“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beruntung
...“Kau beruntung karena kita sedang di negara orang.” — Elios Leopold...
Pasar tradisional pagi itu hidup seperti jantung yang berdenyut tanpa henti. Suara tawar-menawar bertabrakan dengan bunyi plastik kresek, dengan tawa anak-anak kecil yang berlari di sela-sela kaki orang dewasa. Bau cabai segar, ikan asin, dan minyak panas membentuk lapisan udara yang berat namun akrab. Seolah siapa pun yang masuk ke dalamnya harus rela bercampur dengan kehidupan orang lain.
Lea berjalan sedikit di depan Cedric. Langkahnya tidak sepenuhnya ringan saat itu. Ia berusaha terlihat santai, namun di dalam hatinya ada jarak yang tak bisa ia jelaskan. Cedric hanyalah teman sekelas yang sekadar ia tahu namanya. Tidak lebih. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya pertemuan biasa. Bahwa ia tidak sedang menggantikan posisi siapa pun.
“Andai Elios yang membawaku ke sini,” lirih Lea berharap.
Cedric berjalan di sampingnya dengan energi yang terlalu penuh. Terlalu percaya diri. Terlalu nyaman. Seolah-olah mereka memiliki sejarah panjang yang tak pernah benar-benar ada.
Di kejauhan, sekitar dua puluh langkah di belakang mereka, Elios mengikuti. Kaos putih polos membungkus tubuh tegapnya. Rambut berantakan yang tak sempat ia rapikan saat bangun tidur tadi, hanya ia rapikan dengan tangan tanpa bantuan cermin. Langkah santai, namun terukur. Tidak tergesa-gesa dan tidak mencolok. Ia seperti bayangan Lea—bergerak mengikuti tanpa suara.
Gang pasar itu menyempit dan semakin sesak karena ramainya pengunjung. Tiba-tiba ada sebuah motor yang melintas dengan suara knalpot yang bising. Lea sadar akan kehadiran motor itu. Dan sebelum Lea sempat menggeser posisi tegaknya, tangan Cedric sudah lebih dulu menarik pergelangannya. Gerakan yang cepat dan terlalu dramatis.
Tubuh Lea sampai terseret mendekat, bahkan hampir menabrak dada Cedric.
“Hey, hati-hati,” ucap Cedric lembut, seolah baru saja menyelamatkan Lea dari bahaya besar. Padahal motor itu masih berjarak aman untuk Lea beranjak. Ia berlagak sedang menjadi pahlawan bagi gadis itu.
Lea mengerjap dengan ekspresi sedikit terkejut. Namun sesaat kemudian ia berkata, “Terima kasih…”
Motor tadi sudah pergi, ucapan terima kasih pun sudah dilontarkan, tapi ada sesuatu yang terasa ganjil. Cedric tidak segera melepaskan tangannya. Jari-jari pria itu yang semula di lengannya, kini beranjak menggenggam tangannya.
Di belakang mereka, Elios berhenti melangkah. Ia melihat semuanya dengan darah yang mendidih. Pria itu tak seharusnya menarik Lea sekuat itu, dan tangan Cedric, kenapa masih menempel seperti lintah yang enggan dilepaskan?
“Bajingan!” batin Elios. Rahangnya mengeras dengan tinju yang mengepal. Ia tahu, Cedric melakukan itu bukan karena refleks ingin menyelamatkan, tapi itu adalah tindakan mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Lea menarik tangannya secara perlahan dari genggaman Cedric. “Aku ingin mencoba makanan itu,” dusta Lea cepat sambil menunjuk ke lapak jajanan tradisional sebagai alasan.
Cedric tersenyum tipis. Senyum seorang pria yang tidak terbiasa ditolak.
Di lapak tradisional tersebut tersedia klepon hijau mengkilap di atas daun pisang. Ada juga lupis yang terbungkus rapi dengan taburan kelapa parut. Lea menatap jajanan tersebut sambil menelan air liurnya. Aroma pandan yang makanan itu keluarkan sangat wangi dan menggugah selera.
“Ayo,” ajak Cedric sambil tangannya sengaja ingin meraih tangan Lea lagi.
Namun gadis itu tak akan terjebak untuk kedua kalinya. Dengan sigap ia melangkah lebih dulu sebelum tangannya benar-benar digenggam oleh Cedric.
