NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Senyum yang Membuat Reyhan Lupa Diri

Rabu malam, dua hari setelah insiden kecemburuan Alya, suasana rumah kembali hangat dan penuh tawa.

Reyhan duduk di sofa ruang keluarga dengan laptop di pangkuannya. Masih ada beberapa email yang harus dibalas, tapi konsentrasinya terus pecah karena Alya dan Arka sedang bermain tebak-tebakan di karpet.

“Oke, Arka. Mama tebak… hewan yang punya leher panjang?” tanya Alya sambil tersenyum lebar.

“Jerapah! Terlalu gampang, Ma!” jawab Arka sambil tertawa riang.

“Oke, oke. Yang susah ya… hmm… hewan yang bisa hidup di dua alam?”

“Amfibi! Contohnya katak, salamander, dan”

“Arka, Mama nanya hewan, bukan klasifikasi biologis,” potong Alya sambil tertawa geli.

Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Tapi… itu kan jawabannya?”

Reyhan tersenyum mendengar percakapan mereka—senyum yang tak ia sadari, senyum yang membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.

Lalu Alya menoleh dan menatap Reyhan. “Rey, kamu kok senyum-senyum sendiri?”

Reyhan tersentak, baru sadar ia melamun. “Eh? Aku senyum?”

“Iya. Senyum lebar banget. Lagi mikirin apa?”

Reyhan menutup laptopnya, menatap Alya dengan tatapan lembut. “Lagi mikirin… betapa beruntungnya aku.”

Alya merasakan pipinya memanas. “Beruntung kenapa?”

“Beruntung punya istri dan anak yang bikin aku nggak bisa berhenti senyum.”

Arka langsung bersorak. “Ayah romantis lagi! Mama, mukanya merah!”

“ARKA!” seru Alya sambil menutupi wajahnya dengan tangan, tapi ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

Reyhan tertawa tawa tulus dan lepas. Lalu ia bangkit dari sofa dan duduk di karpet bersama mereka.

“Ayo, aku ikutan main.”

“Beneran?” tanya Arka dengan mata berbinar.

“Beneran. Tapi aku yang kasih pertanyaan ya.”

“Oke! Ayah, tanya yang susah!”

Reyhan berpikir sejenak, lalu bertanya dengan nada serius, “Apa yang paling penting dalam hidup?”

Arka terdiam. Ini pertanyaan filosofis yang tak biasa untuk permainan tebak-tebakan.

“Keluarga?” jawab Arka ragu-ragu.

Reyhan tersenyum lebar. “Benar. Keluarga adalah yang paling penting.”

Lalu ia menatap Alya tatapan yang penuh cinta. “Dan aku bersyukur punya keluarga ini.”

Alya merasakan dadanya sesak dalam arti yang baik. Ia menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca. “Rey…”

“Ayah… boleh nggak aku peluk kalian berdua sekarang?” tanya Arka tiba-tiba dengan polos.

Reyhan dan Alya tertawa bersamaan.

“Ayah juga mau peluk kalian,” jawab Reyhan sambil membuka kedua tangannya lebar.

Arka langsung memeluk Reyhan dari depan, sementara Alya memeluk dari samping—pelukan bertiga yang hangat dan penuh cinta.

“Aku sayang Ayah,” bisik Arka.

“Aku sayang Mama,” bisik Alya.

“Ayah sayang kalian berdua,” bisik Reyhan sambil mengeratkan pelukannya. “Sangat sayang.”

Dan malam itu, di ruang keluarga dengan lampu redup dan suasana hangat, mereka bertiga merasakan kebahagiaan yang sempurna.

Pukul sepuluh malam

Setelah Arka tertidur di kamarnya, Reyhan dan Alya duduk di teras belakang tempat favorit mereka untuk mengobrol sambil menikmati angin malam.

Alya mengenakan cardigan tipis, tangannya memegang secangkir teh hangat. Reyhan duduk di sampingnya dengan jarak sangat dekat, bahu mereka bersentuhan.

“Rey,” panggil Alya pelan.

“Ya?”

“Aku… mau tanya sesuatu.”

“Tanya aja.”

Alya terdiam sejenak, mencari keberanian. “Kamu… serius sama aku kan? Maksudku… ini bukan cuma fase? Bukan cuma karena kamu merasa bersalah?”

Reyhan menoleh, menatap Alya dengan tatapan serius. “Alya, lihat aku.”

Alya mengangkat wajahnya, menatap mata cokelat gelap Reyhan yang menatapnya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas.

