NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Keesokan paginya, suasana di rumah terasa sunyi dan dingin.

Linggar berdiri di depan cermin dengan wajah yang pucat.

Matanya yang sembap karena menangis semalaman ia tutupi dengan polesan riasan tipis, meski kesedihan itu masih terpancar jelas dari tatapannya.

Ia telah membulatkan tekad, hari ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di Steward’s Group.

"Mbak, aku temani ya? Mbak masih lemas, kakinya juga pasti masih sakit," ucap Nadya cemas sambil memegang lengan kakaknya di ambang pintu.

Linggar memaksakan sebuah senyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Enggak usah, Nad. Mbak harus selesaikan ini sendiri. Mbak cuma mau ambil barang-barang, setelah itu semuanya selesai."

Dengan langkah yang masih sedikit tertatih, Linggar melajukan mobilnya membelah kemacetan Jakarta.

Pikirannya kosong dan di setiap sudut jalanan seolah mengingatkannya pada momen-momen bersama Rangga.

Sesampainya di kantor, Linggar berjalan menunduk, menghindari kontak mata dengan karyawan lain.

Ia segera masuk ke ruang sekretaris yang berada tepat di depan ruangan sang CEO.

Dengan gerakan cepat dan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai memasukkan buku catatan, pajangan meja, hingga mug kesayangannya ke dalam sebuah kardus besar.

Tepat saat ia sedang mengemas dokumen pribadinya, suara langkah kaki yang tegas terdengar mendekat.

Aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali menyeruak masuk ke dalam ruangan.

Rangga berdiri di sana dengan aura wajahnya yang terlihat sangat kaku dan dingin, matanya yang tajam tampak sedikit merah, tanda bahwa ia juga tidak tidur nyenyak semalam.

Ia menatap kardus di atas meja Linggar dengan tatapan menghina.

"Ikut ke ruanganku. Sekarang," perintah Rangga dengan suara bariton yang rendah namun penuh otoritas.

Linggar hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh.

Ia mengikuti langkah Rangga masuk ke dalam ruangan luas itu—ruangan yang biasanya terasa hangat, kini terasa seperti kulkas raksasa.

Rangga duduk di kursi kebesarannya, menatap surat pengunduran diri yang diletakkan Linggar di atas meja kemarin.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Linggar, tangan Rangga meraih surat itu dan menyobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil di depan mata Linggar.

"Rangga, apa yang kamu lakukan?" bisik Linggar terkejut.

"Jangan panggil aku Rangga," potongnya cepat. Tatapannya menusuk, seolah ingin menguliti rahasia yang masih tersisa.

"Tidak semudah itu kamu pergi, Linggar. Kamu sudah mengacak-acak hidupku, membohongiku, dan menyakiti perasaanku sesuka hatimu."

Rangga berdiri, menumpu kedua tangannya di atas meja kerja, condong ke arah Linggar.

"Kamu pikir dengan berhenti bekerja, dosamu hilang? Tidak. Kamu harus menebus setiap detik kebohongan itu dengan pekerjaanmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai aku merasa hutangmu lunas."

Rangga kembali duduk dan membuka laptopnya dengan kasar.

"Mulai detik ini, panggil aku Pak. Dan sekarang, tutup pintunya. Kita punya banyak jadwal yang harus diselesaikan."

Linggar terpaku di tempatnya. Hatinya mencelos. Rangga yang hangat telah hilang, digantikan oleh sosok atasan yang kejam dan penuh tuntutan.

Dengan tangan yang gemetar, Linggar berbalik arah menuju pintu.

"Baik, Pak," ucapnya lirih sebelum menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.

Suasana di dalam ruangan CEO itu kini terasa mencekam.

Rangga bahkan tidak mendongak dari layar monitornya, jemarinya mengetik dengan kasar seolah sedang melampiaskan amarah pada setiap tuts papan ketik.

"Buatkan aku kopi pahit dan jangan lama-lama!" perintah Rangga dengan nada ketus yang menyakitkan.

Tidak ada lagi sapaan lembut, tidak ada lagi perhatian tentang sarapan.

Hanya ada perintah dingin dari seorang atasan kepada bawahannya.

Linggar hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, dadanya terasa sesak mendengar nada bicara itu.

"Baik, Pak. Segera," jawabnya lirih sebelum melangkah keluar dengan bahu yang merosot.

Begitu pintu jati itu tertutup, Linggar harus berhadapan dengan kenyataan pahit lainnya.

Di area pantry dan meja kerja staf luar, suasana mendadak senyap saat ia lewat, namun bisik-bisik tajam mulai terdengar begitu punggungnya menjauh.

"Lihat tuh, si sekretaris kesayangan. Kayanya udah nggak 'disayang' lagi ya?" bisik seorang staf admin sambil tertawa kecil di balik tangannya.

