Setelah dua puluh dua tahun berlalu, Gavin dan Aretha bertemu kembali. Namun Gavin tidak menyadari bahwa gadis cantik tersebut adalah orang dari masa kecilnya, ke duanya bekerja di perusahaan yang sama. Aretha tak pernah lupa dengan Gavin, sekalipun mereka sudah tidak ada komunikasi sejak terakhir bertemu. Lalu bagaimana dengan Gavin? Akankah dia ingat dengan Aretha? Apakah Aretha akan menagih janji om Leo padanya untuk menjadikan Gavin suami Aretha?
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama, tiga tahun lalu ke duanya sempat bertemu dan Aretha salah paham dengan status Gavin.
“Dasar papa tidak bertanggung jawab. Nitip anak tapi tidak ingat,” ucap Aretha sadis.
“Haah! Anak? Kapan kamu nikah, Vin?” ucap Langit dan Raja bersamaan.
Gavin mengerutkan dahinya, dia termangu menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Lalu bagaimana kisah dan hari-hari mereka nantinya?
cover by pinterest & canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ghibahnya Azura, Enzo dan Queena
Tiga tahun kemudian
Gadis kecil berkuncir di kanan dan kiri tampak berlarian di taman belakang rumah Queena, gadis kecil itu sedang mengejar kucing.
“Meong cini. Zula tu capek kejal-kejal meong teluc, lemak Zula nanti luntul. Kacian mommy cudah capek kacih mam Zula,” teriaknya pada kucing peranakan yang terus lari karena menghindar dari kejaran bocah yang usianya akan genap empat tahun dua minggu lagi.
“Haaihh,” Enzo menghela napas melihat tingkah si bungsu. “Rasanya pengen aku tuker tambah bocah satu itu,” ucap Enzo.
Queena tertawa, dia selalu merasa puas jika sepupunya tersebut kewalahan menjaga Azura. Saat itu Enzo sedang membawa Azura main ke rumah onty dan om nya, alasannya satu. Azura mau bermain dengan kucing-kucing milik Queena, karena mommy Rena tidak mengijinkan Azura memelihara kucing di mansion. Berakhirlah Enzo yang akan jadi tumbal sang adik, agar kakaknya itu mau mengantarkan dirinya ke rumah onty Rhea dan om Rega.
“Mbak Aretha kapan pulang, bang?” tanya Queena.
“Mommy bilang dua minggu lagi,” Enzo yang tadinya tiduran di gazebo langsung bangun dan duduk saat sang adik sepupu bertanya tentang kakak cantik mereka.
“Sampai hari ini aku masih tidak mengerti alasan mbak Aretha memilih kuliah di sana, padahal dia bilang mau lanjut di Indonesia. Abang bagaimana?” tanya Queena.
“Bagaimana apanya?” Enzo mengerutkan dahinya.
“Soal mbak Aretha, siapa lagi memang?” kesal Queena.
Enzo menghela napas, tiga tahun lalu mungkin dia masih belum terlalu mengerti. Namun seiring berjalannya waktu, adik Aretha akhirnya tahu alasan sang kakak memilih untuk kembali melanjutkan pendidikan di negara orang.
“Semua gara-gara pria bernama Gavin itu,” Enzo selalu emosi saat menyebut nama Gavin.
“Abang Gavin? Memang kenapa dengan bang Gavin?” bingung Queena.
Enzo menoleh. “Kamu tahu pria yang bernama Gavin-Gavin itu, cil?”
“Cal cil cal cil…panggil Ueena, aku aduin mbak Aretha nanti. Nama yang dia kasih buatku di ganti,” protesnya dan Enzo hanya nyengir kuda karena namanya juga hasil karya dari sang kakak.
“Heran. Kalau sama orang lain kalem, sama aku situ galak amat. Jangan-jangan dua kepribadian cil…eh Ueena,”
“Abang berisik,”
“Hahaha. Iya-iya, sorry. Lanjut yang tadi soal Gavin,”
“Abang Gavin sepupunya Arlo, masa abang ndak tahu kalau mbak Aretha sama bang Gavin itu teman masa kecil? Papa pernah cerita kalau ada satu kejadian yang membuat om Leo janji kalau bang Gavin kelak jadi suaminya mbak Aretha. Semacam cinta mo nyet mungkin dulunya mereka,” jawab Queena.
“Pantas saja mbak Aretha patah hati,”
“Haah! Patah hati bagaimana, bang?”
“Ya patah hati. Karena Gavin sudah menikah,” jawab Enzo.
“Siapa yang bilang? Abang Gavin sampai hari ini single, pacar saja dia tidak punya. Bagaimana ceritanya bisa menikah?” heran Queena.
“Mbak Aretha pernah lihat dia sama keluarga kecilnya,”
Queena langsung mengambil ponsel yang dia letakkan di sampingnya, dia membuka galeri ponsel dan mencari sesuatu. Queena mencari photo tiga tahun lalu, Enzo sampai ikut melihat layar ponsel sepupunya tersebut. Bahkan ke duanya tidak menyadari kalau Azura sudah kembali ke gazebo.
“Zula lelah, capek kali kejal-kejalan cama meong. Haluc na tu Zula kejal-kejalan cama abang ganteng,” oceh gadis kecil itu, namun tidak ada satupun dari ke dua kakanya itu yang menyahuti ocehan Azura.
“Pada ngapain cih? Cape cuekin Zula, ini plincess telcantik di mancion lho. Lebih cantik dali kakak Aletha,” ocehnya lagi. “Mana hauc lagi ini habic kejal meong,” cicitnya.
