NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. luka yang tidak bisa di sebutkan oleh nama.

Sejak malam itu, aku tidak lagi melihat Haruka dengan cara yang sama.

Bukan karena rasa takutku hilang—justru sebaliknya. Ketakutanku kini memiliki bentuk. Bukan sosok mafia. Bukan kekuasaan. Tapi sejarah kehilangan yang terus berjalan bersamanya ke mana pun ia pergi.

Pagi itu, aku terbangun lebih awal dari biasanya.

Rumah ini terlalu sunyi untuk orang yang baru menikah. Tidak ada suara langkah tergesa. Tidak ada percakapan basa-basi. Tidak ada tanda bahwa dua manusia dengan takdir berbeda kini berbagi atap yang sama.

Aku turun ke dapur dan mendapati Haruka sudah duduk di sana.

Seperti biasa—jas rapi, kemeja bersih, ekspresi netral. Sebuah tablet menyala di hadapannya, berisi sesuatu yang jelas bukan berita pagi biasa.

Ia selalu bangun lebih dulu.

Seolah tidur terlalu lama adalah kemewahan yang tidak ia izinkan untuk dirinya sendiri.

“Kamu tidak tidur?” tanyaku pelan.

Ia mengangkat pandangannya sebentar. “Cukup.”

Satu kata. Selalu cukup.

Aku menuang air ke gelas, berdiri tak jauh darinya. Ada keheningan canggung yang kini terasa berbeda—bukan hampa, tapi penuh hal-hal yang tidak diucapkan.

“Aku membaca tentangmu,” kataku akhirnya.

Tangannya berhenti bergerak.

Bukan terkejut.

Bukan marah.

Hanya berhenti.

“Media,” lanjutku cepat, sebelum ia sempat menutup diri. “Artikel lama.”

Ia meletakkan tabletnya perlahan. Gerakannya tenang, terkontrol. Terlalu terkontrol.

“Apa yang kau temukan?” tanyanya datar.

Aku ragu sejenak.

“Aku tahu tentang paru-parumu saat lahir.”

“Tentang ayahmu.”

“Tentang tragedi itu.”

Ia tidak bereaksi.

“Tentang… bagaimana kamu selalu jadi satu-satunya yang tersisa.”

Sunyi.

Aku bisa merasakan jarak di antara kami kembali menebal. Bukan karena ia ingin menjauh—melainkan karena ia terbiasa ditinggalkan setelah orang tahu terlalu banyak.

“Aku tidak mencarimu untuk mengasihani,” ucapku cepat, jujur. “Aku hanya… ingin mengerti.”

Ia berdiri.

Langkahnya pelan, tapi membuat ruang terasa menyempit.

“Memahami masa lalu seseorang,” katanya, “tidak membuatmu memahami orang itu.”

“Aku tahu,” jawabku, menahan gemetar di suaraku. “Tapi itu membuatku berhenti menghakimi.”

Ia menatapku lama.

Tatapan itu bukan ancaman.

Bukan dingin.

Lebih seperti… pengujian.

“Kau tidak wajib peduli,” katanya akhirnya. “Kontrak tidak menuntut itu.”

“Aku tahu,” kataku pelan.

“Tapi aku manusia. Bukan klausul.”

Untuk sesaat, aku pikir ia akan marah.

Namun yang kulihat justru sesuatu yang lebih berbahaya—

Keraguan.

Seolah ia sedang mempertimbangkan sesuatu yang sudah lama ia singkirkan: kemungkinan untuk tidak sendirian.

“Alya,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.

“Orang yang terlalu dekat denganku… tidak pernah aman.”

Aku mengangkat wajahku.

“Dan orang yang hidup terlalu jauh dari manusia… juga tidak benar-benar hidup.”

Ia tidak membalas.

Namun saat ia melangkah pergi, aku menyadari sesuatu yang kecil—tapi penting.

Ia tidak menyuruhku berhenti.

Ia tidak mengusirku.

Dan bagi seseorang seperti Haruka Sakura… itu sudah merupakan langkah besar.

Hari-hari berikutnya, dunia mulai menunjukkan wajah aslinya.

