NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.28 — BAYANGAN MALAIKAT MAUT

Daniel bergerak. Cepat. Seperti kilat. Seperti serigala yang menerjang.

Tapi sebelum dia sampai. Sebelum dia bisa mencakar. Sebelum dia bisa merobek.

Sesuatu terbang. Dari samping. Kecil. Cepat. Tidak terlihat.

BRAAKKK!!!

Daniel terpental. Ke kanan. Ke lantai. Batuk. Darah.

Daniel terkejut. Melihat. Ke arah sumber. Ke arah Cao Xiu.

Cao Xiu berdiri. Tangan kanannya terangkat. Di antara jari-jarinya, jarum kecil. Berkilau. Beracun.

"Maaf."

Cao Xiu tersenyum. Seperti ular. Seperti maut yang datang dengan senyum.

"Aku ingin pertarungan yang adil."

"Tapi aku juga ingin menang."

 Dia bangkit. Perlahan. Wajahnya marah. Tapi dia mengerti. Dia paham permainan ini.

 Zhou Ming melirik Daniel. Yang masih terkejut. Yang masih melihat jarum di tangan Cao Xiu.

"Kau sudah kalah."

Zhou Ming bicara. Suaranya parau. Penuh darah.

"Sebelum bertarung."

Daniel merasa. Tubuhnya lemas. Kakinya gemetar. Racun. Berjalan. Perlahan. Tapi pasti.

Zhou Ming bergerak. Cepat. Seperti kilat. Seperti serigala yang menerjang.

Tangan kanannya mencakar. Lima jari. Seperti taring. Seperti pisau. Ke dada Daniel.

Daniel menghindar. Tidak cukup cepat. Tapi cukup. Cakar menggores. Lima garis merah. Darah mengalir. Tipis. Panas.

Zhou Ming tidak berhenti. Tidak pernah berhenti. Tangan kiri. Sikut. Lutut. Setiap gerakan cepat. Setiap gerakan mematikan.

Daniel bertahan. Bertahan. Bertahan. Tapi tubuhnya lelah. Racun dari jarum Cao Xiu masih ada. Masih mengalir. Perlahan. Tapi pasti.

Dia jatuh. Ke lantai. Satu kaki. Dua kaki. Tidak bisa berdiri. Tidak bisa bergerak.

Zhou Ming mendekat. Perlahan. Seperti serigala yang menikmati mangsa yang terluka. Seperti predator yang yakin akan menang.

"Kau hebat."

"Tapi aku lebih hebat."

Dia angkat kaki. Ke kepala Daniel.

BRAAKKK!!!

Daniel tergelincir. Ke tepi arena. Ke pagar besi. Darah dari kening. Dari mulut. Dari hidung. Banyak. Terlalu banyak.

Zhou Ming tidak berhenti. Dia tendang. Lagi. Lagi.

BRAAKKK!!!

BRAAKKK!!!

Daniel meringkuk. Seperti anak kecil. Seperti sesuatu yang akan mati. Yang akan hancur. Yang akan hilang.

Tangan kanannya terangkat. Perlahan. Mencari. Mencengkeram pagar besi. Berusaha bangkit. Berusaha hidup. Berusaha bertahan.

Tapi tidak bisa. Tubuhnya tidak mendengar. Racun. Lelah. Darah. Semua mengalahkannya.

Zhou Ming melihat. Tertawa. Seperti serigala. Seperti monster yang menemukan mainan baru. Seperti raja yang akan mengklaim takhta.

Dia angkat kedua tangan. Ke atas. Ke kepala. Untuk pukulan terakhir. Untuk mengakhiri semua. Untuk membuktikan dia yang terkuat.

Tapi sebelum dia turun. Sebelum dia menghancurkan. Sebelum dia membunuh.

Suara. Dari belakang. Dari penonton. Dari tempat yang tak terduga. Dari neraka.

BRAAKKK!!!

Pagar besi arena. Patah. Seperti kertas. Seperti tidak ada apa-apa. Seperti mainan anak kecil.

Sosok muncul. Dari debu. Dari kegelapan. Dari bayangan. Dari tempat yang tidak terlihat.

Kenzo.

Tapi bukan Kenzo yang biasa. Bukan pemimpin Wangguan. Bukan orang yang duduk tenang. Bukan manusia.

Setengah wajahnya berubah. Terlihat uratnya dari balik Kulit menghitam. Bukan hitam biasa. Hitam seperti malam. Seperti kegelapan yang hidup. Yang bernapas. Yang bergerak.

Mata merah. Bukan coklat. Bukan hitam. Merah darah. Merah api. Merah kematian. Merah neraka.

Tangan kanannya mencengkeram leher Zhou Ming. Mengangkat. Seperti mengangkat anak kecil. Seperti mengangkat sampah. Seperti mengangkat sesuatu yang tidak berarti.

"Kau..."

Zhou Ming tercekik. Tidak percaya. Tidak mengerti. Matanya melebar. Penuh ketakutan. Penuh kegilaan. Penuh penyesalan.

Kenzo tidak bicara. Tidak perlu. Dia hanya menatap. Dengan mata merah. Dengan mata monster. Dengan mata maut.

Tangan kirinya naik. Perlahan. Seperti sedang menari. Seperti sedang melukis. Seperti sedang merayakan.

Lalu menghantam.

BRAAKKK!!!

Ke perut Zhou Ming.

Tulang patah. Suara jelas. Seperti kayu. Seperti harapan yang hancur. Seperti kehidupan yang berakhir.

