Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta
Semester baru dimulai dengan segala dinamikanya. Bima berhasil menstabilkan IPK-nya di angka 3,6—belum kembali ke 4,0, tapi cukup untuk membuat beasiswanya tidak dipotong lebih parah. Ia mengurangi jam narik ojek, hanya weekend dan malam minggu. Waktu luangnya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan atau kos untuk belajar.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah: Tasya.
Gadis itu muncul seperti hantu yang tidak pernah bisa diusir. Setelah kejadian gosip, Tasya memang menghentikan penyebaran fitnah, tapi bukan berarti ia menyerah. Ia mengubah strategi—dari agresif menjadi "teman yang perhatian".
Hari itu, Kay memutuskan untuk menjemput Bima setelah kelas praktikum. Ia ingin memberi kejutan—makan siang bersama di tempat favorit Bima, warteg Bu Tini. Tapi saat tiba di depan laboratorium komputer, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya berhenti.
Tasya berdiri di samping Bima, tertawa lebar atas sesuatu. Bima tidak tertawa, tapi ia tidak pergi. Tasya memegang lengan Bima sebentar—mungkin hanya untuk menarik perhatian, mungkin sengaja—dan Bima tidak menarik tangannya.
Kay membeku di tempat. Tasya melihatnya dari kejauhan, dan untuk sesaat, senyumnya melebar—senyum kemenangan. Ia lalu melambai pada Kay dengan manis.
"Kay! Sini gabung!" seru Tasya.
Bima menoleh, melihat Kay. Ekspresinya tetap datar, tapi ada sedikit keterkejutan di matanya.
Kay berjalan mendekat dengan langkah kaku. "Gue jemput lo," katanya pada Bima, suaranya berusaha tenang.
"Iya. Ini baru selesai praktikum," jawab Bima.
Tasya menyela, "Bim tadi bantuin gue lho. Gue nggak ngerti materi stack, dia jelasin dengan sabar banget. Makasih ya, Bim!"
Bima mengangguk. "Iya."
Kay merasakan dadanya panas. Sabar? Bima yang biasanya menjawab dengan dua kata, bisa "sabar" menjelaskan pada Tasya?
"Lo mau makan?" tanya Kay pada Bima, mencoba fokus.
"Iya. Gue laper."
Tasya langsung menimpali, "Gue juga laper! Boleh ikut? Gue traktir deh sebagai ucapan terima kasih."
Kay ingin menolak, tapi Bima sudah menjawab, "Terserah."
Terserah. Kata itu seperti pisau di hati Kay.
---
Di warteg Bu Tini, mereka duduk bertiga di meja kayu panjang. Tasya duduk di seberang Bima, Kay di samping Bima. Tasya mengoceh tanpa henti—tentang praktikum, tentang dosen, tentang rencana liburan. Bima sesekali mengangguk atau menjawab singkat. Tapi ia tetap di sana. Tidak pergi.
Kay memainkan nasinya tanpa selera. Setiap kali Tasya tertawa dan Bima hanya diam, Kay merasa ada yang menggerogoti dadanya. Ia tahu Bima cuek, tahu Bima tidak merespons Tasya secara romantis. Tapi kenapa Bima tidak pergi? Kenapa ia tetap ada di sana?
"Kay, lo kok diem aja?" tanya Tasya tiba-tiba. "Makanannya nggak enak?"
Kay tersenyum tipis—senyum palsu. "Enak. Gue lagi nggak laper aja."
Bima menoleh, menatap Kay dengan pandangan bertanya. Tapi Kay menghindari matanya.
Setelah makan, Tasya pamit pulang. "Makasih ya, Bim! Makasih, Kay! Sampai ketemu besok di kampus!"
Begitu Tasya pergi, Kay langsung berdiri. "Gue pulang."
Bima mengerutkan kening. "Lo baru datang."
"Gue nggak enak badan."
"Kay."
Tapi Kay sudah berjalan menuju mobilnya. Bima mengikuti, meraih tangannya.
"Ada apa?" tanya Bima.
Kay menatapnya. Matanya berkaca-berkaca. "Lo nggak lihat?"
"Lihat apa?"
