🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 | Malam di Bund, Shanghai
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Shanghai di malam hari adalah samudra cahaya yang menipu. Dari balkon hotel The Bund yang mewah, aku menatap sungai Huangpu yang membelah kota. Di satu sisi, bangunan kolonial tua berdiri kokoh sebagai saksi sejarah; di sisi lain, menara-menara modern berlomba mencakar langit, memancarkan laser neon yang menyilaukan.
Aku merapikan kerah setelan jas custom-made dari kain sutra Italia berwarna biru gelap yang dipesankan Wang Meiling untuk ku. Cermin di depan ku memantulkan sosok yang berbeda. Tidak ada lagi Satya si pengangguran pengurus dapur. Rambut ku tertata rapi, rahang ku tampak lebih tegas, dan yang paling mencolok, tatapan mata ku kini memiliki kedalaman yang berbahaya.
"Tiga hari lalu aku hanya sampah di Jakarta," pikir ku sambil menyesuaikan jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan ku. "Sekarang, aku mengenakan harga sebuah rumah mewah di tubuh ku. Dunia memang gila, tapi aku jauh lebih gila karena bisa melihat ke mana arah kegilaan ini."
Aku merasakan denyut di pelipis ku. Kekuatan ku semakin tajam. Saat aku menatap pelayan yang membawakan segelas champagne ke kamar ku, aku tidak hanya melihat nya sebagai manusia. Aku melihat garis hidup nya: 75% Kelelahan, 5% Harapan, dan sebuah angka kecil di pundak nya yang menunjukkan dia baru saja mencuri sebotol wine dari gudang hotel. Aku hanya tersenyum tipis. Rahasia kecil adalah mata uang terbaik di kota ini.
"Tuan Satya, Nona Wang sudah menunggu di limusin," ucap pelayan itu sambil membungkuk rendah.
Aku melangkah keluar. Inilah saat nya memasuki sarang naga yang sesungguh nya.
Jamuan makan malam di Shanghai Club adalah puncak dari dekadensi kelas atas. Ruangan nya di penuhi aroma parfum mahal, cerutu Kuba, dan denting gelas kristal. Wang Meiling berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun cheongsam modern berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuh nya dengan sempurna. Dia tampak seperti dewi perang yang sedang beristirahat.
Saat aku masuk, perhatian ruangan itu sejenak beralih. Meiling berjalan mendekat, menyambut lengan ku.
"Jangan mempermalukan ku, Satya," bisik nya di telinga ku. Nafas nya yang beraroma mint dan alkohol mahal terasa menggelitik. "Banyak serigala di sini yang ingin menjatuhkan Grup Dragon melalui diri mu."
"Biarkan mereka mencoba, Meiling," jawab ku tenang. "Serigala hanya berani melolong pada bulan, tapi mereka tidak akan berani menatap matahari."
Meiling tersenyum bangga. Di atas kepala nya, aku melihat aura 95% Kebanggaan. Dia mulai menikmati keberadaan ku di sisi nya, bukan hanya sebagai alat, tapi sebagai simbol kekuatan.
Di sudut ruangan yang agak remang, aku melihat sosok yang sangat kontras dengan kemeriahan pesta ini. Seorang wanita duduk sendirian di sofa beludru, memegang gelas martini dengan tangan yang sedikit bergetar. Meskipun dia memakai kacamata hitam di dalam ruangan, aura nya tidak bisa berbohong.
Warna aura nya adalah abu-abu pekat, warna depresi yang mendalam dan keinginan untuk mengakhiri segala nya. Di atas kepala nya, sebuah teks transparan berkedip: Status: Karir di Ambang Kehancuran (Skandal Palsu).
Dia adalah Zhao Wei. Artis papan atas China yang wajah nya menghiasi setiap papan iklan di Asia. Namun malam ini, dia terlihat seperti burung pipit yang sayap nya baru saja dipatahkan.
