NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dengan CEO

Jakarta sore itu gerah. Matahari di ufuk barat masih menyisakan panas yang menyengat, bercampur debu dan polusi kendaraan yang tak pernah berhenti berdesakan.

Arman melaju pelan di jalur lambat Jalan Gatot Subroto, mata awas memindai pinggir jalan untuk calon penumpang. Aplikasi ojolnya sejak tadi hanya diam, tidak ada notifikasi. Hari itu memang sepi—entah karena hari libur atau karena memang sedang tidak hoki.

Arman menghela napas. Jaket hijau yang dikenakannya terasa lengket di kulit. Keringat membasahi punggung dan dadanya, membuatnya tidak nyaman. Ia memarkir motor sebentar di pinggir jalan, membeli air mineral dingin di warung pinggiran.

Sambil minum, ia memandangi lalu lintas yang padat merayap. Pikirannya melayang ke Aldi, ke Rani, ke Nadia, ke semua kekacauan yang ia ciptakan.

Berapa banyak lagi kesalahan yang harus kutebus? gumamnya dalam hati.

Ia membuang botol kosong ke tempat sampah, lalu kembali ke motornya. Saat lampu merah menjelang perempatan, matanya menangkap sesuatu.

Sebuah Fortuner hitam berhenti di bahu jalan, lampu hazard berkedip-kedip. Di samping mobil itu, seorang wanita berdiri dengan tangan di pinggang, menatap ban belakang kanan yang kempes total.

Arman mengamati wanita itu dari kejauhan. Ia mengenakan blazer putih paduan setelan kain bahan mahal—mungkin linen atau wol tipis, kelihatan mahal. Rambut hitam sebahu disisir rapi dengan sedikit poni di dahi, jatuh sempurna membingkai wajah. Tumit tinggi yang ia kenakan terlihat tidak cocok untuk berdiri di pinggir jalan yang kotor.

Di tangannya, ia memegang ponsel, mungkin mencoba menghubungi seseorang. Tapi dari raut wajahnya, tampaknya tidak ada yang menjawab.

Arman mendekat, menurunkan kecepatan. "Ibu, perlu bantuan?" tanyanya sopan.

Wanita itu menoleh. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kuat dan mata yang tajam. Usianya mungkin awal 40-an, tapi perawakannya membuatnya terlihat jauh lebih muda. Ada aura otoritatif di sana, seperti seorang CEO yang terbiasa memerintah.

Namun, di balik itu, ada sedikit frustrasi yang tak bisa disembunyikan.

"Ban kempes," jawabnya singkat, nada bicaranya datar seperti sedang melaporkan masalah pada bawahan.

"Dan saya tidak bisa mengganti sendiri. Ada dongkrak di dalam, tapi saya tidak tahu cara pakainya."

Arman turun dari motor, memarkirnya agak jauh. Ia berjalan mendekat, mengamati ban yang kempes. "Boleh saya bantu, Bu. Saya biasa ganti ban."

Wanita itu mengangkat alis, setengah tidak percaya. "Anda yakin?" Matanya memindai Arman dari ujung rambut sampai ujung kaki—jaket hijau yang lusuh, celana jeans yang sudah pudar, sepatu boots yang penuh debu. Sebuah penilaian singkat, tapi Arman tidak tersinggung. Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.

"Iya, Bu. Santai aja." Arman tersenyum, mencoba mencairkan suasana. "Ban kempes itu langganan saya. Motor sendiri sering, mobil teman juga pernah."

Wanita itu tidak membalas senyum, tapi ekspresinya sedikit melunak. "Baiklah. Tolong bantu."

Arman membuka pintu belakang Fortuner, mencari dongkrak dan ban cadangan. Wanita itu mengawasi dari kejauhan, tangan masih terlipat di dada.

Ekspresinya sulit dibaca—mungkin waspada, mungkin penasaran, atau mungkin hanya tidak terbiasa berinteraksi dengan orang seperti Arman.

Arman bekerja cepat. Ia menggemburkan tanah di sekitar baut dengan sekop kecil yang tersedia di kotak peralatan, memasang dongkrak di titik yang tepat, dan mulai mengangkat mobil. Keringat membasahi keningnya, bercucuran membasahi kemeja di balik jaket.

Tapi ia terus fokus. Baut demi baut ia lepas, ban kempes ia geser keluar, lalu ban cadangan ia pasang dengan hati-hati.

Wanita itu semakin mendekat, mengamati setiap gerakannya dengan saksama. Ketika Arman mulai mengencangkan baut dengan kunci ring, ia membuka suara.

"Bapak driver ojek?" tanyanya.

"Iya, Bu. Udah beberapa tahun. Sejak PHK zaman pandemi dulu," jawab Arman sambil terus bekerja.

"Pernah ganti ban sebelumnya?"

"Pernah. Motor sendiri sering bocor—jalanan Jakarta memang surga bagi paku dan pecahan kaca. Mobil kadang-kadang bantu teman sesama driver."

