Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sapu Lidi dan Rahasia Menara Terlarang
Akademi Pedang Langit memiliki kasta yang sangat kaku. Di saat murid-murid jenius seperti Nara mendapatkan fasilitas mewah di Paviliun Bintang Inti, Ranu Wara justru diberikan sebuah sapu lidi raksasa dan seragam abu-abu lusuh.
Ia ditempatkan di sayap barat, area paling terpencil yang berisi gudang-gudang tua dan berbatasan langsung dengan tebing curam.
"Ini benar-benar keterlaluan, Ranu," bisik Nara saat ia menyelinap mengunjungi Ranu di hari pertamanya. Ia melihat Ranu sedang asyik menyapu tumpukan daun kering sambil bersiul pelan. "Kau adalah pemilik tujuh bintang, tapi kau diperlakukan seperti pelayan toko kain yang bangkrut."
Ranu berhenti menyapu, menyandarkan sapunya pada sebuah pohon ek tua yang meranggas.
"Nara, kau harus melihat sisi positifnya. Dari sini, aku bisa merasakan detak jantung Gunung Es ini dengan lebih jelas. Di Paviliun Inti, kau hanya akan mencium bau dupa dan kesombongan para tetua. Di sini, aku mencium bau rahasia."
Ranu menunjuk ke arah sebuah menara hitam yang menjulang di kejauhan, terpisah dari kompleks utama oleh sebuah jembatan rantai yang sudah berkarat.
Menara itu tidak memiliki jendela, dan puncaknya selalu tertutup kabut ungu yang tidak pernah tertiup angin. Itulah Menara Penyegel Naga, tempat yang dilarang keras untuk dikunjungi oleh siapa pun, termasuk para murid inti.
Malam itu, setelah memastikan seluruh akademi terlelap dalam meditasi mereka, Ranu bergerak. Ia tidak menggunakan teknik terbang yang mencolok, melainkan menggunakan Langkah Bayangan Rembulan, teknik yang membuat tubuhnya terlihat seperti riak udara yang samar. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di ujung jembatan rantai.
Hawa di sekitar menara terasa sangat berbeda. Udara di sini tidak hanya dingin, tapi "kosong"—seolah-olah kehidupan di sana telah dihisap oleh sesuatu. Di pintu masuk menara, terdapat sebuah segel besar yang terbuat dari logam langit, namun Ranu melihat ada retakan-retakan halus yang mengeluarkan uap hitam.
"Begitu rupanya," gumam Ranu sambil meletakkan telapak tangannya pada pintu menara. "Amangkrat dan sekutu iblisnya tidak hanya ingin menguasai langit, mereka juga menanam benih kehampaan di titik-titik nadi bumi. Jika naga bumi di bawah gunung ini terbangun dalam keadaan terinfeksi, seluruh Benua Utara akan runtuh dalam semalam."
Tiba-tiba, sebuah suara dingin yang tajam seperti bilah pedang terdengar dari atas menara.
"Seorang murid luar yang berani menyentuh pintu penyegel... Apakah kau sudah bosan hidup, atau kau adalah mata-mata yang dikirim oleh sekte hitam?"
Ranu mendongak. Di atas atap menara, berdiri seorang pemuda dengan jubah putih bersih yang berkilau di bawah cahaya bulan. Rambut hitamnya diikat rapi dengan pita perak, dan di pinggangnya tergantung sebuah pedang yang memancarkan aura suci yang sangat kuat. Ia adalah Pangeran Lingga, murid nomor satu di akademi yang dikenal sebagai "Pedang Tak Terkalahkan".
Ranu tidak panik. Ia segera mengubah raut wajahnya menjadi bodoh dan ketakutan. "A-ampun, Senior! Saya hanya sedang mengejar kucing saya yang lari ke sini! Kucing saya warnanya hitam, saya takut dia masuk ke dalam sana dan dimakan hantu!"
Pangeran Lingga melompat turun dengan gerakan yang sangat elegan, mendarat tepat tiga langkah di depan Ranu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mata tajamnya menatap Ranu seolah ingin menembus sukmanya.
"Kucing?" Lingga menyipitkan mata. "Kau adalah murid yang memecahkan Batu Sukma itu, bukan? Ranu? Seorang murid luar tidak mungkin bisa melewati penjagaan gerbang sayap barat tanpa terdeteksi, kecuali dia memiliki kemampuan menyembunyikan hawa yang sangat tinggi."
"Atau mungkin para penjaganya sedang tertidur karena bosan, Senior," jawab Ranu sambil nyengir lebar, pura-pura gemetar. "Senior sangat tampan dan kuat, pasti Senior bisa membantu saya mencari kucing saya. Namanya Si Belang."
Lingga tidak tertipu oleh tingkah konyol Ranu. Ia menghunus pedangnya sedikit, hanya dua inci. Seketika, tekanan hawa pedang yang luar biasa menghantam area sekitar. Tanah di bawah kaki Ranu retak, namun anehnya, Ranu tetap berdiri tegak dengan wajah polosnya, bahkan sehelai rambutnya pun tidak bergoyang.
Mata Pangeran Lingga membelalak dalam diam. Ia adalah seorang ahli pedang ranah tinggi; serangannya barusan seharusnya bisa membuat murid luar pingsan seketika. Namun pemuda di depannya ini seolah-olah adalah sebuah lubang hitam yang menelan seluruh tekanan pedangnya tanpa sisa.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Lingga dengan nada yang lebih serius, pedangnya kini terhunus sepenuhnya.
"Saya sudah bilang, Senior. Nama saya Ranu. Hobi saya menyapu dan saya sangat merindukan kucing saya," ucap Ranu sambil mulai berjalan mundur perlahan menuju kegelapan. "Menara ini sangat menyeramkan, Senior. Sebaiknya Senior juga cepat kembali ke kamar. Kurang tidur bisa membuat keriput di wajah tampan Senior muncul lebih cepat. Permisi!"
Dalam satu kedipan mata, Ranu menghilang ke dalam kabut tebal di ujung jembatan. Pangeran Lingga mencoba mengejarnya, namun ia terhenti saat menyadari sesuatu di tanah. Di tempat Ranu berdiri tadi, sama sekali tidak ada jejak kaki, padahal tanah di sana dilapisi salju tipis.
"Tidak mungkin..." bisik Lingga. "Bahkan guru besar sekalipun masih meninggalkan jejak pada salju ini. Siapa sebenarnya murid luar itu?"
Sementara itu, di dalam kamarnya yang sempit, Ranu menghela napas panjang sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur keras. "Pangeran Lingga itu punya insting yang bagus. Tapi sayang, dia terlalu kaku. Jika dia tahu apa yang ada di bawah menara itu, dia mungkin tidak akan bisa tidur selama tujuh turunan."
Ranu memejamkan mata, memanggil bayangan suksma miliknya untuk memeriksa keadaan di rumah melalui ikatan batin dengan Ki Sastro. Di sana, ia melihat Sastro sedang berlumuran darah hitam, berdiri tegak di depan pintu rumah sambil memegang pedang yang berpijar.
"Bertahanlah sedikit lagi, Sastro," bisik Ranu di tengah tidurnya. "Begitu aku memurnikan nadi naga ini, aku akan membawakanmu hadiah yang bisa membuatmu membelah gunung hanya dengan satu teriakan."
......................