NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 - Aneh!

Alexa menatap Abi sedikit takut karena memang sejak kemarin mulai bekerja, Abi terus bersikap dingin. Sekalinya bicara, kalimatnya seperti pisau yang selalu menusuk hatinya.

Dia tidak mengerti kenapa Steven berpikir kalau dirinya bekerja sama dengan Abi dan juga Daffa. Yang Alexa tahu, Daffa menemuinya—untuk menyampaikan undangan interview kerja yang tidak bisa diberikan melalui surel ataupun telepon.

"Jangan asal tuduh, Stev. Nggak ada yang—"

"Gue nggak bicara dama lo, Bang!" potong Steven cepat tak mau mendengar apa pun dari Abi.

Kini mata Steven tertuju pada Alexa—mengangkat alisnya meminta penjelasan.

Tapi Alexa malah celingukan berpikir Steven sedang memberi kode pada orang lain. Padahal jelas - jelas, yang ditatap Steven adalah Alexa. Tapi dia sendiri malah terlihat kebingungan.

Steven sampai menarik nafas panjang dan menepuk jidatnya kesal.

"Bodo amat!" katanya kemudian pergi.

Abi hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Alexa yang sama sekali tidak mengerti maksud Steven sedikit pun.

"Kejar dia. Lo harus bertanggung jawab karena Steven keluar dari NOVA loh." Abi berbicara dengan nada sinis.

Alexa langsung meletakkan alat - alat pembersih di tangannya kemudian berlari mengejar Steven tepat sebelum pintu ruang latihan benar - benar tertutup rapat.

Sebenarnya, mengejar Steven pun dia tidak tahu untuk apa. Yang pasti, karena Abi meminta—tidak bisa menolak sama sekali.

"Steven!" panggil Alexa mengejar.

"Kamu ngapain ikut aku?" tanya Steven dingin.

"Disuruh Abi." Dengan polosnya Alexa menjawab—apa adanya.

Padahal semua orang jelas menuntut Alexa untuk membuat Steven kembali ke NOVA, apa pun yang terjadi. Tapi Alexa tidak pandai dalam membujuk. Dia juga tidak benar - benar tahu seperti apa karakter Steven untuk membaca situasi.

Steven berdecak lidah mendengar jawaban Alexa yang terlalu apa adanya.

"Yang bayar kamu kerja di sini Abi, ya? Kok kamu nurut banget sama dia?" cibir Steven.

"Nggak kok. Sebenarnya... aku juga bingung kenapa tadi Abi bilang seperti itu dan kamu nuduh aku sekongkol sama dia." Alexa membuntuti Steven masuk ke lift.

"Maksudnya?" Steven ikut tak mengerti dengan penjelasan Alexa.

Ingin menjawab, tapi Alexa urungkan niatnya karena ada beberapa orang juga di dalam lift. Dia tidak punya keberanian untuk terlihat dekat dengan anggota NOVA demi hidup yang lebih tenang.

Ya... meskipun jauh dari kata tenang karena Alexa masih harus hidup di tengah - tengah bayangan traumanya yang semakin hari membuatnya semakin frustrasi.

Alexa hanya bersyukur masih memiliki keinginan untuk bertahan hidup—sambil memeluk luka lamanya.

"Aku masih nunggu kamu ngomong sesuatu loh." Steven menagih.

"Oh itu... nanti," jawab Alexa kikuk.

Lift berhenti di lantai dasar dan mereka keluar. Hanya saja, Alexa semakin tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana karena ada banyak penggemar di sana. Dia memilih berhenti mengikuti Steven.

Sadar kalau Alexa tidak lagi mengikutinya, Steven menoleh—mengernyitkan keningnya bingung.

"Kenapa berhenti?" tanya Steven, "katanya mau jelasin."

"Sepertinya—"

"Steven! boleh minta tanda tangan?" Para Penggemar langsung menyerbu Steven yang tanpa pengawalan.

Steven menghela nafas pelan. Dia lupa kalau itu bisa terjadi di mana pun. Seharusnya dia pergi ke atap saja untuk berbicara dengan Alexa dari pada mendapatkan gangguan.

Awalnya Steven kira, kejadian tadi ketika dia merusak ponsel seseorang, berarti akan banyak orang yang membencinya. Ternyata tetap sama.

"Hanya tanda tangan, ya." Mau tak mau, Steven meladeni.

"IYA!" Semua menjawab dengan antusias. Kapan lagi mereka bisa langsung mendapatkan respons baik dari Steven tanpa paksaan dari manajer Steven.

Alexa kembali menekan tombol lift memilih untuk mengatakan tentang semuanya kapan - kapan saja. Dia cukup senang melihat Steven akhirnya mau meladeni penggemarnya.

