Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Putri
## SELAMAT MEMBACA ##
Beberapa bulan telah berlalu dan tentunya kehamilann Arindi sudah memasuki bulan ke sembilan penuh, saat ini persiapan hari perencanaan lahir sang buah hati yang tinggal 3 hari lagi. Namun malam itu, ketenangan di kediaman Satya pecah bukan oleh simulasi tempur Arsen, melainkan oleh kontraksi hebat yang dialami Arindi. Dengan sigap yang luar biasa, hasil dari latihan "Siaga Persalinan" yang dibuat Arsen, Ankara melarikan istrinya ke rumah sakit dalam waktu yang memecahkan rekor pribadi.
Arsen duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan wajah paling serius yang pernah dilihat orang. Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan besar dan pulpen. Ia menolak untuk tidur meski jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
"Papa, jangan mondar-mandir. Kau mengganggu frekuensi radar keamanan," tegur Arsen pada Ankara yang tampak gelisah di depan pintu ruang bersalin.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi yang melengking membelah keheningan koridor. Seorang perawat keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Tuan Ankara. Putrinya lahir dengan sehat dan sangat cantik." Ya, bulan ketujuh waktu kehamilan Arindi, mereka sudah mengetahui bahwa calon anak keduanya berjenis kelamin perempuan sesuai dugaan awal Arsen saat mengetahui mamanya hamil begitu juga sesuai dengan prediksi Ankara. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil ini.
Ankara masuk dengan perasaan haru yang membuncah, sementara Arsen mengekor di belakang dengan langkah tegap, siap melakukan inspeksi terhadap "personel baru" keluarga mereka.
Di dalam kamar, Arindi terlihat lelah namun memancarkan aura kebahagiaan yang sangat lembut. Di pelukannya, terbungkus kain bedung merah muda, adalah seorang bayi perempuan dengan kulit putih bersih dan rambut hitam legam.
"Dia sangat cantik, Sayang," bisik Ankara sambil mencium kening Arindi. "Terima kasih sudah berjuang untuk anak kedua kita. Kau adalah istri dan ibu yang hebat." Arindi hanya membalas dengan senyuman, karena masih terasa lelah setelah melahirkan.
Tiba - tiba Arsen naik ke kursi di samping tempat tidur untuk melihat adiknya. Ia menyipitkan mata, mengamati setiap inci wajah bayi itu. "Pa, dia sangat kecil. Tapi suaranya tadi punya frekuensi yang bagus untuk mengintimidasi lawan."
"Hah, ayolah.... suasana haru begini masih mau membahas hal absurb apalagi sih...?" Batin kedua orangtuanya.
"Arsen, ayo beri salam pada adikmu," ajak Arindi.
"Siap, Mam!," Arsen berdeham. "Selamat datang di unit Satya, Personel Baru. Sekarang, kita harus menetapkan nama kodenya. Sesuai rencana latihan, namanya adalah **Komandan Alpha**."
Arindi hanya menghelas nafas "Kan...kan...apa aku bilang", tidak sanggup untuk mulai perdebatan kecil yang anfaedah dengan putranya.
Ankara seketika mendongak. "Tunggu, apa?? Komandan Alpha? Tidak, tidak. Dia ini anak perempuan yang sangat manis. Papi sudah menyiapkan nama yang indah: Aurora Queen Satya Madya."
"Ish....mana keren! Aurora itu terlalu lemah, Papa!" Arsen berargumen dengan sangat gigih. "Nanti kalau dia memimpin pasukan di taman bermain, tidak ada yang takut kalau namanya Aurora. Dia harus punya nama yang terdengar seperti ledakan! **Alpha Destroyer!**"
Arindi hanya bisa tertawa lemah di atas tempat tidurnya. "Arsen, Mama tidak mau memanggil anak perempuan Mami dengan nama 'Destroyer'. Nanti teman-temannya takut."
"Kalau begitu..." Arsen tampak berpikir keras, "Bagaimana kalau **Agent Rose**? Cantik tapi berduri dan berbahaya?"
"Astaga.....aku setuju dengan nama Aurora Queen Satya Madya tadi. Kalian berdua jangan aneh-aneh." Kemudian sebelum Arsen menyela ucapan mamanya, Arindi menatapnya "Kalau ada yang protes, aku ganti nama tukang protesnya menjadi 'Paijo'. Mau kalian?!" Keduanya pria tersebut langsung menggelengkan kepalanya. Wkwkwkw
Keesokan harinya, Alan, Reyna, Galih, dan Dania datang berkunjung. Suasana kamar rumah sakit menjadi sangat ramai. Alan membawa boneka beruang raksasa, sementara Galih membawa sebuah baju bayi bermotif seragam polisi lengkap dengan lencana bordir.
