Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Kontrol Mulai Lepas
Malam itu Fariz menulis ulang semua yang ia ingat dari catatan Aisyah.
Kertas kecil di hadapannya sudah penuh coretan, beberapa kata ditulis dua kali karena tangannya gemetar saat menulisnya. Ia membuka lembar demi lembar tulisan Kyai Salman, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang ia lihat kemarin di sawah. Tapi di sana ada tulisan Arab yang tidak ia mengerti, kalimat-kalimat yang terputus di tengah seperti Kyai Salman berhenti menulis karena kehabisan waktu atau kehabisan kata.
"Sepertinya aku harus tanya Rahman soal ini," gumamnya pelan, sambil sesekali melirik ke pintu. Takut ketahuan.
Pukul dua belas malam, ia menyerah. Melipat lembar-lembar itu kembali dan menyembunyikannya di bawah kasur. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan kantuk, matanya perih, kepalanya berat.
Ia berbaring.
Bisikan itu datang tepat saat matanya hampir terpejam sepenuhnya.
"Rrrrrr... tua bangka itu ternyata masih mengganggu."
Suara geraman, rendah, seperti datang dari dalam dinding atau dari bawah lantai. Fariz membuka mata. Menatap sekeliling kamar. Tidak ada apa-apa di sana selain lemari kayu yang pintunya sedikit miring dan bayangan yang jatuh tidak rata dari cahaya bulan di luar.
"Ayo pergi."
Suara kedua, lebih jauh. Lalu hilang.
Kembali hanya ada jangkrik dan angin malam.
Fariz duduk. Napasnya pendek, dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Ia mencoba menahan kantuk, memaksa matanya tetap terbuka, tapi tubuhnya tidak menurut. Kelopak matanya turun sekali, terbuka lagi, turun lagi. Seperti ada yang menariknya dari dalam, memaksanya untuk tidur meski ia tahu tidur sekarang bukanlah hal yang aman.
Satu jam berlalu seperti itu. Setengah sadar, setengah tidak. Dan akhirnya ia tertidur.
Tapi tidurnya tidak nyenyak.
Ia bermimpi melihat wajah-wajah yang tidak jelas, mendengar bisikan yang sama berulang-ulang dengan kata-kata yang berganti tapi nadanya tetap, dan setiap kali ia hampir terbangun, ada sesuatu yang menahannya untuk tetap berbaring, tetap memejamkan mata, tetap di dalam mimpi yang tidak memberikan istirahat.
Pagi itu matahari sudah tinggi ketika Ratna membuka jendela kamarnya.
Cahaya menyoroti wajah Fariz, tapi tubuhnya tidak langsung bergerak. Seperti ada beban di atas dadanya yang membuatnya sulit bangun.
"Bu, ini jam berapa?" tanyanya terkejut begitu matanya terbuka penuh dan melihat posisi matahari.
"Kamu tidur terlalu pulas, Nak. Jadi ibu nggak tega banguninnya." Ratna berdiri di ambang pintu, suaranya datar, tidak seperti biasanya yang lebih hangat di pagi hari.
Fariz terduduk di kasur. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa seperti baru saja berlari jauh meski ia hanya berbaring semalam. Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam.
Subuh.
Ia ketinggalan Subuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Ratna sudah berjalan keluar. Fariz bergegas turun dari kasur, kakinya mencari sandal, tangannya meraih ember kecil untuk wudhu. Ia harus shalat qadha dulu sebelum yang lain. Harus.
Air dingin menyentuh wajahnya. Ia mengusap tiga kali, lebih cepat dari biasanya, napasnya belum teratur. Baru setengah selesai wudhu, suara Ratna memanggil dari luar.
"Ayo, Nak. Makan dulu."
Bukan tanya. Bukan ajakan. Perintah yang disampaikan seperti ajakan.
Fariz berdiri di situ, tangan masih basah, menatap sajadah yang sudah terlipat di sudut kamar. Ia bisa ambil sekarang, gelar, shalat dua rakaat saja dulu, baru keluar. Tapi suara ibunya memanggil lagi, kali ini sedikit lebih keras, dan ada sesuatu di nada itu yang membuatnya tidak berani membuat ibunya menunggu.
Ia mengeringkan tangan. Keluar.
Sajadah tetap terlipat di tempatnya.
