Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
"Berdiri, Jang Mi," perintahku seraya menarik kerah bajunya.
Wanita itu gemetar hebat. Giginya bergemeletuk hingga mengeluarkan suara beradu yang konstan. Ia bahkan tidak sanggup menatap mataku yang masih menyala merah.
"K-kau... kau benar-benar ingin aku pergi?" tanya Jang Mi dengan suara tercekat.
"Tentu saja. Siapa lagi yang akan menceritakan kehebatan 'sampah' ini kepada ayahmu jika bukan kau?" sahutku santai.
Aku mendorongnya ke arah pintu gua. Langkahnya sempoyongan, hampir jatuh menimpa mayat rekan-rekannya yang sudah mengering.
Mengapa aku tidak langsung menghabisinya saja sekarang? Karena luka di hati para petinggi sekte akan jauh lebih dalam jika mereka melihat ketakutan murni di wajah putri kesayangan mereka.
Tepat saat Jang Mi mencapai mulut gua, sesosok pria dengan jubah biru yang lebih gelap dari yang lain muncul. Ia adalah Kang Dae, murid nomor satu di kalangan murid batin. Ia menatap Jang Mi yang berantakan, lalu beralih menatapku.
"Lepaskan Nona Jang Mi, makhluk hina!" bentak Kang Dae seraya menghunuskan pedang lebarnya.
"Makhluk hina? Kurasa seleramu dalam memilih kata-kata sangat buruk, Kakak Senior Kang," ejekku pelan.
"Han Wol? Suara itu... kau benar-benar Han Wol?" tanya Kang Dae dengan mata menyipit tajam.
"Kalian semua menanyakan hal yang sama. Apa aku terlihat begitu berbeda hanya karena sedikit sisik di kulitku?" tanyaku balik sembari mengangkat tangan kananku yang kini sepenuhnya berupa cakar hitam.
"Kau mempraktikkan ilmu sesat! Kau mencoreng nama baik Sekte Awan Azure!" raung Kang Dae gusar.
Ia memberi isyarat kepada lima murid batin di belakangnya. Mereka segera bergerak melingkari mulut gua, menutup setiap celah bagiku untuk melarikan diri.
"Nama baik? Sejak kapan sekte yang membiarkan muridnya mati kelaparan dan disiksa memiliki nama baik?" tanyaku dengan nada meremehkan.
"Diam! Serang dia! Amankan Nona Jang Mi!" perintah Kang Dae tegas.
Tiga murid batin menerjang maju secara bersamaan. Mereka menggunakan teknik Langkah Awan Berputar untuk mengaburkan arah serangan. Ujung-ujung pedang mereka mengincar titik vital di leher, jantung, dan perutku.
Aku tidak bergerak. Kenapa aku membiarkan mereka mendekat? Karena aku ingin merasakan sejauh mana sistem ini telah memperkuat daya tahan tubuhku.
Ting! Ting! Srak!
Dua pedang pertama patah saat membentur kulit bahuku. Pedang ketiga berhasil menyentuh perutku, namun hanya meninggalkan goresan putih kecil di atas sisik hitam yang keras.
"Hanya segini kekuatan murid batin yang dibanggakan itu?" tanyaku sembari mencengkeram kepala murid yang berada paling dekat denganku.
"T-tidak mungkin! Kulitnya seperti baja meteor!" seru murid itu panik.
Aku menekan telapak tanganku ke wajahnya. Secara perlahan, aku membiarkan cakarku keluar sedikit demi sedikit dari ujung jari.
"Lepaskan dia, bajingan!" teriak Kang Dae yang kini ikut menerjang dengan pedang lebarnya.
Ia menggunakan teknik Pedang Pembelah Langit. Tekanan udaranya cukup kuat hingga membuat lantai gua retak. Aku harus mengakui, serangannya jauh lebih berbobot daripada milik Song Chi.
[Peringatan: Serangan masuk dengan intensitas tinggi. Rekomendasi: Transformasi lengan kanan 70%.]
Aku mengikuti instruksi sistem. Otot-otot di lengan kananku membesar dua kali lipat dalam sekejap. Pembuluh darahku menonjol keluar, berdenyut dengan energi gelap yang meluap.
BOOM!
Aku menangkis bilah pedang besar itu dengan punggung tanganku. Benturan tersebut menghasilkan gelombang kejut yang mementalkan murid-murid lain di sekitar kami.