"Jadi, siapa nama putri cantik ini?" tanya Alan sambil menggendong Aira yang penasaran melihat bayi di boks.
"Kami masih dalam tahap negosiasi diplomatik yang alot," jawab Ankara sambil melirik Arsen yang sedang menunjukkan buku strateginya pada Galih.
"Om Galih!" seru Arsen. "Bantu aku yakinkan Papa. Adikku harus punya nama keren. Papa mau kasih nama 'Aurora', itu terdengar seperti nama bunga yang mudah layu!"
Galih berdeham, mencoba menjadi penengah. "Begini, Arsen. Dalam dunia intelijen, agen terbaik biasanya punya nama yang sangat cantik untuk menipu musuh. Jadi, nama 'Aurora' itu sebenarnya adalah nama yang sempurna. Musuh pikir dia bunga, padahal dia adalah... mmm... mawar yang mematikan?"
Arsen terdiam. Matanya berputar, memproses logika Galih. "Jadi maksud Om, Aurora itu adalah sandi rahasia?"
"Tepat sekali," sahut Dania menimpali dengan cepat. "Aurora itu singkatan dari: **A**gen **U**nit **R**ahasia **O**perasi **R**evitalisasi **A**ksi."
"Hah???" semua orang dalam ruangan itu terkejut dengan jawaban nyeleneh Galih. Dania sampai malu mendengarkan suaminya yang ketularan absurbnya Arsen.
Arsen seketika berdiri tegak dan melakukan hormat militer ke arah boks bayi. "Luar biasa! Nama yang sangat cerdas, Papa! Aku setuju. **Agen AURORA** resmi bergabung!"
Arindi dan Ankara bernapas lega. Akhirnya, sang putri memiliki nama resmi: **Aurora Madya Satya**, atau bagi Arsen, sang **Agen Aurora**.
Malam itu, sebelum pulang, Arsen membisikkan sesuatu di dekat telinga adiknya yang sedang tertidur. "Selamat tidur, Agen Aurora. Besok kalau sudah di rumah, Kakak akan ajarkan cara menggunakan sandi morse lewat ketukan botol susu. Kita akan menguasai seluruh perumahan."
Ankara merangkul Arindi, menatap kedua anaknya dengan senyum bahagia.
"Sayang, kau dulu saat mengandung Arsen tidak salah ngidam kan?" Entah dapat pemikiran darimana Ankara.
"Sembarangan saja, yang perlu bertanya itu aku! Kenapa sifat absurbmu kau turunkan pada Arsen. Membuatku pusing saja jika kalian mulai kumat untuk berdebat. Huffft!" Arindi tidak terima dengan ucapan suaminya.
"Hehehe.....maaf sayang", Jawab Ankara sambil menggaruk belakang kepalanya padahal tidak gatal.
Di dunia ini, mereka mungkin bukan lagi detektif atau buronan, tapi mereka adalah komandan dari sebuah keluarga kecil yang penuh dengan cinta, tawa, dan sedikit kegilaan taktis yang membuat hidup mereka sempurna.
*
*
*
Kehidupan di kediaman Satya memasuki fase yang paling menantang bagi sang Jenderal Kecil. Aurora, yang kini berusia delapan bulan, ternyata memiliki bakat alami yang jauh melampaui prediksi kurikulum Arsen. Jika Arsen adalah ahli strategi yang mengandalkan rencana matang, Aurora adalah ahli infiltrasi yang mengandalkan kelincahan dan tentu saja keimutannya yang mematikan.
Pagi itu, Arsen sedang berada di ruang bermain, memasang "barikade keamanan" menggunakan balok-balok susun dan benang wol yang ia sebut sebagai "sensor laser".
"Papa, lihat ini," tunjuk Arsen pada Ankara yang sedang menikmati kopi. "Ini adalah sistem keamanan tingkat tinggi. Tidak akan ada yang bisa melewati benang ini tanpa memicu alarm lonceng di ujung sana."
Ankara mengangguk-angguk kagum, meski ia harus melangkahi benang-benang itu dengan susah payah untuk menuju sofa. "Lalu di mana Agen Aurora?"
"Dia sedang dikarantina di dalam boks bayi, Papi. Dia terlalu berbahaya untuk dilepaskan sekarang," jawab Arsen serius.
