Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Senyum Brian luka Bara
Bunyi bel pulang sekolah bergema, memicu keriuhan di seluruh penjuru kelas.
Aluna bergegas merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru, seolah ingin segera pulang. Namun, belum sempat ia berdiri, Brian sudah berdiri di samping mejanya dengan senyum lebar.
"Luna, pulang bareng aku yuk? Nanti kita beli es krim. Gimana, mau nggak?" ajak Brian penuh harap.
Aluna terdiam sejenak. Tangannya tertahan di atas ritsleting tas. Secara tidak sadar, matanya bergerak menatap punggung Bara yang duduk tak jauh di depannya. Ia berharap laki-laki itu akan menoleh atau memberikan reaksi apa pun, tapi Bara tetap tak bergeming.
Akhirnya, dengan helaan napas berat, Aluna mengangguk.
"Ya udah deh, aku mau," jawab Aluna pelan.
Mendengar jawaban itu, Bara refleks menoleh ke belakang. Tatapannya sempat tertuju pada Aluna, tatapan yang sarat akan sesuatu yang tak tersampaikan. Namun, begitu menyadari Aluna juga sedang menatapnya, Bara cepat-cepat membuang muka. Ia pura-pura sibuk merapikan meja agar Aluna tidak tahu betapa hancur hatinya saat itu.
"Bara, gue pulang dulu ya sama Aluna. Lo nggak apa-apa kan gue tinggal?" pamit Brian sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
Bara memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Iya, santai saja Brian. Ya udah, sana."
Aluna masih terus memandang Bara, mencoba mencari penjelasan di balik sikap dingin nya, namun Brian segera menarik tangannya dengan lembut.
"Ayo, Lun, kita pulang," ajak Brian.
"Iya,"
Saat Brian dan Aluna sudah menghilang di balik pintu kelas, Bara masih termenung sendirian. Suasana kelas yang tadinya bising kini mendadak sunyi, menyisakan Bara dengan pikirannya yang kacau. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong ke arah meja Aluna.
"Gila... kenapa sih gue harus sedih?" gerutu Bara pada diri sendiri. Suaranya terdengar serak di tengah kesunyian kelas. "Harusnya gue seneng dong. Tapi kenapa saat lihat Brian gandeng tangan Aluna rasanya sakit banget?"
Ia meremas rambutnya frustrasi. Ada ironi yang sangat besar di sini. Padahal Bara sendiri yang memilih untuk menjauh, tapi saat Aluna benar-benar pergi dan dekat dengan Brian, hatinya justru terasa seperti diiris sembilu. Bara baru menyadari bahwa merelakan ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar berkorban.
*********
Angin sore menerpa wajah Aluna saat motor Brian membelah jalanan kota yang mulai padat. Di depan, Brian sesekali melirik dari spion, memastikan Aluna baik-baik saja. Senyum Brian tidak luntur saat Aluna, bersedia ikut pulang dengan nya.
"Lun, pegangan! Nanti kamu jatuh," seru Brian sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah oleh deru mesin motor.
Aluna hanya menurut, ia memegang ujung jaket Brian dengan ragu. Pikirannya masih tertinggal di kelas , ia membayangkan sikap dingin bara yang begitu tidak peduli lagi dengan nya.
Tak lama kemudian, motor Brian berhenti di depan sebuah kedai es krim kecil yang cukup populer. Brian turun dengan semangat, lalu membukakan helm untuk Aluna, sebuah perhatian kecil yang biasanya akan membuat hati perempuan mana pun tersipu.
"Nah, sampai! Kamu mau rasa apa, Lun? Biar aku yang pesan," tanya Brian setelah mereka masuk dan duduk di salah satu kursi kayu dekat jendela.
"Cokelat saja, Brian," jawab Aluna pelan.
"Oke, tunggu sebentar ya!"