Aku menyadari bahwa menjadi istri Haruka—bahkan secara kontrak—bukan hanya tentang tinggal di rumah besar dan hidup aman.

Itu tentang menjadi target.

Tatapan orang-orang di kampus terlalu lama.

Mobil yang sama melewati gerbang dua kali.

Telepon asing yang langsung terputus saat kuangkat.

Aku tidak mengatakan apa pun padanya.

Tapi Haruka tahu.

Ia selalu tahu.

Suatu malam, saat aku pulang lebih lambat karena orientasi kampus, ia berdiri di ruang tamu. Jasnya sudah dilepas, kemejanya digulung sampai siku—tanda bahwa ia baru kembali dari sesuatu yang bukan urusan bersih.

“Kau terlambat,” katanya.

“Ada kegiatan kampus,” jawabku.

Ia mendekat.

Bukan dengan marah—melainkan dengan aura yang membuatku diam.

“Mulai besok,” katanya tegas, “pengawal akan menjemputmu.”

“Apa?” aku mengernyit. “Aku tidak minta—”

“Ini bukan permintaan,” potongnya.

Aku terdiam.

Nada itu kembali.

Nada Alessandro Virelli.

“Dunia di sekitarmu sudah berubah,” lanjutnya. “Dan kau belum menyadarinya.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu takut aku terluka?”

Ia tidak menjawab.

Namun rahangnya mengeras.

Dan di sanalah aku melihatnya—

Ketakutan yang tidak pernah ia beri nama.

Bukan takut kehilangan kekuasaan.

Bukan takut musuh.

Tapi takut… menjadi satu-satunya yang tersisa lagi.

“Aku tidak selemah yang kamu kira,” kataku pelan.

Ia menatapku.

“Aku tahu,” jawabnya.

“Justru itu yang membuatku khawatir.”

Keheningan kembali jatuh.

Namun kali ini berbeda.

Tidak lagi seperti dua orang asing yang terikat kontrak.

Melainkan dua manusia dengan luka berbeda—

yang berdiri terlalu dekat dengan api yang sama.

Dan entah sejak kapan aku menyadari satu hal yang tidak tertulis di kontrak kami—

—Aku tidak lagi hanya tinggal di dunianya.

—Aku perlahan menjadi bagian dari sesuatu yang ingin ia lindungi.

Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah di antara kami.

Bukan perubahan yang bisa disentuh atau diucapkan dengan jelas. Tidak ada pengakuan. Tidak ada janji. Tapi ada jarak yang bergeser—sedikit lebih dekat, namun justru terasa lebih berbahaya.

Aku mulai menyadari bahwa Haruka Sakura bukan hanya hidup dalam kesepian, tapi mengatur kesepian itu. Ia memilihnya. Mengendalikannya. Karena hanya dengan begitu, dunia tidak bisa lagi mencuri apa pun darinya.

Pagi-pagi berikutnya, aku menemukan secarik kertas di meja makan.

Jadwal.

Jam berangkat kuliah.

Jam pulang.

Nama pengawal.

Nomor darurat.

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada kata-kata lembut.

Tapi aku tahu siapa yang menulisnya.

“Kamu tidak perlu melakukan ini,” kataku saat ia lewat di belakangku.

Ia berhenti sebentar. “Aku perlu.”

Aku menoleh. “Karena kontrak?”

“Karena dunia tidak pernah bermain adil,” jawabnya tanpa emosi. “Dan aku tidak mempertaruhkanmu.”

Kata aku tidak mempertaruhkanmu membuat jantungku bergetar aneh.

Bukan karena romantis.

Tapi karena itu terdengar… personal.

Hari itu di kampus, aku merasa seperti hidup di dua dunia.

Dunia pertama—mahasiswi baru. Gedung luas. Suara tawa. Masa depan yang terasa normal.

Dunia kedua—tatapan tajam pengawal yang selalu berada dua langkah di belakangku. Mobil hitam. Ponsel yang selalu aktif. Kesadaran bahwa namaku kini terikat pada seseorang yang ditakuti banyak orang.

Dan anehnya… aku lebih takut pada dunia yang pertama.

