Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Apa yang sebenarnya terjadi
Renata mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam mendengar ucapan Dewi yang terasa menusuk hatinya, membuatnya merasa tak nyaman. "Maksudmu apa, Sus?" tanyanya, tatapan matanya tampak sengit.
"Nggak ada, Dok." Dewi menggeleng, menutup mulut rapat-rapat lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Sepertinya aku paham sekarang. Kenapa Dokter Davin tidak jadi ke ruangan Dokter Renata dan terkesan menghindar. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka. Aku harus cari tahu," batin Dewi.
Renata yang merasa diabaikan Dewi pun, memilih pergi meski benaknya masih dipenuhi pertanyaan. "Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan, sih?" dengusnya dalam hati.
.
Setelah mendapatkan pengarahan dari Direktur Rumah sakit, tentang jadwal keberangkatan dan segala macamnya, Davin kembali ke ruangannya. Namun, lagi-lagi dia harus bertemu dengan Renata. Sosok yang dulu begitu dipujanya itu, kini tak ubahnya seperti penyakit menular yang harus dihindari.
"Kenapa harus ketemu dia lagi, sih! Bikin mood aku hancur, aja," gumamnya kesal.
Sementara Renata yang melihat Davin dari kejauhan segera berlari kecil mendekat. Wajahnya tampak berbinar, tak ketinggalan senyumnya yang memikat. Namun, sayangnya senyum itu tak lagi menarik di mata Davin, justru sebaliknya membuat matanya sepet.
"Dok, apa benar Anda bergabung dengan tim relawan?" tanya Renata, napasnya sedikit memburu.
"Iya, begitulah," jawab Davin datar, tak ada kelembutan seperti biasanya.
"Tapi, kenapa Anda tidak berdiskusi dulu sama saya, Dok? Setidaknya saya bisa memberi pertimbangan untuk Anda. Bagaimana jika terjadi sesuatu di sana?" Renata menunjukkan kekhawatirannya.
Namun, Davin tahu itu hanya pura-pura. Dia menatap Renata dingin. "Tidak perlu. Ini keputusan saya dan saya sudah memikirkannya dengan matang."
"Tapi, Dok..."
"Maaf, Dokter Renata. Saya sibuk. Permisi," potong Davin cepat, lalu melangkah pergi meninggalkan Renata yang terdiam dengan wajah kecewa.
Davin mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Tak ingin berlama-lama berada di dekat Renata. Sudah malas dan muak dengan segala kepura-puraannya. Tekadnya sudah bulat untuk menjauh dari gadis itu dan fokus pada tugasnya sebagai seorang dokter.
"Dok, tadi Dokter Renata mencari Anda," kata Dewi ketika Davin hendak membuka pintu ruangannya.
"Hmm...tadi sudah ketemu," jawab Davin singkat, lalu masuk ke dalam ruangannya. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan mendekati Dewi.
"Suster, mulai besok saya nggak praktik. Ada dokter lain yang akan menggantikan saya di sini. Saya pamit, ya," kata Davin, mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dewi.
"Baik, Dok. Hati-hati dan jaga diri Anda baik-baik di sana," ucap Dewi, seraya menerima uluran tangan Davin.
Keduanya berjabatan tangan, setelahnya Davin segera pergi menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Tanpa Davin tahu, Renata menatap kepergiannya dari ujung koridor dengan raut kecewa. "Dia bahkan nggak pamit sama aku," gumamnya pelan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia berubah padaku? Sikapnya begitu dingin dan ketus, tidak sehangat dulu lagi. Nggak ada manis-manisnya sama sekali," batinnya bertanya-tanya.
Renata berpikir keras sambil mengetuk-ngetuk dagunya pelan, berusaha mengingat kembali kejadian yang mungkin menjadi penyebab perubahan sikap Davin. Namun, ia tidak menemukan apapun.
"Lebih baik aku temui Suster Dewi dan bertanya padanya. Siapa tahu dia tahu sesuatu."
Renata segera pergi mencari Dewi. Langkahnya tampak tergesa-gesa, seakan mengejar sesuatu yang sangat penting. "Suster Dewi, bisa bicara sebentar?" ucapnya dengan tatapan memohon.
Dewi yang sedang membereskan pekerjannya mengernyit heran. Ia tidaklah seakrab itu dengan Renata. Lalu, ia ingat sesuatu. "Hahhh... Pasti dia mau tanya tentang Dokter Davin," tebaknya dalam hati.
"Ada apa ya, Dok?" tanyanya polos.
"Suster Dewi tahu, alasan Dokter Davin bergabung dengan tim relawan?" tanya Renata, menatap Dewi dengan wajah serius.
"Nah kan, benar?" Dewi tersenyum sinis dalam hati. "Mana saya tahu, Dok. Saya kan, bukan siapa-siapanya Dokter Davin," jawabnya santai.
