Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. The Devil's Daughter
Suasana di kamar Arkano begitu sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang menyerupai hitungan mundur menuju maut. Kenzhi (8 tahun) berdiri diam di balik tirai balkon yang berat. Napasnya teratur, matanya yang tajam menatap bayangan yang bergerak di balik pintu kamar.
Pintu terbuka perlahan. Bi Inah, pelayan yang selama ini dipercaya untuk menyiapkan susu Arkano, masuk dengan langkah mengendap-endap. Di tangannya terdapat sebuah jarum suntik berisi cairan bening—obat penenang yang dosisnya cukup untuk membuat balita tertidur selama dua belas jam.
Bi Inah mendekati ranjang, melihat gundukan di bawah selimut yang ia pikir adalah Arkano. Saat ia hendak menyuntikkan jarum itu, sebuah suara dingin memecah keheningan.
"Arka tidak ada di sana, Bi."
Konfrontasi Sang Putri Kecil
Bi Inah tersentak hebat hingga jarum suntiknya jatuh ke lantai. Ia berbalik dan menemukan Kenzhi berdiri di tengah ruangan. Cahaya bulan dari balkon menyinari separuh wajah bocah 8 tahun itu, membuatnya tampak seperti malaikat maut kecil.
"N-nona Kenzhi? Kenapa belum tidur?" suara Bi Inah bergetar. Ia mencoba menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Aku sedang menunggu orang yang ingin menjual adikku," jawab Kenzhi datar. Ia melangkah maju, pisau perak pemberian Limario berkilat di tangan kanannya. "Siapa Tuan Besar yang memberimu telepon satelit itu, Bi? Katakan, dan mungkin Daddy tidak akan memotong lidahmu."
Bi Inah menyadari bahwa penyamarannya terbongkar. Wajah ramahnya menghilang, berganti dengan seringai licik. "Kau terlalu cerdas untuk anak seusiamu, Kenzhi. Tapi kau tetaplah bocah 8 tahun. Di mana adikmu?! Katakan, atau aku akan menyakitimu!"
Bi Inah menerjang ke arah Kenzhi. Namun, ia lupa satu hal: Kenzhi adalah putri kandung Limario Vincentius.
Kenzhi merunduk dengan kelincahan seorang penari balet, menghindari tangkapan Bi Inah. Saat pelayan itu kehilangan keseimbangan, Kenzhi mengayunkan pisaunya, menyayat pergelangan kaki Bi Inah dengan presisi yang ia pelajari dari mengamati latihan Hans.
"AGHHH!" Bi Inah tersungkur, memegangi kakinya yang mengucurkan darah.
Kenzhi tidak berhenti. Ia menekan tombol panik di dinding kamar. "Hans! Kamar Arka! Tangkap dia hidup-hidup!"
Kepulangan Sang Penguasa
Sementara itu, di bandara pribadi, jet Limario mendarat dengan kasar. Limario dan Jennie turun dari pesawat dengan aura yang begitu mencekam hingga para petugas bandara tidak berani menatap mata mereka.
Sepanjang perjalanan di mobil, Jennie terus menatap layar ponselnya, memantau rekaman CCTV mansion yang baru saja pulih. Hatinya hancur melihat Kenzhi harus berhadapan dengan pengkhianat di rumah mereka sendiri.
"Jika terjadi sesuatu pada anak-anak..." Jennie tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tangannya meremas koper perak dari Swiss itu dengan sangat kuat.
"Mereka aman, Jennie. Kenzhi adalah seorang Vincentius," ucap Limario, meskipun rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang meledak-ledak.
Sesampainya di mansion, Limario menendang pintu depan hingga terbuka. Ia langsung menuju kamar Arkano. Di sana, ia melihat Bi Inah sudah terkapar di lantai dengan tangan terikat oleh Hans, sementara Kenzhi duduk di kursi, menjaga pintu brankas tempat Arkano disembunyikan.
