NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Ingin Cerai

"Mas, aku ingin cerai!"

Arga baru tiba di rumah setelah bekerja seharian menjadi kuli bangunan dan langsung ditodong permintaan cerai dari istrinya.

"Apa maksudmu, Dira? Apa kamu gila? Di rumah ada Andini!"

Arga menarik tubuh istrinya ke dapur, khawatir putri semata wayang mereka, yang tengah menonton televisi mendengar.

Nadira menepis tangan suaminya dengan kasar lalu melipat tangan di depan dada. "Aku ingin cerai, Mas! Keputusanku sudah bulat!" tegasnya sambil memalingkan wajah, malas menatap suaminya yang kotor dengan pasir, semen, dan bau keringat.

"Tapi kenapa, Nadira? Kenapa cerai? Apa kamu sudah tidak sayang pada Andini lagi? Bagaimana dengan nasib dia jika kita bercerai?" cecar Arga tak habis pikir dengan keinginan istrinya yang tak terduga.

Arga mengusap wajahnya kasar. Ia sadar belum bisa menjadi suami yang sempurna untuk istrinya, namun perceraian... apakah Nadira tidak bisa bertahan demi putri mereka? Dia sendiri sudah berjuang semampunya untuk membahagiakan anak dan istrinya.

Nadira menatap suaminya dengan tatapan tajam, lalu berkata dengan nada menggebu, "Aku bosan miskin terus, Mas!"

"Apa capek dipandang sebelah mata terus oleh semua orang! Aku juga ingin seperti istri orang lain, dimanjakan, dan diberikan nafkah untuk diriku sendiri."

"Sementara kamu... jangankan memberikan nafkahku, untuk makan saja kita harus pilih-pilih. Kamu hanya bisa kasih aku makan ikan asin dan sayur terus."

"Astaghfirullah, Nadira... Seharusnya kamu bisa bersyukur kita masih bisa makan. Lihat orang di luaran sana..."

"Alah, setiap kali aku ngeluh, jawabanmu terus saja seperti itu. Seolah aku ini istri yang tidak bersyukur," potong Nadira sarkas.

"Memang apa yang harus aku syukuri dari hidup menjadi istri seorang tukang kuli, hah?!"

"Ibu, apa ayah sudah pulang?"

Suara Andini dari ruang tengah terdengar, menghentikan pertikaian pasangan suami-isteri itu. Tak lama, sosok gadis muncul dengan senyuman lebar saat melihat ayahnya.

"Ayah, Andini boleh minta uang? Andini mau beli kertas karton buat ngerjain tugas sekolah."

Arga terdiam sejenak. Ia lalu meraba saku celananya dan hanya menemukan butiran pasir.

Hari ini dia belum gajian. Ia menatap ke arah Nadira yang malah menoleh ke arah lain. Pria itu tersenyum tipis, kaku, lalu mendekat pada putri kecilnya.

"Sayang, beli kartonnya nanti Ayah antar, ya. Sekalian ada yang ingin Ayah beli di warung," ucap Arga berusaha memberi pengertian.

Padahal, itu hanya alasan. Ia berencana berhutang di warung.

Andini mengangguk singkat. "Tapi nanti Andini ingin jajan, boleh kan Ayah?" pinta gadis itu penuh harapan.

Wajahnya yang ceria membuat Arga merasa tak tega untuk menolak.

"Boleh, tapi tunggu Ayah mandi dan sholat dulu, ya. Setelah itu nanti Ayah antar ke warung." Arga mengusap puncak kepala putrinya, dan Andini segera meninggalkan dapur dengan wajah ceria.

Arga mengusap wajah sambil memejamkan mata.

"Kamu tidak hanya gagal jadi suami, Mas. Kamu juga sudah gagal jadi seorang Ayah," kata Nadira, menatap suaminya dengan tatapan benci dan meremehkan.

"Anakmu hanya satu, dan kamu nggak sanggup mencukupi kebutuhannya! Ayah macam apa kamu?!"

"Nadira,... aku juga ingin mewujudkan semua keinginan kalian. Aku juga sudah berusaha, tapi kalau sekarang belum saatnya, aku harus bagaimana?" Nada suara Arga mengandung keputusasaan.

"Ceraikan aku, Mas!" desak Nadira lagi.

"Aku ingin kita pisah. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri."

Arga mencoba meraih tangan istrinya, namun ditepis kasar oleh Nadira.

"Nadira, aku mohon... bersabarlah sedikit lagi. Aku juga sedang berusaha...," bujuk Arga penuh harapan.

