NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Familiar

Pagi itu di Amsterdam, layar laptop Takara dipenuhi dengan jepretan lensa paparazzi yang sengaja dibuat buram namun tetap menonjolkan fitur wajah Jake yang rupawan.

Di sana, Jake terlihat sedang berjalan bersisian dengan seorang gadis dari grup pendatang baru, seolah-olah mereka sedang berbagi momen rahasia di sebuah kafe di daerah Gangnam.

Takara hanya menatap foto itu datar. Sebagai orang yang tumbuh besar bersama Jake, ia tahu persis setiap gestur laki-laki itu.

"Gadis itu bukan tipenya," batin Takara sambil menyesap teh hangatnya.

Gadis di foto itu tampak sangat glamor dan rapi, sementara Jake yang ia kenal, Jake yang asli, selalu lebih menyukai seseorang yang bisa diajak tertawa lepas sambil mengenakan hoodie kebesaran dan tanpa riasan wajah. Takara tahu Jake sedang melakukan perannya dengan baik, meski matanya dalam foto itu terlihat kosong bagi siapapun yang benar-benar mengenalnya.

Tepat saat ia hendak menutup portal berita tersebut, sebuah panggilan masuk. Bukan dari Jake, melainkan dari Leah, adik perempuan Jake yang masih tinggal di Brisbane.

"Kak... kondisi Kak Jake baik-baik saja, kan?" Suara Leah terdengar bergetar di seberang sana. Di usia yang masih remaja, Leah sering kali merasa cemas melihat kakaknya menjadi konsumsi publik yang tak henti-hentinya diterpa isu.

Takara melembutkan suaranya, mencoba menjadi sandaran yang kokoh meski jarak memisahkan mereka. "Hai sayang, Kak Jake baik kok. Kakak masih sering banget komunikasi sama dia."

"Syukurlah Kak," Leah menghela napas lega, terdengar beban berat terangkat dari pundaknya. "Soalnya cuma Kakak yang tahu segala sisi Kak Jake. Aku takut dia cuma pura-pura kuat di depan kami atau di depan kamera."

Kalimat Leah menghantam hati Takara. Ternyata bukan hanya dirinya yang menyadari kerapuhan Jake. Keluarga Jake pun menggantungkan harapan mereka pada Takara, seolah-olah Takara adalah satu-satunya kompas yang bisa menjaga Jake agar tidak tersesat di tengah samudera popularitas.

"It's okay, Leah. Apapun yang terjadi, kakak akan selalu ada buat Jake," jawab Takara mantap.

Setelah menutup telepon, Takara termenung. Komitmennya kepada Leah bukan sekadar basa-basi. Ia menyadari bahwa perannya dalam hidup Jake jauh lebih besar daripada sekadar 'sahabat'. Ia adalah satu-satunya jembatan Jake menuju realitas.

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada sedikit rasa lelah yang merayap. Menjadi "satu-satunya orang yang tahu segala sisi Jake" adalah sebuah privilese sekaligus beban yang mengikat. Di saat ia mencoba membangun hidup baru di Amsterdam bersama William yang menawarkan kedamaian, masa lalu dan tanggung jawabnya terhadap Jake selalu menariknya kembali.

Takara menatap sketsa kincir angin yang belum selesai di atas mejanya. Ia teringat kata-kata William tentang cahaya yang terlalu terang hingga membutakan.

Jake adalah cahaya itu, dan Takara adalah orang yang bertugas menjaga agar cahaya itu tidak padam, meski ia sendiri terkadang harus berdiri di kegelapan untuk melakukannya.

———

Di balik kacamata hitam dan topi yang ditarik rendah, jantung Jake berdegup lebih kencang daripada saat ia berdiri di depan lima puluh ribu penggemar di Gangnam malam sebelumnya. Konser itu sukses besar, tapi bagi Jake, encore yang sebenarnya baru saja dimulai.

"Hati-hati, Jake. Kalau sampai ada yang tahu, kita semua bisa habis," bisik sang manajer saat mengantar Jake ke pintu keberangkatan melalui jalur khusus.

Jay dan Sunghoon hanya memberikan tepukan di bahu, sebuah dukungan tanpa kata untuk misi nekat sahabat mereka. Jake sudah membulatkan tekad. Ia butuh oksigen, dan oksigennya ada di Amsterdam.

Selama belasan jam di udara, ia sengaja mematikan ponselnya. Ia ingin benar-benar "menghilang" sejenak dari dunia yang menuntutnya menjadi sempurna.

Sementara itu, di sebuah houseboat yang bergoyang gelisah, Takara hampir kehilangan akal sehatnya. Sudah lebih dari lima belas jam Jake tidak bisa dihubungi. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak berita gimmick itu naik, mental Jake memang sedang tidak stabil, dan pikiran Takara sudah melanglang buana ke skenario terburuk.

"Jake, lo di mana sih?!" teriak Takara frustrasi sambil membanting ponselnya ke atas sofa.

Ia mengirimkan puluhan pesan, mulai dari yang lembut sampai yang penuh makian karena saking khawatirnya.

