NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 tarian pedang api feniks dan pelukan di tengah badai darah

Langit di atas Makam Bintang Agung tidak lagi berwarna biru atau kelabu. Langit itu kini berwarna perak—warna dari ribuan pedang yang melayang, berdengung seperti kawanan lebah raksasa yang haus darah.

Di bawah naungan awan logam itu, Xing Shenyuan berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Jubahnya berkibar pelan, kontras dengan kekacauan yang terjadi di hadapannya.

"Turun," perintahnya lirih.

Satu kata itu bagaikan titah kaisar bagi ribuan pedang tersebut.

Wussss!

Hujan baja dimulai. Bukan hujan air, melainkan hujan ribuan pedang pusaka yang dikendalikan oleh Hati Pedang Tanpa Cela. Pedang-pedang itu tidak jatuh sembarangan; mereka memiliki mata, mengincar setiap kultivator dari Aliansi Pembantai Iblis yang berani melangkah melewati batas lembah.

Jeritan kesakitan membahana. Formasi pertahanan Sekte Awan Guntur hancur dalam hitungan detik. Perisai Qi mereka ditembus semudah menusuk kertas basah.

"Tahan! Jangan panik! Bentuk formasi Kura-kura Besi!" teriak Lei Batian, Master Sekte Awan Guntur. Tubuhnya diselimuti petir ungu, mencoba menangkis puluhan pedang yang mengincarnya sekaligus.

Namun, di tengah pembantaian sepihak ini, Shenyuan tidak melihat ke arah para master sekte. Matanya tertuju pada sudut medan perang yang lain, di mana murid kecilnya sedang berjuang.

[Momen Intim: Lin Xiaoyue]

Lin Xiaoyue terpojok di dekat sebuah nisan raksasa yang retak. Tiga murid elit Sekte Pedang Langit, semuanya berada di Ranah Pembentukan Pondasi Tahap Akhir, mengepungnya.

"Gadis kecil, salahkan nasibmu karena mengikuti pangeran sampah itu!" salah satu murid menyeringai, pedangnya dialiri energi angin yang tajam.

Xiaoyue terengah-engah. Api biru di tangannya mulai meredup karena kelelahan. Dia baru saja membangkitkan garis darahnya; kontrolnya masih kasar.

"Aku tidak akan menyerah!" teriak Xiaoyue, memaksakan semburan api terakhir.

Namun, musuhnya terlalu cepat. Sebuah pedang melesat menuju bahu kirinya. Xiaoyue memejamkan mata, siap menerima rasa sakit.

Clang!

Suara logam beradu terdengar tepat di depan wajahnya. Xiaoyue membuka mata dan terbelalak.

Xing Shenyuan sudah berdiri di sana. Dia tidak menangkis pedang itu dengan senjata, melainkan menahan bilah pedang tajam itu hanya dengan menjepitnya menggunakan dua jari—telunjuk dan tengah.

"Guru..." bisik Xiaoyue, matanya berkaca-kaca.

Shenyuan tidak menoleh ke musuh. Dia justru berbalik menghadap Xiaoyue, memunggungi lawannya seolah-olah musuh itu tidak ada harganya.

"Posturmu salah, Xiaoyue," ucap Shenyuan lembut. Dia mengabaikan murid sekte yang sedang berusaha menarik pedangnya dari jepitan jari Shenyuan dengan wajah merah padam.

Shenyuan melangkah maju, mempersempit jarak dengan Xiaoyue hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. Dia meletakkan satu tangannya di pinggang ramping gadis itu, dan tangan lainnya memegang pergelangan tangan Xiaoyue yang sedang mengeluarkan api.

"Rilekskan pinggangmu," bisik Shenyuan tepat di telinga Xiaoyue. Hembusan napas hangatnya membuat gadis itu merinding, wajahnya memerah padam di tengah medan perang. "Api Feniks bukan tentang ledakan amarah, tapi tentang aliran kehidupan yang membakar kotoran."

"T-tapi musuh di belakang Guru..." gagap Xiaoyue, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena kedekatan fisik yang tiba-tiba ini. Aroma tubuh Shenyuan yang maskulin bercampur dengan wangi Qi murni membuatnya pusing.

"Fokus padaku," perintah Shenyuan tegas namun sensual.

Dengan satu gerakan halus, Shenyuan memutar tubuh Xiaoyue dalam pelukannya. Tangan Shenyuan yang kokoh di pinggang gadis itu membimbing gerakannya seperti sebuah tarian.

