Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Keluarkan semua bunga lili ini sekarang juga atau aku akan membuangnya sendiri lewat jendela.”
Alisha berdiri dengan tangan bersedekap di depan dadanya. Di hadapannya, tiga orang pelayan berseragam hitam putih yang kaku tampak terpaku. Mereka memegang vas kristal besar berisi lili putih yang wanginya memenuhi ruangan hingga terasa menyesakkan. Salah satu pelayan, seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul amat rapi, melangkah maju dengan kepala sedikit tertunduk.
“Mohon maaf, Nyonya Alisha. Ini adalah instruksi langsung dari Nyonya besar Raina,” ujar pelayan itu dengan suara yang datar dan tanpa emosi.
“Namaku Alisha. Dan aku alergi terhadap bau bunga lili yang menyengat ini,” sahut Alisha tegas.
“Nyonya Raina mengatakan bahwa bunga ini melambangkan kesucian keluarga Sagara.” Pelayan itu tetap bersikeras. “Kami hanya menjalankan tugas untuk memastikan ruangan ini sesuai dengan standar beliau.”
Alisha mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia merasa setiap inci dari sayap kanan rumah ini bukan lagi miliknya. Sejak ia menyetujui perjanjian tinggal bersama, Damian memberinya selusin pelayan khusus.
Namun, Alisha tahu mereka bukan di sini untuk membantunya. Mereka adalah pasang mata dan telinga milik ibunda Damian, Raina Sagara.
Setiap gerakannya dicatat. Jam berapa ia bangun. Apa yang ia makan. Berapa lama ia bicara dengan Arka di telepon. Semua dilaporkan dalam laporan harian yang berakhir di meja Raina.
Privasinya telah dirampas secara sistematis di balik topeng pelayanan mewah.
“Bawa keluar bunga itu!” perintah Alisha sekali lagi. “Sekarang!”
Para pelayan itu saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya membungkuk dan membawa vas-vas tersebut pergi. Alisha menghela nafas panjang saat pintu ganda kamarnya tertutup. Ia masuk ke dalam kamar Arka yang berada tepat di sebelah kamarnya.
Bocah itu sedang duduk di lantai, mengelilingi dirinya dengan tumpukan sirkuit elektronik dan sebuah laptop kecil.
“Ibu, jangan terlalu sering berteriak,” ujar Arka tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. “Itu hanya akan membuat mereka mencatat bahwa Ibu memiliki kontrol emosi yang tidak stabil.”
Alisha berlutut di samping putranya.
“Ibu hanya ingin sedikit ruang untuk bernafas, Arka.”
“Jika Ibu ingin nafas yang lega, Ibu harus melihat apa yang aku temukan di balik lampu tidur ini.” Arka menunjuk ke arah lampu meja berbentuk beruang di sudut ruangan.
Alisha mendekat dan memeriksa lampu tersebut. Di sela-sela hiasan kecil pada leher beruang itu, ada sebuah titik hitam yang sangat kecil. Ukurannya tidak lebih besar dari kepala jarum pentul. Alisha merasakannya dengan ujung kuku. Benda itu keras dan dingin.
“Kamera?” bisik Alisha dengan kemarahan yang membuncah.
“Model terbaru,” sahut Arka tenang.
“Memiliki mikrofon sensitivitas tinggi. Mereka bisa mendengar bisikan kita bahkan jika kita sedang berada di bawah selimut.”
Alisha berdiri dengan mata berkilat.
“Aku akan menemui Damian sekarang. Ini keterlaluan!”
“Jangan.” Arka menarik ujung gaun ibunya. “Jika Ibu melapor pada Ayah, Nenek akan tahu bahwa kita sudah menemukannya. Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih sulit dideteksi.”
“Lalu kita harus membiarkan mereka menonton kita seperti binatang di kebun binatang?” tanya Alisha frustasi.
Arka tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan cara Damian merencanakan akuisisi perusahaan. “Aku sudah meretas frekuensinya. Aku akan memasukkan rekaman loop.”