Karena di dunia kedua, setidaknya aku tahu ancamannya nyata.

Saat aku kembali ke rumah sore itu, Haruka belum pulang.

Aku duduk di ruang tamu besar yang terasa terlalu kosong. Mataku tanpa sadar mengikuti detail-detail yang sebelumnya tak kuperhatikan.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada lukisan anak-anak.

Tidak ada benda sentimental.

Rumah ini bukan dibangun untuk hidup.

Rumah ini dibangun untuk bertahan.

Aku naik ke lantai dua dan berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang selalu terkunci.

Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sana.

Tanganku terangkat—lalu berhenti di udara.

Ini bukan rumahmu sepenuhnya, bisik suara di kepalaku.

Ini bukan rahasiamu.

Aku menurunkan tangan.

Dan justru saat itulah pintu terbuka dari dalam.

Haruka berdiri di hadapanku

.

Aku tersentak. “Aku—aku cuma—”

“Kau tersesat?” tanyanya datar.

“Tidak,” jawabku jujur. “Aku hanya… penasaran.”

Ia menatapku lama. Lalu melangkah ke samping, membiarkan pintu itu terbuka.

“Masuk,” katanya.

Aku membeku. “Apa?”

“Kalau kau masuk karena rasa ingin tahu,” lanjutnya, “jangan setengah-setengah.”

Aku melangkah masuk dengan jantung berdebar.

Ruangan itu gelap. Tidak besar. Tidak mewah. Hanya rapi. Terlalu rapi.

Rak buku. Dokumen lama. Beberapa kotak besi.

Dan di sudut ruangan—sebuah ranjang kecil.

Bukan ranjang dewasa.

Ranjang anak-anak.

Aku menoleh perlahan ke arahnya.

“Itu…?” suaraku nyaris tak keluar.

“Aku tidak membuangnya,” jawab Haruka pelan. “Karena itu satu-satunya tempat aku pernah merasa… dijaga.”

Dadaku terasa sesak.

Di dinding, ada satu foto kecil yang hampir tersembunyi.

Seorang anak laki-laki dengan selang oksigen di hidung, matanya besar, wajahnya pucat—tapi hidup.

Haruka kecil.

“Paru-paruku,” katanya tanpa kuminta. “Itu foto sebelum ayahku meninggal.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Semua pertanyaan yang selama ini menggangguku… kini terasa tidak pantas diucapkan.

“Dunia selalu memulai hidupku dengan ancaman,” lanjutnya. “Dan tidak pernah berhenti.”

Aku menatapnya. “Tapi kamu masih di sini.”

Ia tertawa kecil. Hampa. “Bertahan bukan berarti hidup.”

Aku melangkah lebih dekat, berhenti hanya satu langkah darinya.

“Kamu salah,” ucapku pelan tapi tegas. “Kamu hidup. Kamu hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk percaya bahwa itu layak.”

Ia menatapku tajam.

“Alya,” katanya rendah, “jangan coba menyelamatkanku.”

“Aku tidak mau menyelamatkanmu,” jawabku jujur.

“Aku hanya tidak ingin menjadi orang lain yang pergi setelah tahu segalanya.”

Untuk pertama kalinya… ia terlihat goyah.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Takut.

Ketakutan yang sangat manusiawi.

“Kau tidak tahu apa yang kau hadapi,” katanya.

“Dan kamu terlalu lama menghadapi semuanya sendirian,” balasku.

Keheningan menyelimuti kami.

Namun kali ini, keheningan itu tidak dingin.

Ia berat.

Penuh hal-hal yang selama ini terkunci.

Haruka akhirnya melangkah mundur setengah langkah. Bukan menjauh—tapi memberi ruang.

“Kau melanggar batas,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Tapi aku membiarkanmu,” lanjutnya.

Aku mengangguk. “Aku juga sadar.”

Kami berdiri saling menatap.

Dua orang yang terikat kontrak.

Dua orang dengan luka berbeda.

Dan di saat itu, aku menyadari sesuatu yang membuatku takut sekaligus yakin!

Kontrak ini mulai kehilangan kekuatannya.Dan perasaan—pelan tapi pasti—mulai mengambil alih.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!