Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kemang Regency
Desti tak tau, se-engga ada kerjaan itu CEO Jilo corp. Atau, ia baru tau kalo salah satu tugas CEO itu ngintilin mantan istri.
Padahal setaunya, pekerjaan seorang CEO itu ya otak perusahaan, berada di belakang meja kerja dengan setumpuk tanggung jawab dan lama-lama rambutnya rontok sampai botak.
Ia sangsi, jangan-jangan Ganesha itu cuma CEO bo dong?
"Saya kira udah siap?" tanya Ganesha lagi lebih terkesan seperti sindiran halus, time is money, non...
"Udah. Ini cuma tinggal ganti baju aja..langsung ke lokasi."
Desti duduk kembali dengan wajah gugup dan paniknya, memang aura CEO satu ini bawaannya bikin mendung sih, bo--iboe jemuran tolong angkat!
"Bu, kok ada pak Ganesha." bisik Desti menurunkan peralatan, sementara Maulana yang tak tau apa-apa masih berlaku santai saja menyiapkan kameranya.
Anye mengangguk membenarkan, ia pun bingung harus bilang apa pada Desti, sabar...anggap aja dia cuma rontokan daun sirsak.
"Mas Yahya, pak Ganes...kenalkan ini Maulana, kameramen saya. Editor saya masih ada urusan di kantor, tidak bisa ikut hadir, ngga perlu juga karena untuk proses editing nanti dilakukan di kantor Imaginary."
Ganesha mengangguk sekali, menerima uluran tangan lelaki berpad topi ke belakang, "Maulana, pak."
Anye bergegas mengganti pakaiannya ke dalam kamar. Sementara Desti membantu menyiapkan peralatan make up dan hair do.
Kemudian, Anye telah keluar dan siap, "Des, tolongin aku dong, ini resleting macet." pinta Anye pada Desti. Dalam gerakan cepatnya, Anye membelakangi Desti dan menyampingkan rambutnya, membuat punggung mulus itu mengintip terekspos sejenak sampai Desti menarik resletingnya ke atas.
"Nanti berarti gue lari dulu sebentar ya, Lan?" tanya Anye berbicara dengan Lana tentang script nya tak memperdulikan Ganesha disana yang melihat semua gelagatnya. Seraya Desti yang menangani sisa hair do dan sepatunya, Anye masih mendengarkan penjelasan Maulana.
/
Ganesha mengekor layaknya ekor mo nyet, melihat bagaimana cara kerja Anye dan tim, dari kawasan satu ke kawasan lain sesuai script hari ini.
Wajahnya sedikit memerah, dengan keringat yang bercucuran, sebab cuaca yang panas, Yahya sampai memberikan topi padanya. Bukan tak biasa, justru karena Ganesha sudah terbiasa terjun langsung ke proyek, jadinya ia mau-maunya mengikuti kegiatan Anye siang ini, "mau pake payung ngga, pak?" tawar Yahya. Ganesha menggeleng dengan keringatnya, "dikira topeng mo nyet."
Yahya tergelak.
Sesiang ini ia benar-benar menyaksikan sendiri Anye bekerja keras di depan kamera, bahkan yang membuatnya salut adalah, Anyelir begitu totalitas dengan beberapa kali meraup air danau buatan di area belakang, berjalan cukup jauh dan menjelaskan setiap detail sampai material bangunan grade A yang dipakai untuk pembangunan setiap unit dan clusternya.
Desain interior dan berbagai tipe rumah, rumah toko serta apartemen yang naskahnya cukup panjang, ia juga menunjukan berbagai fasilitas yang sudah ada termasuk sekolah dasar dengan taraf internasional, mall, klinik, kawasan street food dan lain-lain yang sudah teken kontrak dengan brand-brand ternama mampu dilahap dengan kualitas komunikasi yang efektif dan nyaman di dengar.
Kemang Regency, the peaceful oasis hidden in the heart of bustling city.... Anye merentangkan kedua tangannya sembari berjalan sambil mendongak penuh kekaguman. Ke arah taman dan danau buatan di belakangnya.
"Cuttt!" ucap Maulana, membuat Anye langsung berjongkok di tempatnya, lelah.
Desti bertepuk tangan, memberikan reward untuk Anye yang berkali-kali meneguk air minum, "bungkus, abis itu kirim Angel, ready editing buat opening."
"Berarti tinggal detail unit di apartemen sama rumahnya?" tanya Maulana diangguki Anye.