Kenzhi mendongak. Saat melihat ibunya, pertahanan "dingin" bocah 8 tahun itu akhirnya runtuh.
"Mummy!" Kenzhi berlari dan menghambur ke pelukan Jennie, menangis sesenggukan. "Aku takut... aku takut dia menemukan Arka..."
Jennie memeluk putrinya dengan erat, air matanya jatuh membasahi rambut Kenzhi. "Kau hebat, Sayang. Kau pahlawan kami. Maafkan Mummy karena meninggalkanmu."
Interogasi yang Mengerikan
Di ruang bawah tanah, Limario berdiri di depan Bi Inah yang sudah babak belur. Hans berdiri di sampingnya, memegang dokumen hasil pelacakan telepon satelit tersebut.
"Tuan Besar..." rintih Bi Inah. "Dia adalah orang yang memberikan dana untuk Proyek Chronos. Dia adalah orang yang membenci ayah Anda lebih dari Vasco."
Limario mencengkeram rahang Bi Inah. "Sebutkan namanya."
"Namanya... Reynard Choi Senior," bisik Bi Inah. "Ayah dari Choi Reynard yang kau hancurkan dulu. Dia juga seorang 'pengelana waktu' yang gagal, Limario. Dia kembali dari masa depan jauh sebelum Jennie, hanya untuk memastikan sejarah Vincentius berakhir dalam darah."
Jennie yang baru masuk ke ruangan itu bersama koper peraknya hampir terjatuh. Reynard Senior. Di kehidupan lalunya, pria itu meninggal secara misterius sebelum ia menikah dengan Reynard Muda. Ternyata, pria itu tidak mati; dia bersembunyi di balik bayang-bayang, memanipulasi segalanya.
"Dia tahu segalanya tentang data di koper itu, Jennie," ucap Limario pelan. "Data itu bukan hanya tentang memori... tapi tentang cara mengunci seseorang di satu garis waktu selamanya."
Tiba-tiba, suara tawa terdengar dari interkom penjara bawah tanah itu. Sebuah suara yang sangat familiar, namun terdengar jauh lebih tua dan berat.
"Selamat datang kembali, Jennie Ruby Jane. Terima kasih sudah membawa 'Kunci' itu ke korea. Sekarang, mari kita lihat siapa yang akan bertahan saat aku menghapus hari kelahiran Arkano dari sejarah."
Sumpah Sang Pewaris
Suasana di ruang bawah tanah itu mendadak mencekam setelah suara Reynard Senior menghilang dari interkom. Limario segera memerintahkan Hans untuk melacak sinyal suara tersebut, namun hasilnya nihil—sinyal itu berasal dari enkripsi yang terlalu canggih, seolah-olah dikirim dari masa yang berbeda.
Di lantai atas, Jennie masih memeluk Kenzhi dengan protektif. Ia bisa merasakan tubuh putri kecilnya itu sedikit gemetar, namun pegangan tangan Kenzhi pada pisau peraknya sama sekali tidak mengendur.
Trauma dan Kekuatan
"Kenzhi, Sayang... berikan pisaunya pada Mummy," bisik Jennie lembut sambil mencoba mengambil senjata tajam itu dari tangan putrinya.
Kenzhi menggeleng pelan. Matanya yang sembab menatap Jennie dengan sorot yang sangat dalam. "Tidak, Mummy. Jika aku melepaskannya, siapa yang akan menjaga Arka saat Mummy dan Daddy pergi lagi? Bi Inah bilang... Arka akan dibawa pergi. Aku tidak akan membiarkannya."
Limario masuk ke ruangan itu, wajahnya yang tadinya beringas perlahan melunak saat melihat putri sulungnya. Ia berlutut di depan Kenzhi, menyejajarkan tingginya dengan bocah delapan tahun itu.
