NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: TAK KASAT MATA

Matahari Surabaya pagi ini terasa lebih menyengat dari biasanya, seolah atmosfer kota pahlawan ini lupa menyaring radiasi ultraviolet sebelum menyentuh kulit. Di dalam kelas XI IPA 2, pendingin ruangan berdengung halus, berjuang keras melawan hawa panas yang merambat masuk melalui kaca jendela. Namun, bagi Keyla Aluna, panas di luar sana tidak sebanding dengan debaran dingin yang menjalar di ujung-ujung jarinya.

Ia menatap punggung tangannya yang sedikit gemetar. Di sana, tersembunyi di balik lengan sweater oversize-nya, terselip sebuah sticky note kecil berwarna kuning neon—balasan dari Bintang Rigel yang berhasil ia ambil sepuluh menit lalu dengan manuver berisiko tinggi saat pergantian jam pelajaran.

"Heh, ngelamun ae! Kesambet demit penjunggu lab biologi kapok kon," suara Dinda yang kental dengan logat Suroboyoan memecah lamunan Keyla. Sahabatnya itu menggeser kursi, duduk dengan posisi menghadap belakang, dagunya bertumpu pada sandaran kursi Keyla.

"Din, pelanin suaramu," desis Keyla panik, matanya menyapu sekeliling kelas yang mulai ramai. "Aku udah ambil balasannya."

Dinda membelalak, lalu mendekatkan wajahnya. "Sumpah? Gimana caranya? Kan tadi di depan kelas XI IPA 1 ada gerombolannya Vanya lagi tebar pesona?"

"Aku lewat pintu belakang, pura-pura mau balikin buku paket Fisika punya Aldi yang ketinggalan di perpus. Pas lewat mejanya... ya gitu deh. Cepet banget tangan aku gerak, kayak pencopet di Terminal Bungurasih," gumam Keyla, setengah bangga setengah ngeri.

"Jancik, nyalimu lho Key, makin hari makin ngawur. Ati-ati, mata-mata Kanjeng Ratu Vanya itu ada di mana-mana sekarang," Dinda memperingatkan, nadanya serius meski dengan diksi bercanda. "Kemarin aku liat si Dessy sama Bella bisik-bisik sambil ngeliatin arah kelas kita."

Keyla menelan ludah. Ia tahu risiko ini. Tapi rasa penasaran dan koneksi emosional yang terbangun dengan Bintang seperti gravitasi lubang hitam—tak terelakkan.

"Ayo ke rooftop pas istirahat," bisik Keyla. "Aku belum berani baca di sini."

***

Rooftop SMA Cakrawala Terpadu adalah satu-satunya tempat di mana langit Surabaya terasa sedikit lebih ramah. Di balik tumpukan kursi bekas dan unit outdoor AC sentral, Keyla membuka lipatan sticky note itu dengan hati-hati. Tulisan tangan Bintang yang tegak dan rapi menyapa matanya. Bukan sekadar balasan singkat, kali ini tulisannya sangat padat, memenuhi setiap milimeter kertas kecil itu.

*Untuk Cassiopeia,*

*Teori 'Escape Velocity' kamu kemarin... entahlah, rasanya seperti kamu baru saja membedah isi kepalaku tanpa izin. Kamu benar. Untuk lepas dari gravitasi yang kuat, butuh energi kinetik yang besar. Masalahnya, 'gravitasi' di rumahku terlalu masif.*

*Semalam Papa masuk ke kamarku. Dia menemukan sketsa desain bangunan perpustakaan ramah lingkungan yang kusembunyikan di bawah tumpukan buku Biologi. Dia tidak marah, tidak teriak. Dia cuma menatapku kecewa, lalu merobek kertas itu jadi dua dan bilang, "Tangan seorang bedah tidak boleh kotor oleh debu proyek, Bintang. Kamu itu Rigel, bintang paling terang, bukan batu bata."*

*Sakit, Cas. Rasanya lebih sakit daripada cedera ankle pas final DBL tahun lalu. Kadang aku mikir, apa gunanya jadi bintang paling terang kalau aku cuma boleh bersinar di koordinat yang ditentukan orang lain? Aku merasa terjebak dalam orbit yang salah, berputar-putar sampai pusing, tapi nggak bisa keluar.*

*Terima kasih sudah mendengarkan. Cuma surat-suratmu yang bikin aku merasa masih punya 'suara'.*

*- R.*

Napas Keyla tercekat. Ia bisa merasakan kepedihan yang menguar dari tulisan itu. Bintang Rigel, pangeran sekolah yang dipuja semua orang, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam karena ekspektasi ayahnya. Keyla meraba dadanya yang terasa sesak. Selama ini ia mengagumi Bintang dari jauh karena cahayanya, tapi sekarang ia jatuh cinta pada sisi gelapnya—sisi manusiawi yang rapuh dan butuh didengar.

