Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kesunyian
Pintu baja di belakang Aira tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga, mengunci suara hujan badai di luar sana. Seketika, keheningan yang mencekik menyergapnya. Lorong di hadapannya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip, memberikan kesan horor pada dinding beton yang dingin. Aira menarik napas dalam-dalam, merasakan rompi antipeluru yang menekan dadanya—sebuah pengingat bahwa ia bukan lagi sekadar wanita yang tidak berdaya.
Ia menyentuh perutnya sejenak. “Bertahanlah, Kecil. Kita akan keluar dari sini,” bisiknya dalam hati.
Langkah kaki Aira menggema saat ia menuruni tangga menuju lantai bawah tanah. Di ujung lorong, sebuah ruangan luas terbuka, dipenuhi dengan server komputer yang berdengung dan deretan lemari arsip baja. Di tengah ruangan, duduklah Oswald di sebuah kursi kulit tua. Pria itu tampak jauh lebih rapuh daripada suaranya yang menggelegar di interkom, namun matanya masih memancarkan kilatan predator yang berbahaya.
"Kau datang sendirian. Sungguh romantis atau sungguh bodoh, Aira?" ujar Oswald tanpa menoleh. Di tangannya, ia memegang sebuah detonator kecil dengan lampu hijau yang berkedip.
Aira berhenti dalam jarak lima meter. "Aku datang untuk apa yang kau inginkan, Oswald. Kau ingin stabilitas Narendra, bukan? Aku adalah stabilitas itu. Selama aku hidup dan berada di bawah kendalimu, Ayah tidak akan melakukan gerakan sembrono."
Oswald tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Kau pikir aku hanya menginginkan kekuasaan? Tidak, Aira. Aku menginginkan keadilan. Sesuatu yang dicuri oleh ibumu dan Adipati dariku tiga puluh tahun lalu."
Aira mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Apa hubungannya Ibu denganmu?"
Oswald bangkit berdiri dengan susah payah, berjalan menuju salah satu dinding yang tertutup kain hitam. Ia menyentakkan kain itu, menampakkan sebuah foto besar seorang wanita yang sangat cantik—namun bukan Sofia.
"Ini adalah Elena. Adik perempuanku," suara Oswald bergetar karena emosi yang tertahan. "Dia adalah tunangan sah Adipati sebelum pria itu bertemu dengan Sofia Malik. Adipati mencampakkannya seperti sampah demi ibumu. Elena tidak bisa menahan rasa malunya. Dia mengakhiri hidupnya di malam pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya."
Aira tertegun. Sebuah potongan sejarah yang sengaja dihapus oleh ayahnya kini muncul ke permukaan.
"Sejak hari itu, aku bersumpah akan menghancurkan setiap kebahagiaan yang dibangun Adipati di atas air mata adikku," lanjut Oswald, matanya kini merah karena amarah. "Bramantyo hanyalah alatku. Aku yang menyuruhnya menukarmu. Aku ingin Adipati merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak, sama seperti aku kehilangan adikku. Tapi Aristhide Malik... dia mengacaukan semuanya dengan 'menyelamatkanmu'."
"Jadi ini semua hanya tentang balas dendam cinta lama?" tanya Aira, suaranya kini lebih berani. "Kau mempertaruhkan nyawa ratusan orang, menghancurkan perusahaan, dan mencoba membunuh Aristhide hanya karena egomu yang terluka?"
"Ego?! Ini tentang kehormatan keluarga, Gadis Kecil!" teriak Oswald. Ia mengangkat detonatornya. "Dan sekarang, saat kau sedang mengandung pewaris baru Narendra... lingkaran setan ini harus berakhir. Aku tidak akan membiarkan darah Adipati terus berkuasa."
Aira tersentak. "Bagaimana kau tahu aku hamil?"
"Aku punya orang di laboratorium yang memeriksa darahmu, Aira. Aristhide bukan satu-satunya yang punya akses," Oswald tersenyum licik. "Membunuhmu sekarang berarti menghapus masa depan Narendra sekaligus. Sebuah penebusan yang sempurna untuk Elena."
Di atas sana, Aristhide dan Adipati mulai menyadari bahwa pembicaraan di bawah tanah berlangsung terlalu lama. Sinyal GPS Aira mulai terganggu oleh dinding timbal bunker.
"Aku tidak bisa menunggu lagi!" seru Aristhide. Ia mengambil sebuah granat cahaya dari tas perlengkapan tim taktis. "Adipati, perintahkan timmu masuk lewat ventilasi sekarang!"
"Jika kita masuk, dia akan meledakkan tempat itu, Aristhide!" balas Adipati dengan wajah pucat.
"Dia tidak akan meledakkannya jika dia merasa masih menang!" Aristhide berlari menuju pintu darurat yang ia retas kodenya menggunakan laptopnya.
Kembali di dalam bunker, Aira mencoba mengulur waktu. Ia melihat kunci perak di tangannya. "Oswald, lihat ini. Kunci Zurich dari Ibu Saraswati. Di dalamnya bukan hanya dokumen. Ada rekaman suara terakhir Elena sebelum dia meninggal. Ibu Saraswati menyimpannya selama ini."
