus yang meninggalkan kapal tenggelam, mereka kini merangkak memohon perlindungan pada Elara.
"Nona Lane, sesuai instruksi Anda, kami telah memproses pengalihan hak guna tanah Pelabuhan Utara. Karena Tuan Adrian gagal memenuhi jaminan dalam waktu 12 jam, maka secara legal, aset tersebut kini kembali sepenuhnya ke tangan keluarga Lane... dan atas nama Anda secara pribadi," ucap salah satu pengacara dengan suara gemetar.
Elara mengambil pena bulu, mencelupkannya ke dalam tinta merah, dan membubuhkan tanda tangannya dengan tegas. "Bagaimana dengan sisa aset pribadi Adrian? Rumah di pinggiran kota, koleksi seninya, dan kuda-kudanya?"
"Semuanya telah disita untuk menutupi hutang nasabah, Nona. Adrian Miller kini secara resmi... tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya di dalam sel tahanan sementara."
Elara bersandar di kursinya, merasakan kepuasan yang dingin mengalir di nadinya. Di kehidupan sebelumnya, ia memohon-mohon pada pria-pria ini untuk menyelamatkan aset ayahnya yang dicuri Adrian, namun mereka hanya tertawa di balik punggungnya. Sekarang, mereka gemetar melihat satu goresan penanya.
"Kalian boleh pergi," usir Elara dingin. "Pastikan tidak ada satu koin pun yang tersisa untuknya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya lapar yang sebenarnya."
Setelah pengacara itu keluar, pintu perpustakaan kembali terbuka. Alaric masuk tanpa suara. Ia tidak mengenakan seragam kebesarannya, hanya kemeja hitam sederhana dengan kancing atas yang terbuka, namun aura kekuasaannya tetap mendominasi ruangan.
"Kau tampak sangat menikmati ini, Elara," ucap Alaric sambil berjalan menuju meja kerja. Ia meletakkan sebuah kotak kayu kecil berukir di depan Elara.
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Alaric," balas Elara. Matanya beralih ke kotak itu. "Apa ini?"
"Saat timku menyita dokumen pribadi Adrian di kantor rahasianya, mereka menemukan ini di balik brankas ganda. Ini bukan dokumen perbankan. Ini adalah korespondensi pribadi."
Elara membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa pucuk surat yang diikat dengan pita sutra merah darah. Saat ia membuka salah satu surat, matanya melebar. Segel yang digunakan pada lilin penutupnya bukan segel keluarga Miller, melainkan segel berbentuk mawar hitam yang dikelilingi duri.
Segel Keluarga Ducal Ravenstein.
"Ravenstein?" Elara berbisik, suaranya mengandung kengerian yang nyata. "Keluarga tertua di perbatasan barat? Tapi mereka adalah faksi yang paling tertutup. Kenapa mereka berhubungan dengan Adrian?"
Alaric mengangguk, wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Baca isinya, Elara."
Elara membaca baris demi baris. Napasnya tercekat. Surat itu berisi instruksi kepada Adrian untuk menghancurkan keluarga Lane bukan hanya untuk uang, tapi untuk memutus jalur logistik militer di Pelabuhan Utara. Adrian hanyalah pion. Ada seseorang yang jauh lebih besar yang mendanai gaya hidup mewah Adrian, memberinya informasi orang dalam, dan menjanjikannya posisi tinggi di kementerian jika ia berhasil menjatuhkan keluarga Lane.
"Lakukan tugasmu dengan rapi, Adrian. Jika kau berhasil melenyapkan Elara Lane dan mengambil alih kendali pelabuhan, posisi Menteri Keuangan akan menjadi milikmu. — I."
"I?" Elara menatap Alaric. "Siapa 'I' ini?"
"Isabella von Ravenstein," jawab Alaric dengan nada benci yang dalam. "Wanita yang dikenal sebagai 'Mawar Hitam Barat'. Dia adalah kerabat jauh kaisar dan salah satu orang paling berpengaruh di dewan penasihat. Dia memiliki ambisi untuk mengendalikan perdagangan seluruh kekaisaran."
Elara merasakan tangan dingin yang merayap di punggungnya. Di kehidupan sebelumnya, ia mengira musuhnya hanyalah Adrian dan Sera. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik mereka, ada raksasa yang sedang mempermainkan hidupnya seperti boneka. Jika ia tidak terlahir kembali, ia tidak akan pernah menyadari bahwa kematiannya adalah bagian dari konspirasi politik tingkat tinggi.
"Jadi, Isabella-lah yang memberikan racun itu pada Adrian?" tanya Elara, suaranya bergetar karena amarah.
"Kemungkinan besar. Adrian tidak memiliki akses ke racun langka jenis itu. Isabella-lah yang ahli dalam bidang itu," Alaric berjalan ke belakang kursi Elara, meletakkan tangan besarnya di bahu wanita itu. "Elara, permainan ini baru saja berubah. Adrian hanyalah rintangan kecil yang sudah kita singkirkan. Sekarang, kita berhadapan dengan musuh yang bisa menghancurkan sebuah provinsi dengan satu kata."
