Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Laras tiba-tiba tersedak makanan saat melihat ponselnya sembari berkata." M-mbak, coba lihat akun ini," ia tersedak kembali. "Aku lagi enak makan tiba-tiba liat ini." Ujarnya lagi.
"Ada apa Ras?" tanya Vania.
Laras memberikan ponselnya kepada Vania dan menjawab," akun fanbase mbak hari ini upload semua bukti mas Deo dan Karina Mbak. Jangan-jangan ini idenya dia lagi."
Vania tersenyum kecil melihat bukti unggahan foto sekaligus video bukti kebersamaan Deo dan Karina. Tangan kirinya memegang ponsel sedangkan tangannya yang lain digunakan untuk melahap makanannya. Ia cukup senang juga lega karena slash satu fans nya ada yang berani mengungkapkan tingkah Deo dan Karina.
Laras dan Rika juga penasaran dengan unggahan itu, ternyata masih ada yang peduli dan sayang terhadap Vania. Vania tidak sia-sia hadir untuk klarifikasi hari ini, semua penggemarnya kompak membela dirinya. Kekompakan ini patut diapresiasi.
" Ini alasan kenapa aku biarin Deo bermain sebagai korban, dan memilih untuk diam terlebih dahulu. Ya karena ini. Biarkan orang-orang yang berprasangka negatif terhadapku menelan pahit dan Deo pasti gak bisa tidur malam ini."
"Tapi mbak, apa ini gak terlalu cepat?" tanya Laras.
"Lebih cepat lebih baik kan? Aku udah muak dengan Deo yang selalu membalik fakta dan memojokkan aku seolah aku yang bersalah. Dia juga yang menghasut orang-orang di sosial media untuk menyerang aku dan keluargaku."
"Tapi nak, yang di katakan Laras ada benarnya. Apa ini gak terlalu cepat? Mamah malah takut kalau terburu-buru seperti ini akan beresiko, bagaimana kalau Deo menuntut kamu?"
Sejenak Vania menegak minumannya kemudian mengangkat satu alisnya." Deo menuntut kita? Kita juga bisa menuntut balik dia mah. Podcast Deo saat itu udah aku simpan dan bisa aku jadikan bukti untuk menuntut dia atas kasus pencemaran nama baik."
Vania semakin senang saat melihat unggahan mengenai bukti Deo dan Karina sedang bersama mendapatkan banyak respon dari netizen. Walaupun pasti banyak sekali pro dan kontra, Vania tidak peduli, ia sudah puas dengan semua ini. Vania juga berharap banyak netizen yang sadar dana berbalik menyerang Deo.
Vania menatap objek di depannya dengan tajam, harus ia akui. Dirinya juga salah karena terlalu terlena dengan perlakuan baik Deo terhadapnya. Perlakuan manis yang sungguh menipu, ia bersikap seolah dirinya satu-satunya wanita yang ada di hidupnya. Nyatanya semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukannya.
Setelah makan siang selesai, Vania, ibunya serta kedua asistennya beranjak. Begitu akan pergi ia Marasa semua orang yang ada di sekitarnya tengah memperhatikan mereka, lebih tepatnya memperhatikannya. Ia berusaha tenang dan merapikan baju dan berjalan dengan tegak seolah mengabaikan tatapan itu.
Semua mobil hitam datang menepi di depan mereka, mengingat kejadian supir misterius tadi pagi membuat mereka sedikit waspada. Agar tidak terjadi kesalahan lagi, Laras selaku asistennya menghampiri supir itu untuk memastikan kalau mobil yang mereka tumpangi benar.
"Owalah, pak Jajang toh," ucap Laras.
"Iya saya, ada apa toh mbak?" tanya pak Jajang selaku supir pribadi Vania.
"Gak apa-apa pak, saya cuma cek aja, takut salah mobil."
"Owalah, tadi mobilnya baru selesai di service, taksi yang di pesan buat kesini saya batalin aja, jadi saya yang jemput sekarang."
"Owalah, wes kalau gitu." Ujarnya seraya memberi kode pada yang lain kalau itu mobil yang benar.
Vania dan yang lainnya melangkah menuju mobil dan masuk ke dalam.
"Mobilnya udah selesai di service toh, pak?" tanya ibu Vania.
"Iya Bu, baru selesai. Sudah aman mobilnya."
"Yasudah kita langsung pulang aja ya, pak. Biar bisa istirahat."
Di perjalanan Vania termenung, pandangannya terarah pada luar jendela dengan alis yang bertaut seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa toh, Van?" tanya Rika asistennya yang lain.