"Tasya! Dia terus nempel sama lo! Dan lo diem aja!"
Bima terdiam. Ekspresinya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya—kebingungan.
"Dia minta bantuan. Gue bantu."
"Setiap hari? Setiap minggu? Lo nggak lihat dia punya maksud lain?"
"Maksud apa?"
Kay frustrasi. "Bima, lo tuh nggak peka atau pura-pura nggak tahu? Tasya suka sama lo! Dia sengaja nyari alasan buat deket! Dan lo biarin!"
Bima menghela napas. "Gue nggak bisa kasar sama orang."
"Bukan kasar! Tapi kasih batasan!"
"Apa yang harus gue lakuin? Usir dia?"
"Bilang aja lo nggak bisa bantu! Atau bilang lo sibuk! Atau apa gitu!"
Bima diam. Kay menatapnya, menunggu respons. Tapi Bima hanya diam.
"Lo nggak ngerti perasaan gue, ya?" suara Kay bergetar.
"Gue liat lo sama dia, gue liat dia pegang lengan lo, gue liat dia tertawa dan lo di situ—dan gue rasanya pengen teriak."
Bima menghela napas panjang. "Kay, gue nggak ngapa-ngapain."
"Itu masalahnya! Lo nggak ngapa-ngapain! Sementara dia terus bergerak!"
"Jadi lo mau gue ngapa-apain?"
Pertanyaan Bima terdengar datar, tapi Kay menangkap nada frustrasi di dalamnya. Ia tahu Bima sedang berusaha mengerti, tapi cara Bima yang selalu tenang dan tidak ekspresif justru membuatnya semakin marah.
"Gue nggak tahu! Tapi yang jelas, gue nggak suka liat lo sama dia!"
Bima menatapnya lama. "Lo nggak percaya sama gue?"
Pertanyaan itu menusuk. Kay membuka mulut, menutupnya, lalu membuka lagi. "Gue percaya sama lo. Tapi gue nggak percaya sama dia!"
"Terus?"
Kay tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya merasa dadanya sesak, matanya panas, dan semua kata seolah menguap.
"Gue pulang dulu," bisiknya akhirnya.
Ia menyalakan mobilnya dan pergi, meninggalkan Bima yang berdiri terpaku di pinggir jalan.
---
Dua hari berlalu tanpa kabar dari Kay. Bima mengirim pesan, hanya dibaca. Ia menelepon, tidak diangkat. Ia datang ke rumah Kay, Bi Inem bilang Kay tidak mau diganggu.
Mika datang ke kos Bima dengan wajah khawatir. "Bim, gue dengar lo dan Kay bertengkar."
Bima mengangguk lesu. "Gue nggak ngerti kenapa dia marah."
Mika duduk di lantai—sudah biasa. "Ceritain dari awal."
Bima menceritakan semuanya—Tasya yang terus minta bantuan, pertemuan di lab, makan siang bersama, sampai pertengkaran di pinggir jalan. Mika mendengarkan dengan seksama.
"Bim, lo tahu Tasya suka sama lo, kan?" tanya Mika.
"Gue tahu."
"Terus kenapa lo masih biarin dia deket?"
Bima menghela napas. "Gue nggak tahu cara nolak tanpa kasar. Lagian, dia cuma minta bantuan tugas. Kalo gue tolak, gue kelihatan sombong."
Mika menggeleng-geleng. "Bim, ada bedanya antara sombong dan menjaga batasan. Lo punya pacar. Lo harus kasih batasan jelas sama orang yang punya niat buruk."
Bima diam. Mika melanjutkan.
"Gue tahu lo nggak terbiasa punya hubungan. Tapi percaya sama gue, Kay tuh bukan cemburu buta. Dia cemburu karena dia sayang. Dan dia lihat sesuatu yang lo nggak lihat—bahaya."
"Tapi gue nggak akan ninggalin dia."
"Dia tahu. Tapi otak perempuan itu rumit, Bim. Kadang kita tahu sesuatu secara logika, tapi hati tetap sakit. Lo lihat Tasya pegang lengan lo? Kay lihat itu. Lo nggak merasa apa-apa, tapi dia merasa dunianya goyang."
Bima mengusap wajahnya. "Gue harus ngapain?"