Arman menyelesaikan baut terakhir, lalu berdiri. Ia mengusap keringat di dahi dengan lengan jaket.

"Ini sudah, Bu. Ban cadangan udah terpasang. Tapi jangan ngeburu-buru, ya. Ban cadangan biasanya kurang awet, tekanan anginnya juga nggak sekuat ban biasa. Langsung cari bengkel buat tambal ban yang kempes."

Wajahnya merah karena panas, napasnya sedikit tersengal, tapi ia tersenyum puas.

Wanita itu memandangi ban yang sudah terpasang, lalu menatap Arman.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang melunak di wajahnya. Mungkin kagum, mungkin terharu, atau mungkin hanya rasa terima kasih yang dalam. Yang jelas, garis-garis ketegangan di wajahnya perlahan mengendur.

"Terima kasih, Bapak," ucapnya, nadanya kini lebih hangat.

"Saya tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada yang membantu. Supir saya sedang cuti—keluarganya ada acara di kampung—dan saya buru-buru ada meeting dengan klien penting. Saya sudah coba hubungi beberapa bengkel, tapi semuanya bilang akan datang satu jam lagi. Saya tidak bisa menunggu selama itu."

"Sama-sama, Bu. Senang bisa bantu," jawab Arman sederhana.

Wanita itu membuka tas Hermès-nya—Arman tahu itu mahal karena pernah lihat di majalah yang tertinggal di kos temannya—dan mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. Bahkan beberapa lembar. Ia menyodorkannya pada Arman. "Ini untuk Bapak. Terima kasih banyak."

Arman menggeleng. "Nggak usah, Bu. Saya bantu ikhlas."

Wanita itu mengernyit, sedikit terkejut.

"Serius? Ini lumayan, lho. Bapak bisa istirahat sehari penuh dengan uang ini."

"Ikhlas, Bu. Lagian nolongin orang itu sudah kewajiban. Saya nggak bantu supaya dibayar." Arman tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

"Saya juga pernah ngalamin susah di jalan. Waktu itu motor saya mogok di tengah jalan, nggak ada yang bantu sampai satu jam. Saya tahu rasanya frustrasi. Jadi kalau bisa bantu orang, saya bantu."

Wanita itu memandang Arman lama, seolah sedang memindai sesuatu yang langka. Matanya menyipit sedikit, seperti mencoba memahami apa yang membuat pria sederhana ini berbeda.

Lalu ia tersenyum—senyum kecil yang membuat wajah tegasnya tiba-tiba terlihat lebih manusiawi, lebih hangat, bahkan hampir bisa disebut cantik.

"Bapak orang langka," katanya. "Di Jakarta, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Nggak banyak yang mau berhenti dan membantu orang asing."

Ia menjabat tangan Arman—canggung karena tangan Arman masih penuh debu, tapi ia tidak peduli. Jabatannya kuat, tegas, seperti biasa memimpin.

"Boleh saya tahu nama Bapak?"

"Arman, Bu."

"Arman." Ia mengulangi nama itu, seolah menghafalnya.

"Saya Sarah. Sarah Wijaya."

Arman mengangguk, tidak terlalu terkesan. Baginya, Sarah hanyalah seorang wanita kaya yang mobilnya kempes.

Sarah membuka tasnya lagi, merogoh sesuatu. Kali ini ia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna putih krem dengan huruf timbul berwarna emas.

Kartu itu terasa tebal dan berkualitas tinggi saat Arman menerimanya. Ia membacanya: Sarah Wijaya, CEO & Founder, Wijaya Propertindo Group.

Di bawahnya tertera nomor telepon dan alamat kantor di gedung pencakar langit kawasan Sudirman—gedung yang sering ia lewati tapi tak pernah ia masuki.

Arman terkesiap. Matanya membelalak. Wijaya Propertindo adalah salah satu pengembang properti terbesar di Jakarta. Namanya sering muncul di koran dan berita online. Dan wanita di hadapannya ini adalah CEO-nya? Seorang konglomerat?

"Wah, Ibu... maaf, saya tidak tahu kalau Ibu..." Arman terbata-bata, lidahnya terasa kaku.

"Tidak perlu sungkan," potong Sarah, senyumnya melebar sedikit.

"Saya hanya melihat ada sesuatu yang berbeda dari Bapak. Kerja keras, tulus, dan tidak mengharap imbalan. Itu langka di Jakarta. Di dunia bisnis, semua orang punya agenda. Semua orang mau sesuatu. Tapi Bapak? Bapak cuma bantu karena memang ingin bantu."

Ia menatap Arman dengan pandangan yang sulit diartikan. "Itu berharga."

Sarah merapikan blazernya, bersiap masuk ke mobil. "Saya tahu ini mungkin terdengar tiba-tiba. Tapi saya sedang butuh sopir pribadi. Supir saya cuti panjang—istrinya melahirkan, dia minta cuti tiga bulan. Dan saya tidak punya cadangan." Ia menatap Arman.

