Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *3
Rin dan Marvel ngobrol dengan serius di ruang tamu. Namun, Rin masih merasa tidak nyaman untuk bicara dengan lebih terbuka.
"Vel. Ada hal serius yang ingin aku bicarakan."
"Katakan saja, Rin. Aku siap mendengarkan."
"Kita bicara dalam mobil kamu, bagaimana?"
Marvel menatap Rin dengan tatapan lekat penuh tanda tanya. "Sangat serius, Rin? Sampai harus bicara di dalam mobil segala."
"Sangat. Bersedia atau tidak?"
"Mm .... " Marvel tersenyum kecil. "Baiklah, nona. Ayo kita ke mobil."
Merekapun beranjak meninggalkan ruang tamu menuju mobil Marvel yang sedang terparkir di depan rumah. Hening sesaat ketika keduanya duduk di dalam mobil tersebut.
Lalu akhirnya, Marvin angkat bicara lebih dulu.
"Mau bicara soal apa, Rin? Katakanlah!"
"Kamu serius dengan hubungan kita sekarang?" Rin menoleh setelah berucap.
Wajah Marvel terlihat serius sekarang.
"Tentu saja. Kenapa? Kok tiba-tiba bertanya begini?"
"Kalau begitu, ayo menikah secepatnya, Vel."
Sontak, pria itu langsung memperlihatkan wajah terkejutnya. "Apa? Rin. Kok, kok tiba-tiba. Ada masalah apa sampai kamu tiba-tiba ngajak aku menikah?"
Rin langsung melontarkan tatapan tajam ke arah Marvel. Sesaat saja. Karena detik berikutnya, dia juga sadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Ajakan menikah yang ia ucapkan secara tiba-tiba, tentu saja akan membuat pacarnya terkejut. Maklum, pernikahan bukan untuk main-main, bukan?
"Vel. Aku hanya ... nggak. Aku hanya ingin meresmikan hubungan kita secepat mungkin."
"Kalau begitu, aku akan persiapkan segalanya dengan cermat untuk pertunangan kita. Aku akan minta keluargaku buat melamar kamu secepatnya."
"Bagaimana kalau kita langsung menikah saja, Vel? Lupakan pertunangan, langsung saja ke persiapan pernikahan."
Marvel terdiam seketika. Bibirnya terasa berat untuk ia ucapkan. Lalu benaknya, seolah kehabisan kata-kata. Dia memang ingin meresmikan hubungan mereka. Tapi tidak dengan cara tergesa-gesa. Ia ingin hubungannya dengan Rin berjalan secara perlahan. Bertahan, pelan, tapi pasti. Bukan dengan cara yang tiba-tiba seperti yang Rin minta saat ini.
"Rin. Aku serius sama kamu. Aku bersedia untuk menikah. Tapi, itu butuh proses. Kita tidak bisa langsung menikah sekarang. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan sebelum aku menjadi suami kamu."
Rin terdiam. Batinnya ingin menyalahkan Marvel. Tapi benak bicara soal logika. Apa yang Marvel katakan tidak sepenuhnya salah. Tapi, tidak pula sepenuhnya benar.
"Rin. Aku pasti akan menikah dengan mu. Aku janji. Tapi, aku harus menyiapkan dulu diriku agar rumah tangga kita berjalan dengan baik nantinya. Aku janji, aku akan bahagiakan kamu. Aku akan jadikan kamu ratu dalam rumah tangga kita."
Marvin meraih tangan Rin dengan lembut. "Sabar ya. Aku pasti akan menikahi kamu, Airin."
Rin tidak punya kata-kata untuk ia ucapkan. Yang bisa ia lakukan hanya terdiam. Hatinya kini tidak baik-baik saja. Ada begitu banyak perasaan yang teraduk di dalamnya.
"Rin."
"Iya. Aku mengerti. Aku akan berusaha untuk menunggu."
Senyum Marvel terkembang. "Nah, gitu baru benar. Calon istriku harus sabar menunggu."
Obrolan merekapun berakhir. Rin meninggalkan mobil setelah memaksakan senyum dengan susah payah. Sedangkan Marvel, dia masih terdiam di sana hingga Rin hilang dari pandangan mata setelah pintu rumah di tutup secara perlahan.
*
Setelah obrolan tanpa keputusan yang memuaskan hati itu berakhir, hati Rin masih tidak tenang. Ketika pagi datang, dia merasa sangat malas untuk membuka mata.