"Kau... kau menahan serangan penuhku dengan tangan kosong?" gumam Kang Dae dengan wajah pucat pasi.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sebentar lagi akan menjadi santapanku," sahutku dingin.
Aku mengayunkan cakar kiriku dengan gerakan horizontal. Kang Dae melompat mundur dengan lincah, namun malang bagi murid di belakangnya. Dada murid itu terbelah secara vertikal, menyemprotkan cairan merah ke arah wajah Kang Dae.
[Target ke-4 tumbang. Kemajuan misi: 4/10.]
"Satu per satu dari kalian akan melengkapi evolusiku," ucapku sembari menjilat sisa energi yang menempel di cakar.
"Kau bukan manusia lagi! Kau benar-benar monster!" teriak Jang Mi dari kejauhan. Ia sudah berhasil keluar dari gua, namun ia tetap diam di sana untuk menonton dengan wajah ngeri.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona," balasku sembari menoleh sekejap.
Kang Dae menggeram rendah. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna merah menyala dari balik saku jubahnya dan langsung menelannya. Seketika, aura di tubuhnya melonjak drastis hingga mencapai puncak ranah Kultivasi Dasar.
"Aku akan menyeret mayatmu ke hadapan Tetua Agung!" seru Kang Dae dengan mata yang kini memerah akibat efek pil pemacu energi.
"Mari kita lihat apakah pil sampah itu bisa menyelamatkan lehermu," tantangku sembari merendahkan posisi tubuh, bersiap untuk menerjang.
Kenapa dia merasa begitu yakin bisa menang hanya dengan bantuan obat-obatan? Karena manusia seringkali lupa bahwa batas antara keberanian dan kebodohan itu sangat tipis.
Saat kami berdua bersiap untuk bentrokan terakhir, sebuah suara tua yang sangat berat bergema dari luar gua, membuat debu-debu di langit-langit berjatuhan.
"Cukup! Berhenti sekarang juga!"
Tekanan energi yang menyertai suara itu membuat dadaku terasa sesak. Ini bukan lagi tingkat murid batin. Seseorang yang memiliki kultivasi Ranah Formasi Inti telah tiba.
"Ayah! Tolong aku!" teriak Jang Mi histeris.
Aku menyeringai lebar. Target utama yang sebenarnya telah muncul lebih cepat dari perkiraanku.
"Sepertinya hidangan utamanya sudah datang," bisikku pada diri sendiri.
Seorang pria tua dengan jubah putih bersih melangkah masuk. Jang Gwang, sang Tetua Agung Sekte Awan Azure. Matanya yang tajam menatap pemandangan di dalam gua dengan dingin, seolah-olah mayat murid-muridnya hanyalah tumpukan kayu bakar yang tidak berharga.
"Berani sekali kau menyentuh putriku, Han Wol," ucap Jang Gwang dengan suara yang rendah namun berwibawa.
"Dia masih utuh, Tetua. Harusnya kau berterima kasih padaku," sahutku sembari melepaskan mayat murid ke-5 dari cengkeramanku.
"Terima kasih? Aku akan memastikan kau memohon kematian selama tujuh hari tujuh malam," ancam Jang Gwang seraya mengangkat tangannya ke udara.
Cahaya biru yang menyilaukan mulai terkumpul di telapak tangannya. Ini adalah Teknik Awan Surgawi pada tingkat yang jauh berbeda. Aku bisa merasakan setiap sel di tubuhku berteriak, entah karena takut atau karena kegembiraan yang meluap-luap.
[Analisis musuh: Ranah Formasi Inti Tahap Awal. Risiko kematian: 40%. Rekomendasi: Transformasi penuh tubuh bagian atas.]
Aku mengikuti saran sistem tanpa ragu. Tulang bahuku mencuat keluar, membentuk pelindung alami yang menyerupai duri-duri tajam. Tinggiku bertambah beberapa inci, dan ekor bersisik mulai muncul dari tulang ekorku untuk menjaga keseimbangan.
"Mati!" teriak Jang Gwang seraya menghempaskan gelombang energi ke arahku.
