Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16
Perayaan amal itu akhirnya tiba—malam yang telah lama dinantikan kalangan elit. Gedung termegah di pusat kota berdiri angkuh, bermandikan cahaya lampu kristal yang memantul pada dinding marmernya. Karpet merah membentang panjang dari pelataran hingga pintu utama, dijaga ketat oleh barisan pengawal berseragam hitam.
Para wartawan telah memenuhi sisi kanan dan kiri karpet merah. Kilatan kamera bersahutan tanpa henti, suara pertanyaan berseru saling bertabrakan di udara malam. Namun tidak semua mendapat izin masuk—hanya beberapa media pilihan yang disetujui langsung oleh Jackman.
Sebuah limusin hitam mengilap berhenti tepat di ujung karpet merah.
Pintu terbuka.
Jackman turun lebih dulu dengan langkah mantap, wajahnya tenang namun penuh wibawa. Sorot matanya tajam. Setelan jasnya berpotongan sempurna, dasi hitamnya terikat rapi. Di sampingnya, Helena menggandeng lengannya dengan anggun. Gaun malam yang dikenakannya berkilau halus di bawah sorot lampu, membuat banyak mata terpaku. Mereka berjalan perlahan menyusuri karpet merah, senyum tipis terlukis di wajah Helena, seolah malam itu sepenuhnya berada dalam kendali mereka.
Beberapa undangan penting sudah lebih dahulu hadir—para pengusaha, pejabat, dan tokoh sosial. Mereka menyapa Jackman dengan hormat, sebagian menundukkan kepala sekadar menunjukkan posisi.
Namun sorotan malam itu belum lengkap.
Sebuah mobil lain memasuki area pelataran—lebih sunyi, lebih elegan, lebih mengintimidasi.
Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan anggun. Mesin dimatikan. Suasana seakan menahan napas.
Pintu terbuka perlahan.
Jay turun dengan aura yang tajam dan dingin. Jas hitamnya menyatu sempurna dengan mantel panjang yang menggantung santai di bahunya, memberi kesan dominan tanpa perlu usaha. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras, tatapannya menusuk seakan menilai setiap orang yang berani memandangnya terlalu lama.
Kilatan kamera kembali meledak lebih liar.
Beberapa wanita yang berdiri di sisi karpet merah tak mampu menyembunyikan ketertarikan mereka. Ada yang berbisik, ada yang terang-terangan mencoba mendekat, namun Jay tak memberi satu pun respons. Langkahnya tenang, terukur, dan penuh kendali.
Ia datang sendirian.
Tanpa Drew di sisinya.
Ketiadaan pengawal kepercayaannya itu menjadi bisikan kecil di antara para tamu yang jeli.
Jay menghentikan langkah sejenak di ujung karpet merah. Tatapannya terangkat, menatap lurus ke arah pintu utama gedung.
Di dalam sana, Jackman sudah menunggunya.
Dan malam itu, bukan hanya uang amal yang akan dipertaruhkan.
Ramah tamah berakhir dengan denting lembut gelas kristal yang saling bersentuhan. Musik orkestra pelan mengalun, namun suasana dalam ballroom berubah menjadi lebih padat—lebih berat.
Para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Jas mahal, gaun elegan, senyum diplomatis—semuanya tampak seperti pertemuan pengusaha kelas atas. Namun di balik nama perusahaan dan kartu nama yang berpindah tangan, terselip identitas lain yang jauh lebih gelap.
Beberapa di antara mereka adalah mafia yang menyembunyikan taring di balik citra investor sukses.
Lampu utama perlahan meredup. Sorotan cahaya mengarah ke panggung.
Jackman melangkah naik dengan wibawa yang tak perlu diragukan. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Helena duduk di barisan depan, tersenyum tipis, anggun seperti biasa.
“Terima kasih atas kehadiran Anda semua,” suara Jackman mengisi ruangan, berat dan penuh kendali. “Malam ini bukan hanya tentang amal… tetapi juga tentang masa depan.”
Tatapannya bergerak, mencari satu sosok.
Jay.
Sebuah kode halus—hanya anggukan kecil, namun cukup jelas bagi Jay.
Jay berdiri dari kursinya. Mantel hitamnya masih menggantung di bahu. Langkahnya tenang ketika ia berjalan menuju panggung. Beberapa pasang mata mengikuti setiap gerakannya. Bisik-bisik mulai terdengar.
Penerus.
Semua sudah menduga, tapi belum ada yang berani memastikan.
Jay berdiri di sisi Jackman. Lampu menyorot wajah mereka berdua—dua generasi, dua aura dominan yang berbeda.
Jackman membuka mulut, siap memperkenalkan.
