Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gazebo
Siang itu udara taman terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menggantung tenang di langit biru pucat, cahayanya menyelinap di antara dedaunan dan jatuh seperti serpihan emas di atas rerumputan yang terpangkas rapi.
Elenna berdiri di sudut taman belakang, dekat rumah kaca kecil yang jarang disentuh orang lain. Di sanalah ia biasa bekerja, atau lebih tepatnya, bersembunyi dari pandangan orang lain.
Tangannya yang ramping bergerak hati-hati memotong tangkai mawar putih, menyisakan duri-duri kecil yang ia bersihkan satu per satu. Di sampingnya sudah tersusun beberapa tangkai bunga dan lavender kering yang ia siapkan sejak pagi.
Merangkai bunga adalah satu-satunya hal yang tidak pernah Ia lakukan dengan rasa takut.
Ia mengikat pita tipis berwarna gading di pangkal rangkaian itu, memiringkan kepalanya sedikit untuk menilai komposisi warna. Mawar putih di tengah, dikelilingi semburat ungu lembut dan hijau pucat.
Sederhana, dan tidak mencolok. Seperti dirinya sendiri
Dari kejauhan terdengar suara cangkir beradu pelan dengan tatakan porselen. Elenna menoleh tanpa sadar.
Di gazebo marmer dekat kolam air mancur, Marquess duduk dengan postur tegap seperti biasa. Di sisi kanannya Lilith tampak anggun dengan gaun musim semi berwarna biru muda. Louis duduk tak jauh darinya, ekspresinya santai namun penuh perhatian. Alberto berdiri sebentar sebelum akhirnya duduk setelah pelayan menarikkan kursi untuknya.
Mereka terlihat… seperti keluarga yang harmonis. Seperti potret keluarga yang tidak pernah kekurangan satu pun bagian.
Elenna memperhatikan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Angin menggerakkan helaian rambutnya yang terikat longgar, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang melirik ke arah sudut taman tempat ia berdiri...
Bukan karena tak melihat, melainkan karena tak pernah merasa perlu.
Ia menunduk kembali pada rangkaian bunganya. Jari-jarinya melanjutkan pekerjaan dengan tenang, meski hatinya sedikit mengeras. Rasa itu tidak lagi setajam dulu. Sudah terlalu sering ia rasakan untuk masih bisa melukai dalam.
“Festival Gadis Suci akan segera tiba.”
Suara Marquess terdengar jelas, berat dan berwibawa. Bahkan dari jarak itu, nada keputusannya terasa tegas.
Tangan Elenna berhenti sesaat. Festival Gadis Suci? Tentu saja ia tahu mengenai festival itu.
Ia sudah mendengar bisik-bisik pelayan sejak beberapa hari lalu. Kota sedang bersiap. Jalan utama akan dihiasi pita putih dan kereta kuda kerajaan. Para pendeta dari Katedral akan turun langsung memimpin prosesi berjalannya festival.
Festival itu bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah simbol.
Tradisi yang dimulai sejak permaisuri yang sekarang naik takhta. Sang Permaisuri, yang dikenal sebagai wanita religius dan berpengaruh, mencetuskan ritual tahunan di mana setiap keluarga bangsawan diwajibkan mengirimkan satu perwakilan gadis yang belum menikah untuk menerima air suci dari para pendeta.
Ritual tersebut melambangkan kemurnian, keberkahan, dan kehormatan keluarga. Keluarga yang tidak memiliki gadis harus membayar upeti dalam jumlah besar sebagai bentuk “kontribusi kesetiaan”.
Namun, bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu gadis…
Hanya satu yang dianggap layak mewakili nama keluarga, sementara yang lainnya tidak terpilih dan berdiri di belakang.
Di gazebo, Lilith tersenyum tipis. “Ayah tentu sudah memutuskan, bukan?”
Nada suaranya lembut, seolah ucapannya itu hanyalah formalitas.
Alberto menambahkan dengan ringan, “Dengan reputasi keluarga kita, tentu perwakilannya harus yang paling… sesuai.”
Louis tidak langsung berbicara. Ia hanya menatap cangkir tehnya sebentar sebelum mengangkat pandangannya ke arah Marquess.
Marquess menyandarkan punggungnya. “Ini bukan perkara yang rumit.”
Hening sesaat.
“Lilith akan mewakili keluarga.”
Tidak ada penolakan. Tidak ada pertimbangan. Tidak ada nama lain yang disebut.
