Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16. "Misi Mengumpulkan Seribu Kebaikan"
Geng Garuda memutuskan untuk ke kelas mereka saat melihat bu Nadya berjalan ke arah ruang kelas Sastra. Mereka berjalan beriringan sambil bercanda tawa ria bersama.
Shanaya, Ray, Bintang, Joe, Felix, Nathaniel, dan Thalia pun mengambil posisi duduk di bangku perkuliahan yang berada di kelas Sastra A1. Mereka semua tersenyum dan menyambut bu Nadya.
Bu Nadya, seorang dosen yang sangat pintar dan memiliki gaya mengajar yang unik, mulai menjelaskan materi tentang semiotik.
"Baik anak-anak, selamat siang, ok hari ini kita akan membahas tentang tanda dan simbol. Bagaimana tanda dan simbol dapat mempengaruhi persepsi kita tentang dunia?"
Kelas menjadi sangat menarik, dengan Bu Nadya yang memberikan contoh-contoh yang sangat relevan dan membuat mahasiswa-mahasiswa menjadi sangat terlibat.
Shanaya, yang sangat tertarik dengan semiotik, mulai mencatat dan bertanya beberapa pertanyaan. Bintang, yang duduk di sebelahnya, juga sangat terlibat dan memberikan komentar-komentar yang sangat menarik.
Bu Nadya tersenyum, "Baik, Shanaya dan Bintang, kalian berdua sangat aktif hari ini. Pertahankan terus ya nilai keaktifan kalian..." ucapnya tersenyum hangat
Bu Nadya mulai mengabsen kelas satu persatu siang ini, "Baik, sekarang saatnya absensi kelas..." ucapnya hangat
Bu Nadya memanggil nama-nama mahasiswa mahasiswi satu per satu, dan semuanya menjawab 'hadir' seperti biasa. Sampai akhirnya, Bu Nadya memanggil nama Ray Mandala Putra.
"Ray Mandala Putra?" panggil Bu Nadya.
Tiba-tiba, seorang pemuda tampan mengacungkan jari dan berkata, "Hadir, Bu!"
Bu Nadya terkejut dan membuka buku absennya lagi, "Ehm... Ray Mandala Putra? Apakah kamu...siapa kamu...?" tanyanya bingung dikarenakan tak mengenal wajah dan penampilan baru Ray
Ray tersenyum, "Iya, Bu. Saya Ray Mandala Putra..."
Bu Nadya masih terlihat bingung, "T...tapi...kamu tidak seperti biasanya. Kamu...kamu sangat...berbeda sekali, bagaimana bisa?"
Kelas menjadi sangat riuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang tertawa dan berbisik-bisik. Shanaya, Bintang, Joe, Felix, Nathaniel, dan Thalia juga tersenyum dan menahan tawa melihat suasana kelas yang menjadi riuh karena perubahan pada diri Ray.
Ray tersenyum, "Iya, Bu. Saya baru saja melakukan perubahan penampilan. Ini semua berkat Bintang dan yang lainnya..."
Bu Nadya masih terlihat belum percaya, "Baik... baiklah. Saya mengerti sekarang..." jawabnya sambil manggut-manggut
Kelas semakin riuh dengan tawa dan bisik-bisik mahasiswa-mahasiswi lainnya.
Kelas berakhir dengan sangat menyenangkan, dan Shanaya merasa sangat puas dengan materi yang telah dipelajarinya hari ini.
Shanaya tersenyum, "Wah, Bu Nadya masih belum percaya dengan perubahan Ray. Tapi, aku harus fokus dengan misi pengumpulan seribu kebaikan hari ini..." gumamnya dalam hati
Shanaya menerima pesan dari sistem misi yang dikirimkan oleh bundanya, "Misi: Menolong seorang anak kecil yang tengah diculik oleh seseorang yang tak dikenal. Lokasi: Taman Kota, 10 menit lagi..."
Shanaya langsung berlari ke arah taman kota, diikuti oleh Ray, Bintang, Joe, Felix, Nathaniel, dan Thalia. Mereka semua sudah siap untuk menjalani misi.
Di taman kota, mereka melihat seorang anak kecil yang menangis dan dikelilingi oleh beberapa orang yang berusaha menangkapnya. Shanaya dan geng Garuda langsung bertindak, "Jangan khawatir, kami akan membantumu dek..."
Shanaya dan geng Garuda memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang para penculik anak kecil itu. Mereka mendapatkan informasi bahwa anak-anak yang diculik itu disekap di sebuah gudang tua di pinggiran kota.
Shanaya dan geng Garuda berangkat ke gudang itu, siap untuk menghadapi para penculik. Mereka tiba di gudang itu dan melihat beberapa orang yang berjaga-jaga di luar.