Jari-jari Arka menari dengan sangat cepat di atas keyboard. “Selesai. Sekarang, apapun yang terjadi di kamar ini, layar pemantau Nenek hanya akan menunjukkan rekaman aku yang sedang tidur dan Ibu yang sedang membacakan buku selama sepuluh jam ke depan.”
Alisha terpaku melihat layar laptop Arka. Di sana terlihat gambaran kamar yang tenang dan sunyi. Padahal, saat ini ia sedang berdiri dan Arka sedang membongkar peralatan elektroniknya. Kecerdasan Arka adalah pedang bermata dua yang selalu membuatnya takjub sekaligus ngeri.
“Kau belajar ini dari mana, Arka?”
“Ayah memberikan akses ke laboratorium keamanan Sagara minggu lalu.” Arka mengangkat bahu. “Dia pikir aku hanya ingin bermain game. Padahal sistem mereka sangat menyenangkan untuk dibongkar.”
Alisha mengusap rambut Arka.
“Gunakan bakatmu untuk hal baik, Sayang.”
“Menipu orang yang memata-matai kita adalah hal baik, Ibu,” sahut Arka telak.
Menjelang sore, Alisha keluar ke taman samping untuk mencari udara segar. Di sana, ia melihat Arka sedang duduk di kursi kayu panjang bersama seorang pria tua. Pria itu adalah Tuan Han, kepala pelayan senior yang sudah mengabdi pada keluarga Sagara selama empat dekade. Han dikenal sebagai pria yang paling setia dan paling diam di rumah ini”
Alisha memperhatikan dari kejauhan. Arka tampak sedang menunjukkan sesuatu pada tabletnya, sementara Han mendengarkan dengan saksama. Ada kehangatan yang aneh dalam interaksi mereka. Han yang biasanya sedingin patung es tampak tersenyum tipis.
“Tuan Muda memiliki mata yang sama dengan Tuan Damian saat masih kecil,” ucap Han terdengar samar tertiup angin.
“Apakah Ayah sering menangis saat kecil?” tanya Arka tiba-tiba.
Han terdiam cukup lama. Ia memandang ke arah paviliun tua di ujung taman yang sudah lama tidak berpenghuni.
“Tuan Damian tidak diizinkan untuk menangis. Nyonya Raina percaya bahwa air mata adalah racun bagi seorang pemimpin.”
“Apakah itu sebabnya Ayah tidak pernah tersenyum padaku dengan benar?” Arka mengejar.
Han menghela nafas berat. “Ada suatu malam, bertahun-tahun yang lalu. Di paviliun itu. Tuan Damian dikurung di sana selama tiga hari tanpa lampu hanya karena dia gagal dalam ujian matematika. Dia hanya ditemani oleh lukisan-lukisan tua yang menakutkan.”
Alisha yang mendengarkan di balik pohon besar merasa jantungnya mencelos. Ia tidak pernah tahu bahwa Damian melewati masa kecil yang begitu traumatis. Ia selalu mengira Damian lahir dengan hati yang sudah membeku. Ternyata, hati itu dibekukan secara paksa oleh ibunya sendiri.
“Kenapa Nenek sangat jahat?” tanya Arka terdengar bergetar.
“Beliau tidak merasa jahat, Tuan Muda.” Han menggelengkan kepalanya. “Beliau merasa sedang membentuk baja. Namun, baja yang terlalu sering ditempa tanpa rasa kasih sayang akan menjadi rapuh dan tajam.”
Han kemudian menoleh dan menyadari kehadiran Alisha. Pria tua itu segera berdiri dan membungkuk dengan sangat dalam. Wajahnya kembali menjadi topeng datar yang profesional.
“Nyonya Alisha. Saya tidak melihat kehadiran Anda,” ujar Han sopan.
“Tidak apa-apa, Han.” Alisha melangkah mendekat. “Terima kasih sudah menemani Arka.”
“Sudah menjadi tugas saya, Nyonya.” Han mulai melangkah pergi, namun ia berhenti sejenak di samping Alisha.
