Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Dipilih
Pagi setelah kunjungan kedua ke gudang nomor 47 terasa seperti jeda yang rapuh—seperti napas yang diambil terlalu dalam sebelum loncatan besar. Raito terbangun lebih dulu, tapi kali ini dia tidak langsung meditasi atau latihan. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang Yuna yang masih tidur meringkuk di sudut kamar dengan jaket kebesaran sebagai selimut. Gadis itu bernapas pelan, wajahnya tenang untuk pertama kalinya sejak mereka temui di gang.
Mira sudah di dapur kecil, memotong roti dengan pisau yang biasa dia pakai untuk bertarung. Bau roti panggang dan telur goreng mulai mengisi kamar—bau sederhana yang terasa mewah setelah malam-malam penuh darah dan ancaman.
“Kamu bangun cepat,” kata Mira tanpa menoleh. “Lagi mikir apa?”
Raito berdiri, berjalan ke meja kecil. “Aku mikir… aku nggak mau tunda lagi. Aku mau pegang Eclipse Stone malam ini. Bukan karena dipaksa. Bukan karena Shadow Serpent. Karena aku sudah siap terima jawabannya.”
Mira berhenti memotong. Dia menoleh, mata tajam tapi tidak menghakimi. “Kamu yakin? Kemarin kamu bilang belum siap.”
Raito mengangguk pelan. “Aku masih takut. Tapi takut itu nggak akan hilang kalau aku terus tunda. Aku takut pulang dan jadi orang biasa lagi. Aku takut kalau aku tinggal, aku nggak akan pernah tahu apa yang ada di balik portal. Tapi aku lebih takut kalau aku nggak pernah pilih.”
Mira meletakkan pisau. “Kalau kamu pegang batu itu malam ini… apa yang kamu harapkan?”
Raito duduk di kursi seberang. “Aku harap batu itu tunjukkin apa yang harus aku lepaskan. Dan apa yang nggak perlu aku lepaskan. Aku nggak mau kehilangan kalian. Aku nggak mau kehilangan cahaya ini. Tapi aku juga nggak mau hidup setengah-setengah—selalu ragu antara pulang dan tinggal.”
Yuna bergumam dalam tidur, membalikkan badan. Raito menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Mira.
“Aku mau bawa Yuna ikut malam ini. Dia bagian dari ini sekarang. Dia harus lihat aku pilih.”
Mira diam sejenak. Lalu dia mengangguk. “Baik. Tapi kalau ada tanda bahaya—Shadow Serpent atau apa pun—kita langsung kabur. Batu itu penting, tapi kalian lebih penting.”
Raito tersenyum kecil. “Kita sama-sama.”
Mereka sarapan dalam diam yang nyaman. Yuna bangun karena bau roti, langsung duduk di meja dengan mata masih ngantuk tapi senyum lebar.
“Kak Raito masak telur? Wah, enak!”
Raito tertawa. “Bukan aku. Kak Mira yang masak. Aku cuma bantu bakar rotinya.”
Yuna mengunyah dengan lahap. “Nanti aku yang masak buat kalian ya? Aku bisa bikin sup sayur!”
Mira mengacak rambut Yuna. “Nanti kita masak bareng. Setelah urusan malam ini selesai.”
Yuna berhenti mengunyah. “Malam ini kalian mau ke mana lagi?”
Raito menatapnya lembut. “Ke gudang itu lagi. Aku mau pegang batu itu. Aku mau tahu apa yang harus aku lakukan.”
Yuna mata membesar. “Aku ikut! Aku nggak mau nunggu sendirian lagi.”
Mira dan Raito saling pandang. Mira mengangguk pelan.
“Baik. Kamu ikut. Tapi tetap di belakang kami. Jangan lepas tangan Kak Raito.”
Yuna tersenyum lebar. “Janji!”
Sore menjelang, mereka bertiga berjalan ke gudang nomor 47. Kali ini tidak ada Sera—dia bilang dia akan pantau dari jauh dengan Echo Prism. Langit sudah mulai gelap, tapi tidak ada hujan. Hanya angin dingin yang membawa bau besi karat dan asap jauh.
Pintu gudang terbuka lebar—seperti menunggu. Tidak ada penjaga. Tidak ada suara. Hanya cahaya kuning samar dari dalam.
Raito maju duluan. Yuna memegang tangan kirinya erat-erat. Mira di belakang, pisau sudah di tangan.