"Itu Zhao Wei," bisik Meiling, mengikuti arah pandangan ku. "Kasihan sekali. Skandal video asusila itu menghancurkan kontrak nya dengan lima merek global dalam semalam. Padahal semua orang tahu itu video hasil rekayasa, tapi publik butuh darah."
"Publik tidak butuh darah, Meiling. Mereka hanya butuh narasi baru," kata ku.
Aku melepaskan pegangan tangan Meiling dan melangkah menuju sofa itu. Beberapa orang memperhatikan ku dengan tatapan mencemooh. Siapa pria asing ini yang berani mendekati sang Ratu Skandal?
Aku duduk di sofa tepat di hadapan nya tanpa izin. Zhao Wei tidak mendongak.
"Pergilah jika kau hanya ingin meminta tanda tangan untuk di jual di pasar gelap," suara Zhao Wei serak, penuh kepahitan.
"Aku tidak butuh tanda tangan mu, Nona Zhao," kata ku. "Aku datang untuk memberitahu mu bahwa gaun hitam yang kau pakai ini sangat cocok dengan upacara pemakaman... pemakaman karir orang yang menjebak mu."
Zhao Wei mendongak. Di balik kacamata hitam nya, aku bisa melihat mata nya yang sembab. "Apa kau bilang? Kau tahu apa tentang hidup ku?"
Aku mencondongkan tubuh, memasuki ruang pribadi nya. Aroma alkohol dari nafas nya tercium kuat, namun aku fokus pada pupil mata nya. Mataku mulai memanas. Kilatan merah darah muncul di penglihatan ku. Aku melihat sebuah rekaman memori di masa lalu: sebuah kamar hotel, seorang pria yang memberi nya minuman, dan sebuah kamera tersembunyi di balik pot bunga.
"Rekaman itu diambil di Hotel Peninsula, kamar 808. Tujuh bulan yang lalu," bisikku.
Zhao Wei tersentak, gelas martini nya hampir saja terjatuh. "Bagaimana... bagaimana kau tahu?"
"Dan pria yang memasang kamera itu bukan musuh bebuyutan mu di industri film," lanjut ku, suara ku semakin rendah, hampir menyentuh telinga nya. "Pria itu adalah orang yang saat ini sedang menangis di depan media, membela mu secara pura-pura sambil memegang kontrak manajemen baru mu."
Zhao Wei gemetar hebat. Tangan nya mencengkeram lengan sofa. "Siapa... sebutkan namanya."
Aku membisikkan satu nama di telinga nya. "Tuan Li, manajer mu sendiri. Dia menjual video mu ke sindikat perjudian di Macau untuk melunasi hutang judi nya sebesar dua puluh juta dollar, lalu dia merencanakan penyelamatan karir mu agar kau terikat kontrak seumur hidup dengan nya."
Dunia seolah berhenti bagi Zhao Wei. Wajah nya yang pucat kini menjadi seputih kertas. Air mata jatuh dari balik kacamata nya. Dia menatap ku seolah-olah aku adalah hantu yang baru saja bangkit dari kubur.
"Kenapa... kenapa kau memberitahuku ini?" tanya nya dengan suara bergetar.
"Karena aku tidak suka melihat skenario yang membosankan," jawab ku sambil berdiri. "Dan karena aku ingin kau berhutang budi pada ku. Simpan bukti transfer di laci rahasia kantor nya di Distrik Jing'an. Besok pagi, kau akan memiliki dunia di bawah kaki mu lagi."
Aku berbalik untuk pergi, namun tangan lembut dan dingin milik Zhao Wei menahan pergelangan tangan ku.
"Tunggu! Siapa nama mu?"
Aku tidak menoleh. Aku hanya memberikan profil samping wajah ku yang diterangi lampu kristal. "Nama ku Satya. Ingatlah itu saat kau kembali ke puncak, karena suatu hari nanti, aku akan menagih pembayaran darimu."
Aku kembali ke sisi Meiling yang memperhatikan ku dengan tatapan curiga yang tajam.