"Suster Dewi jangan bohong, deh. Suster kan, asistennya. Mana mungkin nggak tahu apa-apa?" desak Renata, tidak percaya.
Dewi tertawa sambil menutup mulutnya. "Anda ini lucu ya, Dok. Seakan menganggap saya ini tahu banyak tentang Dokter Davin."
"Dengar ya, Dok. Saya ini cuma asisten Dokter Davin di tempat kerja. Dan pastinya, nggak semua hal yang bersifat pribadi harus dibagi ke orang lain," katanya dengan santai.
"Barangkali Anda pernah berkata sesuatu yang membuat Dokter Davin merasa tersinggung. Coba Anda ingat-ingat," imbuhnya
Deggg
Renata terdiam, mencoba mengingat-ingat, tetapi tak pikirannya tetap buntu. Hingga akhirnya Dewi pamit pulang.
"Ya sudah ya, Dok. Saya permisi pulang," kata Dewi, buru-buru pergi, enggan menanggapi Renata lebih lama.
.
Davin memilih pulang ke rumah orang tuanya siang itu. Keadaan rumah yang sepi membuatnya langsung menuju kamarnya. Dia membuka lemari dan mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas besar. Tak lupa dia juga memasukkan peralatan pribadi, seperti perlengkapan mandi juga skincare. Dirasa cukup, dia pun keluar dengan membawa tasnya.
"Loh, Adik kapan datang? Kok, mami nggak tahu?" tanya Mama Mia yang baru masuk dari halaman belakang dengan membawa segenggam bunga.
Davin meletakkan tasnya, menghampiri sang ibu sambil tersenyum lembut lalu memeluk dan menciumi pipi maminya penuh kasih.
"Tadi Adik pas datang sepi, Mi. Jadi langsung ke kamar dan berkemas," jawab Davin lembut.
Wanita paruh baya itu menatap putra bungsunya dengan heran. "Memangnya Adik mau ke mana lagi?"
"Adik akan pergi ke daerah X. Menjadi tim relawan medis, yang akan membantu korban bencana alam di sana, Mi," lanjutnya, menjelaskan tujuan kepergiannya.
Mama Mia tampak terkejut, tetapi kemudian senyum terbit di bibirnya. "Masya Allah, anak mami memang hebat," serunya penuh kebanggaan. "Tapi, hati-hati di sana ya, Sayang. Jaga kesehatan, jangan sampai Adik sakit," pesannya, sambil mengusap lembut punggung tangan putra bungsunya.
"Mami jangan khawatir. Adik pasti akan selalu menjaga diri dengan baik," kata Davin, lalu melihat jam di pergelangan tangan kirinya. "Ya sudah, ya, Mi. Adik harus berangkat, mohon doanya," pamitnya, memeluk kembali sang ibu dengan erat.
"Pasti, Sayang. Mami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk, Adik. Sering-sering kabari mami, ya," kata Mama Mia sambil mengusap pipi Davin dengan sayang.
Davin mengangguk, lalu meraih tasnya kembali. "Siap, Mi! Adik berangkat, ya. Assalamualaikum," ucapnya, lalu mencium tangan Mama Mia.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang," balas Mama Mia, menatap punggung Davin yang menjauh dengan mata berkaca-kaca. Ada kebanggaan sekaligus kekhawatiran dari sorot matanya. "Ya Tuhan, lindungilah anak kami di manapun dia berada, aamiin."
.
Sementara itu, Dewi tidak langsung pulang. Ia memilih mendatangi tempat yang bisa menjawab rasa penasarannya. Ia pun menuju ruang keamanan untuk melihat rekaman CCTV. Kebetulan salah satu staf di sana adalah kenalannya. Dewi berharap bisa mendapatkan petunjuk kenapa Davin terkesan menghindari Renata.
Tiba di ruang keamanan, Dewi segera menemui Roni kenalannya. "Ron, aku mau minta tolong, bisa?" tanya Dewi dengan tatapan memohon.
"Tolong apa, Suster? Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu," jawab Roni dengan senyum.
"Aku mau lihat rekaman CCTV beberapa hari yang lalu. Ada yang mau aku cari tahu," bisik Dewi.
Roni tampak berpikir sejenak. "Hmm... Sebenarnya ini nggak boleh, Suster. Tapi, karena Suster Dewi yang minta, ya sudah. Mau lihat rekaman yang mana?"
Dewi kemudian meminta rekaman CCTV di koridor depan ruangan Renata tiga hari lalu. Mereka memutar rekaman itu.
Dewi menajamkan pandangannya melihat dengan seksama rekaman tersebut. Dari Davin datang sampai akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Dewi terkejut. "Kenapa Dokter Davin pergi dan kelihatan marah? Dia bahkan membuang bunga itu? Apa yang terjadi sebenarnya?" gumamnya makin penasaran.