Elara berdiri, berbalik menghadap Alaric. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan panas tubuh Alaric. "Kau tahu tentang ini sejak awal, bukan? Itu sebabnya kau mencariku? Karena kau tahu keluarga Lane sedang diincar oleh Ravenstein?"
Alaric terdiam sejenak, matanya menatap dalam ke mata merah muda Elara. "Aku tahu keluarga Lane sedang dalam bahaya, tapi alasanku mencarimu jauh lebih pribadi dari itu, Elara. Aku tidak peduli dengan pelabuhan itu. Aku tidak peduli dengan politik kekaisaran. Aku hanya peduli padamu."
Alaric mengambil tangan Elara, mencium punggung tangannya dengan intensitas yang membuat Elara lupa cara bernapas. "Isabella telah mengambilmu dariku satu kali di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya lagi di kehidupan ini. Jika dia ingin berperang, maka aku akan memberikan neraka padanya."
Tiba-tiba, seorang pengawal masuk dengan tergesa-gesa ke dalam perpustakaan. "Maaf mengganggu, Grand Duke, Nona Lane! Ada tamu di depan yang memaksa untuk bertemu."
"Siapa?" tanya Elara tajam.
"Dia tidak menyebutkan namanya, tapi dia mengenakan jubah dengan sulaman mawar hitam. Dia bilang... dia membawa pesan dari ibundanya."
Elara dan Alaric saling berpandangan. Musuh baru itu tidak menunggu lama untuk menunjukkan taringnya.
"Bawa dia ke ruang tamu utama," perintah Elara. Ia menoleh pada Alaric. "Siapkan pedangmu, Alaric. Sepertinya pesta yang sebenarnya baru saja dimulai."
Alaric memberikan senyum tipis yang mematikan. "Pedangku selalu siap untukmu, Ratuku."
Di ruang tamu utama, seorang pemuda cantik dengan rambut pirang pucat dan senyum yang meremehkan berdiri sambil mengamati lukisan keluarga Lane. Saat Elara dan Alaric masuk, pemuda itu membungkuk dengan gaya yang terlalu dramatis untuk dianggap tulus.
"Ah, Nona Elara Lane yang cantik. Dan tentu saja... Grand Duke Alaric yang perkasa," ucap pemuda itu. Suaranya halus seperti sutra, namun mengandung duri yang tajam. "Namaku adalah Julian von Ravenstein. Ibundaku mengirimkan salam hangat... dan sedikit belasungkawa atas 'kecelakaan' yang menimpa tunanganmu, Adrian."
Elara menatap Julian dengan dingin. "Belasungkawa? Aku lebih suka menyebutnya sebagai pembersihan sampah, Tuan Julian. Apa tujuanmu datang ke sini?"
Julian tertawa kecil, melirik ke arah surat-surat yang masih dipegang Elara. "Hanya sebuah pengingat kecil. Terkadang, saat kau membersihkan satu sampah, kau mungkin tanpa sengaja mengusik pemilik sampah tersebut. Ibundaku sangat menyukai kebersihan, tapi dia tidak suka jika miliknya disentuh tanpa izin."
Julian melangkah mendekati Elara, namun Alaric segera berdiri di depan Elara, menghalangi jalan Julian dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Jangan melangkah lebih dekat jika kau masih ingin pulang dengan kaki yang utuh, Nak," geram Alaric.
Julian mengangkat tangan, tanda menyerah, namun matanya tetap tertuju pada Elara. "Kami tidak tertarik pada Adrian lagi. Dia sudah gagal. Tapi kami sangat tertarik pada Pelabuhan Utara... dan pada Nona Lane. Ibundaku mengundang Anda untuk minum teh di kediaman kami minggu depan. Aku sangat menyarankan Anda untuk hadir. Karena jika tidak... badai semalam akan terasa seperti percikan air dibandingkan dengan apa yang akan menimpa keluarga Lane."
Setelah Julian pergi, keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan. Elara mencengkeram lengan baju Alaric. "Dia mengancamku secara terang-terangan di rumahku sendiri."
"Dia bodoh karena mengira ancaman itu akan berhasil," sahut Alaric. Ia memeluk Elara erat, seolah mencoba melindunginya dari dunia yang kejam. "Kita tidak akan pergi ke sana sebagai tamu, Elara. Kita akan pergi ke sana sebagai pemangsa."
Di bawah tatapan mata pink Elara yang kini membara, rencana balas dendamnya kini meluas. Adrian sudah runtuh, namun akar dari penderitaannya baru saja terungkap. Dan ia bersumpah, ia akan mencabut akar itu hingga tidak ada lagi mawar hitam yang tersisa di kekaisaran ini.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