Mika tersenyum. "Pertama, ngomong sama Kay. Tapi jangan kayak lo lagi ngomong sama dosen. Ngomong dari hati. Kedua, mulai kasih batasan sama Tasya. Bantu dia kalo perlu, tapi jangan sampe Kay merasa nomor dua."
Bima mengangguk pelan.
---
Sementara itu, di kamarnya, Kay berguling-guling di tempat tidur dengan mata bengkak. Ia sudah dua hari tidak masuk kuliah, hanya mengirim tugas lewat Mika. Lydia yang khawatir sampai memanggil dokter ke rumah.
"Nak, Mama tahu kamu sedih. Tapi nggak makan dua hari? Itu keterlaluan," tegur Lydia sambil duduk di tepi tempat tidur.
Kay tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit.
"Cerita sama Mama. Ini tentang Bima?"
Kay mengangguk pelan.
Lydia menghela napas. "Dia selingkuh?"
"Bukan, Ma. Dia... dia nggak ngerti perasaan aku."
Lydia menatap putrinya dengan iba. "Cerita."
Kay akhirnya menumpahkan semuanya—Tasya, Bima yang cuek, pertengkaran mereka. Lydia mendengarkan tanpa memotong.
"Nak," kata Lydia setelah Kay selesai. "Mama nggak akan bilang 'udah mama bilang' atau 'mending pilih Rendra'. Tapi Mama mau tanya: kami sayang Bima?"
Kay mengangguk.
"Dia sayang kamu?"
"Iya, Ma. Tapi—"
"Tapi dia nggak peka. Dia nggak ngerti cara nunjukin rasa sayang dengan cara yang kamu ngerti." Lydia tersenyum lembut. "Nak, dulu Papa juga begitu. Diam, cuek, nggak romantis. Tapi di setiap tindakannya, dia selalu ada buat Mama. Sampai akhirnya..."
Lydia berhenti, matanya berkaca-kaca. Kay tahu ibunya sedang mengingat perceraian yang pahit itu.
"Intinya, Nak. Kalo kamu yakin dia sayang, kamu harus sabar. Laki-laki kayak Bima butuh waktu buat belajar. Tapi kamu juga harus ngomong baik-baik, bukan marah-marah."
Kay memeluk ibunya. "Makasih, Ma."
---
Malam harinya, Bima datang ke rumah Kay. Bi Inem membukakan pintu dengan senyum lega.
"Akhirnya datang, Mas. Nak Kay dari kemarin nggak mau makan."
Bima mengangguk, lalu masuk. Ia mengetuk pintu kamar Kay.
"Kay, ini gue. Buka."
Hening.
"Kay, please. Gue mau ngomong."
Masih hening. Tapi Bima mendengar suara isak tangis di balik pintu. Ia duduk di lantai, bersandar di pintu—persis seperti yang Kay lakukan waktu itu.
"Gue akan ngomong dari sini kalo lo nggak mau buka," katanya. "Gue tahu lo marah. Lo punya alasan. Dan gue... gue minta maaf."
Isak tangis di dalam berhenti sebentar. Bima melanjutkan.
"Gue nggak ngerti cara jadi pacar yang baik. Gue nggak tahu kapan harus cemburu, kapan harus jagain batasan. Tapi gue tahu satu hal: gue sayang lo. Dan gue nggak mau kehilangan lo."
Pintu terbuka. Kay berdiri dengan mata sembab, rambut acak-acakan, memakai piyama lusuh. Bima belum pernah melihatnya sekusut ini, dan hatinya mencelos.
"Masuk," bisik Kay.
Bima masuk. Mereka duduk di lantai kamar Kay—berhadapan, seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu.
"Maaf," ucap Bima. "Gue nggak ngerti perasaan lo."
Kay menarik napas. "Gue juga minta maaf. Seharusnya gue ngomong baik-baik, bukan marah-marah."
"Lo berhak marah."
"Tapi bukan kayak gitu caranya."
Mereka diam beberapa saat. Kay memulai lagi.
"Bim, waktu gue liat Tasya pegang lo, gue rasanya... hancur. Bukan karena gue nggak percaya lo. Tapi karena gue tahu dia mau apa. Dan lo di situ, diem aja, kayak nggak ngerasain apa-apa."