"Dalem banget, Cuk..." komentar Dinda yang ikut membaca dari balik bahu Keyla. Gadis tomboy itu bahkan lupa untuk mengejek. "Bapaknya Bintang itu dokter spesialis jantung yang terkenal di RSUD Dr. Soetomo kan? Pantesan tekanannya ngeri. Anaknya mau jadi arsitek malah dipaksa jadi dokter."

Keyla mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Dia butuh tahu kalau dia nggak sendirian, Din. Dia butuh tahu kalau cahayanya itu punya spektrum warna lain yang indah, bukan cuma putih menyilaukan yang orang lain lihat."

"Waduh, mulai lagi pujangganya keluar," Dinda menepuk jidat. "Yaudah, mau bales apa? Kertas biru lagi? Awas lho, Vanya udah mulai curiga sama warna biru."

"Harus biru," tegas Keyla, mengeluarkan kertas *fancy paper* berwarna *navy blue* dari tasnya. "Itu ciri khas Cassiopeia. Kalau aku ganti, dia bakal bingung. Aku cuma harus lebih pintar nyelipinnya."

Keyla mengambil pulpen gel perak kesayangannya. Ide tentang 'Spektroskopi' mengalir deras di kepalanya. Di astronomi, spektroskopi adalah cara astronom mengetahui komposisi sebuah bintang dengan memecah cahayanya menjadi pelangi.

*Untuk Rigel,*

*Tahukah kamu tentang Spektroskopi?*

*Ketika orang melihat bintang di langit, mereka hanya melihat satu titik cahaya putih atau kuning. Tapi ketika astronom menggunakan prisma untuk memecah cahaya itu, barulah terlihat warna aslinya. Ada garis-garis spektrum yang menceritakan siapa bintang itu sebenarnya—terbuat dari hidrogen, helium, atau logam berat.*

*Ayahmu, dan mungkin seluruh sekolah ini, hanya melihatmu dengan mata telanjang. Mereka melihat 'Bintang Rigel sang Calon Dokter' atau 'Kapten Basket'. Tapi lewat surat-surat ini, aku merasa sedang memegang prisma itu. Aku bisa melihat spektrum aslimu. Aku melihat garis-garis imajinasi arsitekturmu, garis-garis ketakutanmu, dan garis-garis mimpimu yang berwarna-warni.*

*Jangan biarkan siapapun mendefinisikan cahayamu, Gel. Bahkan jika kamu harus menjadi Supernova dan meledakkan diri untuk menciptakan elemen baru, itu lebih baik daripada menjadi bintang redup di orbit yang salah. Robekan kertas sketsamu bukan akhir. Itu cuma revisi desain. Bangun lagi fondasinya, kali ini lebih kuat.*

*Aku di sini. Mengamati spektrummu yang indah.*

*- Cassiopeia.*

Keyla melipat surat itu dengan presisi origami yang rumit, membentuknya menjadi bentuk heksagonal kecil agar mudah disembunyikan.

"Oke, Misi Spektrum dimulai," ujar Keyla sambil berdiri, merapikan rok abu-abunya. "Bintang ada jadwal piket di perpustakaan hari ini jam istirahat kedua kan?"

"Iyo, jadwal dia balikin buku paket," jawab Dinda sambil mengecek ponselnya, memantau grup angkatan. "Tapi ati-ati, Vanya lagi *on patrol* di kantin, deket banget sama akses ke perpus."

***

Koridor menuju perpustakaan di lantai dua cukup ramai. Jam istirahat kedua adalah waktu krusial di mana perut lapar bertarung dengan kewajiban akademis. Keyla berjalan dengan langkah cepat namun berusaha terlihat santai, menggenggam buku "Ensiklopedia Alam Semesta" di dada sebagai tameng, sementara surat heksagonal itu ia sembunyikan di balik sampul buku.

Tepat saat ia berbelok di tikungan dekat mading, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah. Bahu mereka beradu cukup keras.

"Aduh!" Keyla terhuyung mundur, bukunya nyaris jatuh.

"Eh, sori, sori! Gue nggak liat jalan," suara bariton yang familiar itu membuat jantung Keyla berhenti berdetak selama satu sekon penuh.

Bintang Rigel berdiri di sana. Wangi parfum *citrus* dan *mint* yang maskulin langsung menguar, bercampur dengan aroma sabun cuci baju yang bersih. Ia menatap Keyla dengan mata yang sedikit membelalak, tangan kanannya refleks memegang lengan Keyla agar gadis itu tidak jatuh.

Untuk sesaat, waktu di koridor SMA Cakrawala seolah melambat—efek relativitas yang nyata bagi Keyla. Bintang tidak langsung melepaskan pegangannya. Ia menatap mata Keyla dengan intensitas yang aneh, seolah sedang mencari sesuatu. Ada kerutan samar di keningnya, tanda ia sedang berpikir keras.

