Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Dari Paula
Setibanya di tenda, Julio langsung menunjuk seorang wanita yang pingsan di atas karpet mahal.
“Aku tidak tahu siapa wanita ini,” kata Julio, suaranya dipenuhi kejengkelan. “Dia datang diam-diam dan menyelinap masuk ke tenda, membiusku lalu mencoba memperkosaku.”
Estevan mengangkat alis. “Jadi, kamu diperkosa?”
“Tidak! Tentu saja tidak!” Julio merengut. “Aku bahkan tidak mengenalnya. Itu sebabnya aku memanggilmu—mungkin kamu tahu siapa dia.”
Estevan menatap wajah wanita itu yang tersorot cahaya lentera, lalu menghela napas. “Namanya Paula Perrone. Dia dari keluarga Baron Perrone. Tunangan Charls yang sekarang menjadi Marquis Kyron.”
Julio memicingkan mata. “Mengapa dia datang ke tendaku?” Ia sama sekali tidak mengerti.
Charls Kyron? Bukankah itu mantan suami Alicia?
“Bagaimana aku tahu,” jawab Estevan sambil mengangkat bahu. "Kamu dibius kan? Lalu bagaimana kamu mengatasinya?"
Julio menjawab dengan tenang—meski wajahnya memerah. “Aku tidur dengan Alicia.”
Estevan membeku sejenak. “… Kalau begitu, kamu bisa berdiskusi dengan dua saudara kandung itu tentang menangani Paula. Jangan libatkan aku.”
“Aku baru saja bertengkar dengan Bernard.” Julio mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Dia jelas mengira aku melecehkan Alicia. Dan … yah, itu cukup sengit ketika kami melakukannya.”
“… Kamu ketahuan saat tidur dengan adiknya?”
“Kami melakukannya di balik semak-semak,” jawab Julio tanpa malu-malu. “Untungnya dia muncul setelah kami selesai. Tapi dia memergoki kami sedang berciuman.”
Estevan terdiam lagi. Sekujur punggungnya merinding. Kalau aku dan Beatrice ketahuan oleh Angelo … apakah nasibku akan lebih buruk dari Julio? Pikiran itu membuatnya menelan ludah.
“Aku tidak mau mengurus wanita ini,” kata Estevan saat melihat Paula yang pingsan. “Pergilah cari Alicia dan Bernard. Mereka yang harus menangani situasi ini.”
Julio memandangnya ragu. “Bernard benar-benar tidak akan memukulku?”
Estevan menggeleng. “Kurasa tidak. Dia masih cukup waras untuk tidak memukul putra mahkota.”
......................
Ketika Julio datang ke tenda Marquis Vort—menjelaskan apa yang terjadi, Bernard memang langsung murka. Namun amarah itu berubah menjadi jengkel ketika Julio menyebut soal Paula. Begitu Alicia—yang ternyata belum tidur—mendengar nama Paula, ekspresinya langsung mengeras.
“Kakak, itu wanita itu lagi!” Mata Alicia memerah karena marah. Suaranya bergetar, bukan oleh ketakutan, melainkan oleh rasa jijik dan dendam lama.
Marquis Vort memandang putrinya yang kehilangan ketenangan. Lalu mendesah panjang dan berat. “Apakah itu wanita yang menjebakmu dengan Marquis Kyron sebelumnya?” tanyanya dengan suara rendah.
“Itu dia.” Alicia mengepalkan tangan, kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri.
Wajah Marquis Vort menggelap seketika. Aura gelap memancar dari tubuhnya. “Kalau begitu, wanita ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
"Ayah benar." Bernard mengangguk, rahangnya menegang. Ia mengalihkan tatapannya ke Julio. “Pangeran, di mana wanita itu sekarang?”
“Masih pingsan di tendaku,” jawab Julio.
“Kalau begitu, kami akan membawanya dan menanganinya sendiri.” Bernard berbicara dengan nada datar, tetapi tatapannya menunjukkan niat yang sangat jelas. Masalah ini tidak bisa berakhir begitu saja!
“Tidak masalah." Julio mengangguk. “Lakukan sesuka kalian. Tapi jangan berlebihan. Ini wilayah Grand Duchy, Evan tidak akan senang jika terjadi keributan hanya karena seorang wanita.”
Bernard mendengus pelan. “Jangan khawatir. Saya hanya marah, bukan gila.”
Setelah itu, ia berdiri dan memberikan isyarat pada adiknya untuk tetap di tempat. Sementara ia mengikuti Julio untuk membawa Paula.
Paula yang masih tak sadarkan diri, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bukan hanya gagal meniduri putra mahkota, tapi juga akan jatuh ke tangan keluarga Vort.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, perburuan musim semi kembali dilanjutkan setelah dipastikan bahwa putra mahkota dalam kondisi baik. Julio kembali berkuda dan ikut berburu, meski kali ini ia membawa lebih banyak pengawal daripada sebelumnya. Ia berangkat pagi-pagi sekali dan kemungkinan hanya bisa sarapan di perjalanan.
Pagi itu berjalan tanpa keanehan apa pun. Estevan tidak terburu-buru meninggalkan kamp karena memang tidak mengejar posisi pertama dalam perburuan tahun ini. Ia masih bisa sarapan dengan santai bersama Duke Vassal dan Angelo. Beatrice pun menikmati bubur ayam suwirnya tanpa menyadari drama yang tengah terjadi di tempat lain.