"Lagian gayanya selangit sih, mentang-mentang sering diajak keluar kota. Ternyata cuma sekretaris yang bikin Pak Rangga naik darah," timpal karyawan lain dengan nada mengejek yang sangat jelas di telinga Linggar.

Langkah Linggar terasa berat. Ejekan itu seolah menguliti sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur sejak semalam.

Di depan mesin kopi, ia berdiri mematung, menatap butiran kopi hitam yang mulai luruh ke dalam cangkir.

'Hanya kopi pahit, Linggar. Sama seperti hidupku sekarang.' batin Linggar.

Ia mengaduk kopi itu dengan tangan gemetar, mengabaikan tatapan-tatapan sinis dari karyawan lain yang lewat di koridor.

Ia harus menelan semua kepahitan ini demi pria yang begitu terluka karena kebohongannya.

Dengan nampan di tangan, Linggar kembali menuju ruangan Rangga.

Ia mengetuk pintu, lalu masuk dan meletakkan cangkir itu di meja.

"Kopinya, Pak," ucap Linggar pelan.

Rangga meraih cangkir itu tanpa melihat wajah Linggar.

Ia meminumnya sedikit, lalu mengernyitkan dahinya.

"Terlalu encer. Buat lagi. Dan jangan bawa wajah sedih itu ke hadapanku, itu membuatku muak."

Linggar tertegun, air mata hampir saja tumpah, namun ia segera menahannya. Ia mengambil kembali cangkir itu.

"Maaf, Pak. Akan saya buatkan yang baru."

Dunia Linggar seolah menyempit di antara ruang kerja dan pantry kantor.

Cangkir demi cangkir ia bawa, namun tak satu pun yang memuaskan lidah Rangga yang mendadak menjadi sangat pemilih dan kejam.

"Terlalu dingin."

"Terlalu asam."

"Ampasnya masih terasa."

Satu per satu alasan dilemparkan Rangga tanpa sedikit pun menatap mata Linggar.

Hingga pada cangkir kesepuluh, kaki Linggar sudah terasa gemetar hebat.

Sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat pergelangan kakinya yang baru saja sembuh kembali berdenyut perih.

Ia harus bolak-balik sepuluh kali melewati lorong kantor di bawah tatapan mengejek para karyawan yang seolah sedang menonton pertunjukan sirkus.

"Kasihan ya, sepuluh kali buat kopi tapi nggak ada yang bener. Memang kalau sudah nggak dianggap itu susah," celetuk salah satu rekan kerja saat Linggar lewat untuk kesekian kalinya.

Linggar hanya menunduk, menggigit bibir dalamnya kuat-kuat agar air matanya tidak tumpah di depan mereka.

Saat ia meletakkan cangkir kesepuluh di meja Rangga, napasnya sudah tersengal.

Rangga menyesap kopi itu pelan. Hening sejenak. Ia meletakkan cangkir itu dengan denting yang keras di atas meja.

"Lumayan," ucap Rangga dingin.

Kemudian ia mendorong tumpukan map tebal berisi laporan audit yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang staf.

"Lekas kerjakan semuanya. Pastikan tidak ada satu angka pun yang meleset. Dan setelah ini, bersiaplah. Temani aku makan malam."

Ia melihat tumpukan map itu butuh waktu setidaknya lima jam untuk diselesaikan.

"Tapi Pak, laporan ini—"

"Ada masalah?" Rangga mendongak, matanya yang tajam menatap Linggar dengan penuh intimidasi.

"Bukankah kamu jago memanipulasi sesuatu? Memeriksa angka seharusnya jauh lebih mudah daripada memanipulasi perasaan orang, bukan?"

Kalimat itu menghujam jantung Linggar seperti sembilu.

Kata-kata Rangga jauh lebih pahit daripada sepuluh cangkir kopi yang ia buat tadi.

"Baik, Pak. Akan saya selesaikan segera," jawab Linggar pelan sambil memeluk map-map tebal itu di dadanya.

Ia melangkah menuju mejanya, mulai bergulat dengan angka-angka yang membingungkan di bawah cahaya lampu kantor yang mulai meremang.

Ia mengabaikan perutnya yang perih karena belum terisi sejak pagi.

Ia hanya ingin patuh dan ingin menebus lukanya, meski ia tahu Rangga mungkin tak akan pernah lagi memandangnya dengan cinta yang sama.

Detik demi detik berganti dan jam menunjukkan pukul delapan malam.

Linggar baru saja menutup map terakhir dengan tangan yang kaku.

Rangga keluar dari ruangannya, sudah mengenakan jas hitamnya kembali dengan rapi.

"Sudah selesai?" tanya Rangga tanpa nada.

Linggar mengangguk lemah, berdiri dengan kaki yang terasa kaku.

"Sudah, Pak."

"Ikut aku sekarang. Ada jamuan makan malam dengan investor, dan aku ingin kamu ada di sana untuk mencatat semuanya. Jangan terlambat satu detik pun di belakangku."

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!