Di dalam, Eclipse Stone masih di meja tengah—sendirian, bercahaya pelan. Harlan tidak ada. Viktor tidak ada. Hanya batu itu, seperti sudah tahu mereka akan datang.
Raito berdiri di depan meja. Dadanya berdegup kencang.
Yuna berbisik. “Kak… kamu takut?”
Raito mengangguk jujur. “Takut. Tapi aku nggak mau lari dari takut itu.”
Mira meletakkan tangan di bahu Raito. “Kami di sini. Apa pun yang terjadi.”
Raito mengulurkan tangan kanan. Jari-jarinya gemetar sedikit saat mendekati batu itu.
Saat ujung jari menyentuh permukaan dingin Eclipse Stone, dunia seolah berhenti.
Cahaya putih keemasan meledak pelan dari batu—bukan ledakan destruktif, tapi seperti pintu yang terbuka lebar. Cahaya itu menyapu ruangan, menyatu dengan cahaya dari dada Raito. Retak di dalam dirinya terasa melebar—tapi bukan sakit. Ia terasa seperti napas panjang yang akhirnya dilepas.
Gambar-gambar muncul di pikirannya, cepat tapi jelas:
Jakarta malam hari, lampu minimarket berkedip, motornya melaju sendirian.
Hutan Zevil, senyum Gon, tawa kecil saat masak daging.
Mira di atap, tersenyum saat bilang “kita sama-sama”.
Yuna memeluknya, tangisnya berubah jadi tawa.
Dan di tengah semua itu, dirinya sendiri—berdiri di persimpangan dua dunia, retak di dadanya seperti jendela pecah yang membiarkan cahaya masuk dari kedua sisi.
Suara batu itu terdengar di kepalanya—bukan kata, tapi rasa:
Kau sudah terima retak. Sekarang kau harus pilih: tutup retak dan pulang sebagai orang lama, atau biarkan retak terbuka dan tetap di sini sebagai orang baru.
Raito menarik napas dalam. Dia tidak langsung jawab.
Dia menoleh ke Mira dan Yuna. Mira memandangnya dengan mata penuh kekhawatiran tapi juga kepercayaan. Yuna memegang tangannya erat, mata besar penuh harap.
Raito tersenyum kecil—senyum yang tenang, yang sudah lama tidak dia tunjukkan.
“Aku pilih tetap di sini,” katanya pelan, tapi jelas. “Aku pilih biarkan retak ini terbuka. Aku pilih jadi orang baru—bersama mereka.”
Cahaya di batu berdenyut sekali—kuat, hangat. Retakan di batu mulai menyatu pelan, garis-garis cahaya menyatu seperti jahitan yang sembuh.
Portal kecil terbuka di atas batu—lingkaran cahaya putih keemasan sebesar piring. Di dalamnya, Raito melihat kilasan dunia lamanya—Jakarta, jalan tol, kamar kos kecil. Tapi ia tidak terasa seperti rumah lagi.
Ia terasa seperti kenangan.
Raito lepaskan tangan dari batu. Portal tetap terbuka, tapi tidak menariknya.
Batu itu bergetar pelan—lalu diam. Cahayanya meredup, retakannya sembuh sepenuhnya.
Portal tetap terbuka—tapi stabil, tenang, seperti pintu yang bisa ditutup kapan saja.
Raito menoleh ke Mira dan Yuna.
“Aku… nggak pergi sekarang. Aku mau tetap di sini. Bersama kalian. Sampai aku yakin sepenuhnya.”
Yuna menangis senang, memeluk Raito erat-erat.
Mira meletakkan tangan di bahu Raito. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya lebar.
“Kita punya waktu. Kita cari tahu bareng. Apa pun yang terjadi selanjutnya… kita hadapi bareng.”
Raito mengangguk. Dia memeluk Yuna balik, lalu Mira ikut memeluk mereka berdua.
Portal di atas batu tetap terbuka—pintu pulang yang tidak lagi menakutkan.
Karena sekarang Raito tahu: pulang bukan berarti kehilangan semua ini.
Pulang berarti membawa semua ini bersamanya—retak, cahaya, orang-orang, dan cerita.
Dan cahaya di dadanya berdenyut—bukan lagi kecil, tapi terang, stabil, seperti fajar yang akhirnya memilih menyingsing.
Di luar gudang, Yorknew terus bernapas.
Tapi di dalam, tiga orang berdiri bersama—tidak lagi takut pada retak.
Karena retak itu sekarang adalah tempat cahaya paling terang bersinar.