“Ck! Gadis polos yang sedang jual mahal,” batin Cedric kesal. Ia pun berjalan mendekati Lea yang sudah memilih makanan yang akan ia beli.
Lea tersenyum simpul saat klepon yang ia pesan sudah berada di tangannya. Tak ingin berlama-lama, ia bergegas menggigit klepon tersebut. Gula merah hangat meleleh di dalam mulutnya.
Manis. Dan rasa manis itu mengingatkannya pada seseorang. Elios.
“Apa aku belikan untuknya?” batin Lea.
Di saat bersamaan, Cedric kembali mengusik Lea. Sejak tadi ia menatap gadis itu seolah sedang menonton sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar jajanan pasar.
“Kau masih sama,” katanya pelan. “Sedikit ceroboh.”
Lea mengerutkan alis sembari bibirnya terus mengunyah. “Ceroboh?”
Tanpa izin, tanpa peringatan, tangan Cedric terangkat. Ujung jarinya menyentuh sudut bibir Lea. Sebuah sentuhan yang lama.
“Ada gula,” dusta Cedric dengan sorot mata nakalnya. Padahal tidak ada apa-apa sama sekali di sudut bibir Lea.
Lea membeku sepersekian detik. Bukan karena terpana atau terkesima, tapi ia merasa pria itu semakin janggal. Pasalnya, dulu saat mereka sekelas, pria itu tak pernah terlibat interaksi berarti apapun dengannya—selain tentang pelajaran atau piket kelas. Selebihnya tak ada. Lalu, kenapa pria itu sekarang seperti sangat mengenalnya? Mengatakan bahwa dia masih sama seperti dulu, mudah percaya, lalu ceroboh?
“Oh... makasih,” lirih Lea tak nyaman. Senyumnya tak lagi tulus seperti sebelumnya. Hanya ada senyum tak nyaman dan ada sedikit rasa terpaksa.
Di saat yang sama, keramaian semakin padat. Tiba-tiba Cedric menggandeng tangan Lea. Bukan menarik, bukan menyentuh, tapi pria itu menggenggam tangannya tanpa sedikitpun rasa hormat.
Refleks Lea menarik tangannya meskipun tak dilepaskan oleh pria itu. “Cedric, jangan,” ucapnya pelan, namun penuh penekanan.
Dan tepat di detik itu juga sebuah tangan besar mencengkeram lengan Cedric dengan kekuatan yang membuatnya otomatis melepaskan Lea.
“Elios?” Lea terkejut dengan keberadaan pria itu. Pikirnya pria itu tak ada. Tapi ia salah dan terlalu menyepelakan pria itu. Bukankah dia Elios Leopold? Pria yang ditugaskan Martin De Geulle untuk mengawasinya hampir 24 jam setiap harinya?
Pria itu kini berada di antara Lea dan Cedric. Ia berdiri tanpa kata, tanpa teriakan dan tanpa drama. Tapi sorot matanya cukup untuk mengatakan satu kalimat: ‘Jauhkan tanganmu!’
Cedric menoleh kesal ke arah Elios. “Siapa kau?”
Elios sedikit mendekat ke arah Cedric, hanya agar suaranya tak terdengar orang lain. “Kau beruntung karena kita sedang di negara orang,” desisnya pelan dan sangat dingin.
Cedric mendadak tertawa kecil. Ia menyadari siapa pria itu. “Oh... penjaganya?” Kembali ia terkekeh mengejek ke arah Elios. Ejekan itu belum selesai ketika Elios sudah mengepalkan tinju.
“Kami hanya bersenang-se—“
Sebelum tinju mematikan itu melayang, Lea bergegas menahan lengan Elios. Seperti sedang menyiram berjuta ton air dingin di atas bara.
“El... kita sedang di tempat umum.”
Elios menoleh, menatap Lea lama. Jika bukan karena gadis itu, mungkin pagi itu pasar akan berubah menjadi medan perkelahian.
Pagi itu Lea memegang kendali. Ia menggenggam tangan Elios dan menarik pria itu pergi. Dan untuk pertama kalinya Elios membiarkan dirinya ditarik dengan patuh, tanpa penolakan. Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.
Sementara di belakang mereka, Cedric berdiri dengan senyuman tipis yang tak lagi ramah. “Menolak genggamanku... tapi menggenggam penjaga itu? Ck!” gumamnya sinis. “Menarik.”
...****************...
Bersambung....