“Tuan Damian mungkin terlihat seperti tiran bagi Anda. Namun, di dalam rumah ini, ia sebenarnya sedang mencoba melindungi Anda dan Tuan Muda dengan caranya yang kikuk. Ia tidak ingin paviliun itu terbuka kembali untuk Arka.”
Alisha tertegun mendengar kalimat itu. Han berlalu dengan langkah kaki yang pelan. Alisha menatap Arka yang kini kembali fokus pada tabletnya. Pengetahuan baru ini mengubah cara pandangnya terhadap Damian. Pria itu bukan hanya penculik yang merampas kebebasannya. Dia adalah penyintas dari kekejaman ibunya sendiri yang kini sedang berusaha mencegah sejarah berulang.
Malam harinya, Damian pulang lebih awal. Ia masuk ke sayap kanan dan menemukan Alisha sedang duduk di beranda kamar. Alisha tidak lagi menatapnya dengan kemarahan yang meluap-luap. Ada gurat kelelahan dan keraguan di wajah cantik itu.
“Para pelayan melapor bahwa kau membuang semua bunga lili dari kamarmu,” ujar Damian sambil melepaskan jam tangan mahalnya.
“Aku lebih suka bau tanah setelah hujan daripada bau kematian dari bunga itu,” sahut Alisha tanpa menoleh.
Damian berdiri di sampingnya, menatap taman yang gelap.
“Ibumu menaruh kamera di kamar Arka, Damian.”
Tubuh Damian menegang. Rahangnya mengeras seketika.
“Apa?”
“Arka sudah menanganinya dengan caranya sendiri,” lanjut Alisha. “Tapi aku ingin kau tahu bahwa rumah ini bukan tempat yang aman bagi mental anakku jika ibumu masih memegang kendali atas setiap jengkal lantai yang kami injak.”
Damian tidak menjawab, namun Alisha bisa melihat kepalan tangannya yang gemetar. Ada konflik hebat yang sedang berkecamuk di dalam diri pria itu. Antara rasa bakti yang dipaksakan pada ibunya dan rasa ingin melindungi putra yang baru saja ia temukan.
“Aku akan bicara pada Ibu,” putus Damian terdengar berat dan penuh tekanan.
“Bicara tidak akan cukup.” Alisha berdiri dan menatap mata Damian.
“Berikan aku kunci paviliun tua di ujung taman itu.”
Damian membelalakkan matanya. Wajahnya mendadak pucat pasi.
“Bagaimana kau tahu tentang tempat itu?”
“Sejarah tidak bisa disembunyikan selamanya dalam kegelapan, Damian,” bisik Alisha. “Jika kau ingin aku tetap di sini, berikan aku akses ke sana. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya ingin kau sembunyikan dari Arka.”
Damian menatap Alisha dengan tatapan yang sangat dalam. Untuk pertama kalinya, Alisha melihat sisi rapuh dari seorang Damian Sagara. Pria itu tampak seperti anak kecil yang baru saja rahasia terbesarnya terbongkar. Keheningan di antara mereka terasa sangat berat, sarat dengan emosi yang selama ini terkunci rapat.
“Besok,” kata Damian singkat sebelum berbalik pergi. “Besok aku akan membawamu ke sana.”
Alisha menatap kepergian Damian. Ia tahu bahwa mulai besok, hubungannya dengan Damian tidak akan pernah sama lagi. Mereka tidak lagi hanya bertarung soal hak asuh atau kontrak. Mereka mulai masuk ke dalam labirin masa lalu yang berdarah, tempat di mana semua monster keluarga Sagara dilahirkan.
Arka memperhatikan orang tuanya dari balik pintu kamar. Ia memegang sebuah kunci kecil berwarna perak yang ia ambil diam-diam dari laci kerja Han tadi sore. Ia tahu kunci itu milik paviliun tua. Dan ia tahu bahwa di balik pintu itu, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan atau justru menyatukan keluarga mereka selamanya.
“Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, Ayah,” gumam Arka kecil sambil tersenyum pada kegelapan.