“Aku serius,” kata Reyhan dengan nada tegas. “Ini bukan fase. Ini bukan karena rasa bersalah. Ini karena aku… benar-benar jatuh cinta sama kamu.”

“Tapi… bagaimana kalau suatu saat”

“Nggak ada bagaimana kalau,” potong Reyhan lembut. “Alya, aku ngerti kamu trauma. Aku ngerti kamu takut aku pergi lagi. Tapi…” Ia menggenggam tangan Alya dengan erat, “aku nggak akan ke mana-mana. Aku akan di sini. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya.”

Air mata Alya menggenang. “Rey… aku takut kalau ini cuma mimpi. Takut kalau suatu saat aku bangun dan kamu… hilang lagi.”

Reyhan merasakan dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Ia menarik Alya ke dalam pelukannya erat, hangat, menenangkan.

“Ini bukan mimpi, sayang,” bisiknya di rambut Alya. “Ini nyata. Aku nyata. Perasaan aku nyata. Dan aku nggak akan hilang.”

Alya menangis di pelukan Reyhan tangisan yang sudah lama ia pendam, tangisan untuk semua ketakutan yang akhirnya didengar.

“Maafin aku ya,” bisik Reyhan sambil mengusap punggung Alya dengan lembut. “Maafin aku udah bikin kamu nggak percaya sama cinta. Maafin aku udah bikin kamu takut ditinggalin. Tapi mulai sekarang… aku akan buktiin setiap hari kalau aku nggak akan ke mana-mana.”

Alya tak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk dalam pelukan Reyhan, membiarkan kehangatan pria itu menyelimutinya.

Mereka duduk seperti itu lama sekali sampai air mata Alya kering, sampai napasnya kembali teratur, sampai ia merasa… aman.

“Rey,” bisik Alya akhirnya.

“Ya?”

“Terima kasih… sudah sabar sama aku. Sudah ngerti aku. Sudah… mencintai aku.”

Reyhan melepaskan pelukan, menatap wajah Alya yang sembab tapi tetap cantik di matanya.

“Nggak ada yang perlu di-terima kasih-in,” bisiknya sambil mengusap pipi Alya dengan lembut. “Mencintai kamu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan.”

Alya tersenyum senyum yang membuat hati Reyhan berdegup lebih cepat.

Senyum ini, pikir Reyhan. Senyum ini yang bikin aku lupa diri. Senyum ini yang bikin aku rela melakukan apa pun.

Perlahan, tanpa berpikir panjang, Reyhan mengangkat tangannya dan mengusap bibir bawah Alya dengan ibu jarinya gerakan yang sangat intim, sangat personal.

Napas Alya tercekat. Jantungnya berdegup sangat kencang.

“Rey…” bisiknya pelan, suara yang nyaris tak terdengar.

“Alya… boleh nggak aku… cium kamu?”

Pertanyaan itu membuat dunia Alya berhenti berputar.

Ia menatap mata Reyhan mata yang penuh hasrat, tapi juga penuh cinta dan kehati-hatian.

Perlahan, sangat perlahan, Alya mengangguk.

Reyhan menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

Lalu perlahan, ia membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Alya, memberi kesempatan terakhir untuk mundur.

Tapi Alya tak mundur.

Ia menutup matanya, merasakan napas Reyhan di bibirnya.

Dan ketika bibir mereka bertemu lembut, hati-hati, penuh emosi yang selama ini terpendam waktu seakan berhenti.

Ciuman pertama mereka sebagai suami istri yang saling mencintai.

Bukan ciuman kontrak. Bukan ciuman kewajiban.

Tapi ciuman yang penuh cinta.

Reyhan mengecup bibir Alya dengan lembut, tak terburu-buru, tak menuntut, hanya… mencintai.

Alya membalas ciuman itu dengan gemetar gemetar karena gugup, karena bahagia, karena akhirnya ia merasakan… dicintai.

Ketika mereka melepaskan ciuman itu, mereka berdua sama-sama bernapas terengah-engah, wajah merah, mata berbinar.

“Maaf,” bisik Reyhan dengan napas tercekat. “Aku… nggak bisa nahan lagi. Aku terlalu… terlalu jatuh cinta sama senyum kamu.”

Alya tersenyum senyum lebar yang membuat Reyhan ingin menciumnya lagi.

“Aku… juga senang kamu cium aku,” bisik Alya dengan malu-malu.

Reyhan tertawa pelan, lalu menarik Alya kembali ke dalam pelukannya kali ini lebih erat, lebih posesif.

“Mulai sekarang,” bisiknya di telinga Alya, “aku akan cium kamu setiap hari. Biar kamu nggak lupa kalau aku sayang sama kamu.”