"Kenzhi," panggil Limario dengan suara rendah namun berwibawa. "Seorang Vincentius tidak memegang senjata karena mereka takut. Mereka memegangnya karena mereka tahu kapan harus menggunakannya. Kau sudah menggunakannya dengan benar malam ini. Sekarang, istirahatlah. Biarkan Daddy yang memburu sisanya."
Kenzhi menatap ayahnya lama, mencari kepastian di mata Limario. Akhirnya, ia perlahan melepaskan pisau itu ke tangan Limario. "Janji, Daddy? Jangan biarkan orang itu menyentuh Arka."
"Aku bersumpah dengan nyawaku," jawab Limario tegas.
Misteri Proyek Chronos
Setelah anak-anak tertidur di bawah penjagaan ketat tim elit, Jennie dan Limario berkumpul di ruang kerja rahasia. Koper perak dari Swiss itu terbuka di atas meja, memancarkan cahaya biru redup dari drive memori yang sedang diproses.
"Lim, apa yang dikatakan Bi Inah tadi... tentang menghapus hari kelahiran Arkano. Apa itu mungkin?" tanya Jennie dengan suara bergetar.
Limario memutar sebuah skema digital yang muncul dari data koper tersebut. "Data ini menjelaskan bahwa Proyek Chronos menggunakan 'anomali kesadaran'. Kau adalah anomali itu, Jennie. Kehadiranmu di sini mengubah garis waktu yang seharusnya."
Ia menunjuk pada sebuah grafik yang menunjukkan titik-titik koordinat waktu.
"Reynard Senior ingin menggunakan alat yang mereka sebut 'The Eraser'. Jika dia bisa memicu ledakan energi di titik koordinat di mana kau seharusnya 'mati' di kehidupan lama, maka semua yang terjadi setelah kau kembali akan dianggap sebagai kesalahan sejarah dan terhapus. Termasuk Arkano."
Jennie menutup mulutnya, air mata mengalir deras. "Jadi, Arka adalah target utama karena dia adalah bukti nyata bahwa sejarah telah berubah?"
"Benar," jawab Limario, rahangnya mengeras. "Dia ingin membunuh anak kita dengan cara menghapus keberadaannya dari dunia ini."
Langkah Pertama Reynard Senior
Tiba-tiba, lampu di seluruh mansion berkedip hebat. Suhu udara di ruangan itu turun drastis hingga napas mereka beruap. Jennie merasakan pusing yang luar biasa, seolah-olah dunianya sedang ditarik secara paksa.
"Lim! Kepalaku..." Jennie mencengkeram lengan Limario.
Saat ia membuka mata, Jennie melihat sesuatu yang mengerikan. Di sudut ruangan, bayangan Arkano yang sedang tertidur di dalam monitor bayi mulai memudar, menjadi transparan, lalu muncul kembali.
"Efeknya sudah dimulai," desis Limario. Ia segera menyambar ponselnya. "Hans! Perketat keamanan di kamar anak-anak! Jangan lepaskan pandangan dari Arkano walau sedetik pun!"
Di layar monitor, Kenzhi yang ternyata tidak benar-benar tidur, duduk tegak di samping Arkano. Ia seolah merasakan kehadiran sesuatu yang tidak kasat mata. Kenzhi menggenggam tangan kecil adiknya yang mulai terlihat samar itu.
"Aku di sini, Arka. Aku tidak akan membiarkanmu pergi," bisik Kenzhi di dalam layar monitor, suaranya terdengar sangat yakin hingga membuat Jennie merinding.
Perang Melawan Waktu
Reynard Senior muncul secara fisik di hadapan Jennie di sebuah lokasi yang sangat emosional: gudang tua tempat Jennie meninggal di kehidupan pertamanya. Jennie harus memilih antara menyerahkan "Kunci" dari Swiss atau melihat Arkano menghilang selamanya. Sementara itu, Kenzhi menyadari bahwa ia memiliki kemampuan unik untuk "melihat" gangguan waktu yang tidak bisa dilihat orang dewasa.