NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 7 PAGI YANG TIDAK MENGAKUI

Pagi di rumah itu datang tanpa suara.

Tidak ada kokok ayam.

Tidak ada bau nasi hangat.

Yang ada hanya langkah pelayan yang teratur, seperti barisan orang yang sudah hafal posisinya masing-masing.

Gadis itu bangun lebih awal.

Bukan karena terbiasa.

Tapi karena tidak bisa tidur.

Ia duduk di tepi ranjang kamar tamu, menatap gaun sederhana yang sudah disiapkan pelayan sejak subuh. Warnanya pucat. Terlalu sopan. Terlalu aman.

Seorang pelayan mengetuk pintu.

“Tuan Putri… eh, Nyonya.”

Panggilan itu terdengar canggung.

Seperti salah ucap yang tidak ingin diulang.

“Silakan turun. Sarapan keluarga dimulai lima menit lagi.”

“Iya.”

Gadis itu berdiri, merapikan rambutnya sendiri. Tidak ada yang membantu. Tidak ada yang bertanya ia ingin terlihat seperti apa.

Di tangga, ia berpapasan dengan dua pelayan lain. Mereka berhenti sejenak, menunduk cepat, lalu berbisik saat ia lewat.

“Katanya jadi Nyonya…”

“Iya, tapi kamarnya saja kamar tamu.”

Bisikannya sengaja tidak dipelankan.

Ruang makan pagi lebih kecil dari ruang makan malam, tapi tidak lebih ramah. Meja oval, kursi empuk, aroma kopi hitam memenuhi udara.

Semua sudah duduk.

Gadis itu datang terakhir.

“Pagi,” ucapnya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Ia berdiri ragu, tidak tahu harus duduk di mana.

“Kursi itu.”

Suara ibu pemuda terdengar dari ujung meja, menunjuk kursi paling dekat dapur.

“Jangan berdiri seperti kehilangan arah. Ini rumah, bukan stasiun.”

Gadis itu duduk cepat.

“Iya, Bu.”

Sarapan mulai disajikan. Roti, telur, buah, bubur gandum.

Gadis itu menatap piringnya, lalu menoleh ke yang lain, menunggu.

Ia tidak berani menyentuh apa pun dulu.

“Kamu kenapa?” tanya ibu pemuda itu panjang, alisnya terangkat.

“Takut makan?”

Gadis itu menggeleng.

“Tidak, Bu.”

“Kalau tidak, ya makan.”

Nada itu bukan perintah.

Lebih seperti pengingat bahwa ia mengganggu pemandangan.

Gadis itu mengambil roti kecil, memegangnya pelan.

“Pelan-pelan amat,” suara iparnya menyela, malas.

“Roti itu tidak akan kabur.” Ia menyesap kopinya.

“Di rumahmu dulu, sarapan apa?”

Gadis itu tidak menjawab.

“Ah ya,” lanjut wanita itu sendiri, tersenyum sinis.

“Mungkin tidak ada yang namanya sarapan.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Ibu pemuda itu ikut menimpali, omelannya mulai mengalir panjang.

“Perempuan yang masuk keluarga ini seharusnya punya inisiatif.”

“Kamu ini aneh,” katanya sambil memotong telur.

“Sudah duduk di meja besar, tapi sikapmu seperti orang yang numpang makan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan tanpa ampun.

“Atau memang kamu merasa numpang?”

Gadis itu menunduk.

Tangannya berhenti bergerak.

“Kamu jangan kira statusmu berubah hanya karena tanda tangan,” lanjutnya.

“Nama boleh ikut, tapi isi tetap sama.”

Ia menyeka mulutnya dengan serbet.

“Dan satu lagi—jangan biasakan pelayan menunggumu.”

Ia melirik pelayan yang berdiri.

“Di rumah ini, pelayan bukan untuk melayani kebingungan.”

Pelayan itu menunduk lebih dalam.

Iparnya tertawa kecil.

“Kasihan juga, Tante. Mungkin dia belum terbiasa dilayani.”

Ia menatap gadis itu dari atas ke bawah.

“Atau memang lebih terbiasa melayani?”

Kalimat itu dibiarkan menggantung.