“Perkenalkan, inilah—”
Getaran ponsel di saku jas Jay memotong momen itu.
Satu kali.
Singkat.
Namun cukup untuk mengganggu fokusnya.
Jay tidak biasa terganggu di saat seperti ini. Ia tidak pernah membiarkan hal remeh mengacaukan momentum. Namun entah mengapa, nalurinya memerintahkannya untuk melihat.
Ia menunduk sekilas.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Tanpa nama.
Tanpa keterangan.
Hanya satu foto.
Darah Jay terasa berhenti mengalir saat layar itu menyala.
Foto itu memperlihatkan seorang gadis—gadis yang ia cintai. Rambutnya terurai, wajahnya terlihat tegang. Ia berada di sebuah ruangan remang dengan lampu neon ungu dan biru. Di sekelilingnya berdiri beberapa pria dengan ekspresi yang tak bersahabat.
Jika Jay tidak salah mengenali… itu adalah sebuah club malam.
Dan bukan tempat yang aman.
Sorot mata Jay berubah seketika.
Dingin.
Lebih dingin dari biasanya.
Jackman yang berdiri di sampingnya merasakan perubahan itu. Tangannya yang hendak menunjuk Jay sebagai penerus tertahan di udara.
“—putra saya, Jay,” akhirnya kalimat itu tetap terucap, disambut tepuk tangan yang gemuruh.
Namun Jay tidak lagi mendengar tepuk tangan itu.
Tatapannya membeku pada layar.
Jantungnya berdetak lebih keras—bukan karena gugup, bukan karena panggung.
Melainkan karena ancaman.
Pesan kedua masuk.
Sebuah teks singkat.
Datang sendiri. Atau dia yang akan membayar harganya.
Jay mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya menyapu ruangan, tajam seperti pisau.
Seseorang di sini.
Seseorang berani bermain dengannya.
Dan malam yang seharusnya menjadi peresmian dirinya sebagai penerus… berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Namun, yang tahu tentang Anna, hanyalah ayahnya. Tatapan Jay mengarah pada Jackman.
Tepuk tangan menggema panjang setelah nama Jay diperkenalkan sebagai penerus.
Sorot lampu menyoroti wajahnya, namun sorot matanya tak lagi sama. Dingin—bukan dingin yang terkontrol, melainkan dingin yang menyimpan badai.
Hanya satu orang di ruangan itu yang mengetahui tentang Anna.
Jackman.
Tatapan Jay perlahan beralih pada ayahnya. Tidak ada lagi kekaguman atau hormat yang biasa ia sembunyikan di balik sikap profesionalnya. Yang ada hanya kecurigaan mentah.
Jackman menangkap perubahan itu dalam sepersekian detik.
Helena juga.
Helena yang duduk anggun di barisan depan meremas ujung clutch-nya tanpa sadar. Ia mengenal ekspresi Jay—itu bukan sekadar marah. Itu ekspresi seseorang yang merasa dikhianati. Namun justru membuat Helena tersenyum sinis.
“Ada pertunjukkan apa lagi sekarang.” Batin Helena.
Jackman melangkah mendekat, berbisik pelan tanpa mengubah senyum di wajahnya.
“Ada apa?” tanyanya, nyaris tak terdengar di tengah tepuk tangan.
Jay mengangkat ponselnya sedikit, cukup agar hanya Jackman yang bisa melihat sekilas bayangan foto itu.
Sorot mata Jackman berubah… sangat halus. Terlalu halus bagi orang lain. Tapi tidak bagi Jay.
“Permainanmu sudah keterlaluan,” gumam Jay pelan, rahangnya mengeras.
Jackman tetap tenang tanpa ekspresi seperti biasanya, lalu sorot matanya menatap tajam pada Jay “Kendalikan emosimu,” balasnya dingin.
MC mempersilakan Jay untuk menyampaikan beberapa kata. Mikrofon diserahkan padanya.
Jay menerima mikrofon itu, namun ia tidak langsung berbicara. Tatapannya menyapu seluruh ruangan—para mafia berbalut jas mahal, para investor palsu yang berpura-pura terhormat.
Lalu ia berkata singkat.
“Terima kasih atas sambutannya.”
Suara tepuk tangan kembali terdengar, tapi Jay melanjutkan dengan nada yang lebih berat.
“Saya tidak bisa berlama-lama malam ini.”
Keributan kecil muncul. Beberapa petinggi perusahaan saling pandang. Ini bukan skenario yang direncanakan.
Jackman menoleh tajam.
“Kita masih harus menyapa para mitra,” ucap Jackman dengan nada terkontrol, tapi penuh tekanan.
Jay menoleh padanya, kali ini tanpa menyembunyikan emosinya.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr