Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam telah merayap jatuh di atas langit Jakarta, mengubah hiruk-pikuk kota menjadi hamparan lampu yang berkilauan. Namun, bagi Arlan Mahendra, keindahan kota itu tak lebih dari bayangan kelabu yang menghimpit dadanya.
Selama berjam-jam, ia memarkir SUV putihnya di seberang gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Ia mendapatkan alamat ini setelah memaksa salah satu teman lama Hana untuk bicara. Awalnya, ia tak percaya bahwa Hana - wanita yang selama lima tahun hanya ia kenal sebagai pengurus rumah - ternyata memiliki aset properti atas namanya sendiri yang masih terawat rapi.
Arlan mencengkeram kemudi dengan erat. Perutnya masih terasa perih akibat sup gagal buatan Maura tadi pagi, namun rasa lapar itu kalah oleh rasa haus akan keberadaan Hana. Ia butuh Hana.
Ia butuh keteraturan hidupnya kembali. Ia butuh wanita yang selalu tahu di mana letak kunci mobilnya, yang selalu menyiapkan pakaiannya, dan yang selalu menatapnya dengan kekaguman, bukan dengan tuntutan seperti Maura.
Pukul delapan malam, sebuah sedan hitam mewah dengan logo perusahaan Gavriel Corp melambat di area drop-off. Arlan menajamkan penglihatannya.
Dari pintu belakang, Hana turun dengan anggun. Ia mengenakan trench coat tipis yang menutupi blusnya, menenteng tas kerja dan kotak bekal yang sudah kosong.
Hana tampak berbeda. Langkahnya ringan, kepalanya tegak, dan wajahnya memancarkan aura ketenangan yang belum pernah Arlan lihat selama pernikahan mereka.
Hana melangkah masuk ke lobi tanpa menoleh ke kanan atau kiri, sama sekali tidak menyadari sepasang mata yang menatapnya dengan obsesi dari balik kegelapan kaca mobil.
"Akhirnya," desis Arlan. Ia segera keluar dari mobil, mengenakan topi untuk sedikit menutupi wajahnya, dan berjalan cepat mengikuti Hana sebelum pintu kaca lobi tertutup sepenuhnya.
Hana bersenandung kecil saat lift membawanya ke lantai 12. Pikirannya masih dipenuhi oleh draf kontrak ekspansi properti yang ia diskusikan dengan Adrian sore tadi. Pekerjaan itu memberinya gairah hidup yang baru. Ia merasa berguna, cerdas, dan yang paling penting, dihargai.
Ting.
Pintu lift terbuka. Hana melangkah keluar, menyusuri koridor sunyi menuju unit 12-B. Ia merogoh tasnya, mencari kartu akses. Namun, saat jarinya baru saja menyentuh pintu, sebuah suara yang sangat ia kenali memecah keheningan koridor.
"Hana."
Tubuh Hana menegang seketika. Suara itu berat, serak, dan membawa memori menyakitkan yang coba ia kubur dalam-dalam. Ia menoleh perlahan dan mendapati Arlan berdiri beberapa meter darinya. Penampilan pria itu berantakan, matanya cekung dan kemejanya terlihat tidak rapi.
"Mas Arlan? Bagaimana kau bisa..."
"Aku merindukanmu, Hana. Kita perlu bicara," potong Arlan, melangkah maju dengan cepat.
Hana tidak membiarkan rasa takut menguasainya. Dengan gerakan kilat, ia menempelkan kartu aksesnya hingga pintu berbunyi klik. Namun, tepat saat ia ingin masuk dan membanting pintu, Arlan sudah berada di sana.
"Hana, tunggu!" Arlan menahan daun pintu dengan bahunya yang kuat.
"Pergi, Mas! Kau tidak punya hak di sini!" Hana mendorong pintu dengan seluruh tenaganya, namun Arlan jauh lebih kuat. Pria itu memberikan satu dorongan keras hingga Hana terhuyung ke belakang.
Arlan masuk ke dalam apartemen, lalu segera menutup pintu di belakangnya dan mengunci slot pengamannya. Keheningan apartemen yang biasanya damai kini berubah menjadi mencekam.
"Keluar dari rumahku, Mas! Sekarang, atau aku akan berteriak!" ancam Hana, suaranya bergetar karena amarah.
Arlan tidak marah. Sebaliknya, ia melangkah mendekat dengan tatapan memohon. Suaranya merendah, terdengar begitu lembut, jenis suara yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Hana.
"Hana, kumohon. Dengar aku dulu. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku keterlaluan. Tapi rumah itu... rumah itu tidak sama tanpamu."