Nadira yang sudah merasa mati rasa menggeleng tegas. "Nggak, Mas. Sudah cukup 10 tahun aku menahan diri. Aku sudah beri kamu kesempatan 10 tahun untuk mengubah nasib rumah tangga kita."

"Tapi sekarang aku capek!"

"Pokoknya, keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita cerai!" pungkas Nadira lalu pergi meninggalkan suaminya yang terpaku dengan tatapan sendu.

"Astaghfirullah, Ya Allah. Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Arga sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.

Yang ada dalam pikiran pria itu hanya tentang, bagaimana nasib putrinya jika mereka bercerai?

Arga berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia membilas tubuhnya dengan air dingin, berharap bisa mendinginkan otak dan hatinya. Setelah merasa tenang, dia keluar dengan selembar handuk yang melingkar di pinggang.

Pria itu tersenyum lembut saat melihat sosok Andini yang berada di dapur, nampak tengah mencari sesuatu.

"Dini, sedang cari apa, sayang?" tanya Arga, ia mendekat dan mengamati dari dekat apa yang dicari putrinya.

"Ayah, apa ibu belum masak, ya? Andini laper. Sejak pulang sekolah belum makan," tanya Andini dengan ekspresi polos, memeriksa lemari kayu, di mana biasanya makanan berada.

Arga mengintip ke dalam dan hanya melihat nasi yang telah dingin tanpa adanya lauk makan.

Arga menegakkan tubuh sambil menghela napas. "Memangnya kamu mau makan sama apa?"

"Apa aja, Ayah. Andini sudah sangat lapar," sahut Andini sambil memegang perut kecilnya.

Arga mengangguk mengerti. "Ayah buatkan nasi goreng, ya. Andini mau?" tawarnya.

Andini mengangguk antusias. "Iya, Ayah. Nasi goreng saja. Yang penting Andini makan," jawab gadis itu dengan ceria.

"Kamu tunggu di rumah, Ayah akan buatkan nasi gorengnya untuk kamu." Arga mengusap puncak kepala Andini sebelum gadis itu pergi dengan langkah riang.

Arga mengepalkan tangan. Tak terasa matanya berkaca-kaca. "Maafkan Ayah, Andini. Ayah benar-benar payah. Ayah tidak mampu buat kamu dan ibumu bahagia bersama Ayah."

Arga menatap ke langit-langit dapur. suara Nadira terngiang di telinganya.

Arga menarik kesadarannya. Ia menyambar wajan dan mulai menyalakan kompor. Ia membuatkan nasi goreng hanya dengan bumbu garam dan micin, lalu memberikannya pada Andini yang tampak antusias dengan makanan yang sederhana itu.

"Habiskan, ya," ucap Arga sambil tersenyum getir.

Ia memperhatikan putrinya yang lahap memakan nasi goreng buatannya, membuat dadanya terasa semakin sesak bagai dihantam palu godam.

Arga masuk ke kamar. Ia mendapati Nadira tengah bermain ponsel sambil mengulum senyuman.

"Jangan keseringan main hp, Dira," tegur Arga.

Nadira mendelik sinis ke arah suaminya. "Aku cuma main hp, Mas. Gratis. Daripada aku minta jalan-jalan keluar, butuh duit!" jawab Nadira ketus.

"Aku tidak masalah kalau kamu main hp hanya untuk melepas penat, Dira. Tapi, masalahnya, kamu sering sekali membandingkan rumah tangga kita dengan apa yang kamu tonton itu."

"Itu tidak baik, Dira. Kemampuan setiap..."

"Mas!" potong Nadira membentak.

Perempuan itu bangkit dari duduknya. "Kamu yang tidak mampu, kenapa malah menyalahkan orang lain?"

"Apa yang aku tonton itu memang realitanya. Di rumah tangga ini, sebagai istri aku selalu dituntut untuk memahami dan bersabar atas ketidakmampuan kamu sebagai seorang suami."

"Aku nyesel nikah sama kamu, Mas. Aku menyesal!"

Nadira mendorong tubuh suaminya sebelum berlari pergi meninggalkan rumah.

Arga ingin mengejar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara notifikasi ponsel di atas ranjang. Pria itu menoleh dan menemukan ponsel yang biasanya tak jauh dari tangan istrinya tergeletak sembarang.

Ia meraih ponsel itu, berniat mengembalikannya pada Nadira. Namun, saat melihat sebuah pesan di layar, amarahnya langsung memuncak.

"Astaghfirullah, Nadira. Apa karena ini kamu meminta cerai dariku?" gumam Arga.

"Sayang, kamu kabur saja dari rumah kalau suamimu yang tidak bertanggungjawab itu tidak mau menceraikanmu. Aku akan menjemputmu."

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!