"Anu loh,mbak. Aku masih penasaran sama supir yang anterin kita tadi pagi. Kok bisa ya dia diem aja dan gak protes." Ujar Vania.
"Gak usah dipikirin toh, mbak. Yang penting kita semua sekarang baik-baik aja."
"Masalahnya tuh, aku pesan taksi online nya pakai e-wallet. Kok supirnya gak nuntut kita buat ganti rugi ya?"
" Yan mungkin dia ngerasa salah juga karena gak cek penumpangnya makanya agak segan minta ganti rugi. Atau bisa jadi penumpangnya yang asli juga bayar dengan metode yang sama jadi gak merasa di rugikan."
"Ya, mudah-mudahan supirnya benar-benar orang baik. Masalahnya dengan situasi yang sekarang, aku jadi khawatir."
---
"Oh, iya baik. Maaf sebelumnya, saya akan segera kembali ke sana besok. Urusan anak saya susah aman. Saya juga susah siapkan beberapa bodyguard untuk menjaga anak saya selama diluar maupun didalam rumah."
"Baik, nanti akan saya kabari lagi kalau sudah sampai di sana," ujar Farel lantas mengakhiri telepon dari atasannya.
Begitu tubuhnya berbalik, Farel terkesiap melihat putrinya yang lucu itu memasang wajah murung. Farel mengantongi ponselnya ke saku celana, ia melangkah mendekat dan duduk di samping putri kecilnya. Farel tersenyum manis dan kedua tangannya menggenggam pundak Cila.
"Papah mau ke kota lagi besok?" tanya Cila.
Farel menundukkan kepalanya." Iya nak, papah masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Nanti kalau pekerjaan papah sudah selesai, papah akan ajak kamu jalan-jalan."
" Fanya kalau lagi main ke rumah temen, mamah mereka juga ikut main, di masakin makanan enak sama mamahnya, di dandanin yang cantik sama mamahnya. Masa fanya sama mbok dan bibi terus?"
"Maaf ya nak, memangnya kamu susah siap punya mamah baru?"
Cila dengan semangat mengangguk." Cila siap, pah."
Farel menghela napasnya." Coba deh Cila pikir-pikir lagi, kalau mau punya mamah baru. Selagi masih ada mbok dan bibi, gak apa-apa kan? Anggap aja mereka mamah Cila."
"Beda pah, papah gak pernah ngerti cila."
Gadis kecil itu beranjak lantas meninggalkan ayahnya sambil menangis kencang. Tangisannya sampai menggema di dalam rumah, Farel segera mengejar putri kecilnya itu.
Cila yang belum bisa mengontrol emosinya itu lantas melemparkan barang-barang yang ada di kamarnya ke lantai. Melihat itu, Farel segera bergerak cepat menangkap Cila dan berusaha menenangkannya.
Setelah cukup tenang, Farel melepaskan putrinya itu. Seketika putri kecilnya itu berlari dan bersembunyi di balik selimut. " Cila bosen pah, Cila gak mau main boneka dan rumah-rumahan sendirian. Cila bosen main sama mbok dan bibi. Papah pergi terus, Cila kesepian pah. Kalau papah pergi terus, papah cariin Cila mamah baru! Papah kenapa si gak mau Cila punya mamah baru?"
Cila semakin menutupi dirinya dengan selimut, selain itu gadis kecil itu juga kembali menangis. Farel lantas memeluk erat putri kecilnya itu. Sebenarnya ia paham Cila butuh figur seorang ibu, tapi ada banyak pertimbangan yang Farel pikirkan. Salah satunya Farel masih mencintai mendiang istrinya dan belum siap untuk menikah lagi. Farel tidak mungkin menikah hanya untuk menuruti permintaan putrinya saja.
"Nak, dengar papah ya. Cari mamah baru itu gak mudah loh. Papah juga gak akan sembarangan cari mamah untuk Cila. Memangnya cila mau punya mamah baru Jang jahat? Kasih papah waktu ya buat Nemu mamah yang cocok untuk Cila."
Perlahan Cila keluar dari selimutnya." Papah gak usah cari."
"Maksudnya Cila gimana? Emangnya Cila udah nemu mamah baru?"
Cila dengan semangat menganggukkan kepalanya.
Farel mengerutkan alisnya keheranan." Kok bisa? Nemu dimana? Siapa orangnya?"
"Cila tunjukin tapi papah jangan marah ya kalau Cila kasih tau siapa orangnya."
Farel mengangguk." Papah janji gak akan marah, asalkan Cila jujur."
Gadis kecil itu mencebik, lalu menundukkan kepalanya karena takut melihat ayahnya." Tante Vania kayaknya bisa jadi mamah baru Cila."
"Apa?!"