"Sekarang... bakar."

Mengikuti bimbingan Shenyuan, Xiaoyue melepaskan Qi-nya. Kali ini, api biru itu tidak meledak liar, melainkan meluncur membentuk spiral yang indah dan mematikan.

Fwoosh!

Api itu melahap ketiga murid sekte yang terpaku melihat pemandangan absurd itu. Mereka bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuh mereka berubah menjadi abu, diterbangkan angin.

Shenyuan masih memeluk pinggang Xiaoyue dari belakang, dagunya sedikit menyentuh bahu gadis itu. "Lihat? Indah, bukan?"

Xiaoyue lemas di pelukan gurunya. Kakinya gemetar. "I-iya, Guru."

Shenyuan melepaskan pelukannya perlahan, meninggalkan rasa kehilangan yang aneh di hati Xiaoyue. "Bagus. Bertahanlah hidup. Hadiahmu menanti nanti malam."

Sementara itu, di pusat pertempuran, situasi semakin kacau.

Melihat murid-muridnya dibantai, Jian Wushuang (Master Sekte Pedang Langit) kehilangan ketenangannya.

"Xing Shenyuan! Kau iblis! Hari ini aku akan mengorbankan umurku untuk membunuhmu!"

Jian Wushuang menggigit ujung lidahnya, menyemburkan esensi darah ke pedang pusakanya. Aura pedangnya melonjak drastis, mencapai ambang batas Ranah Transformasi Roh.

"Teknik Terlarang: Pengorbanan Pedang Darah!"

Pedang raksasa berwarna merah darah terbentuk di langit, membelah awan pedang milik Shenyuan. Tekanan udara menjadi sangat berat, membuat tanah retak.

Di sisi lain, Tetua Yao Chen dari Balai Pengobatan Surgawi melihat kesempatan dalam kesempitan. Dia menyadari bahwa serangan Jian Wushuang akan menciptakan celah. Namun, dia juga menyadari sesuatu yang lebih penting: Su Yan, Saintess sektenya, tidak menyerang Shenyuan sama sekali. Wanita itu justru diam-diam menaburkan bubuk penetral racun di sekitar area pertahanan Shenyuan.

"Dasar pelacur pengkhianat!" teriak Yao Chen. Wajah keriputnya berubah bengis.

Yao Chen melesat ke arah Su Yan. Tangannya yang keriput berubah menjadi cakar hijau beracun, mencengkeram leher jenjang Su Yan sebelum wanita itu sempat bereaksi.

"Uggh!" Su Yan tercekik, tubuhnya diangkat ke udara.

"Xing Shenyuan!" teriak Yao Chen, suaranya melengking. "Berhenti menyerang atau Saintess kesayanganmu ini akan mati! Racun Cakar Hantu Hijau milikku akan melelehkan wajah cantiknya dalam tiga detik!"

Pertempuran seketika hening. Pedang darah raksasa Jian Wushuang masih melayang di langit, siap jatuh. Lei Batian menyeringai licik.

Shenyuan menghentikan langkahnya. Dia menatap Su Yan yang sedang meronta, wajah cantiknya mulai memucat kebiruan.

"Kau mengancamku dengan barang milikku?" tanya Shenyuan. Suaranya datar, namun suhu di seluruh lembah turun drastis hingga titik beku.

"Barang milikmu? Dia adalah Saintess sektoku!" bentak Yao Chen. "Menyerahlah! Hancurkan Dantian-mu sendiri, atau dia mati!"

Su Yan, dengan sisa napasnya, menatap Shenyuan. Matanya memancarkan pesan: Jangan pedulikan aku. Bunuh mereka.

Shenyuan tersenyum. Senyum yang membuat Yao Chen merasa seperti sedang menatap lubang neraka.

"Kalian pikir jarak lima puluh meter cukup untuk menghentikanku?"

Shenyuan menghilang.

Tidak ada suara angin. Tidak ada bayangan. Dia benar-benar lenyap dari persepsi ruang.

Detik berikutnya, Yao Chen merasakan hawa dingin di belakang lehernya. Sebelum otaknya sempat memproses rasa takut, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya yang sedang memegang leher Su Yan.

Krak!

"ARGGHHH!"

Tulang tangan Yao Chen hancur menjadi bubuk. Su Yan terlepas, jatuh lunglai.