Kenzo melempar. Zhou Ming terbang. Ke pagar besi seberang. Bunyi dentang. Tubuh itu jatuh. Tidak bergerak. Tapi masih hidup. Masih bernapas. Tapi tidak lama.

Tapi Kenzo belum selesai. Dia belum puas. Belum gila. Belum merasakan darah cukup.

Dia melangkah. Ke tengah arena. Ke arah Zhou Ming. Yang masih terbaring. Yang masih bernapas. Yang masih bisa melihat. Yang masih bisa ketakutan.

Zhou Ming melihat. Ke atas. Ke monster. Ke maut yang datang dengan wajah manusia. Dengan sayap hitam. Dengan kegelapan yang hidup.

"J-Jangan..."

Dia bicara. Parau. Penuh darah. Penuh ketakutan. Penuh permohonan.

Kenzo tidak mendengar. Atau tidak peduli. Atau sudah terlalu jauh. Sudah terlalu menjadi monster.

Dia angkat kaki. Ke dada Zhou Ming.

BRAAKKK!!!

Tulang rusuk patah. Menembus paru-paru. Menembus jantung. Menembus segalanya.

Zhou Ming batuk. Darah. Banyak. Terlalu banyak. Seperti air mancur. Seperti hidup yang keluar. Seperti akhir dari segalanya.

Kenzo turunkan kaki. Perlahan. Melihat. Menatap. Menikmati.

Lalu angkat lagi. Ke kepala.

BRAAKKK!!!

Kepala Zhou Ming. Hancur. Seperti semangka. Seperti sesuatu yang tidak pernah hidup. Seperti sesuatu yang tidak pernah ada.

Diam. Sunyi. Seperti kematian. Seperti akhir dunia.

Kenzo berdiri. Di atas mayat. Di atas darah. Di atas kematian. Di atas segalanya.

Dia menoleh. Ke arah Cao Xiu. Yang masih berdiri. Yang masih tersenyum. Tapi senyum itu membeku. Menjadi ketakutan. Menjadi penyesalan. Menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Cao Xiu mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Ingin lari. Ingin hilang. Tapi tidak bisa. Tidak berani. Tidak mungkin.

Kenzo melangkah. Ke arahnya. Perlahan. Seperti maut yang datang. Seperti bayangan yang mengikuti. Seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Tubuh Kenzo berubah. Sepenuhnya. Kulitnya semakin menghitam. Seperti malam tanpa bintang. Seperti kegelapan tanpa akhir.

Sayap. Dua sayap. Besar. Menjulang. Dari punggung. Dari tulang belikat. Seperti malaikat. Tapi hitam. Tapi berdarah. Tapi berbahaya.

Malaikat maut.

Bayangan yang pernah muncul di penjara. Saat melawan Hua Mao. Saat menjadi legenda. Saat menjadi monster yang tak terkalahkan.

Ini kemunculan kedua. Lebih besar. Lebih gelap. Lebih berbahaya.

Cao Xiu jatuh. Ke lantai. Tidak bisa berdiri. Tidak bisa bergerak. Hanya bisa melihat. Hanya bisa menunggu. Hanya bisa ketakutan.

Kenzo angkat tangan. Ke atas. Ke kepala Cao Xiu. Tangan yang besar. Tangan yang berotot. Tangan yang berdarah.

Untuk menghancurkan. Untuk mengakhiri. Untuk membuktikan bahwa Shadow of Death bukan legenda. Bukan mitos. Bukan cerita.

Tapi sebelum dia turunkan. Sebelum dia menghancurkan. Sebelum dia membunuh.

Suara. Dari belakang. Dari tempat yang terlupakan. Dari seseorang yang masih hidup.

"Kenzo..."

Daniel. Yang masih terbaring. Yang masih hidup. Yang masih bisa bicara. Yang masih bisa melihat.

"Stop..."

"Jangan..."

"Jangan Bunuh dia..."

"Nanti..."

Suara Daniel pelan. Penuh darah. Penuh lelah. Tapi penuh sesuatu. Penuh alasan. Penuh rencana. Penuh masa depan.

Kenzo berhenti. Tangan di udara. Menatap Cao Xiu. Yang ketakutan. Yang menunggu. Yang hidup karena belas kasihan.

Dia turunkan tangan. Perlahan. Tapi tidak pergi. Tidak berubah. Tetap monster. Tetap malaikat maut. Tetap bayangan kematian.

Cao Xiu masih di sana. Masih hidup. Tapi sudah mati di dalam. Sudah hancur. Sudah tidak berdaya.

...$ BERSAMBUNG $...

1
Aisyah Suyuti
seru
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
tak kira saya xinmei gak ketolong
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "aku nggak bisa bayangin gimana perasaan nya yang campur aduk begitu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Whimper/ "kok tiba-tiba jadi genre horor begini Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "khodam nya keluar ya Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Determined/ "wahhh! laki-laki sejati, aku salut padamu sobat!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Applaud/ "bisa di spill alasannya, kok bisa keluar tanpa bersyarat?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Proud/ "santai bener ya, hidupnya Kenzo"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "hah? napi? beneran nih!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "ehh? siapa ya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sneer/ "jualan nasi kucing aja kak, pasti laris"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Lin dong yang mengawali, Kenzo yg mengakhiri.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
semoga Kenzo hanya kehilangan empati bukan kehilangan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sumpah terganggu sama tanda titik di setiap katanya.
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦≛⃝⃕|ℙ$ Avi🦐ˢ⍣⃟ₛ
baguss weh😍😍😍 saya suka saya suka
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑
👍
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑: awkk awok
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nama perempuan nya Kenzo juga belum hapal sekarang tambah lagi nama anak buahnya Kenzo yg namanya susah diingat.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!