Di meja makan, Sucipto sudah duduk dengan pakaian rapi dan cangkul bersandar di sebelah kanannya. Nasi goreng sudah disiapkan Ratna, asapnya masih tipis naik dari piring.
Fariz duduk. Mengambil sendok. Tapi rasanya seperti ada yang tersangkut di tenggorokan sebelum sempat menelan.
"Hari ini Bapak punya tugas buat kamu, Iz." Sucipto menyerahkan secarik kertas yang dilipat rapi.
"Apa ini, Pak?"
"Surat dari Pak Kades untuk imam masjid. Kamu tolong antarkan ke rumahnya, abis itu langsung susul Bapak ke sawah buat bantu penyemaian bibit baru."
Fariz menerima surat itu. Kertas putih, lipatannya rapi, tidak ada nama di luarnya.
"Baik, Pak."
Mereka makan dalam diam. Fariz menyuap nasi goreng yang seharusnya enak tapi rasanya hambar di lidahnya. Sepanjang sarapan itu, beban yang tadi ia tinggalkan di kamar tidak pergi. Malah semakin berat. Seperti ada yang duduk di bahunya, mengingatkan terus bahwa ada yang belum ia lakukan, ada yang ia tinggalkan, ada yang ia pilih untuk tidak dahulukan.
Dan pilihan itu terasa salah.
Rumah imam masjid bersebelahan dengan masjid itu sendiri, pintunya sudah terbuka ketika Fariz tiba. Dari dalam terdengar suara gesekan kain dan ritsleting tas.
"Assalamualaikum, Pak De," sapanya dari ambang pintu.
Pria tua itu menoleh. "Waalaikumsalam." Ia berdiri di dekat meja, tangannya sedang melipat beberapa baju ke dalam tas lusuh yang sudah terbuka. "Tumben, Iz. Ada apa kamu kemari?"
"Aku dititipin surat ini, Pak. Dari Bapak. Katanya dari Pak Kades."
Fariz menyerahkan surat itu. Pria tua itu menerimanya, membuka lipatan dengan hati-hati, lalu membaca. Wajahnya berubah. Bukan marah, bukan kaget. Hanya... datar. Seperti orang yang baru saja membaca sesuatu yang sudah lama ia duga tapi berharap tidak benar.
Ia melipat surat itu kembali. Memasukkannya ke saku. Berbalik tanpa berkata apa-apa dan kembali melipat baju.
Fariz berdiri di situ, bingung. Tidak tahu harus bilang apa atau harus pergi sekarang.
"Pak De mau ke mana?" tanyanya akhirnya.
"Tugas Pak De di desa ini sudah selesai, Iz. Jadi Bapak mau kembali ke kampung halaman." Suaranya tenang, tapi tangannya bergerak lebih cepat dari biasanya saat menutup ritsleting tas.
"Terus nanti siapa yang jadi imam di masjid?"
Pria itu berhenti sebentar. Menatap Fariz dengan tatapan yang sulit dibaca. Bukan marah. Bukan menyalahkan. Tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuat Fariz merasa tidak nyaman tanpa tahu persis kenapa.
"Kamu tetap shalat di rumah ya, Nduk." Ia mengusap kepala Fariz sebentar. "Ada atau tidak ada Bapak, shalat itu wajib hukumnya."
Lalu ia masuk ke dalam, meninggalkan Fariz berdiri sendirian di ruang tamu yang sekarang terasa terlalu besar dan terlalu sunyi.
Fariz berjalan pulang dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Di kepalanya berputar satu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab: kenapa surat itu harus ia yang antar? Kenapa bukan Karno, bukan anak buah yang lain, kenapa harus ia?
Lalu ia mengerti.
Darma Wijaya ingin ia melihat. Ingin ia tahu bahwa satu surat bisa membuat seseorang yang sudah lima tahun jadi imam langsung pergi tanpa perlawanan. Ini bukan ancaman yang diucapkan. Ini pelajaran yang ditunjukkan.
Dan imam itu sekarang tahu bahwa Fariz yang membawa surat itu.
Fariz sampai di rumah, masuk sebentar ke kamar, meraih catatan kecil yang ia tulis semalam dan menyimpannya di saku celana. Ratna masih di belakang, suara cucian yang diperas terdengar dari halaman.
"Bu, aku pamit ke sawah ya!" teriaknya dari depan.