"Lho, Keyla kan? Anak XI IPA 2?" tanya Bintang. Suaranya lembut, berbeda dengan nada tegas yang biasa ia pakai di lapangan basket.

Keyla panik. Interaksi dunia nyata selalu membuatnya gagap. "I-iya. Maaf, Bintang. Aku yang salah jalan. Permisi."

Keyla menarik lengannya, berusaha kabur. Tapi Bintang justru melangkah sedikit, menghalangi jalannya tanpa sengaja.

"Tunggu," kata Bintang. Matanya turun ke buku yang didekap Keyla. "Ensiklopedia Alam Semesta? Lo... suka astronomi juga?"

*Juga?* Kata itu bergaung di kepala Keyla. Apakah Bintang mulai curiga? Apakah metafora-metafora di suratnya terlalu jelas?

"Cuma... cuma iseng baca kok!" Keyla berbohong, suaranya naik satu oktaf. "Buat tugas Bahasa Indonesia! Duluan ya!"

Tanpa menunggu jawaban, Keyla setengah berlari menuju perpustakaan, meninggalkan Bintang yang berdiri terpaku di tengah koridor. Bintang menatap punggung Keyla yang menjauh dengan tatapan bingung namun penasaran. Di dalam saku kemejanya, sticky note dari Cassiopeia terasa hangat. Entah kenapa, getaran gugup gadis tadi mengingatkannya pada nuansa tulisan Cassiopeia.

Keyla masuk ke perpustakaan dengan napas memburu. Ia menyelinap ke rak bagian Arsitektur—bagian yang jarang dijamah siswa lain kecuali Bintang. Dengan tangan gemetar, ia menyelipkan surat heksagonal biru itu ke dalam buku *"Sustainable Design: Green Architecture"*, halaman 88. Itu adalah buku yang minggu lalu Bintang sebutkan di suratnya sebagai buku incaran yang belum sempat ia pinjam.

"Selesai," bisiknya lirih.

***

Lima belas menit kemudian, di Kantin Bu Lilik yang riuh dengan suara denting sendok dan teriakan pesanan soto ayam.

Vanya Clarissa duduk di meja strategisnya—meja 'The Royals' yang berada di tengah, memberikan pandangan 360 derajat ke seluruh kantin. Di hadapannya ada semangkuk bakso yang belum disentuh. Matanya terfokus pada satu titik: Bintang Rigel yang duduk sendirian di meja sudut dekat jendela.

Bintang sedang membaca sesuatu. Bukan buku pelajaran, bukan juga ponsel.

Itu kertas biru.

Dari jarak sepuluh meter, Vanya bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Bintang berubah. Cowok itu tersenyum—bukan senyum sopan untuk fans, tapi senyum tulus yang mencapai matanya. Bahunya yang tadi tegang kini rileks. Ia mengusap kertas biru itu dengan ibu jarinya, seolah benda itu adalah harta karun paling berharga.

"Cih," Vanya mendecih pelan, meremas tisu di tangannya hingga lumat.

"Kenapa, Nya? Baksonya kurang pedes?" tanya Dessy, salah satu dayang-dayangnya.

"Bukan baksonya yang kurang pedes, tapi mata gue yang panas," jawab Vanya dingin. "Liat itu. Pangeran kita lagi asyik sama surat cinta kampungannya."

Ponsel Vanya bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari grup chat *Cheerleaders Elite*.

*Bella: Lapor Nya. Keyla Aluna baru aja keluar dari Perpus. Mukanya merah banget, kayak abis lari maraton. Dan tebak apa? Sepuluh menit sebelumnya Bintang juga ada di koridor arah perpus.*

Vanya membaca pesan itu, lalu menatap Bintang lagi, kemudian beralih menatap pintu kantin tempat Keyla baru saja masuk bersama Dinda. Keyla terlihat menghindari tatapan ke arah meja Bintang, tapi gerak tubuhnya gelisah.

Sudut bibir Vanya terangkat membentuk senyuman miring yang mengerikan.

"Biru lagi," gumam Vanya pelan. "Surat biru, buku astronomi, dan gadis yang selalu ada di tempat kejadian perkara. Kamu pikir kamu pinter main petak umpet, Keyla?"

Ia berdiri, mengibaskan rambut panjangnya yang badai.

"Guys, abisin makan kalian," perintah Vanya pada teman-temannya. "Kita punya proyek baru. Namanya: Membakar Sampah."

Bintang di sudut sana melipat kertas biru itu dan memasukkannya ke dalam saku kemeja sebelah kiri, tepat di atas jantungnya. Ia tidak menyadari bahwa sepasang mata elang sedang mengamati setiap gerakannya, siap untuk menyambar mangsa yang lengah. Di luar, awan mendung mulai menggantung di langit Surabaya, seolah menjadi pertanda bahwa badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!