Shanaya memberi kode kepada geng Garuda, "Siap, kita masuk!"
Geng Garuda langsung bergerak, mengalahkan para penjaga dan masuk ke dalam gudang. Di dalam, mereka melihat beberapa anak kecil yang disekap dan beberapa orang yang berusaha menangkap mereka.
Para penculik itu langsung menyerang Shanaya dan geng Garuda.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!" teriak salah satu penculik yang bertubuh besar kekar dan berwajah beringas
Geng Garuda langsung baku hantam dengan para penculik. Shanaya dan Bintang bertarung dengan beberapa orang, sementara Felix dan Joe menghadapi dua orang yang kuat.
Ray dan Nathaniel bekerja sama untuk mengalahkan beberapa orang, sementara Thalia menggunakan kemampuan akrobatiknya untuk menghindari serangan.
Pertarungan itu sangat sengit, tapi geng Garuda berhasil mengalahkan para penculik satu per satu. Akhirnya, mereka berhasil membebaskan anak-anak yang disekap dan menangkap para penculik.
Shanaya tersenyum lega, "Misi selesai! Anak-anak aman! Ayo anak-anak kalian pulang bersama kakak, kami antar kalian ke alamat kalian masing-masing..." ucapnya penuh kasih sayang
Shanaya dan geng Garuda membawa anak-anak yang diculik menuju mobil mereka dan mengantarkan pulang ketiga anak kecil yang baru saja mereka selamatkan. Anak-anak itu pun berterimakasih pada mereka semua.
"Terima kasih, kakak-kakak. Kami tidak akan lupa jasa kalian..." ucap salah satu anak kecil itu sambil memeluk Shanaya dan yang lainnya
Shanaya tersenyum, "Sama-sama adik-adik. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sekarang kalian sudah aman..." ucapnya hangat
Geng Garuda semua tersenyum dan melambaikan tangan saat mereka mengantar anak-anak itu pulang. Setelah itu, mereka kembali ke mobil dan berdiskusi tentang misi mereka.
"Wow, misi pertama kita berhasil!" ucap Bintang dengan bangga
"Ya, dan kita semua bekerja sama dengan baik!" tambah Joe sumringah
Shanaya tersenyum, "Gue masih memiliki 998 kebaikan lagi untuk dilakukan guys. Gue gak sabar ngelihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenernya guys ini adalah misi kedua gue..." ucapnya apa adanya
Geng Garuda semua tersenyum dan bersorak, siap untuk menghadapi misi berikutnya.
Setelah mengantar anak-anak itu pulang, Shanaya dan geng Garuda memutuskan untuk merayakan kemenangan balapan motor mereka kemarin. Mereka pergi ke sebuah kafe yang sering mereka kunjungi, dan memesan beberapa makanan dan minuman favorit mereka.
"Guys, kita harus rayakan kemenangan kita kemaren!" ucap Bintang sambil mengacungkan gelang
Joe tersenyum bangga, "Makasih, guys. Gue gak bisa menang tanpa kalian semua..."
Shanaya menambahkan, "Dan kita juga harus rayakan misi pertama kita yang berhasil!"
Geng Garuda semua bersorak dan mengangkat gelas mereka, "Selama-lamanya, kita akan selalu ada untuk satu sama lain!"
Mereka semua tertawa dan menikmati waktu bersama, merayakan kemenangan dan kebersamaan mereka. Disaat seperti itu pandangan netra Bintang tetap terfokuskan pada seorang Shanaya. Bintang merasa bangga pada Shanaya yang baginya begitu sempurna.
Ayah Shanaya, Pak Tirta, berjalan ke ruang tamu dan melihat seorang pria paruh baya dan kacamata yang sedang duduk di sofa. Pak Tirta tersenyum, "Wira...Lama tidak bertemu, sahabatku...ada angin apa gerangan yang membawamu sampai datang kemari?" ucapnya tersenyum hangat
Dokter Wira berdiri dan memeluk Pak Tirta, "Tirta, kamu masih sama seperti dulu. Aku tidak bisa percaya sudah 20 tahun sejak kita terakhir bertemu..."
Pak Tirta tertawa, "Aku juga tidak bisa percaya. Apa yang membawa kamu ke sini, Wira?"
Dokter Wira duduk kembali dan mengambil napas dalam, "Aku datang karena aku harus memberitahu kamu sesuatu tentang sesuatu, Tirta..." ucapnya sembari menghela nafasnya panjang
Pak Tirta menjadi serius, "Apa itu, Wira? Apa ada yang salah dengan dirimu atau pekerjaanmu?"