Namun, bunyi piring pecah membuat tubuhnya terlonjak kaget. Rin memaksakan diri untuk bangun dengan cepat. Gadis itu keluar dari kamar, lalu berjalan perlahan ke arah dapur.
Dapur saat ini terlihat berantakan. Rin terus berjalan mendekat. Adiknya sedang menangis di pojokan. Sedang mama dan papanya sedang terlihat sangat kesal.
"Apa yang terjadi?" Rin bertanya dengan wajah bingung.
Sayangnya, tidak ada yang bersedia menjawab. Si adik yang awalnya menangis, malah beranjak dengan cepat meninggalkan dapur. Suasana hening terasa lebih kuat setelah kepergian Yara.
"Ma."
"Yara tidak siap menikah." Sang mama menjawab cepat. "Dia mengamuk sekarang."
Rin terdiam. Tapi hatinya angkat bicara.
'Kalian terlalu memanjakan Yara. Karena itu anak itu jadi semakin besar kepala.'
Kata-kata itu hanya dia ucapkan di dalam hati. Tidak ia lepaskan keluar. Bukan karena tidak berani untuk berucap. Melainkan, karena tidak ingin menambah riuh suasana yang sudah tidak baik-baik saja.
Rin pun menarik langkah untuk meninggalkan dapur. Tapi sebelum dia sempat melangkah, sang mama malah berucap dengan nada pelan. "Rin. Tolonglah. Pertimbangkan lagi keputusan pernikahan ini. Jika kamu tidak bersedia, Yara juga tidak bersedia. Lalu siapa yang harus pergi ke desa untuk menikah? Aku tidak punya anak lagi selain kalian."
Rin menatap mamanya dengan tatapan lekat. Namun, belum sempat Rin mengangkat bibir untuk bicara, papanya malah duluan angkat bicara. "Salah satu dari kalian harus pergi. Ini wasiat yang kakek kalian tinggalkan. Apakah kalian tidak bisa menghilangkan ego kalian?"
Rin mendengus pelan. "Kenapa papa malah memberikan penekanan itu padaku? Wasiat itu untuk Yara. Kenapa aku yang harus pergi? Kakek menyayangi Yara. Yara adalah cucu kesayangannya. Jadi, biarkan dia yang pergi."
"Rin!" Papa Rin memanggil dengan lantang. "Kamu!"
"Pa. Jika wasiat itu untuk aku. Maka aku bersedia untuk pergi. Tapi, wasiat itu bukan untuk ku. Maka aku tidak punya hak untuk menerimanya."
"Airin!"
"Aku lelah. Tidak ingin berdebat lagi. Keputusan ku sudah bulat. Aku tidak akan pergi. Jangan paksa aku lagi, karena apapun yang kalian katakan, aku tetap pada keputusan ku kali ini. Aku menolak. Titik."
Setelah berucap dengan nada yang penuh dengan penekanan, Rin langsung berjalan cepat meninggalkan papa dan mamanya. Dua orang rua itu hanya bisa menatapnya dengan tatapan lekat penuh emosi.
Sementara itu, di balik tembok pembatas ruangan, Yara sedang berdiri. Gadis itu menguping pembicaraan Rin dan kedua orang tuanya. Sebagaimana Rin yang telah membulatkan pilihan, Yara juga sama. Dia juga tidak ingin meninggalkan kota untuk menikah dengan pria desa yang tidak cukup ia kenali dengan baik.
Demi tidak menikah dengan orang desa, Yara akan melakukan segala cara yang ia bisa. Gadis itu beranjak menuju kamar setelah terdiam sejenak di balik tembok.
Di kamar, Yara memutar otak dengan keras agar menemukan cara untuk lari dari tanggung jawab pernikahan yang tidak ia inginkan. Berjam-jam berpikir, akhirnya ia temukan cara yang ia anggap paling cocok untuk dia lakukan.
Yara membereskan barang-barangnya dalam jumlah kecil. Dia masukkan baju beberapa helai ke dalam tas, lalu semua barang berharga yang dia punya. Tak lupa, alat-alat kosmetiknya juga.
"Maaf, kak Rin. Aku harus melakukan cara ini. Hanya cara ini sajalah yang aku punya sekarang. Aku harap, kamu tidak terlalu membenci diriku nantinya." Yara berucap sambil menatap tas ransel yang sudah selesai dia packing.