Sambil menunggu, Aluna menatap keluar jendela. Ia melihat kendaraan yang berlalu-lalang, lalu pikirannya kembali terbang. Ia membayangkan jika yang ada di depannya saat ini adalah Bara, apakah suasananya akan sedingin ini?.
"Ini dia! Spesial buat Luna," ucap Brian sambil meletakkan dua cup es krim di meja. Brian mulai memakan es krimnya dengan lahap, sesekali menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kelas .
"Luna, kamu kok diam saja? Es krimnya keburu cair lho," tegur Brian lembut.
Aluna tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum kecil. "Eh, iya. Ini mau aku, makan kok."
"Enak kan? Aku tahu kamu lagi banyak pikiran, makanya aku ajak ke sini. Biar mood kamu balik lagi," ucap Brian sambil menatap Aluna dalam-dalam. "Aku paling nggak bisa lihat kamu sedih, Lun."
Aluna tertegun. Ucapan Brian begitu tulus, begitu hangat. Di depannya ada Brian yang sangat menghargainya, yang terang-terangan menunjukkan rasa cintanya. Namun, entah kenapa, hatinya justru merasa bersalah. Rasa sakit yang diberikan Bara seolah memiliki ruang yang lebih besar di hatinya daripada kehangatan yang diberikan Brian.
"Terima kasih ya, Brian. Kamu baik banget," gumam Aluna sambil mengaduk es krimnya yang mulai meleleh.
Di tempat lain, Aluna tidak tahu bahwa Bara , sedang melewati jalan yang sama, sendirian, menelan rasa sepi yang ia pilih sendiri demi kebahagiaan sahabatnya.
Bara memacu motornya perlahan, membiarkan dadanya dihantam angin yang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Di balik kaca helm yang gelap, matanya menatap kosong ke aspal, namun pikirannya justru terseret ke masa lalu yang kini terasa seperti mimpi buruk.
Setiap sudut jalanan Bara terus memikirkan Aluna. Di sini mereka pernah tertawa sampai lupa waktu, dan di sini pula Bara pernah merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Namun, kini semuanya hanya tinggal kenangan yang siap melukai siapa pun yang menyentuhnya.
"Luna, dulu kita sering melewati jalan ini bersama, dulu kita sering bercanda dan tertawa bersama, tapi sekarang kamu sudah bersama Brian orang yang akan selalu mencintai kamu," ucap Bara. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan yang terasa mencekik.
Tangis Bara pecah. Air mata yang sejak tadi ia bendung luruh tanpa ampun, membasahi pipinya. Ia teringat betapa indahnya masa-masa itu, masa sebelum Brian datang dan meluluhkan segalanya dengan satu pengakuan, bahwa ia mencintai Aluna.
Hati Bara terasa seperti diremas kuat. Ia berada di posisi yang paling menyakitkan bagi seorang laki-laki, ia tidak bisa melarang Brian untuk mencintai Aluna, ia tidak sanggup menghancurkan harapan sahabatnya sendiri, meski di saat yang sama, jiwanya sendiri sedang menjerit karena ia juga mencintai Aluna dengan seluruh sisa hidupnya.
"Sakit, Lun..Sakit... Ya Tuhan, ini sakit banget," isaknya di balik helm.
Bara tidak menyeka air matanya. Ia membiarkan butiran bening itu terbang tertiup angin, membiarkan setiap rasa sesak itu menguliti egonya. Ia meremas stang motornya kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih, mencoba mengalihkan rasa sakit di hatinya. Ia ingin berteriak, ingin memutar waktu, tapi ia tahu ia sudah memilih jalannya, menjadi seorang pecundang yang merelakan cintanya agar orang lain bisa bahagia.
Bara melaju tanpa arah, membawa luka yang ia ciptakan sendiri, menyadari bahwa mulai hari ini, ia harus belajar terbiasa melihat Aluna bahagia bersama orang lain.
Bersambung............
Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️🙏 Terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin.....♥️♥️🙏🤲