Namun, Arsen meremehkan satu hal: kemampuan Aurora untuk merangkak dengan kecepatan kilat. Begitu Arindi melepaskan Aurora dari boksnya untuk membiarkannya bereksplorasi, sang "Agen" langsung beraksi.
Aurora melihat benang-benang wol merah itu bukan sebagai sensor, melainkan sebagai mainan tarik yang sangat menarik. Dengan gerakan merangkak yang tak bersuara, ia masuk ke zona terlarang Arsen.
*Kring! Kring! Kring!*
Lonceng berbunyi berkali-kali. Arsen yang sedang asyik menggambar peta taktis di meja kecilnya langsung melompat. "Penyusup! Ada penyusup di sektor B!"
Ia berbalik dan menemukan pemandangan yang menghancurkan hatinya: Barikade balok susunnya sudah runtuh karena ditabrak tubuh mungil Aurora, dan benang-benang wolnya kini melilit di kaki dan tangan bayi perempuan itu. Aurora bukannya takut, ia justru tertawa cekikikan "kya...kya...kya...", sambil menarik-narik benang wol itu hingga seluruh dekorasi Arsen hancur berantakan.
"Agen Aurora! Kau merusak sistem keamanan!" seru Arsen frustrasi.
Aurora menatap kakaknya, memberikan senyum tak berdosa yang menonjolkan dua gigi bawahnya yang baru tumbuh, lalu ia merangkak mendekat dan mencoba menggigit jempol kaki Arsen.
"Mama! Papa! Agen Aurora melakukan serangan fisik!" teriak Arsen sambil mencoba menghindar.
Arinsi datang sambil membawa botol susu. "Arsen, Mama sudah bilang, Aurora itu ahli sabotase. Dia tidak butuh rencana, dia hanya butuh kesempatan." Sedangkan Arsen hanya tertawa saja melihat kekonyolan kedua anaknya.
Kekacauan lucu ini berlanjut hingga sore hari saat Alan, Reyna, dan Aira berkunjung. Aira yang sudah lebih besar yakni berumur 2 tahunan kini menjadi pengikut setia Aurora.
"Halo...tatak Alsen. Halo juga adik Aulola", Sapa Aira penuh ceria. Akhirnya kedua balita perempuan itu seolah membentuk aliansi baru untuk melawan otoritas Arsen.
"Lihat itu, Alan," ujar Ankara sambil menunjuk ke arah kedua balita yang sedang sibuk membongkar kotak mainan Arsen. "Putrimu dan putriku sepertinya sedang membentuk sindikat baru."
Alan tertawa sambil merangkul Reyna. "Ini namanya regenerasi, Ankara. Dulu kita yang buat pusing orang tua kita, sekarang giliran anak-anak kita yang buat pusing kita."
Arsen mendekati Galih yang juga hadir bersama Dania. Wajah Arsen tampak lesu, harga dirinya sebagai Jenderal jatuh ke titik terendah. "Om Galih, aku menyerah. Agen Aurora menembus semua pertahananku. Dia bahkan memakan peta rahasiaku bersama sekutunya Aira."
Dania tertawa sambil mengusap kepala Arsen. "Arsen sayang, di dunia IT, ada yang namanya Insider Threat. Ancaman dari dalam. Aurora itu adalah hacker alami. Dia tahu kelemahanmu adalah rasa sayangmu padanya."
Galih berdeham, mencoba memberikan nasihat ala polisi. "Begini, Arsen. Jika kau tidak bisa mengalahkannya, jadikan dia sekutu. Berikan dia misi yang sesuai dengan bakatnya: menghancurkan pertahanan Papa untuk minta tambahan uang saku atau mainan baru."
Mata Arsen seketika berbinar. Ia memandang Aurora yang sedang berusaha memanjat kaki sofa Ankara. Arsen mendekati adiknya, lalu memberikan sebuah mainan *walkie-talkie* mati kepadanya.
"Baiklah, Agen Aurora. Kau lulus ujian hari ini. Mulai besok, kita pindah ke misi: **Operasi Ekstra Cokelat**," bisik Arsen.
Aurora menjawab dengan suara "Babababa!" yang terdengar seakan paham dengan ucapan kakaknya.
Ankara dan Arindi saling berpandangan, menyadari bahwa kehidupan mereka di masa depan tidak akan pernah membosankan. Dengan Arsen sebagai otak operasi dan Aurora sebagai agen pelaksana yang tak terduga, rumah Satya akan menjadi markas besar paling sibuk dan paling bahagia di dunia.
---
Bersambung....