Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang tak terlihat
Restoran bergaya fine dining itu dipenuhi denting alat makan perak dan musik klasik yang mengalun halus. Vallerie duduk di sudut yang agak remang, tersembunyi oleh dekorasi tanaman palem yang estetik. Di tangannya, selembar menu ia pegang hanya sebagai formalitas, matanya tertuju tajam pada meja di tengah ruangan.
Di sana, Lauren saudara tiri yang dulu sering mencari masalah dengan Valerie, tengah makan siang dengan kekasihnya, Nathan.
Vallerie menyesap red wine nya perlahan, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya sambil menikmati pemandangan di depannya.
Lauren tampak tertawa manja, jemarinya yang lentur sesekali mengelus punggung tangan Nathan. Pemandangan yang seharusnya membuat Vallerie muak, namun anehnya, ia justru merasa geli.
[Tuan Putri, data menunjukkan Nathan adalah tipe pria yang menyukai tantangan, namun mudah goyah oleh kelembutan yang manipulatif. Lauren menggunakan taktik lemah untuk mengikatnya.] bisik sistem di benaknya.
"Lemah, ya?" gumam Vallerie dalam hati. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lemah dia."
Vallerie berdiri. Ia merapikan gaun sutra hitamnya yang membalut tubuh dengan sempurna, memperlihatkan lekuk bahunya. Dengan langkah yang tenang, ia berjalan melewati meja mereka, seolah-olah hendak menuju toilet.
Secara tidak sengaja, tas clutch kecil milik Vallerie terjatuh tepat di dekat kaki kursi Nathan.
Nathan segera membungkuk untuk mengambilkan tas tersebut. Saat pria itu mendongak untuk menyerahkannya, Vallerie sudah berdiri tepat di depannya dengan senyum paling tulus yang bisa ia bentuk.
"Oh, maaf. Saya sedikit ceroboh," suara Vallerie mengalun rendah, masuk ke telinga Nathan seperti melodi yang candu.
Mata Nathan terpaku. Ia menatap wajah Vallerie, wajah yang seharusnya ia kenali sebagai saudara tiri Lauren, namun aura yang terpancar sangat berbeda. Vallerie yang sekarang tampak seperti bangsawan yang baru turun dari singgasana.
"Vallerie?" suara Lauren meninggi, penuh nada tidak suka dan terkejut. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Vallerie tidak menoleh pada Lauren. Ia tetap menatap lekat pada mata Nathan, membiarkan jemarinya bersentuhan sedikit lebih lama saat mengambil tas dari tangan pria itu.
"Aku bebas melakukan apa pun," ujar Vallerie, kini baru melirik Lauren dengan tatapan meremehkan yang halus. "Aku tidak tau kalau restoran berkelas seperti ini mengizinkan orang sepertimu masuk."
"Kamu-!" Wajah Lauren memerah padam.
"Terima kasih, Nathan," potong Vallerie cepat, menyebut nama pria itu dengan penekanan. "Senang bertemu dengan mu"
Sebelum Nathan sempat membalas atau Lauren meledak dalam amarah, Vallerie memberikan kerlingan tipis pada Nathan.
Ia berbalik dan berjalan pergi dengan kepala tegak. Ia bisa merasakan tatapan Nathan terus mengikuti punggungnya, mengabaikan ocehan kesal Lauren yang terlihat kesal.
[Target sudah terpancing, sepertinya pria itu mudah berpindah hati.]
Vallerie mengangguk, semua pria memang mata keranjang.
★★★
Mobil Vallerie memasuki pekarangan rumahnya. Hari ini ia berniat mengambil beberapa barang untuk dibawa ke apartemen. Demi misi harian, ia memang berencana tinggal di sana lebih lama.
[Ding! Tuan Putri, sepertinya ibumu datang.]
Vallerie menghentikan mobilnya di lobby, tepat di sebelah mobil yang ia kenali milik ibunya.
"Kenapa dia ke sini?" tanya Vallerie heran.
[Sensor menunjukkan ibumu hendak menitipkan anaknya padamu.]
Mendengar itu, Vallerie melebarkan matanya karena terkejut. Setelah lima tahun tidak mempedulikannya, tiba-tiba saja datang ingin menitipkan anak? Benar-benar tidak tahu diri.
"Heh, berani sekali," sinis Vallerie.
Tanpa menunggu lama, Vallerie keluar dari mobil dan menatap pintu rumahnya yang terbuka. Dulu rumah ini ditinggali bersama ayah dan ibunya. Namun sejak bercerai, mereka pergi dan meninggalkan Vallerie sendirian di sini.