“Suasana di tenda Marquis Kyron kacau sejak pagi buta tadi. Mereka memutuskan mundur dari perburuan,” ujar Angelo sambil memakan sarapannya.
Beatrice memandangnya dengan mata berbinar karena penasaran. “Ada apa dengan Marquis sombong itu?”
“Kakak tidak tahu detailnya,” jawab Angelo. “Tapi dia terlihat sangat marah—bahkan menampar Paula berkali-kali.”
“Pasangan toksik yang jatuh cinta tapi saling membenci itu bertengkar lagi?” gumam Beatrice, mencoba menebak-nebak namun tak mendapat gambaran apa pun.
Tidak lama setelah itu, Erica yang ikut mendampingi Beatrice ke perburuan—kembali setelah melakukan sesuatu. Wajahnya berseri-seri dan penuh energi gosip.
“Aku menyuruh Erica menggali informasi,” kata Angelo. “Pelayanmu itu benar-benar ahli dalam urusan seperti ini.”
“Nona Muda!” Erica hampir melompat ketika mendekat. “Ada berita besar!”
Beatrice buru-buru menggeser duduknya dan memberi ruang bagi Erica untuk duduk. “Cepat katakan.”
Erica pun duduk dan mulai bercerita. Ia menjelaskan bagaimana Charls—yang rupanya diberi obat tidur oleh Paula—terbangun oleh wewangian aneh. Salah satu bawahannya memberi laporan bahwa Paula pergi diam-diam ke tenda pria lain dan tidak kembali. Charls mengira bahwa Paula selingkuh di belakangnya.
“Perselingkuhan?” Beatrice mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Tuan Charls memergoki Nona Paula sedang tidur satu ranjang dengan seorang tuan muda mesum. Masih terpergok sedang begituan di dalam tenda,” lanjut Erica penuh semangat. “Dan yang lebih keterlaluan, Nona Paula terang-terangan berkata vulgar dan membandingkan kemampuan pria itu dengan Tuan Charls.”
Beatrice menepuk dahinya. “Wanita itu gila! Lalu?”
“Charls marah besar. Ia langsung menjambak rambut Nona Paula dan menyeretnya keluar tanpa sehelai pakaian pun,” jelas Erica. “Untung waktu itu masih gelap, hanya penjaga yang melihatnya.”
Duke Vassal mengangkat sebelah alis, sedikit terkejut.
Namun Erica belum selesai bercerita. “Mereka berdua akhirnya bertengkar. Tapi karena Nona Paula masih dibius, dia justru menerkam Tuan Charls. Dan mereka—yah—melanjutkan itu di dalam tenda dengan cukup liar.”
Beatrice hampir tersedak bubur ayam suwirnya. “Dan pria itu masih meladeninya?”
“Ya. Penjaga Tuan Charls sendiri yang bercerita. Mereka mendengar suara-suara keduanya yang penuh gairah.”
Beatrice tidak terkejut sebenarnya. Charls memang terobsesi pada Paula sampai batas yang paling memalukan di dunia.
Erica melanjutkan, kini dengan ekspresi yang dibuat lebih dramatis. “Tapi itu bukan berita utamanya! Ada sesuatu yang lebih besar.”
“Cepat katakan!” Beatrice hampir menggampar lengan Bernard karena rasa penasaran yang tinggi.
Erica memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Hanya Millie dan Niall yang diam-diam ikut menyimak dari jauh. Setelah itu, ia menurunkan suaranya.
“Nona Paula melarikan diri setelah efek obat mulai hilang. Dia mencoba mencari putra mahkota. Tapi saat tahu Pangeran Lio sudah berangkat berburu sejak pagi buta, dia langsung mengejarnya ke dalam hutan.”
Vernox yang tadinya tidak peduli di dekat Estevan—ikut menyimak. “Dia berani masuk hutan? Dia bahkan tidak tahu ke arah mana pangeran pergi?”
“Benar,” jawab Erica. “Karena itu dia langsung pergi ke hutan dan mencarinya gila-gilaan. Dan Tuan Charls mengejarnya. Dia mengancam akan membunuhnya jika Nona Paula berani mengejar Pangeran Lio. Nona Paula ketakutan dan berlari semakin dalam ke hutan tanpa arah. Tapi Charls berhasil menyusulnya hingga ke tepi sungai.”
Beatrice menahan napas. “Lalu apa yang terjadi?”
Erica melanjutkan dengan nada serius. “Dalam amarahnya, Tuan Charls tak sengaja mendorong Nona Paula terlalu keras. Dia jatuh ke belakang dan kepalanya membentur batu.”
Beatrice membeku. “Apakah … dia tewas?”
Erica mengangguk keras. “Ya, Nona Paula langsung tewas di tempat. Bagian belakang kepala Nona Paula pecah dan mengeluarkan banyak darah. Matanya terbuka lebar saat meninggal. Karena itu, rombongan Marquis Kyron langsung pergi membawa mayatnya sebelum ada orang lain yang mengetahui hal tersebut.”
Suasana di sekitar tenda langsung hening. Bahkan semangkuk bubur ayam suwir di tangan Beatrice pun tampak kehilangan uap panasnya.