Angin berembus pelan melewati taman. Di sudut yang jauh, Elenna kembali menggerakkan tangannya, seolah tidak ada yang berubah. Ia mengikat pita kedua pada rangkaian bunga yang lain, kali ini sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
Tentu saja Lilith.
Sejak kapan ia pernah dipertimbangkan?
Sejak kapan namanya muncul dalam silsilah keluarga selain sebagai bayangan yang sebaiknya tidak terlihat?
Lilith menunduk anggun. “Aku tidak akan mengecewakan Ayah.”
“Pastikan kau menjaga sikap,” ujar Marquess. “Festival ini disaksikan langsung oleh utusan istana. Permaisuri sendiri terkadang hadir tanpa pemberitahuan.”
Louis tersenyum samar. “Dengan Lilith, keluarga kita akan bersinar.”
Alberto akhirnya berbicara, suaranya tenang. “Persiapan harus matang. Gaun, pendamping, pengawalan.”
Ia sempat melirik ke arah taman, dan untuk sepersekian detik, pandangannya bertemu dengan Elenna.
Tatapan itu tidak lama.
Namun, cukup untuk membuat jantung Elenna berdetak
sedikit lebih keras.
Apakah ia akan mengatakan sesuatu?
Tidak.
Alberto kembali menoleh ke meja teh.
Seolah pertemuan singkat itu tidak pernah terjadi.
Elenna menarik napas perlahan.
Ada rasa kecil yang bergerak di dadanya, bukan lagi luka yang tajam, melainkan sesuatu yang lebih halus. Sejenis kesadaran pahit.
Ia tidak marah. Tidak juga terkejut.
Hanya… lelah.
Dulu, mungkin ia akan menunggu. Berharap namanya disebut, meski hanya sebagai formalitas sebelum ditolak. Dulu, ia mungkin akan bertanya dalam hati apakah ada yang salah dengannya.
Sekarang?
Ia sudah tahu jawabannya.
Ia mengangkat rangkaian bunga yang sudah selesai dan menatapnya sejenak. Putih bersih, rapi, tanpa cela.
Ironis.
Festival tentang kemurnian.
Dan dirinya, yang wajahnya masih menyimpan bekas luka lama, tidak akan pernah cocok berdiri di altar suci mana pun.
Dari gazebo terdengar tawa kecil Lilith. Suaranya ringan, hampir manis.
“Aku akan memilih gaun putih dengan bordir perak,” katanya. “Sesuai dengan tema tahun ini, bukan?”
Marquess mengangguk puas.
Tidak ada satu pun yang menyebut kemungkinan lain.
Tidak ada yang bertanya, “Bagaimana dengan Elenna?”
Seolah Ia memang tidak pernah ada dalam daftar pilihan. Angin kembali bergerak, kali ini membawa aroma teh melati ke arah rumah kaca. Elenna menutup matanya sebentar.
Sedikit sakit?
Ya.
Namun, rasa itu hanya muncul sekilas, seperti bayangan awan yang lewat di atas matahari. Tidak cukup lama untuk benar-benar menggelapkan langit.
Ia membuka mata kembali.
Bodo amat, pikirnya datar.
Jika mereka tidak pernah menganggapnya bagian dari keluarga saat hal-hal terhormat dibicarakan, maka ia juga tidak perlu memaksakan diri merasa menjadi bagian dari mereka.
Justru lebih mudah begitu.
Ia merapikan pita terakhir, membersihkan sisa daun yang jatuh di meja kayu kecilnya. Tangannya kembali stabil, pikirannya lebih tenang dari beberapa menit lalu.
Di gazebo, pembicaraan berlanjut pada detail teknis, pengawalan, undangan makan malam setelah ritual, kemungkinan kehadiran bangsawan lain. Nama Elenna tetap tidak muncul.
Dan kali ini, ia tidak lagi menunggu.
Dengan langkah ringan, ia mengangkat keranjang kecil berisi bunga-bunga yang belum dirangkai dan berjalan menjauh dari rumah kaca. Tidak tergesa, tidak berusaha menarik perhatian.
Saat melewati jalur batu menuju sisi taman yang lain, ia sempat mendengar Marquess berkata, “Pastikan tidak ada kesalahan. Nama keluarga kita dipertaruhkan.”
Elenna tidak menoleh.
Nama keluarga.
Ia tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat. Jika nama itu begitu berharga, maka ia akan berhenti berharap suatu hari diakui di dalamnya.
Matahari siang masih bersinar terang, namun di dalam dirinya ada sesuatu yang semakin dingin dan semakin kokoh.
Bukan kebencian.
Melainkan jarak.
Dan jarak, kadang, jauh lebih berbahaya daripada luka terbuka.