Cukup lama menunggu lift terbuka, Alexa melihat - lihat ke sekeliling, sesekali menyapa staf yang wira - wiri di sekitarnya. Semuanya terlihat berkelas.

Ting!

Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Jo bersama manajernya.

"Lagi apa?" sapa Jo ramah.

Alexa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidak," jawabnya kikuk.

Jo langsung menatap ke arah keramaian di mana para penggemar mengerubungi Steven. Sesaat, dia bertatapan dengan manajernya kemudian tertawa kecil.

"Video tentang dia melempar ponsel milik penggemar baru saja viral. Tapi Steven tetap punya banyak penggemar," katanya.

Kedua mata Alexa terbelalak mendengar kalau Steven melempar ponsel milik penggemar. Ternyata Steven memang seburuk itu dalam melayani penggemarnya.

Ingat akan pekerjaannya, Alexa buru - buru masuk ke lift.

"Jangan terlalu khawatir dengan tuntutan Bang Abi." Jo melongok ke lift mengajak Alexa bicara.

"Y - ya?" Alexa terkesiap.

"Dia minta kamu buat bujuk Steven kembali ke NOVA kan? Bukan cuman kamu. Kami semua juga bakal berusaha membuat Steven kembali kok. Jadi, jangan jadikan itu beban, ya," ucap Jo menenangkan Alexa.

Seketika Alexa tersenyum dan mengangguk cepat merasa lega. Dari semua anggota NOVA, memang yang terlihat paling care dan tenang adalah Si Pirang Jo.

Energi Jo yang terpancar selalu positif. Mungkin... Alexa mulai menjadi penggemar Jo.

"Terima kasih," ungkap Alexa.

Jo hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya. Saat itulah, penggemar juga berdatangan untuk mengerubungi Jo yang langsung merespons mereka dengan baik.

Alexa benar - benar merasa adem melihat Jo. Siapa sangka kalau dia bisa berbicara langsung dengan Jo. Tatapannya penuh kekaguman tak lepas dari Jo ketika pintu lift mulai menutup.

Tapi sepasang tangan menghalangi pintu yang menutup.

"Enak aja mau balik!"

Steven langsung menarik Alexa keluar dari lift berjalan pergi meninggalkan gedung.

Tentu kejadian itu langsung menjadi pusat perhatian orang - orang, termasuk Jo dan manajernya yang sampai tak bisa berkata apa - apa melihat Steven menarik Alexa.

"Steven, ini bisa jadi rumor tahu!" bisik Alexa menutup wajahnya dengan satu tangannya.

"Kamu takut benget sama rumor kayaknya," balas Steven.

"Aku mau hidup tenang."

"Kalau mau tenang, jangan pikiran omongan orang lain."

Alexa mencibir kecil. Ucapan Steven memang seperti mudah dilakukan. Tapi faktanya itu sulit. Bahkan nyaris tidak bisa Alexa lakukan.

Steven membuka pintu mobilnya mendorong Alexa agar cepat - cepat masuk ke mobilnya dan duduk di kursi kemudi sebelum ada penggemar yang mengejarnya lagi. Setelah itu, Steven berlari menuju kursi kemudi.

"Aku masih jam kerja loh," ujar Alexa panik.

"Kamu kerja di sana juga cuman buat narik aku biar balik ke NOVA, kan?" tuduh Steven.

"Nggak. Aku kerja di sana karena tawaran gajinya cukup tinggi walaupun cuma sebagai cleaning service," aku Alexa jujur.

Steven sempat terdiam berusaha mengerti kalau Alexa benar - benar menghidupi dirinya sendirian setelah kedua orang tuanya tiada dengan cara yang tragis.

Rasa bersalah kembali menusuk Steven. Dia kembali ingat bagaimana Alexa menangis saat itu. Begitu berantakan di makam ibunya—seperti tidak ada lagi harapan untuk hidup.

Bahkan Steven sendiri tidak menyangka Alexa masih bisa bertahan sampai hari ini, dan berusaha menunjukkan pada orang - orang, dia tidak memiliki tekanan apa pun.

"Alexa, aku bakal nikahin kamu," ucap Steven tiba - tiba.

"HAH?!" pekik Alexa terkejut.

Steven tertawa kecil. "Aku bakal nikahin kamu suatu hari nanti biar kamu nggak perlu kerja keras kayak gitu." Dia mengulang ucapannya.

"Ada gila - gilanya juga kamu ya! Cowok aneh!" Alexa memandang Steven kesal.

Steven hanya tertawa kecil. Dia juga tidak tahu kenapa ada pikiran seperti itu dan langsung dia katakan pada Alexa tak peduli reaksi Alexa yang terlihat tidak suka. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!