Namun, dia tidak jatuh ke tanah keras. Sepasang lengan kekar menangkapnya sebelum dia menyentuh debu.

[Momen Intim: Su Yan]

Shenyuan menangkap Su Yan dengan gaya bridal style (menggendong ala pengantin). Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

Su Yan bisa melihat detail bulu mata Shenyuan, dan yang lebih penting, tatapan dominan di mata pemuda itu yang seolah berkata, 'Kau aman sekarang'.

"T-Tuan..." Su Yan terbatuk, lehernya masih terasa sakit.

"Diam," potong Shenyuan lembut.

Dia tidak segera menurunkan Su Yan. Sebaliknya, di tengah kepungan musuh, Shenyuan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke leher Su Yan yang memar.

Su Yan menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Apa yang dia lakukan? Di depan semua orang?

Shenyuan meniup pelan memar di leher Su Yan. Hembusan napasnya mengandung Qi murni yang hangat dan menenangkan. Sensasi geli dan nyaman menjalar dari leher ke seluruh tubuh Su Yan, membuat kakinya lemas.

"Kulitmu terlalu mulus untuk dirusak oleh tangan tua yang kotor," bisik Shenyuan, suaranya berat dan rendah, hanya bisa didengar oleh Su Yan.

Pipi Su Yan memerah padam seperti kepiting rebus. Sebagai Saintess yang selalu menjaga jarak dari pria, perlakuan intim dan protektif seperti ini meruntuhkan dinding pertahanannya. Dia secara tidak sadar melingkarkan lengannya ke leher Shenyuan, mencari perlindungan di dada bidang pemuda itu.

"Tetaplah di pelukanku," kata Shenyuan. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke Yao Chen yang sedang meraung kesakitan memegangi tangannya yang buntung.

"Kau menyentuh wanitaku dengan tangan kotormu. Maka, tangan itu tidak perlu ada lagi," ucap Shenyuan dingin.

Dengan Su Yan masih dalam gendongannya, Shenyuan mengangkat kaki kanannya dan menghentakkan tanah.

Boom!

Gelombang kejut Qi Kekacauan meledak.

Yao Chen terpental. Tubuhnya menghantam tebing batu hingga tulangnya remuk. Dia memuntahkan darah segar bercampur pecahan organ dalam.

"Sekarang giliranmu, Jian Wushuang," Shenyuan mendongak menatap pedang darah raksasa di langit.

"MATI KAU, ANJING!" teriak Jian Wushuang, menjatuhkan pedang raksasa itu.

Shenyuan hanya menyeringai. Dia mempererat pelukannya pada Su Yan, seolah menantang dunia untuk mencoba melukai wanita di tangannya.

"Pegang erat-erat, Sayang. Ini akan sedikit berguncang," bisik Shenyuan pada Su Yan.

Su Yan membenamkan wajahnya di dada Shenyuan, menghirup aroma maskulinnya dalam-dalam, menyerahkan nyawanya sepenuhnya pada pria ini.

Shenyuan mengangkat satu tangan ke langit.

"Formasi Eksekusi Dewa Pedang: Seribu Pedang Menjadi Satu."

Ribuan pedang yang melayang di udara tiba-tiba menyatu, memadat, dan membentuk sebuah pedang cahaya emas raksasa yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari pedang darah Jian Wushuang.

Crash!

Pedang emas itu menghantam pedang darah. Tidak ada ledakan. Pedang emas itu membelah pedang darah Jian Wushuang seperti pisau panas memotong mentega.

Pedang darah itu hancur. Pedang emas terus melaju, menghantam Jian Wushuang.

"TIDAKKK!"

Tubuh Jian Wushuang terseret energi pedang, menabrak gunung di belakangnya hingga puncak gunung itu runtuh.

Lei Batian, yang melihat dua rekannya hancur dalam sekejap, kehilangan nyalinya. "Monster! Dia monster!"

Lei Batian berbalik, berubah menjadi kilatan petir untuk melarikan diri.

"Mau lari?" Shenyuan mendengus. "Tinggalkan sesuatu sebagai kenang-kenangan."

Dia menjentikkan jarinya. Sebilah pedang terbang melesat mengejar kilatan petir itu.

Jleb!

"ARGHHH!"

Pedang itu menembus paha Lei Batian, memutus satu kakinya. Namun, dengan membakar sisa darahnya, Lei Batian berhasil melarikan diri dengan tubuh cacat, meninggalkan potongan kakinya di tanah makam.