"Bisa dilahap sehari ini, ngga bu?" tanya nya lagi namun langsung di jawab oleh Ganesha, "ngga. Besok lagi aja. Udah cukup hari ini. Review Kemang ngga akan cukup sehari." Tegasnya. Tak terbantahkan. Tak ada yang mau bersuara juga disana.
Lihatlah Ganesha yang sudah hampir menghabiskan minum di botolnya. Bahkan cuaca sudah mulai tergelincir ke senja. Yang benar saja jika mereka masih melahap pekerjaan! Mereka bukan robot.
Anye mendengus, kenapa? Bukankah lelaki itu workaholic never die? Bahkan Anye ingat ketika ia menunggu janji Ganesha untuk makan malam, lelaki itu dengan entengnya mengatakan jika ia masih bekerja dan harus lembur! Membuat Anye akhirnya harus membagikan menu makan malam yang sudah sengaja ia masak capek-capek untuk security dan tetangga.
Ganesha, dengan wajah yang telah kuyu oleh keringat dan sinar matahari itu sudah berbalik badan menuju ke mobil untuk kembali ke kantor pemasaran.
Cuaca yang awalnya sangat terik itu kini justru terlihat mendung. Angin dingin yang berhembus membawa bau tanah basah pertanda sudah hujan di sebagian wilayah.
Hingga akhirnya, bunyi petir bersahutan menjadi tanda, jika kini....langit kota Jakarta akan turun hujan.
/
Anye mendekap kedua lengannya, mengusap lembut memberikan sentuhan hangat serta pijatan pelan.
Langit yang tak kuasa menahan beratnya beban uap air akhirnya menjatuhkan rintikan hujan ke bumi, dan moment itu...Anye berdiri di gawang pintu ruang tengah kantor pemasaran yang langsung berbatasan dengan halaman.
Tak ada yang dilakukannya saat ini, selain dari terjebak di kantor pemasaran bersama timnya dan Ganesha. Bukan tak bisa pulang. Namun, mereka baru saja selesai dan butuh rehat sejenak.
Dingin, basah, dan aroma tanah basah, Anye suka itu---memori hujan. Hawa dingin dan suara rintikannya itu mampu meluruhkan segala risau dan pikiran yang membuatnya lelah.
"Bu!" Desti tersenyum lebar menunjukan sekaligus menggoyangkan bungkusan plastik mie instan ke arah Anye, "kalo hujan enaknya apa?" tanya nya yang langsung disambut antusias Maulana, "ngemieee! Emang temen gue ini, persis Doraemon!" tawanya disusul tawa Anye, "kantongnya banyak isinya!"
"Bukan Doraemon, Lan. Desti tuh definisi warteg." Tawa Anye.
Ganesha, ia masih disana...menutup laptop dan menurunkan sleeve garters dari lengan yang cukup mengikat laju da rahnya sejak tadi.
"Wah, bener!" Yahya, turut mencair.
"Yok lah, aku bawa berapa nih, cukup lah!" Desti, Maulana dan Yahya bahkan sudah berseru riang. Emang yaaa, tak ada hal yang lebih indah untuk orang yang sedang lapar, kejebak hujan selain mie instan.
"Cukup...Bu mau bikin, pak Ganesha?"
Anye mendekat dan duduk bergabung di sofa, "boleh, aku bikin sendiri."
"Pak Yaris!" panggil Yahya meminta menyiapkan panci di dapur kantor.
Ganesha masih diam, tapi jelas sejak tadi ia sibuk memperhatikan bagaimana Anye bersikap. Kerjasama ini, seolah---Tuhan sedang memberinya dan Anye waktu serta ruang untuk bersama. Saling mengetahui lebih dalam tentang satu sama lain, sungguh sangat terlambat.
Ganesha memaksa membuyarkan lamunannya ketika Anye bertanya padanya. Bahkan Yahya, Maulana dan Desti sudah sibuk dengan mie masing-masing, nitip Des lah!
Ogah, bikin sendiri!
"Abang mau?" ia sudah memegang bungkusan mie instan dan mengangkatnya sedikit, gestur seseorang yang tengah menawari.
"Boleh." Kebetulan sekali seharian ini mereka bekerja, dan melupakan hal yang paling penting, mengisi perut....pantas saja sejak tadi perutnya keroncongan.
.
.
.
.
Maafkan kami Afiqah sudah berburuk sangka padamu, mana berjamaah pula. ya Allah ya Alloh tolong 🤣🤣🤣
ikut deg"an kepo iihh