Vallerie melangkah masuk dengan anggun. Di ruang tamu, terlihat Freya sedang duduk dengan seorang anak laki-laki di dekatnya. Vallerie menatap ibunya dengan malas, lalu duduk di sofa single dengan melipat kaki dan tangan di depan dada.
"To the point aja," ucap Vallerie tanpa minat.
"Kamu apa kabar, Lerie?"
Vallerie menatap datar wanita itu. Padahal ia sudah meminta langsung ke intinya, tapi ibunya masih saja berbasa-basi. Freya yang mengerti arti tatapan itu menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Mama dan suami Mama mau pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Mama mau titip Hugo di sini, sekalian supaya kamu bisa akrab dengan adik-"
"Cih! Sudah dibuang mau dipungut lagi?" sarkas Vallerie memotong ucapan Freya. "Anda pikir saya ini barang?"
[Memang tidak tahu diri, tidak sadar selama ini sudah menelantarkan anaknya sendiri,] timpal sistem yang ikut kesal.
Freya menggeleng cepat. "Bukan begitu maksud Mama. Mama tidak pernah membuang kamu."
"Cukup! Lima tahun ini Anda ke mana? Pernah ke sini? Atau setidaknya menghubungi saya? Tidak pernah, kan?"
"Ma-ma..." Freya gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat itu, Vallerie terkekeh lirih. "Ternyata ada ya, orang tua setega kalian," gumamnya sambil memalingkan wajah.
Ibunya di dunia asli sangat baik dan menyayanginya, hanya saja dulu Vallerie yang keras kepala. Orang tuanya memang mengekang, tapi tujuannya baik. Namun melihat jalan cerita hidup Vallerie di dunia ini, ia sadar tidak semua orang peduli pada keluarganya. Ada yang hanya peduli pada diri sendiri.
"Sekarang begini, tidak mungkin kalian tidak punya uang untuk bayar baby sitter, kan? Kenapa harus titip ke saya? Urusan saya jauh lebih penting daripada mengurus hal tidak penting seperti ini," ucap Vallerie malas.
"Mama tidak percaya dengan baby sitter, apalagi Mama akan pergi lama. Mama mohon, Lerie... bantu jagain adik kamu, ya?"
Vallerie memalingkan wajah sambil tertawa sinis. Tidak ada kata maaf setelah membuangnya selama lima tahun, dan sekarang datang memohon bantuan. Vallerie heran kenapa ada ibu seperti Freya.
"Saya sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Anda sama sekali tidak merasa bersalah setelah menelantarkan saya?"
"Mama tahu Mama salah, Mama minta maaf. Tapi semua itu bukan sepenuhnya salah Mama. Papa kamu yang menghancurkan hidup kita, dia yang menyakiti Mama lebih dulu!" ucap Freya membela diri.
Vallerie mengangguk pelan. "Ya. Karena Anda terluka, Anda melampiaskan semuanya kepada saya juga, kan? Supaya Anda tidak menderita sendirian."
Freya menggeleng, namun Vallerie melanjutkan, "Tapi sekarang Anda sudah bahagia. Meninggalkan saya sendirian dalam kesepian. Luka yang kalian tinggalkan itu tidak akan pernah hilang. Sampai kapan pun."
Vallerie menatap Freya dengan mata berkaca-kaca, meski ia menahan agar tidak menangis.
Freya terpaku. Ia menatap wajah putrinya yang selama ini ia abaikan karena rasa sakit hatinya pada suami pertama. Karena diselingkuhi, ia terpuruk hingga tidak mempedulikan keberadaan Vallerie. Sejak kecil Vallerie dibiarkan mengurus diri sendiri, sementara Freya sibuk mengobati lukanya sendiri tanpa sadar anaknya juga terluka.
Satu tetes air mata jatuh di pipi Freya. Dulu Vallerie hanya diam, tidak pernah bicara tentang perasaannya. Sekarang, mendengar luapan hati anaknya, Freya baru sadar betapa dalamnya luka itu.
"Maafkan Mama..." lirih Freya sambil menunduk dalam.
Andai waktu bisa diulang, ia ingin lebih memperhatikan Vallerie. Bukan hanya soal materi, tapi juga kasih sayang.
Vallerie yang melihat kesedihan di wajah Freya menghela napas panjang. Ia berdiri dari duduknya.
"Anda pergi saja. Tinggalkan dia di sini," ucap Vallerie ketus.
Ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Freya yang kini memiliki sedikit harapan karena Vallerie akhirnya mau menerima adiknya.