Takara: Jake! Lo nggak lucu ya. Angkat telepon gue!

Takara: Gue bakal telepon agensi lo kalau dalam sejam lo nggak balas.

Takara: Lo mati ya?! Jawab, Jake! Jangan bikin gue gila di sini!

———

Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Schiphol, Jake segera menghidupkan ponselnya. Detik itu juga, ponselnya seolah meledak. Ratusan notifikasi masuk secara bersamaan, dan sebagian besar berasal dari satu nama: Takara.

Jake tersenyum tipis membaca makian-makian penuh kasih sayang itu. Ia bisa membayangkan wajah Takara yang memerah karena marah, atau matanya yang sembap karena cemas.

Ia segera memesan taksi, memberikan alamat dermaga tempat houseboat Takara bersandar. Udara Amsterdam yang dingin menusuk tulang menyambutnya, tapi Jake justru menghirupnya dalam-dalam. Ini adalah udara yang diceritakan Takara. Ini adalah udara bebas.

Setengah jam kemudian, di depan pintu kayu houseboat, sebuah ketukan pelan terdengar.

Takara, yang baru saja hendak menelepon Leah di Brisbane, langsung berlari membukakan pintu dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Jake, kalau itu lo dan lo baru balas sekarang, gue bakal—"

Kalimatnya terputus.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan jaket padding hitam besar, wajah yang tertutup masker, dan mata yang terlihat sangat lelah namun berbinar penuh kemenangan. Pria itu perlahan menurunkan maskernya, menampakkan senyum yang selama ini hanya bisa Takara lihat melalui layar digital.

"Selamat ulang tahun, Ra," ucap Jake dengan suara serak. "Gue bilang kan, gue bakal ke sini?"

"Jake?" suara Takara nyaris tidak keluar. Ia mengerjapkan mata, takut jika ini hanyalah halusinasi akibat kurang tidur dan terlalu banyak memikirkan berita gimmick itu.

Jake tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah masuk, menutup pintu kayu houseboat di belakangnya, dan langsung membawa Takara ke dalam dekapan yang sangat erat. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma khas bandara merasuk ke indra penciuman Takara. Ini nyata.

Dada Jake yang bidang, detak jantungnya yang cepat, dan napasnya yang menerpa bahu Takara—semuanya nyata.

"Lo gila ya..." isak Takara, tangannya yang gemetar mulai membalas pelukan Jake, meremas jaket pria itu kuat-kuat. "Gue pikir lo kenapa-napa! Gue pikir lo depresi karena berita itu, atau agensi lo nyita ponsel lo, atau—"

"Gue nggak apa-apa, Ra," potong Jake, suaranya teredam di ceruk leher Takara. "Gue cuma pengen jadi manusia biasa hari ini. Gue pengen jadi Jake-nya lo, bukan Jake yang di televisi."

Jake melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap berada di pundak Takara, seolah takut jika ia melepasnya, Takara akan menghilang. Ia menatap sekeliling interior houseboat yang hangat. Sketsa-sketsa yang berserakan, aroma kayu tua, dan suasana Amsterdam yang tenang.

"Jadi ini tempat lo setiap hari?" tanya Jake sambil tersenyum tipis. Matanya menyusuri detail rumah terapung itu. "Cantik. Persis kayak yang lo ceritain."

Takara mengusap air matanya dengan kasar, berusaha kembali galak meski gagal total. "Lo nekat banget, Jake. Gimana kalau ada yang tahu? Karier lo gimana? Agensi lo?"

Jake duduk di sofa kecil milik Takara, menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat. "Member lain jagain gue. Manajer juga tahu. Gue cuma punya waktu 48 jam sebelum harus balik lagi ke karantina latihan."

48 jam. Dari ribuan jam yang mereka lalui secara terpisah, Jake mempertaruhkan segalanya hanya untuk 48 jam.

Jake merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado sederhana, sesuatu yang jelas ia beli dan bungkus sendiri secara terburu-buru.

"Selamat ulang tahun, Ra. Gue nggak bisa bawa kue karena bakal ribet di bea cukai," ucapnya bercanda, mencoba mencairkan suasana. "Tapi gue bawa ini. Sesuatu yang nggak bakal bisa diambil oleh agensi atau media manapun."

Takara membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah gelang perak simpel dengan ukiran koordinat lokasi rumah masa kecil mereka di Brisbane.

"Biar lo nggak lupa jalan pulang," bisik Jake.

"Dan biar lo tahu, sejauh apapun gue terbang, koordinat gue bakal selalu sama kayak lo."

Di tengah sunyinya malam Amsterdam, di bawah lampu remang houseboat, Takara menyadari sesuatu yang menyakitkan. Jake memberikan seluruh hatinya, namun ia memberikannya dalam bentuk janji persahabatan yang abadi. Jake datang ke sini bukan untuk menyatakan cinta, tapi untuk memastikan bahwa "nadi"-nya masih berdenyut.

Dan bagi Takara, itu adalah kado ulang tahun paling indah sekaligus paling menyedihkan yang pernah ia terima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!