"Bapak Arman, pikirkan tawaran saya. Sopir pribadi. Gaji tetap, fasilitas, dan lingkungan kerja yang baik. Saya tidak menjanjikan kemewahan, tapi setidaknya lebih stabil daripada narik ojek."

Arman hanya bisa melongo. Ini seperti mimpi.

"Tapi jangan jawab sekarang," tambah Sarah cepat. "Pikirkan dulu. Bicarakan dengan keluarga. Kalau berminat, hubungi nomor di kartu itu."

Ia membuka pintu Fortuner, melangkah naik. Sebelum menutup pintu, ia menatap Arman sekali lagi, dan kali ini matanya benar-benar hangat.

"Sampai jumpa, Arman. Semoga kita bertemu lagi."

Mobil itu melaju perlahan, menyatu dengan kemacetan yang mulai mengurai. Arman masih berdiri terpaku di pinggir jalan, memegangi kartu nama itu seperti benda suci.

Beberapa detik berlalu sebelum ia sadar bahwa mulutnya masih terbuka.

Ia menatap kartu itu lagi. Sarah Wijaya. Nomor telepon. Alamat kantor. Sebuah tawaran yang bisa mengubah hidupnya.

Arman kembali ke motornya, duduk sebentar untuk mengatur napas. Pikirannya kalut. Tawaran ini datang di saat yang tepat—ia sangat butuh uang, butuh pekerjaan yang lebih stabil setelah hubungannya dengan Nadia putus dan pemasukan dari ojek tidak menentu.

Tapi juga di saat yang rumit, karena ia masih berusaha memperbaiki hubungan dengan Rani dan Aldi, masih berusaha membayar cicilan KPR, masih berusaha bangkit dari keterpurukan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rani—foto Aldi sedang belajar mengaji dengan kopyah putih di kepala, wajahnya serius membaca iqro. Caption pendek: "Aldi hafal surat An-Nas. Bangga."

Arman tersenyum. Ia membalas: "Bapak bangga banget. Nanti Bapak beliin hadiah. Sepeda, ya? Aldi kan suka sepeda."

Tidak lama, balasan dari Rani masuk: "Janji? Jangan ingkar."

"Janji. Bapak usahain."

Ia menyimpan ponsel, lalu menatap kartu nama itu lagi. Sarah Wijaya. Wanita yang tadi membantunya, dengan segala kemewahan dan kekuasaannya, ternyata bisa tersenyum hangat.

Ada sesuatu di matanya yang membuat Arman penasaran. Bukan ketertarikan romantis—ia sudah cukup dihancurkan oleh hubungan dengan Nadia untuk berpikir ke arah sana.

Tapi lebih seperti... kekaguman? Atau mungkin rasa syukur yang tulus?

Arman menghidupkan motornya, perlahan melaju mencari penumpang. Di sela-sela kemacetan, ia terus memikirkan tawaran itu.

Gaji tetap. Fasilitas. Lingkungan kerja yang baik. Itu semua yang ia butuhkan saat ini.

Tapi ada satu hal yang mengganjal. Sarah Wijaya. CEO properti. Wanita kaya raya yang terbiasa memerintah.

Akankah ia bisa bekerja untuk orang seperti itu? Akankah ia betah? Atau justru akan terjerumus lagi ke dalam masalah baru seperti saat bersama Nadia?

Ia menggeleng, mencoba mengusir pikiran negatif. Nggak. Ini beda. Ini murni kerja. Bukan hubungan pribadi. Sarah sudah punya dunia sendiri, dan aku cuma sopir.

Matahari semakin tenggelam di ufuk barat, mengganti langit dengan jingga kemerahan yang indah. Jakarta mulai berubah wajah, dari siang yang gerah ke malam yang tak kalah panas. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, menciptakan lautan cahaya di kejauhan.

Arman berhenti di pinggir jalan, memandangi pemandangan itu. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada sedikit harapan yang tumbuh di hatinya.

Bukan harapan besar, bukan keyakinan bahwa semuanya akan membaik. Tapi secercah kecil, seperti bintang di langit Jakarta yang jarang terlihat.

Mungkin ini jalannya, pikirnya. Mungkin ini kesempatan untuk memulai lagi.

Ia menyalakan motor, melaju perlahan menyusuri jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Di tangannya, kartu nama Sarah Wijaya ia simpan rapi di saku jaket, dekat dengan foto Aldi di dompet. Dua hal yang kini menjadi pegangan hidupnya: seorang anak yang harus ia nafkahi, dan sebuah kesempatan yang mungkin bisa mengubah segalanya.

Di kejauhan, Fortuner hitam itu telah hilang ditelan kemacetan Jakarta. Tapi jejaknya masih tersisa—di kartu nama yang ia genggam erat, dan di hati yang mulai tumbuh harapan baru. Samar, rapuh, tapi nyata.

1
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
falea sezi
cerai ran
Bp. Juenk: setuju...👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!