Hana mundur selangkah, menatap suaminya dengan rasa muak yang tak tertahankan. "Rumah itu tidak sama karena tidak ada yang mencuci kakimu? Tidak ada yang memasakkan sup untukmu? Tidak ada yang bisa kau hina?"
"Bukan itu, Hana!" Arlan mencoba meraih tangan Hana, namun Hana menepisnya kasar. "Aku sadar aku tidak bisa hidup tanpamu. Maura... dia tidak bisa sepertimu. Ibu juga marah-marah terus. Pulanglah, Hana. Aku akan memaafkan semua perkataanmu tempo hari. Kita mulai lagi dari awal, ya?"
Hana tertawa sinis, sebuah tawa getir yang membuat Arlan terpaku. "Memaafkanku? Kau yang berselingkuh, kau yang membawa wanita itu ke rumah kita, kau yang menghinaku mandul, dan kau bilang kau akan memaafkanku?"
"Hana, Maura sedang hamil, dia butuh bimbinganmu..."
"CUKUP!" teriak Hana. Ia tidak ingin mendengar satu kata pun lagi. Melihat Arlan mencoba melangkah mendekat lagi, Hana segera berbalik dan berlari menuju kamar utamanya.
Arlan mengejar, namun Hana lebih cepat. Brak! Pintu kamar tertutup dan suara kunci yang diputar terdengar nyaring.
Hana menyandarkan tubuhnya di balik pintu, napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berpacu hebat. Ia bisa mendengar gedoran tangan Arlan di kayu pintu kamarnya.
"Hana! Buka pintunya!" Arlan memanggil dari balik pintu. Suaranya kini terdengar putus asa. "Maafkan aku, Hana. Aku benar-benar minta maaf. Aku bodoh karena membiarkanmu pergi. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Maura akan menuruti semua katamu, asal kau mau kembali menjadi nyonya di rumah Mahendra."
Hana menutup telinganya dengan kedua tangan. Air mata amarah mengalir di pipinya. Arlan sama sekali tidak menyesal telah menyakitinya, ia hanya menyesal karena kehilangan pelayannya.
"Pergi, Mas Arlan! Aku tidak akan pernah kembali ke neraka itu!" teriak Hana dari dalam kamar. "Besok atau lusa, kau akan menerima surat gugatan cerai dariku. Jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi!"
"Hana, jangan keras kepala!" gedoran Arlan semakin keras. "Kau pikir pria bernama Adrian itu benar-benar peduli padamu? Dia hanya memanfaatkanmu untuk menjatuhkan aku! Hanya aku yang benar-benar mengenalmu, Hana!"
Hana terdiam, namun tangannya meraba meja nakas di samping tempat tidur. Ia mengambil ponselnya. Dengan jari gemetar, ia tidak menelepon polisi, ia tahu Arlan akan menggunakan kekuasaannya untuk berkelit. Ia menekan nomor yang kini menjadi satu-satunya sandaran keamanannya.
Satu nada sambung, dan telepon langsung diangkat.
"Hana? Ada apa ?" suara berat Adrian terdengar di seberang sana, membawa ketenangan instan.
"Adrian... dia ada di sini," bisik Hana lirih, mencoba meredam isakannya agar tidak terdengar oleh Arlan di luar pintu. "Arlan ada di dalam apartemenku. Dia tidak mau pergi."
Hening sejenak di seberang sana, namun Hana bisa merasakan kemarahan yang membeku dari napas Adrian.
"Jangan buka pintunya, Hana. Tetap di dalam kamar. Aku sampai dalam lima menit."
Di luar kamar, Arlan masih terus memohon, sesekali meratap, tanpa menyadari bahwa keamanan yang ia banggakan akan segera runtuh.
Ia merasa bahwa dengan suaranya yang lembut, ia bisa memanipulasi Hana kembali seperti yang sudah-sudah selama lima tahun ini.
"Hana, kau dengar kan? Aku akan membelikanmu apapun yang kau mau. Kita lupakan soal Maura, kau tetap yang utama..."
Arlan terus bicara, tidak menyadari bahwa setelah tiga puluh menit di luar unit apartemen, lift terbuka dan beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam melangkah keluar dengan cepat, dipimpin oleh seorang pria yang matanya memancarkan kilat kematian.
Malam ini, Arlan Mahendra akan belajar satu pelajaran penting, bahwa Hana bukan lagi miliknya untuk disakiti, dan ada seseorang yang jauh lebih kuat yang siap membentengi wanita itu dengan seluruh hidupnya.
...----------------...
Next Episode....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.