Gadis itu memegang sendoknya lebih erat.

Tetap diam.

Nenek yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya bersuara.

“Kamu tidur di mana semalam?”

“Di kamar tamu, Nek.”

Nenek mengangguk.

“Bagus.”

Ia menyeruput tehnya.

“Perempuan tahu diri itu tahu batas.”

Ia menoleh ke ibu pemuda.

“Jangan beri kamar utama dulu. Nanti lupa tempat.”

Ibu pemuda itu tersenyum setuju.

“Betul, Bu.”

Ia kembali menatap gadis itu, omelannya makin panjang.

“Kamu jangan merasa kecil hati.”

Nada suaranya dibuat seolah bijak.

“Setiap orang memang punya porsi.”

Ia menyandarkan punggung.

“Dan porsimu… bukan di depan.”

Gadis itu menelan ludah.

“Iya, Bu.”

“Jawabanmu itu lagi,” iparnya mendengus.

“Iya, iya, iya. Seperti kaset rusak.”

Ia memutar matanya.

“Kalau tidak punya pendapat, jangan pura-pura jadi bagian.”

Pelayan datang mengisi ulang teh gadis itu.

Tangannya sedikit gemetar.

“Pelayan,” panggil ibu pemuda itu.

“Lain kali, jangan duluan melayani dia.”

Pelayan itu tersentak.

“Baik, Nyonya.”

“Kita ini keluarga,” lanjut wanita itu panjang.

“Prioritas harus jelas.” Ia melirik gadis itu sekilas.

“Yang baru masuk… belakangan.”

Sarapan hampir selesai.

Gadis itu hampir tidak menyentuh makanannya.

“Kamu tidak makan?” tanya nenek.

“Takut salah lagi?” iparnya menyindir.

Gadis itu menjawab pelan,

“Tidak lapar.”

Ibu pemuda itu menghela napas panjang.

“Dari tadi salah terus, sekarang sok tidak lapar.”

Ia menggeleng.

“Benar-benar merepotkan.”

Ia berdiri.

“Setelah ini, kamu ikut pengurus rumah.”

Gadis itu terkejut sedikit.

“Untuk… apa, Bu?”

Ibu pemuda itu menatap tajam.

“Belajar.”

“Belajar apa?” iparnya menyeringai.

“Belajar jadi tidak kelihatan.”

Tawa kecil kembali terdengar.

Saat semua berdiri, gadis itu ikut bangkit.

Ia hampir menabrak kursi.

“Pelan,” tegur nenek.

“Gerakmu terlalu mencolok.”

Gadis itu membungkuk kecil.

“Maaf.”

Di ambang pintu, pemuda itu akhirnya muncul.

Ia datang terlambat.

Semua mata beralih padanya.

“Kamu sarapan?” tanya ibunya.

“Di kantor,” jawabnya singkat.

Ia melirik ke arah gadis itu.

Piringnya masih hampir utuh.

“Kenapa tidak dimakan?” tanyanya datar.

Seketika ruangan hening.

Ibu pemuda itu tersenyum.

“Mungkin tidak cocok dengan seleranya.”

Pemuda itu menatap piring itu lebih lama.

Lalu berkata,

“Mulai besok, sarapan dia disiapkan seperti biasa.”

Ibunya mengerutkan dahi.

“Seperti biasa yang mana?”

“Seperti anggota keluarga,” jawabnya pelan. Sunyi jatuh.

Iparnya tertawa kecil, kering.

“Kamu serius?”

Pemuda itu menatapnya.

“Iya.”

Tidak ada nada tinggi.

Tidak ada emosi meledak.

Tapi cukup.

Nenek mengetukkan tongkatnya pelan.

“Kita lihat saja.”

Pemuda itu menoleh ke gadis itu.

“Makan.”

Hanya satu kata.

Gadis itu ragu sejenak.

Lalu mengangkat sendok.

Tangannya masih gemetar.

Tapi ia makan.

Beberapa tatapan menusuk punggungnya.

Pagi itu, untuk pertama kalinya,

ia makan bukan sebagai tamu.

Dan untuk pertama kalinya pula—

keluarga besar itu merasa… terganggu.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!