"Langsung ke sawah, Iz. Jangan mampir ke mana-mana." Suara Ratna terdengar jelas meski dari jauh. Seperti ia tahu apa yang ada di pikiran Fariz sebelum Fariz sendiri memutuskan.
"Iya, Bu!"
Tapi kakinya tidak langsung ke arah sawah.
Gerbang pondok Al Mukhlisin tidak terkunci.
Fariz mendorongnya pelan, tidak seperti biasanya yang selalu mengetuk atau memanggil dari luar. Hari ini ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya, sesuatu yang membuatnya tidak peduli lagi dengan hati-hati yang biasa ia jaga.
Mungkin karena ketinggalan Subuh tadi pagi. Mungkin karena sajadah yang tidak sempat ia gelar. Mungkin karena surat yang ia bawa tadi dan tatapan imam yang sulit ia lupakan.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, rasa bersalah pada Tuhan terasa lebih besar dari rasa takut pada manusia.
"Rahman!" panggilnya sambil berjalan masuk. Suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. "Assalamualaikum!"
Tidak ada jawaban.
"Man!"
Pintu kamar terbuka. Rahman keluar dengan wajah yang bukan lega, tapi kesal bercampur panik.
"Iz!" Ia langsung melirik ke gerbang yang masih terbuka lebar. "Sudah aku bilang, kamu jangan sembarangan datang kemari!"
"Aku punya bukti jelas kalau desa ini dikuasai oleh sesuatu." Fariz mengeluarkan catatan kecil dari sakunya dan menyerahkannya ke Rahman. "Ini semua aku salin dari catatan Aisyah kemarin. Dia dengar sendiri kalau ada suguhan kecil. Kali ini aku yakin, Man. Kyai Salman pasti ingin melakukan sesuatu di desa ini."
Rahman menerima kertas itu tapi tidak langsung membaca. Matanya masih ke gerbang, ke jalan di luar, seperti sedang menghitung berapa lama sebelum ada yang lewat dan melihat Fariz di sini.
"Iz, ini bukan waktu yang tepat untuk bicara." Suaranya turun jadi bisikan yang keras. "Sekarang kamu lebih baik pergi daripada nanti aku yang kena masalah."
"Tapi, Man..."
"Sudah, Iz. Aku mau pulang ke rumah."
Rahman masuk ke kamar dan menutup pintunya. Tidak dikunci, tapi ditutup dengan cara yang jelas tidak ingin dibuka lagi.
Fariz berdiri di situ, bingung, tangan masih setengah terangkat seperti mau mengetuk tapi tidak jadi.
Dari balik celah jendela kamar, Rahman menatap Fariz yang masih berdiri di luar.
"Maaf, Iz," gumamnya pelan, suaranya hanya untuk dirinya sendiri. "Aku tahu. Tapi kalau kamu bicara di sini, itu sama dengan menghancurkan apa yang sudah Kyai bangun di tempat ini."
Kertas catatan Fariz masih di tangannya. Ia membacanya dengan seksama. Semua yang tertulis di sana sudah ia ketahui lebih dulu, sejak Kyai Salman masih hidup. Tapi membacanya lagi sekarang, dengan tulisan tangan Fariz yang tidak rapi dan kata-kata Aisyah yang disalin dengan hati-hati, membuatnya terasa berbeda.
Membuatnya terasa lebih nyata.
Ia menunggu sampai tidak melihat Fariz lagi dari jendela. Lalu keluar, menutup gerbang pondok, dan menggembok dengan gembok besar yang biasanya hanya dipasang malam hari.
Tadi pagi ia melihat anak buah Darma Wijaya lewat di depan pondok dua kali. Biasanya hanya sekali, atau bahkan tidak sama sekali. Dua kali dalam satu pagi berarti ada yang berubah. Berarti pengawasan diperketat. Dan Fariz baru saja datang dengan cara yang terlalu jelas, terlalu berisik.
Rahman masuk kembali ke kamar, duduk di tepi kasur, dan menatap kertas catatan itu lebih lama.
Fariz berlari ke sawah.
Napasnya terengah ketika sampai. Sucipto sudah di sana, berdiri di pematang dengan cangkul di tangan, wajahnya kusut dengan cara yang membuat Fariz tahu ia sudah menunggu terlalu lama.
"Kenapa kamu lama sekali, Iz? Bapak nungguin kamu dari tadi!"