Pertempuran berakhir.

Medan perang sunyi senyap. Mayat-mayat berserakan. Ribuan patung terakota kembali membeku menjadi batu.

Shenyuan perlahan menurunkan Su Yan. Wanita itu masih tampak daze (linglung), wajahnya merah dan napasnya tidak teratur. Sensasi berada di pelukan Shenyuan saat pria itu menghancurkan para master sekte adalah afrodisiak yang luar biasa bagi kultivator wanita yang memuja kekuatan.

Lin Xiaoyue berlari mendekat, wajahnya juga merah padam setelah melihat adegan "heroik dan romantis" tadi. Ada sedikit rasa cemburu di matanya, tapi lebih besar rasa kagumnya.

"Guru! Tuan!" Xiaoyue membungkuk.

Shenyuan menatap kedua wanita di hadapannya. Jubahnya sedikit kotor oleh debu, tapi auranya semakin agung.

"Su Yan," panggil Shenyuan.

"Y-ya, Tuan?" Su Yan merapikan rambutnya dengan gugup.

"Obati lukamu. Dan obati luka Xiaoyue. Malam ini, datang ke gubukku. Aku perlu bantuan kalian untuk menstabilkan Qi yang bergejolak di tubuhku setelah menggunakan teknik tingkat tinggi," ucap Shenyuan dengan nada yang ambigu.

Mata Su Yan dan Xiaoyue membelalak. Menstabilkan Qi? Biasanya itu melibatkan transfer energi melalui kontak fisik langsung atau meditasi ganda (Dual Cultivation) ringan.

"B-baik, Tuan," jawab mereka hampir bersamaan.

Shenyuan berbalik, berjalan menuju gubuknya yang berdiri kokoh di tengah kehancuran. Dia menyeringai tipis. Sebenarnya, Qi-nya sangat stabil. Dia hanya ingin menikmati 'layanan' dari dua murid cantiknya sebagai hadiah kemenangan.

Malam harinya, di dalam gubuk kayu yang hangat.

Suasana di dalam gubuk terasa hening namun penuh tegangan. Lampu minyak berkelip pelan.

Shenyuan duduk bersila di atas dipan, bertelanjang dada. Tubuhnya yang atletis terpahat sempurna, dengan garis-garis otot yang keras namun elegan. Kulitnya memancarkan cahaya keemasan samar.

Su Yan dan Lin Xiaoyue duduk di belakangnya.

"Mulailah," perintah Shenyuan.

Tangan halus Su Yan menyentuh punggung kanan Shenyuan, sementara tangan kecil Xiaoyue menyentuh punggung kirinya.

"Tekan titik meridian Mingmen dan alirkan Qi Yin kalian secara perlahan," instruksi Shenyuan.

Saat kedua wanita itu mulai mengalirkan energi mereka, Shenyuan mengerang pelan—suara yang membuat kedua wanita di belakangnya menahan napas.

"Tuan... apakah tekanannya pas?" tanya Su Yan lembut, jarinya menelusuri otot punggung Shenyuan dengan gerakan yang sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Dia menikmati tekstur kulit pria yang telah menyelamatkannya itu.

"Sedikit lebih kuat di bagian bahu, Su Yan," jawab Shenyuan. "Dan Xiaoyue, jangan ragu-ragu. Qi apimu hangat, aku menyukainya."

Xiaoyue menggigit bibirnya, wajahnya semerah tomat. Dia memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya lebih luas di punggung gurunya. "B-baik, Guru."

Malam itu, di tengah makam yang dingin dan penuh mayat musuh, di dalam gubuk kecil itu, terjalin kehangatan yang intim antara satu pria dan dua wanita luar biasa. Mereka bukan hanya menyembuhkan fisik, tapi juga menyatukan jiwa mereka dalam ikatan yang tak terucapkan.

Di luar, bulan purnama bersinar terang, menjadi saksi bisu kebangkitan seorang Kaisar dan haremnya yang akan mengguncang dunia.

Aliansi Pembantai Iblis telah hancur. Namun, Shenyuan tahu, ini baru permulaan. Kabar tentang kekalahan memalukan ini akan sampai ke telinga Kekaisaran Pusat dan entitas yang lebih tua.

"Biarkan mereka datang," batin Shenyuan sambil menikmati sentuhan lembut di punggungnya. "Aku akan menaklukkan mereka semua. Satu per satu."

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!