Dokter Wira mengangguk, "Tidak ada yang salah, Tirta. Tapi aku harus memberitahu kamu bahwa ada seorang gadis muda berusia sekitaran 20 tahun memiliki DNA Jathayu. Aku penasaran pada gadis itu, apakah dia putrimu atau bukan..."
Pak Tirta terkejut, "Jathayu? Apa kamu yakin, Wira?"
Dokter Wira mengangguk, "Aku yakin, Tirta. Aku telah melakukan tes lab dan hasilnya positif. Gadis itu adalah keturunan Jathayu..."
Pak Tirta terlihat terguncang, "Apa ini berarti...?"
Dokter Wira melanjutkan, "Aku tidak tahu apa artinya, Tirta. Tapi aku yakin gadis itu harus tahu tentang ini..."
Dokter Wira masih berbicara dengan Pak Tirta, tetapi tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah bingkai foto di atas meja. Dia tersentak dan mengambil bingkai itu, melihat foto Shanaya yang sedang tersenyum dengan kaos berwarna merah muda dan memegang boneka tedy bear.
"Tirta... ini... ini adalah...?" Dokter Wira tidak bisa menyelesaikan kalimatnya
Pak Tirta mengangguk, "Iya, Wira. Itu adalah Shanaya, putriku..."
Dokter Wira masih terkejut, "T...tapi... bagaimana mungkin? Aku tidak tahu ini..." tanyanya ragu
Pak Tirta melanjutkan, "Wira, Shanaya adalah putriku satu-satunya. Saat ini dia berada di Jakarta menempuh pendidikan disana..." ucap pak Tirta bangga
Dokter Wira masih tidak bisa percaya, "Tirta... aku tidak tahu kalau dia adalah putrimu..." ucap pak Wira tak percaya
Dokter Wira mengambil napas dalam dan melanjutkan, "Tirta, aku harus memberitahu kamu sesuatu. Beberapa hari yang lalu, ada seorang gadis yang datang ke klinikku. Dia memiliki gejala yang aneh, dan aku tidak bisa mendiagnosisnya. Tapi sekarang aku tahu...gadis itu tak lain adalah Shanaya putrimu..." jelasnya dengan rasa tak percaya
Pak Tirta terkejut, "Apa? Shanaya datang ke klinikmu? Apa yang terjadi?"
Dokter Wira melanjutkan, "Aku melakukan beberapa tes, dan hasilnya menunjukkan bahwa dia memiliki DNA Jathayu. Aku tidak tahu apa artinya, tapi aku yakin itu adalah Shanaya putrimu..."
Pak Tirta, yang telah diam selama ini, akhirnya berbicara, "Wira, aku tahu. Aku telah mengetahuinya sejak lama. Shanaya adalah putriku, dan aku telah menjaga rahasia ini dari semua orang. Hanya kau yang mengetahui rahasia mengenai Shania dan dulu dirimu juga yang membantunya melahirkan Shanaya..." ucap pak Tirta dengan tatapan kosong menerawang jauh ke kenangan 20 tahun yang telah berlalu
Dokter Wira mengangguk, "Aku tahu, Tirta. Aku tidak bisa percaya bahwa ternyata dia adalah putrimu. Aku harus memberitahu Shanaya tentang ini. Dia memiliki hak untuk tahu tentang identitasnya yang sebenarnya..."
Pak Tirta menggeleng, "Tidak, Wira. Aku tidak ingin Shanaya diberitahu tentang ini sekarang. Aku ingin dia menemukan kebenaran ini sendiri, tanpa campur tangan kita, biarkan dia berproses dengan dirinya sendiri..." ucapnya tenang
Dokter Wira terlihat tidak setuju, "Tirta, aku tidak tahu apakah itu ide yang baik. Shanaya memiliki hak untuk tahu tentang identitasnya yang sebenarnya. Untuk apa kita sembunyikan semua ini padanya toh pada akhirnya dia juga akan mengetahuinya..."
Pak Tirta tetap pada pendiriannya, "Aku tahu, Wira. Tapi aku ingin dia menemukan kebenaran ini sendiri. Aku ingin dia siap untuk menghadapi apa yang akan datang. Biarkan dia pada prosesnya sendiri, Wira..."
Dokter Wira mengangguk, "Baik, Tirta. Aku akan menghormati keputusanmu. Tapi aku berharap kamu tahu apa yang kamu lakukan ini menurutku kurang tepat..."ucapnya sembari menepuk bahu kiri pak Tirta
Perbincangan kedua pria paruh baya ini pun berlanjut dengan sangat akrab dan santai. Keduanya saling bernostalgia satu sama lain. Membahas mengenai masa muda mereka dan juga membahas mengenai mendiang istri pak Tirta yang tak lain adalah bunda Shania yang kerap hadir dalam mimpi Shanaya.
Bersambooo....