Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Alecio tidak pernah menyukai rasa kalah. Ia bisa menerima luka tembak. Ia bisa menerima pengkhianatan. Bahkan ia bisa menerima kehilangan bisnis miliaran euro tanpa mengedipkan mata. Namun, dikalahkan oleh seorang perempuan di kamarnya sendiri itu berbeda.
Sejak kejadian terakhir, pikirannya tidak tenang. Wajah Sandrina terus muncul tanpa izin. Tatapan marahnya. Suaranya yang mengatakan benci. Cara tubuhnya melawan tanpa takut dan yang paling mengganggu, aroma sabun dari tubuh juga rambutnya masih teringat jelas.
Alecio berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandangi taman sayap kiri yang gelap. Ia tahu ia tidak seharusnya ke sana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak. Namun semakin ia menjauh, semakin pikirannya terasa sempit.
“Brengsek,” gumam Alecio pelan.
Tanpa memberi tahu siapa pun, Alecio melangkah keluar ruangan. Sepatunya menggema di lorong panjang. Setiap langkah terasa seperti keputusan yang ia buat tanpa mau mengakuinya.
Sejak memindahkan Sandrina ke sayap kiri, ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu keputusan terbaik. Jarak adalah kendali. Jarak adalah cara agar ia tidak kehilangan batas. Namun, malam itu batasnya terasa tipis.
Ketika Alecio sampai di depan kamar Sandrina, pintunya tidak terkunci. Akhirnya mendorong pintu kamar itu tanpa mengetuk. Dan ia langsung menyesal atau mungkin justru semakin kehilangan kendali.
Lampu kamar menyala redup. Sandrina berdiri di dekat kasur, baru saja melepas mukena putihnya. Rambutnya sedikit lembap, wajahnya bersih tanpa riasan, dan aroma sabun lembut langsung menyergap indra Alecio. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Sandrina membeku. Alecio berdiri di ambang pintu. Tatapan pria itu gelap, tajam, dan terlalu tenang untuk disebut kebetulan.
“Kau—?” Suara Sandrina tercekat dan matanya membesar. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Alecio menutup pintu dengan pelan. Klik kunci terdengar jelas. “Kita perlu bicara,” ujarnya rendah.
“Aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan denganmu.” Sandrina melepas mukena dengan gerakan cepat, melipatnya, seolah kehadirannya tidak berarti. “Keluar.”
Perintah itu membuat rahang Alecio menegang. “Kau pikir kau punya posisi untuk menyuruhku keluar dari kastilku sendiri?”
“Aku bukan tawananmu!”
“Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya,” ucap Alecio dengan tatapan membunuh.
Sandrina membalas dengan tatapan tajam.
Alecio melangkah mendekat. “Kau mencoba kabur.”
“Aku memang akan kabur!” bentak Sandrina. “Aku ingin pulang! Aku ingin kembali ke Indonesia!”
“Tidak semudah itu kamu bisa kabur dariku!” ucap Alecio dengan tatapan tajam.
“Aku benci kau, Alecio!” teriak Sandrina marah.
Kata benci itu menghantam tepat di pusat ego Alecio. Sesuatu dalam dirinya pecah.
Tanpa aba-aba, Alecio menarik Sandrina mendekat dan mencium bibirnya dengan kasar. Bukan sekadar ciuman, dia seperti sedang menaklukkan medan perang.
Sandrina terkejut satu detik. Tubuhnya diam membeku.
Satu detik itu cukup untuk membuat Alecio menguasai posisi. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Sandrina dan menahannya di atas kasur. Napas mereka bertabrakan.
Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, lebih liar dari sebelumnya. Seolah Alecio ingin membungkam semua kata benci yang baru saja dilemparkan padanya.
Sementara Sandrina, terus mencoba memberontak. Berbagai cara dia lakukan agar terlepas dari cengkraman Alecio.
Oksigen di dalam paru-paru mereka hampir habis. Alecio terpaksa melepaskan pagutannya pada bibir Sandrina.
“Lepas!” teriak Sandrina berusaha memutar wajah.
Namun, Alecio tidak berhenti. Dia tidak akan berhenti hanya karena teriakan Sandrina. Dia kembali mencium bibir wanita itu lebih liar. Tangannya turun, menyentuh dada Sandrina dengan remasan lembut. Hal ini membuat napas gadis itu tersengal antara marah dan panik.
Dan saat itulah Sandrina menggigit bibir Alecio dengan keras. Giginya yang tajam berhasil melukainya.
Darah langsung terasa di bibir pria itu. Alecio mendesis pelan, mata gelapnya menatap Sandrina dengan campuran amarah dan sesuatu yang lebih primitif.
“Kau pikir itu membuatku berhenti?” kata Alecio dengan suaranya parau. Matanya sudah berkabut oleh nafsu.
“Lepaskan aku, brengsek!” teriak Sandrina.
Alecio membalas dengan menggigit sisi leher Sandrina, cukup keras untuk meninggalkan jejak.
Sandrina terkesiap. Tubuhnya menegang saat merasakan tekanan keras di antara tubuh mereka. Dia sadar apa itu. Seketika panik menyambar.