“Ini bocah satu berisik benar,” Enzo langung mengangkat Azura dan memangkunya. “Bocil diam dulu sebentar! Kita cari harta karun dulu,” titah Enzo diangguki Azura.
“Tapi Zula hauc. Tenggolokan cepelti padang pacil keling,”
Enzo menghela napas, dia lantas mengambil botol minum Azura yang ada di pojokan. “Ini minum dulu! Habis ini tidak boleh berisik,”
“Iya-iya. Dacar puna abang bawel,” ucapnya, Azura menyedot air mineral dari dalam tumblernya.
Gadis kecil itu ikut nimbrung ke dua kakaknya. “Ketemu,” pekik Queena.
“Telkejut aku ini,” celetuk Azura sambil mengusap-usap dadanya.
Queena tertawa, dia mencubit gemas Azura. “Sorry…mbak ndak tahu ada kamu,” ucapnya.
“Di kila Zula ini tlanpalan apa,” protesnya. “Ekhee…ada abang ganteng di citu,” tunjuk Azura pada layar ponsel Queena.
Queena lantas menunjukkannya pada Enzo. “Mungkin mbak Aretha waktu itu lihat mereka,”
Enzo mengambil alih ponsel Queena, dia melihat dengan seksama. Azura tidak mau kalah, gadis kecil itu masuk di sela-sela ke dua tangan sang kakak yang sedang melihat layar ponsel milik Queena.
“Kalau bukan anak dan istri Gavin, lalu mereka siapa?” tanya Enzo.
“Ciapa? Meleka ciapa mbak?” Azura ikut-ikutan.
“Adik sepupu sekaligus adik satu susuan bang Gavin, namanya kak Xabiru. Kalau yang anak kecil itu putranya kak Xabiru,” Queena memberitahu dua sepupunya tersebut.
“Berarti mbak Aretha salah paham dong?” lanjut Queena bertanya pada Enzo.
“Bisa jadi. Sia-sia dia berusaha move on, padahal hanya salah paham. Kasihan sekali,” ucap Enzo.
“Kacihan cekali kakak mochi,”
“Kamu ini ikut-ikutan saja,” Enzo mencubit gemas sang adik.
Azura terkikik. “Plincess lindu kakak mochi,” celetuknya.
“Kita juga kangen,” jawab Queena dan Enzo bersamaan.
***
Enzo dan Azura baru saja sampai di mansion, suara riuh memenuhi ruang keluarga ketika dua anak Axel dan Rena tersebut pulang.
“Mommy lontong eh tolong! Plincess di kejal apatal palcu,” suara Azura memecah keheningan mansion, semua penghuni mansion memang sudah terbiasa dengan itu.
Gadis kecil itu berlari mencari keberadaan mommy Rena, Azura langsung masuk ke ruangan kerja mommy Rena dan daddy Axel.
“Mommy!” panggil Azura.
“Iya, sayang. Pelan-pelan,” ucap Rena lembut.
“Siapa mom?”
Terdengar suara yang cukup Azura kenal, bocah itu langsung naik keatas sofa dan duduk di pangkuan mommy Rena. Azura melihat layar ponsel sang mommy.
“Ekhee…mommy bicala cama caingan aku lupa na,”
“Hahaha. Baby cimolku,”
“Bukan cimol, ini Zula…Azula anak cantik plincess na mommy Lena cama daddy Axel, maca jadi cimol. Cimol itu yang di kacih bumbu pedac, tapi enak. Zula mau,” ocehnya.
“Paketin Zura ke sini, mom. Itu pipi udah cimol banget,”
“Ekhee…ndak bica. Kakak yang haluc pulang cini, tapi haluc bawa banak oleh-oleh. Zula ndak bukain pintu kalo ndak bawa oleh-oleh,”
“Khusus kamu kakak bawakan balon saja,”
“Kalo begitu abang ganteng na kakak Aletha buat Zula caja. Wlee,”
Azura langsung menekan tombol merah yang ada di layar ponsel sang mommy, gadis itu memutus sambungan video Aretha dan sang mommy begitu saja. Mommy Rena lantas mengangkat tubuh gemoy putrinya agar dia duduk menghadap mommy Rena.
“Adek tidak boleh begitu sama kakak, nanti kalau kakak tidak jadi pulang gimana? Katanya adek rindu sama kakak Aretha,”
Azura menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya, jika mommy sudah menegur maka dia harus diam. Dia baru akan bicara setelah sang mommy selesai menegurnya. “Zula ndak celius, mommy. Zula belcanda, Zula cayank kakak Aletha. Zula mau kakak pulang,” ucapnya sambil berkaca-kaca.
“Akal bulus,” sahut Enzo saat melihat sang adik mode memelas pada sang mommy.
“Enzo!” tegur mommy Rena.
Enzo tertawa, pemuda 21 tahun tersebut ikut bergabung dengan mommy dan sang adik.
“Mom,”
“Ada apa, nak?” tanya mommy Rena pada putra ke duanya.
“Sepertinya mbak Aretha salah paham sama Gavin-Gavin itu,”
Mommy Rena mengusap kepala Enzo. “Mommy sudah tahu, tapi Enzo jangan dulu bilang sampai mbak pulang. Biarkan semesta yang mempertemukan mereka,”
Enzo mengerutkan dahinya. “Apa hubungannya semesta dengan mereka mom?”
“Kamu akan tahu jawabannya nanti,” mommy Rena lantas berdiri sambil menggendong Azura. “Adek mandi dulu, yuk! Biar cantiknya ndak luntur, nanti kalah cantik sama kakak Aretha. Princessnya mommy harus wangi,” canda mommy Rena.
cibe -cibe kalau ga salah