Bima mengangguk. "Gue nggak ngerasain apa-apa."
"Itu masalahnya!" Kay hampir berteriak, tapi menahan. "Maksud gue, lo nggak ngerasain apa-apa, tapi gue ngerasain semuanya. Lo nggak lihat dia bahaya, tapi gue lihat. Dan lo nggak lakuin apa-apa buat jaga diri lo dari dia."
Bima merenung. "Jadi... lo mau gue jaga jarak sama Tasya?"
"Bukan jaga jarak. Tapi kasih batasan yang jelas. Bantu dia kalo perlu, tapi jangan sampe ada momen-momen 'kebersamaan' yang nggak perlu. Kalo dia minta bantuan, kasih lewat chat. Jangan ketemuan. Kalo terpaksa ketemu, ajak gue. Atau minimal, kasih tahu gue."
Bima mengangguk. "Gue bisa lakuin itu."
"Dan satu lagi." Kay menatap matanya. "Kalo ada yang ganggu hubungan kita, lo harus ngomong sama gue. Jangan diem aja."
"Gue janji."
Kay tersenyum—pertama kalinya dalam tiga hari. Bima meraih tangannya.
"Lo udah makan?" tanya Bima.
"Belum."
Bima berdiri, menarik Kay. "Ayo. Gue masakin indomie."
Kay terbelalak. "Lo bisa masak?"
"Indomie. Tinggal rebus."
Kay tertawa. "Ya ampun, romantis banget."
Bima mengangkat bahu. "Gue nggak romantis. Tapi gue bisa rebus mie."
Mereka turun ke dapur. Bi Inem yang melihat mereka bergandengan tangan tersenyum lega, lalu sengaja pergi ke belakang memberi mereka ruang.
Bima memasak indomie dengan serius—seperti sedang mengerjakan tugas akhir. Kay duduk di meja dapur, menatapnya dengan hati hangat.
"Bim."
"Hm?"
"Gue sayang lo."
Bima menoleh. Wajahnya datar, tapi matanya lembut. "Gue juga."
"Bilang 'gue sayang lo' dong. Lengkap."
Bima menghela napas. "Kay..."
"Coba. Gue tunggu."
Bima mengambil napas dalam. "Gue... sayang... lo."
Kata-katanya keluar patah-patah, seperti robot kehabisan baterai. Kay tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, Bima! Masa ngomong sayang aja kayak lagi ujian!"
Bima cemberut—ekspresi langka yang membuat Kay semakin tergelak. "Susah."
"Iya, gue tahu. Makasih udah mau belajar."
Bima kembali ke indomie-nya, bergumam, "Cewek ribet."
Kay mendengar dan tersenyum. "Tapi lo tetap sayang."
Bima tidak menjawab, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Itu sudah cukup.
---
Malam itu, mereka makan indomie bersama di meja dapur rumah mewah Kay. Sederhana, hangat, dan penuh tawa. Bi Inem mengintip dari balik pintu, lalu mengusap air mata haru.
"Kay," kata Bima setelah selesai makan.
"Apa?"
"Besok gue bakal ngomong sama Tasya. Kasih batasan."
Kay mengangguk. "Lo nggak usah keras-keras. Cukup bilang lo sibuk atau ada gue."
"Iya."
"Dan kalo dia mulai macam-macam lagi, kabarin gue."
"Iya, Bu."
Kay mencubit lengannya. "Jangan panggil Bu!"
Bima tersenyum tipis. "Iya, Sayang."
Kay terperanjat. "Lo bilang apa?"
Bima berdiri, membawa piring kotor ke wastafel. "Nggak."
"Bima! Lo bilang sayang! Lo bilang!"
Bima pura-pura tidak dengar. Kay berlari ke belakangnya, memeluk dari belakang.
"Lo bilang sayang! Ulangi!"
Bima hanya tertawa kecil—tawa yang sangat langka, sangat berharga. Kay memeluknya erat, bersyukur bahwa pertengkaran pertama mereka berakhir dengan indah.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, mereka tidak perlu payung. Mereka punya satu sama lain.