"Apa yang kau bicarakan dengan nya? Dia terlihat seperti baru saja melihat dewa kematian," tanya Meiling.
"Hanya memberi nya sedikit harapan," jawab ku santai. "Wanita yang putus asa bisa menjadi sekutu yang sangat berguna, bukan?"
Meiling menyipitkan mata nya. "Kau mulai mengumpulkan wanita-wanita di sekitar mu, Satya. Berhati-hatilah. Terlalu banyak bunga di satu taman bisa membuat mu sesak napas."
Aku tertawa, lalu menarik pinggang Meiling mendekat, membuat tubuh nya yang mungil namun padat menempel pada jas mahal ku. Dia tersentak, namun tidak menolak. Di atas kepala nya, aura merah muda mulai bercampur dengan warna emas kebanggaan. Ketegangan seksual di antara kami semakin tidak terbendung.
"Aku bisa mengatur seribu bunga jika aku mau, Meiling. Tapi malam ini, aku hanya ingin menari dengan satu mawar berduri," bisik ku.
Kami melantai di bawah iringan musik jazz yang lembut. Saat kami berdansa, aku melihat ke sekeliling ruangan. Aku melihat para konglomerat yang saling bersalaman, tidak menyadari bahwa di balik saku mereka, uang mereka sedang menguap karena krisis yang semakin dekat.
"Lihatlah mereka," batin naga di dalam darah ku. "Mereka merasa aman dalam kemewahan ini. Mereka tidak tahu bahwa ekonomi Asia akan runtuh minggu depan. Rupiah, Baht, Ringgit... dan Yuan akan segera menyusul."
Tiba-tiba, seorang wanita bertubuh tegap dengan seragam polisi elit masuk ke dalam ruangan. Dia tidak memakai pakaian pesta. Dia adalah Detektif Chen, polwan tangguh yang nama nya sering kudengar sebagai pemburu buronan internasional.
Mata Detektif Chen menyapu ruangan, dan entah kenapa, dia berhenti tepat pada mata ku. Di atas kepala nya, aku melihat aura berwarna perak tajam, aura keadilan yang keras kepala. Namun, ada satu titik hitam di jantung nya: sebuah kasus yang gagal dia pecahkan selama lima tahun.
Aku tersenyum padanya dari kejauhan.
"Wanita kedua telah datang," gumam ku dalam hati. "Selamat datang di jaring laba-laba ku, Detektif."
Malam di Bund ini baru saja dimulai. Di luar sana, angin laut Shanghai bertiup kencang, membawa aroma perubahan yang amis dan manis. Aku, Satya Samantha, tidak lagi takut pada badai. Karena aku lah pusat dari badai itu sendiri.
Aku mengeratkan pelukan ku pada pinggang Meiling, merasakan lekuk tubuh nya yang menggoda di balik kain sutra. Hidup sebagai sampah terasa sangat jauh sekarang. Yang ada hanyalah rasa lapar akan penaklukan, penaklukan bisnis, penaklukan wanita, dan penaklukan takdir itu sendiri.
"Meiling," bisik ku saat musik berakhir.
"Hmm?"
"Besok, beli semua opsi put pada mata uang Asia Tenggara. Habiskan seluruh dana taktis yang kau janjikan."
Meiling menatap ku dengan mata lebar. "Kau yakin? Itu langkah yang sangat agresif. Kita bisa dianggap pengkhianat ekonomi Asia."
"Pengkhianat atau pemenang, perbedaan nya hanya terletak pada siapa yang masih memegang uang saat debu mereda," jawab ku dingin.
Aku melepaskan nya, mengambil segelas minuman lagi, dan menatap ke arah jendela. Di pantulan kaca, aku melihat mata ku berkilat merah darah sekali lagi. Naga itu telah bangun sepenuh nya, dan Shanghai tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
...----------------🍁----------------🍁----------------...
inspirasi yeee