"Maaf, Pak. Tadi aku..."
"Ah, sudah. Ayo cepat turun!"
Sucipto melemparkan cangkul cadangan ke arah Fariz. Fariz menangkapnya, hampir jatuh, lalu turun ke sawah. Sucipto sendiri naik ke pematang, duduk sambil mengelap keringat yang sudah bercucuran meski belum banyak bekerja.
Kaki Fariz menginjak tanah basah.
Kali ini ia tidak rubuh seperti waktu panen kemarin. Tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda. Tanah itu berdenyut di bawah telapak kakinya, seperti ada jantung yang berdetak pelan di bawah lumpur. Dan ada sesuatu yang memegang pergelangan kakinya. Bukan fisik. Lebih seperti tekanan dingin yang melingkar perlahan naik.
"Kenapa masih diam, Iz?!" Suara Sucipto dari atas, keras, kesal.
"Ma... maaf, Pak."
"Sudah, jangan banyak alasan. Cepat kerjakan!"
Fariz mengangkat cangkul. Mengayunkannya ke tanah.
Satu.
Dua.
Tiga.
Bau busuk meledak.
Tidak bertahap. Langsung penuh, seperti sesuatu yang sudah lama membusuk di bawah tanah tiba-tiba terbuka. Cairan kental mulai muncul dari air yang mengalir, warnanya tidak jelas antara hitam dan cokelat tua, bergerak melawan arah air yang seharusnya.
Lalu binatang-binatang itu keluar.
Melata, hitam, dengan kaki-kaki yang bergerak seperti nyala api yang tidak stabil. Bukan banyak, tapi cukup untuk mengerubuti pergelangan kaki Fariz. Dingin. Basah. Lengket.
"Ba..."
Fariz hendak berteriak, tapi suaranya berhenti di tenggorokan.
Karena ia melihat Darma Wijaya berdiri di pematang.
Bersama Sucipto. Keduanya menatapnya. Darma Wijaya dengan wajah yang tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Dan yang paling membuat dada Fariz sesak: ia tersenyum. Bukan senyum orang yang tidak tahu apa yang terjadi. Senyum orang yang tahu persis, dan senang melihat Fariz harus menahannya sendirian.
Binatang-binatang itu mundur.
Tidak hilang sepenuhnya, tapi mundur ke dalam air, ke dalam lumpur, seperti dipanggil kembali oleh sesuatu yang punya otoritas atas mereka. Fariz masih merasakan sisa sentuhan di kakinya, dingin dan lengket, seperti ada yang baru saja melepaskan cengkeraman tapi bekasnya masih tertinggal.
Ia berdiri di sana, cangkul masih di tangan, napas tertahan, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan apa-apa di wajahnya.
Sucipto berdiri tegang di samping Darma Wijaya. Wajahnya tidak seperti biasa. Ada sesuatu di sana yang Fariz belum pernah lihat sebelumnya: bukan marah, bukan khawatir. Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat anaknya melakukan sesuatu yang berbahaya dan tidak tahu harus melindungi atau memarahi.
"Mari, Pak." Darma Wijaya berbalik dengan santai, tangannya menepuk pundak Sucipto sekali. "Saya ingin bicara sebentar di pendopo."
"Nggih, Pak." Sucipto mengikuti, tapi sebelum benar-benar pergi, ia melirik ke Fariz sekali.
Bukan tatapan yang mengkhawatirkan. Tatapan yang kesal bercampur sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat Fariz merasa seperti ia baru saja mengecewakan seseorang dengan cara yang tidak bisa ia perbaiki.
Fariz berdiri sendirian di sawah.
Air mengalir seperti biasa. Lumpur terlihat seperti lumpur biasa. Tapi kakinya masih merasakan bekas sentuhan itu, dan hidungnya masih mencium sisa bau busuk yang belum sepenuhnya hilang.
Ia menatap cangkul di tangannya.
Lalu ke arah pendopo di kejauhan, di mana ayahnya sedang berjalan bersama Darma Wijaya dengan langkah yang terlalu patuh untuk orang yang seharusnya bebas.
Dan untuk pertama kalinya, Fariz tidak tahu apakah yang ia rasakan di dada ini adalah takut, marah, atau sesuatu yang lebih buruk dari keduanya.
Mungkin ketiganya sekaligus.
Bersambung...