Gerakan Oswald terhenti. "Kau bohong."
"Ibu Saraswati adalah perawat yang menemani Elena di saat-saat terakhirnya, bukan hanya sahabat Sofia. Dia memberikan kunci ini padaku karena dia ingin kau tahu yang sebenarnya. Elena tidak membunuh diri karena dicampakkan, Oswald. Dia melakukannya karena dia tahu kau menggunakan namanya untuk melakukan penggelapan dana Narendra saat itu. Dia tidak ingin menjadi saksi melawan kakaknya sendiri!"
Oswald tertegun, tangannya yang memegang detonator mulai gemetar. "Tidak... itu tidak mungkin. Elena sangat mencintaiku."
"Dia mencintaimu, itu sebabnya dia memilih mati daripada melihatmu dipenjara! Dan sekarang kau justru melakukan hal yang sama pada anak cucu pria yang ia cintai? Kau menghancurkan warisan yang ia coba lindungi dengan nyawanya!"
Saat Oswald ragu, suara dentuman keras terdengar dari langit-langit. Aristhide meluncur turun menggunakan tali rapling, memecah kaca skylight bunker. Ia mendarat dengan tangkas dan langsung menodongkan senjata ke arah Oswald.
"Jatuhkan detonatornya, Oswald!" teriak Aristhide.
Oswald menatap Aristhide, lalu kembali ke Aira. Wajahnya tampak hancur. Kebenaran tentang adiknya telah meruntuhkan seluruh fondasi kebenciannya selama puluhan tahun.
"Dia... dia melakukannya untukku?" bisik Oswald lirih.
Dalam sekejap mata, tim taktis Adipati mengepung ruangan. Oswald tidak melawan. Ia menjatuhkan detonator itu ke lantai dan terduduk lemas di kursinya, seolah seluruh nyawanya telah dicabut.
Aristhide segera berlari ke arah Aira, memeluknya dengan sangat erat hingga Aira sulit bernapas. "Kau tidak apa-apa? Katakan padaku kau tidak apa-apa!"
Aira membalas pelukannya, air mata lega mengalir di pipinya. "Aku baik-baik saja, Aris. Kita baik-baik saja."
Adipati masuk ke ruangan, menatap Oswald dengan pandangan dingin namun penuh kesedihan. "Oswald... kenapa kau tidak pernah bicara padaku? Aku tidak pernah tahu Elena merasa begitu tertekan."
Oswald tidak menjawab. Ia hanya menatap foto adiknya di dinding.
Namun, saat petugas keamanan hendak memborgol Oswald, sebuah lampu merah di panel dinding mulai berkedip cepat. Suara alarm otomatis berbunyi: “Sistem Penghancuran Mandiri Diaktifkan. Waktu Tersisa: 60 Detik.”
"Apa ini?!" teriak Adipati.
"Oswald menghubungkan detak jantungnya dengan sistem ini," ujar salah satu teknisi taktis. "Saat detak jantungnya turun drastis karena shock, protokol kegagalan otomatis aktif! Kita harus keluar sekarang!"
Aristhide menarik tangan Aira. "Lari! Aira, lari!"
Mereka berlari menaiki tangga dengan adrenalin yang memuncak. Di belakang mereka, ledakan-ledakan kecil mulai meruntuhkan rak-rak arsip. Adipati sempat menoleh ke arah Oswald, namun pria tua itu tetap duduk diam, memilih untuk terkubur bersama rahasia dan foto adiknya.
Tepat saat Aristhide dan Aira melompat keluar dari pintu gudang, sebuah ledakan besar mengguncang bumi. Tanah di bawah gudang itu amblas, menelan seluruh bunker ke dalam kegelapan selamanya.
Aristhide memeluk Aira di atas rumput yang basah oleh hujan, melindungi tubuhnya dari serpihan yang beterbangan. Suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan suara rintik hujan dan napas mereka yang terengah-engah.
Aira menatap ke arah gudang yang kini telah rata dengan tanah. Segala bukti tentang penderitaan ibunya, segala dendam Oswald, dan rahasia Elena kini telah musnah.
"Sudah selesai," bisik Aristhide, mencium kening Aira. "Kali ini benar-benar selesai."
Aira menyandarkan kepalanya di dada Aristhide. "Aris, aku ingin anak ini lahir di dunia yang tidak tahu tentang bunker ini. Aku ingin dia hanya tahu tentang lukisan dan laut."
"Aku janji, Aira. Aku janji."
Namun, di antara reruntuhan yang masih berasap, sebuah kamera pengawas kecil yang tersembunyi di pohon seberang masih menyala. Di sebuah lokasi yang jauh, seseorang sedang menatap layar monitor, melihat Aira dan Aristhide yang sedang berpelukan.
Pria itu mematikan monitornya dan menyesap kopinya. "Begitu ya. Jadi pewaris Narendra sudah ada di rahimnya. Menarik. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai."
"(Siapakah pria misterius yang memantau mereka? Dan akankah masa tenang Aira terganggu oleh ancaman baru?)"