Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Harus Sendirian
Setelah hari itu, Senja mulai menyadari satu hal yang cukup mengganggu pikirannya:
hidup ternyata tidak seberat yang ia bayangkan—yang membuatnya berat adalah caranya memikul semuanya sendiri.
Ia selalu mengira dunia menuntutnya untuk kuat.
Padahal, sering kali yang menuntut itu justru pikirannya sendiri.
Beberapa hari berikutnya berjalan biasa saja.
Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen dramatis.
Tapi Senja mulai melakukan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia lakukan dengan sadar.
Ia membalas pesan lebih cepat.
Ia tidak langsung menutup diri saat merasa lelah.
Ia mulai mengatakan, “Aku capek,” tanpa menambahkan, “tapi nggak apa-apa.”
Dan anehnya, dunia tidak runtuh.
Di kampus, Kay menunggunya di bangku taman kecil dekat perpustakaan.
“Kamu kelihatan lebih tenang akhir-akhir ini,” kata Kay.
“Tenang atau pasrah?” jawab Senja.
“Bedanya?”
“Kalau pasrah, aku nggak peduli. Kalau tenang, aku peduli tapi nggak panik.”
Kay tersenyum kecil. “Berarti kamu tenang.”
Senja duduk di sampingnya.
Angin sore bertiup pelan. Daun-daun jatuh satu per satu.
“Aku baru sadar sesuatu,” kata Senja.
“Selama ini aku capek bukan karena hidupku berat, tapi karena aku selalu mikir aku harus menyelesaikan semuanya sendiri.”
Kay menoleh. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku mulai mikir… mungkin aku nggak harus jago sendirian di hidupku sendiri.”
Kay tertawa pelan. “Itu kalimat paling dewasa yang pernah keluar dari kamu.”
Senja tersenyum tipis. “Ternyata dewasa itu bukan tentang kuat, ya. Tapi tentang tahu kapan harus berhenti pura-pura kuat.”
Sore itu, Senja pulang lebih lambat dari biasanya.
Ia tidak langsung masuk kamar. Ia duduk di ruang tamu, membantu ibunya melipat baju.
Ibunya melirik. “Tumben nggak langsung ngurung diri.”
Senja mengangkat bahu. “Lagi pengen di luar kamar.”
Ibunya tersenyum kecil.
Tidak bertanya lebih jauh. Tapi Senja bisa merasakan ada kelegaan di sana.
“Aku dulu sering mikir kamu baik-baik aja,” kata ibunya pelan.
“Ternyata kamu cuma pintar nyembunyiin.”
Senja terdiam.
“Iya, Ma. Aku juga baru sadar.”
Ibunya berhenti melipat sebentar.
“Kamu nggak harus selalu kuat di depan ibu.”
Senja menelan ludah.
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dadanya terasa penuh.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menjawab dengan bercanda.
Ia hanya mengangguk.
Malamnya, Senja duduk di balkon kecil kamarnya.
Langit gelap. Lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu.
Ia membuka ponsel, membaca ulang catatan-catatan yang ia tulis beberapa minggu terakhir.
Tentang capek.
Tentang kosong.
Tentang takut.
Tentang jujur.
Ia baru sadar, semua tulisannya tidak pernah tentang ingin menyerah pada hidup.
Isinya selalu tentang ingin berhenti merasa sendirian di dalam hidup.
Dan itu membuatnya berpikir:
Mungkin masalahnya bukan hidupnya yang salah.
Mungkin ia hanya terlalu lama menjalani hidup tanpa ditemani siapa pun—bahkan oleh dirinya sendiri.
Hari berikutnya, Nara mengajaknya ke kafe kecil dekat kampus.
“Kamu jarang nongkrong sekarang,” kata Nara.
“Aku jarang nongkrong karena dulu aku capek pura-pura ketawa,” jawab Senja jujur.
Nara terdiam sebentar.
“Terus sekarang?”
“Sekarang aku nongkrong kalau aku pengen, bukan kalau aku butuh kelihatan normal.”
Nara tersenyum. “Itu versi kamu yang lebih enak diajak hidup.”
Mereka duduk lama, tidak banyak bicara.
Tidak perlu mengisi setiap jeda dengan kata-kata.
Dan Senja baru sadar:
dulu ia takut diam bersama orang lain,
karena ia takut pikirannya terdengar terlalu keras.
Sekarang, ia tidak terlalu takut lagi.
Malam itu, Senja menulis lagi di catatannya:
“Aku kira hidup itu tentang bertahan sendirian.
Ternyata mungkin hidup itu tentang berani mengakui
bahwa aku tidak sanggup sendirian.
Dan itu tidak membuatku gagal.
Itu hanya membuatku manusia.”
Ia menutup ponsel. Menatap langit-langit.
Ia masih belum sembuh.
Masih sering kosong.
Masih sering bingung.
Tapi satu hal mulai terasa jelas di dalam dirinya:
Ia tidak lagi berjalan sendirian di kepalanya sendiri.
Ia mulai berbagi ruang dengan orang lain.
Dengan Kay.
Dengan Nara.
Dengan ibunya.
Dan perlahan, dengan dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya,
hidup tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus ia lawan.
Tapi sesuatu yang bisa ia jalani—
pelan, tidak sempurna,
dan tidak harus sendirian.