Aku tidak menghindar. Aku justru melesat lurus menembus gelombang energi tersebut. Rasa sakit yang luar biasa membakar kulit sisikku, namun aku terus bergerak maju. Mengapa aku memilih jalan yang paling menyakitkan? Karena hanya dengan mendekatilah aku bisa mencabik tenggorokannya.
"Apa?" gumam Jang Gwang kaget saat melihatku muncul dari balik debu.
Cakar kananku yang sudah berevolusi menyambar ke arah dadanya. Ia sempat menciptakan perisai energi, namun cakarku menembusnya seperti pisau panas membelah mentega.
Srak!
Tiga garis luka dalam terbentuk di dada sang Tetua Agung. Ia mundur beberapa langkah dengan wajah yang tidak percaya.
"Kau... bagaimana mungkin sampah sepertimu memiliki kekuatan ini?" tanya Jang Gwang dengan suara gemetar.
"Dunia ini tidak adil, bukan? Kau memberiku penderitaan, dan sistem ini memberiku cara untuk mengembalikannya padamu," jawabku sembari menerjang lagi.
Pertarungan berlanjut dengan brutal. Kang Dae dan murid batin lainnya yang masih tersisa mencoba membantu, namun mereka hanya berakhir menjadi mangsa tambahan bagiku. Satu per satu mereka jatuh, menambah jumlah korban dalam daftar sistem.
[Target ke-6... ke-7... ke-8... ke-9...]
Kini hanya tersisa Jang Gwang yang sudah terluka parah dan Jang Mi yang meringkuk di sudut gua.
"Tunggu! Han Wol! Jangan lakukan ini!" rintih Jang Gwang saat aku mencengkeram lehernya dengan ekorku yang kuat.
"Kau ingat saat kau membiarkan putrimu memaksaku berlutut di atas salju selama lima jam?" tanyaku tepat di depan wajahnya yang pucat.
"Aku akan memberimu posisi Tetua! Aku akan memberimu teknik rahasia!" tawarnya dengan nafas tersengal.
"Aku tidak butuh teknikmu. Aku hanya butuh energimu," sahutku dingin.
Aku menancapkan taringku langsung ke jantungnya. Aliran energi yang sangat padat dan murni dari Formasi Inti mengalir masuk ke dalam tubuhku. Ini jauh lebih kuat dari gabungan semua murid yang kumakan sebelumnya.
[Target ke-10 tumbang. Misi Darurat Selesai.] [Memulai evolusi instan ke tahap: 'Asura Crawler'.]
Tubuhku meledak dalam cahaya hitam yang pekat. Aku bisa merasakan tulang-tulangku hancur dan tersusun kembali dengan struktur yang jauh lebih sempurna. Rasa sakitnya begitu hebat hingga aku kehilangan kesadaran selama beberapa detik.
Saat aku membuka mata, gua itu sudah sunyi. Jang Gwang telah menjadi mumi kering di bawah kakiku. Jang Mi sudah tidak ada di sana, sepertinya ia berhasil melarikan diri di saat-saat terakhir evolusiku.
Aku melihat ke arah telapak tanganku. Sisik hitamku kini memiliki guratan emas yang halus. Kekuatanku terasa ribuan kali lipat lebih stabil. Aku bisa berubah kembali menjadi manusia sepenuhnya hanya dengan satu pikiran.
"Sistem, tampilkan status," perintahku pelan.
[Nama: Han Wol] [Tahap: Asura Crawler (Evolusi Selesai)] [Kemampuan: Transformasi Parsial, Ekstraksi Esensi, Manipulasi Energi Gelap]
Aku menghela nafas panjang, membiarkan tubuhku kembali ke bentuk manusia normal. Pakaianku sudah hancur, namun aku menemukan jubah biru milik Kang Dae yang masih layak pakai.
Kenapa aku merasa begitu tenang setelah membantai mereka semua? Mungkin karena akhirnya beban berat di pundakku telah luruh bersama dengan darah mereka.
Aku berjalan keluar dari gua dengan langkah santai. Matahari pagi mulai terbit, menyinari hutan yang tenang di sekitar sekte. Tidak ada lagi suara teriakan, tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk sumsum tulang.
"Sekarang, saatnya hidup dengan damai," gumamku sembari tersenyum kecil.
Namun, di kejauhan, aku bisa melihat sinyal darurat sekte membumbung tinggi ke langit. Sepertinya dunia tidak akan membiarkanku beristirahat secepat itu.