Alecio kehilangan kendali. Ia terlalu dekat. Terlalu panas. Terlalu sadar pada aroma sabun, pada kulit hangat di bawahnya, pada fakta bahwa satu-satunya perempuan yang mampu membuatnya goyah justru berada tepat dalam pelukannya.
“Jangan sentuh aku!” Sandrina berteriak, suaranya pecah.
Teriakan itu seperti tamparan bagi Alecio. Namun, bukan pada wajahnya, pada kesadarannya. Sebelum ia benar-benar bisa mencerna situasi, tubuh Sandrina bergerak cepat dan tepat. Ia memutar pinggang, menggeser kaki, dan dalam satu teknik bantingan.
Brak!
Alecio terlempar dari atas kasur dan menghantam lantai keras. Udara keluar dari paru-parunya dan membuatnya terbatuk. Untuk sepersekian detik, ia hanya bisa menatap langit-langit dengan ekspresi tak percaya.
Sandrina sudah berdiri di atasnya. “Kau pikir aku lemah?” Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut, tetapi karena marah.
“Rasakan ini! Karena sudah menculikku!”
Pukulan pertama mendarat di pipi kiri Alecio. Sangat keras sampai kepalanya terlempar ke samping.
“Ukh!”
“Ini karena sudah mengancamku!”
Pukulan kedua dari Sabrina kembali menghantam pipi kiri untuk kedua kalinya. Rasa logam darah semakin kuat.
Alecio mencoba bangkit, tetapi sapuan kaki Sandrina membuatnya kehilangan keseimbangan lagi. Kali ini ia benar-benar terduduk dengan wajah babak belur, jas mahalnya kusut, rambutnya berantakan.
Ironisnya, di tengah rasa sakit itu, ada sesuatu yang hampir membuat Alecio tertawa. “Perempuan ini ... benar-benar berbahaya.”
“Aku bukan budakmu!” bentak Sandrina, napasnya memburu. “Dan kau bukan tuanku!”
Alecio mengusap darah di sudut bibirnya. Dadanya naik turun. Matanya menyala, bukan karena kalah, tetapi karena tersentak oleh kenyataan bahwa ia hampir melewati batas yang tidak bisa ia tarik kembali. Ia berdiri perlahan.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap dalam diam yang membakar.
“Aku bisa menghancurkan mu,” ucap Alecio pelan.
“Coba saja,” balas Sandrina tanpa mundur satu langkah pun.
Keheningan itu lebih menegangkan daripada pukulan mana pun. Akhirnya, Alecio berbalik dan berjalan ke pintu. Tangannya berhenti sesaat di gagang.
“Jangan pernah berpikir kau bisa lari,” katanya tanpa menoleh. “Dunia di luar tidak lebih baik.”
Pintu dibanting, sehingga meninggalkan bunyi yang menggema. Alecio keluar dari kamar itu dengan harga diri yang terasa lebih lebam daripada wajahnya.
Francisco membeku dan hampir menjatuhkan gelas ketika melihat kondisi sahabatnya. Wajah Alecio benar-benar babak belur.
“Santa Maria ...,” gumamnya. “Kau habis menghadang dan ditabrak truk?”
“Diam, kau!”
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Francisco, menahan senyum.
Alecio duduk dengan wajah kaku. “Dia menyerangku.”
Francisco menatap lebam di pipi, bibir pecah, dan kerah jas yang kusut. Hening tiga detik. Lalu, ia tertawa.
“Bos mafia paling ditakuti di Roma dipukuli perempuan?” katanya sambil terpingkal. “Aku harus mencatat tanggal ini di buku diary!”
Alecio menatapnya dingin. “Aku bisa memecatmu.”
“Tapi kau tidak akan,” balas Francisco santai. “Karena hanya aku yang tahu kondisi tubuhmu.”
Alecio duduk tanpa bicara.
Francisco mendekat, memperhatikan lebam di pipi dan darah di bibir. “Jangan bilang—”
“Aku tidak ingin mendengarnya.”
“Oh tidak,” Francisco mulai tersenyum. “Kau ke kamar sayap kiri, bukan?”
Alecio diam dan itu sudah menjadi jawaban.
Francisco tertawa keras dan terpingkal-pingkal sampai harus bersandar di meja.
“Ketua Bos mafia Serigala Putih dihajar perempuan berhijab?” katanya di sela tawa.
Alecio menatapnya tajam. “Tutup mulutmu.”
“Dia menggigitmu, ya?”
Alecio tidak menjawab.
Francisco menyeringai. “Aku tidak tahu apakah harus menyarankan dokter lain atau pelatih bela diri tambahan untukmu.”
Alecio berdiri kesal. “Dia tidak boleh kabur.” Nada itu berubah dingin.
“Dan kau mencoba menciumnya,” sahut Francisco cepat.
Tatapan Alecio cukup untuk membuat orang lain mundur. Tapi bukan Francisco.
“Aku tidak bisa membiarkannya lari,” ujar Alecio akhirnya, suaranya lebih tenang. “Terlalu berbahaya di luar sana.”
“Untuk siapa? Untukmu atau untuk dia?”
Pertanyaan itu menggantung.
***
Sambil menunggu bab berikutnya, yuk baca juga karya temanku ini.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu