"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - UMPAN HIDUP
Hari yang dipilih untuk operasi adalah Sabtu sore. Waktu di mana mal paling ramai, memberikan perlindungan alami sekaligus tantangan untuk tim pengaman.
Dara berdiri di depan cermin, memakai baju santai kaos putih dan celana jins dengan Kirana di gendongan bayi depan. Bayinya yang sekarang hampir enam bulan terlihat menggemaskan dengan topi kelinci kecil.
"Kamu yakin dengan ini?" tanya Arkan untuk kesepuluh kalinya.
"Aku yakin." Dara mengecek alat komunikasi kecil di telinganya, tersembunyi di balik rambut. "Kalian semua sudah posisi?"
Regan menjawab lewat komunikator. "Tim satu di parkiran. Tim dua di food court. Tim tiga di area mainan anak. Penembak jitu di lantai atas punya pandangan jelas ke seluruh mal. Kita siap."
"Lenna?"
Suara Lenna terdengar gugup. "Aku di kafe seberang mal. Aku bisa lihat pintu masuk utama. Kalau aku lihat Budi, Siska, atau Joko, aku akan langsung lapor."
"Bagus." Dara mengecup kening Kirana. "Maafkan mama, sayang. Mama akan buat ini secepat mungkin."
Arkan memegang bahunya. "Kalau kamu merasa ada bahaya, langsung keluar. Jangan coba jadi pahlawan."
"Aku bukan pahlawan. Aku cuma ibu yang melindungi anaknya." Dara menatapnya. "Dan untuk itu, aku akan lakukan apapun."
Mal Grand Indonesia dipenuhi pengunjung akhir pekan. Dara berjalan santai mendorong kereta bayi kosong (Kirana ada di gendongan depan untuk akses lebih cepat kalau darurat), berhenti sesekali di toko mainan, pura-pura melihat-lihat.
Di telinganya, komunikator berbisik update posisi.
"Target masuk dari pintu timur. Budi. Sendirian. Jaga jarak lima belas meter."
Dara tidak menoleh. Dia terus berjalan memasuki toko buku anak, melihat-lihat buku cerita.
"Target kedua teridentifikasi. Siska. Masuk dari pintu barat. Mendekat ke lokasi Nyonya Kiara."
Jantung Dara berdebar, tapi dia tetap tenang di luar. Dia mengambil buku dari rak, membukanya, pura-pura membaca.
Di gendongannya, Kirana bergerak seperti merasakan ketegangan ibunya.
"Ssshh, sayang. Mama di sini," bisik Dara sambil mengelus kepala Kirana.
"Target ketiga belum terlihat. Joko masih belum muncul."
Dara berjalan keluar dari toko buku, menuju food court seperti yang direncanakan. Area terbuka, banyak orang, lebih sulit untuk menyerang tapi juga lebih sulit untuk diamankan.
Dia duduk di meja sudut, punggung menghadap dinding, pandangan jelas ke seluruh food court.
Memesan jus jeruk menunggu.
"Budi mendekat. Sepuluh meter. Sembilan. Delapan."
Dara meneguk jusnya, tangan kanannya bergerak ke saku jaket, menyentuh pistol kecil yang disembunyikan Arkan di sana. Insurance terakhir.
"Tujuh. Enam. Dia berhenti."
Budi berdiri di meja sebelah memesan makanan, tapi matanya terus melirik ke arah Dara.
"Siska juga mendekat. Dari arah kanan."
Dara melihat Siska dari sudut matanya, wanita itu memakai hoodie, topi, masker. Mencoba menyamar tapi gagal.
"Mereka belum bertindak. Sepertinya menunggu sesuatu."
"Mungkin menunggu Joko," bisik Dara pelan, komunikatornya akan menangkap.
"Atau menunggu instruksi dari Salma."
Lima menit berlalu. Sepuluh menit.
Budi dan Siska hanya mengawasi, tidak mendekat dan masih berada lebih jauh. Dara mulai merasa tidak nyaman. Kenapa mereka tidak bertindak?
Kemudian... Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
Dara mengangkat, waspada. "Halo?"
Suara Salma.
"Hai, Dara. Atau haruskah kupanggil Kiara? Atau... Mama Kirana?"
Dara membeku. Kirana masih di gendongannya... bergerak riang, tidak tahu bahaya.
"Bagaimana kamu bisa menelpon..."
"Oh, sayang. Aku sudah bilang, penjara tidak bisa menahanku." Salma tertawa. "Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak tahu kamu akan coba jebak anak buahku?"
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu biarkan mereka datang?"
"Karena mereka umpan. Seperti kamu." Salma berhenti sebentar. "Lihatlah ke sekeliling, Dara. Lihat betapa banyak orang di mal itu. Ratusan orang. Ibu-ibu dengan anak. Kakek-nenek. Remaja. Dan kamu tahu apa yang menarik?"
Dara merasakan dingin menjalar.
"Salah satu dari mereka atau mungkin beberapa adalah anak buahku yang sebenarnya. Bukan Budi. Bukan Siska. Bukan Joko. Mereka cuma pengalih perhatian."
"Kamu berbohong..."
"Benarkah? Kalau begitu, kenapa jantungmu berdebar cepat sekarang? Kenapa kamu mulai menatap sekeliling dengan panik?"
Dara memang menatap sekeliling, melihat ratusan wajah asing. Siapapun bisa jadi ancaman.
"Apa maumu, Salma?"
"Sederhana. Keluar dari mal. Sekarang. Sendirian dengan bayimu. Naik taksi yang sudah aku siapkan di depan pintu utama, plat nomor B-1234-XYZ. Pergi ke alamat yang akan kukirim. Kalau kamu tidak ikuti instruksiku dalam lima menit..." Salma menurunkan suaranya, "...aku akan ledakkan mal itu. Dengan semua orang di dalamnya."
"Kamu gila..."
"Aku ilmuwan yang visioner. Dan aku tidak main-main." Suara ketikan komputer terdengar. "Aku baru saja kirim foto ke ponselmu. Buka."
Dara membuka, melihat foto bom yang ditempelkan di bawah meja food court. Tepat di sebelah mejanya.
Tidak. Ini tidak mungkin.
"Lima menit, Dara. Waktu terus berjalan."
Telepon terputus.
Dara menatap ke bawah mejanya dan melihatnya.
Bom kecil. Dengan timer digital. Menunjukkan 04:47... 04:46... 04:45...
"ADA BOM!" teriaknya sambil berdiri, membuat seluruh food court panik.
Orang-orang berteriak, berlarian. Dara menggendong Kirana erat, berlari ke pintu keluar.
Di komunikator, Regan berteriak. "KAK, APA YANG TERJADI?!"
"Salma pasang bom! Evakuasi sekarang!"
Tapi dalam kekacauan, Dara kehilangan arah. Orang-orang mendorong, berdesakan, panik. Kirana menangis ketakutan karena keributan.
"Mama di sini, sayang... mama di sini."
Seseorang menarik lengannya keras, menyeretnya ke arah yang berbeda dari kerumunan.
Dara berbalik, melihat wajah asing. Pria paruh baya dengan mata dingin.
"Ikut aku kalau kamu mau selamat."
"Siapa kamu..."
Pria itu menunjukkan ponsel, foto Kirana tertidur di rumah. Diambil dari dalam kamarnya.
'Mereka sudah masuk ke rumahku.'
"Ikut. Sekarang."
Dara tidak punya pilihan. Dia mengikuti pria itu keluar lewat pintu darurat, turun tangga, ke parkiran basement. Di sana mobil van hitam menunggu.
Pintu terbuka.
Di dalam Salma duduk dengan senyum kemenangan. "Selamat datang, Dara. Akhirnya kita bertemu lagi. Secara langsung."
Dara menatapnya, amarah meluap tapi dia menahan diri karena Kirana masih di gendongannya.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari penjara..."
"Dengan uang yang cukup, segalanya mungkin." Salma menepuk kursi di sebelahnya. "Naik. Kita punya banyak yang harus dibicarakan."
"Kalau aku menolak?"
Salma menunjukkan detonator bom. "Aku ledakkan mal. Dengan ratusan orang masih di dalam, termasuk suamimu dan adik iparmu yang sedang mencarimu di sana."
Dara merasakan keputusasaan menghantam. Arkan. Regan. Semua orang di mal. Dia menatap Kirana yang menangis di gendongannya.
Lalu menatap Salma.
"Kalau aku ikut, kamu janjikan tidak akan ledakkan bom?"
"Aku janji. Aku cuma mau bicara denganmu. Itu saja."
Dara tahu itu bohong. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia naik ke van, pintu langsung ditutup dan dikunci dari luar. Van melaju meninggalkan mal, meninggalkan keluarganya, meninggalkan keamanan.
Dara memeluk Kirana erat, membisikkan janji. "Mama akan keluarkan kita dari ini. Mama janji."
Tapi di dalam hati...
Dia tidak yakin apakah dia bisa menepati janji itu.
👻👻👻👻