Alya tertawa tawa penuh kebahagiaan. “Aku nggak akan lupa kok.”

“Tetep. Aku mau pastiin.”

Mereka duduk seperti itu, berpelukan di teras belakang dengan bintang-bintang sebagai saksi, merasakan kebahagiaan yang selama ini mereka rindukan.

Kamis pagi

Pagi harinya, ada sesuatu yang berbeda di rumah itu.

Alya bangun dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Pipinya sedikit merah setiap kali mengingat ciuman semalam.

Reyhan juga sama. Ia bangun dengan semangat luar biasa, bahkan sudah menyiapkan sarapan sebelum Alya turun.

“Pagi, sayang,” sapa Reyhan ketika Alya turun nada bicaranya lebih lembut, lebih… intim.

Alya merasakan pipinya memanas mendengar panggilan sayang. “P-pagi, Rey.”

Reyhan tersenyum melihat Alya yang gugup. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu mengecup dahi Alya dengan lembut gerakan yang sudah mulai menjadi kebiasaan.

“Aku suka lihat kamu gugup,” bisiknya sambil tersenyum nakal.

“Rey! Arka bisa turun kapan aja!” protes Alya sambil mendorong dada Reyhan pelan.

“Biarkan. Dia harus lihat orang tuanya mesra.” Reyhan tertawa, lalu kembali ke dapur untuk menyelesaikan sarapan.

Beberapa menit kemudian, Arka turun dengan wajah bingung.

“Kenapa kalian senyum-senyum terus?” tanyanya sambil duduk di kursi makan.

Alya dan Reyhan saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

“Nggak kenapa-kenapa kok, Nak. Cuma… bahagia aja,” jawab Reyhan sambil mengacak rambut Arka.

Arka mengernyitkan dahi. “Bahagia kenapa?”

“Bahagia punya kamu. Bahagia punya Mama. Bahagia punya keluarga yang lengkap.”

Arka tersenyum lebar. “Aku juga bahagia kok, Yah! Bahagia banget!”

Mereka sarapan dengan penuh tawa dan kehangatan keluarga yang semakin utuh setiap harinya.

Siang hari di kantor

Di kantor, Reyhan duduk di ruang kerjanya dengan dokumen berserakan di meja, tapi konsentrasinya sama sekali tak ada.

Pikirannya terus kembali pada ciuman semalam. Pada senyum Alya. Pada cara wajah Alya memerah ketika ia memanggilnya sayang.

Asistennya mengetuk pintu. “Pak Reyhan, meeting dengan klien jam dua.”

“Hm? Oh, iya. Terima kasih.”

Asistennya mengerutkan dahi. “Pak… Bapak baik-baik saja? Dari tadi kok senyum-senyum sendiri?”

Reyhan tersentak, baru sadar ia melamun sambil senyum. “Ah, maaf. Aku cuma… lagi senang aja.”

“Senang kenapa, Pak? Ada proyek baru yang berhasil?”

Reyhan tertawa pelan. “Bukan. Cuma… senang aja punya istri yang cantik.”

Asistennya melongo ini pertama kalinya ia mendengar bos dinginnya bicara tentang kehidupan pribadi dengan nada sebahagia itu.

“Oh… selamat, Pak. Semoga selalu bahagia.”

“Terima kasih.” Reyhan tersenyum senyum yang membuat asistennya semakin bingung.

Bos kok berubah jadi orang lain, pikir asistennya sambil keluar dari ruangan.

Setelah asistennya pergi, Reyhan mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada Alya:

[Reyhan]: Aku kangen sama senyum kamu.

Tiga titik muncul Alya mengetik.

[Alya]: Rey, baru beberapa jam kita berpisah.

[Reyhan]: Aku tahu. Tapi aku tetep kangen. Boleh nggak nanti malam kita repeat yang semalam?

[Alya]: REY! JANGAN NAKAL!

Reyhan tertawa keras membaca pesan itu.

[Reyhan]: Aku serius kok. Aku mau cium kamu lagi. Dan lagi. Dan lagi.

[Alya]: Kamu… menyebalkan. Tapi… oke. Boleh.

Reyhan tersenyum lebar membaca pesan terakhir itu.

Aku adalah pria paling beruntung di dunia, pikirnya sambil menatap foto Alya di ponselnya.

Dan hari itu, meski masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Reyhan bekerja dengan semangat luar biasa.

Karena ia punya alasan untuk pulang cepat.

Alasan bernama Alya.

Wanita yang membuatnya lupa diri dengan satu senyuman.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!