Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan yang Canggung
Rumah sakit selalu punya aroma yang sama, perpaduan antara bau obat yang tajam dan kecemasan yang menggantung tipis di udara. Tapi bagi Kiki, indra penciumannya justru dipenuhi oleh sisa wangi parfum mewah dari kemeja Fikar yang menempel di bajunya. Sisa dekapan pria itu saat membawanya ke ruang gawat darurat tadi seolah enggan hilang.
Setelah melalui rontgen yang melelahkan, dokter memastikan tidak ada tulang yang patah. Pergelangan kaki Kiki kini dibebat perban elastis yang tebal. Pesan dokter singkat saja, jangan banyak bertingkah kalau mau cepat sembuh.
Sepanjang di rumah sakit, Fikar lebih banyak diam. Ia berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, mengamati dokter dengan tatapan yang sulit dibaca. Tapi, dia tidak pergi. Dia yang mengurus semua kerumitan administrasi dan memastikan Kiki mendapatkan kursi roda yang paling empuk. Ada rasa aneh yang menggelitik hati Kiki, pria yang biasanya menganggapnya tidak kasatmata, kini justru menjadi orang yang paling sigap menjaganya.
Sesampainya di rumah, jantung Kiki kembali berpacu. Tanpa aba,aba, Fikar membuka pintu mobil, membungkuk pelan, dan kembali mengangkat tubuhnya.
“Mas, aku bisa pakai kruk atau pegangan tembok...” protes Kiki lirih. Sejujurnya, ia merasa sangat aman di dalam dekapan itu, tapi rasa sungkan jauh lebih besar.
“Jangan membantah. Dokter bilang kakimu tidak boleh menahan beban,” jawab Fikar kaku. “Aku tidak mau proses sembuhmu lama. Bisa repot kalau Ibu curiga karena kamu tidak kunjung datang berkunjung.”
Kiki terdiam. Selalu ada alasan “Ibu” di balik setiap kebaikan Fikar. Ia membiarkan kepalanya bersandar sejenak di bahu Fikar saat pria itu menaiki tangga. Ini pertama kalinya Fikar membawa Kiki masuk ke kamar utama setelah sekian lama mereka tidur terpisah. Fikar membaringkan Kiki di atas kasur dengan sangat hati,hati, seolah takut istrinya itu akan pecah jika diletakkan terlalu kasar.
“Istirahat di sini. Jangan mencoba turun tanpa memanggilku,” ucap Fikar sambil menarik selimut hingga menutupi kaki Kiki.
“Memanggilmu? Tapi Mas harus kerja di ruang bawah, kan?” tanya Kiki heran.
Fikar melirik laptopnya yang sudah terpajang di meja rias. “Aku kerja di sini sore ini. Aku tidak mau dengar suara benda jatuh lagi karena kamu mencoba melakukan hal konyol sendirian.”
Kiki terpaku. Fikar akan bekerja di kamarnya? Keheningan yang menyusul kemudian terasa berbeda. Jika biasanya sepi di antara mereka terasa seperti tembok es, kali ini rasanya seperti kabut tipis yang hangat tapi membingungkan. Kiki memperhatikan Fikar yang duduk di sofa sudut kamar, fokus pada layar laptop dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Cahaya sore dari jendela menyoroti rahang tegasnya, membuat Fikar terlihat sedikit lebih... manusiawi.
Suara ketikan keyboard menjadi satu,satunya bunyi di ruangan itu. Kiki hanya bisa berbaring, menatap langit,langit. Biasanya, kamar ini adalah benteng tempat ia bisa menangis sepuasnya. Sekarang, kehadiran Fikar mengubah segalanya.
Satu jam berlalu, Fikar tiba,tiba menutup laptop dan keluar ruangan tanpa pamit. Tak lama kemudian, ia kembali membawa nampan berisi bubur hangat, air putih, dan beberapa butir obat.
“Makan. Kamu belum masuk nasi dari pagi,” ucap Fikar singkat. Ia membantu Kiki duduk bersandar dengan menumpuk bantal di belakang punggungnya.
Sentuhan tangan Fikar di bahunya membuat Kiki merinding halus. “Terima kasih, Mas. Tapi... nggak perlu repot. Aku bisa minta tolong Bi Ijah nanti,” bisik Kiki sungkan.
Fikar menatapnya tajam, jenis tatapan yang membuat Kiki langsung bungkam. “Bi Ijah sedang pulang kampung, kamu lupa? Dan aku tidak suka melihat orang di rumahku menderita hanya karena egonya sendiri. Cepat makan.”
Kiki mengambil sendok dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, saat hendak menyuap, nyeri di kakinya berdenyut hebat. Ia meringis, dan tangannya tanpa sengaja menyenggol pinggiran mangkuk hingga sedikit bubur tumpah ke seprai putih itu.
“Maaf, Mas! Maaf, aku nggak sengaja...” Kiki panik. Ia mencoba mengelap tumpahan itu dengan tangannya, takut Fikar akan murka karena kasur mahalnya kotor.
Tapi, Fikar hanya menghela napas panjang. Bukan napas marah, melainkan napas pasrah. Ia mengambil tisu, membersihkan sisa tumpahan, lalu mengambil alih sendok dari tangan Kiki.
“Duduk yang tenang,” ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut. Fikar menyendokkan bubur, meniupnya perlahan, lalu menyodorkannya ke mulut Kiki.
Kiki tertegun. Matanya membulat. Pemandangan ini terasa surealis. Fikar, pria yang menyebut pernikahan mereka sebagai kegagalan bisnis, kini menyuapinya dengan sabar. Di bawah cahaya lampu yang temaram, wajah Fikar tidak sedingin biasanya.
“Kenapa diam? Buka mulutmu,” ujar Fikar lagi. Kali ini ia membuang muka sedikit, seolah malu dengan apa yang dia lakukan.
Kiki menerima suapan itu dengan perasaan campur aduk. Hangat bubur itu menjalar hingga ke dadanya. Ia mulai bertanya,tanya, apakah di balik dinding es yang Fikar bangun dengan sangat kokoh itu, sebenarnya ada luka lama yang membuatnya takut untuk menjadi hangat?
Setelah selesai, Fikar membantu Kiki minum obat. Ia berdiri sejenak di samping tempat tidur. “Istirahatlah. Aku lanjut kerja di sofa. Kalau butuh apa,apa, panggil. Jangan nekat turun sendiri.”
“Mas...” panggil Kiki saat Fikar berbalik.
Fikar menoleh. “Apa lagi?”
“Terima kasih. Untuk semuanya.”
Fikar tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar, gerakan yang sangat minimalis, lalu kembali ke sofanya. Namun, Kiki sempat melihat tangan Fikar sedikit kaku saat menyentuh keyboard. Di tengah malam yang mulai larut, Kiki menyadari satu hal, terkadang, retak pada dinding yang paling kuat sekalipun adalah jala cahaya untuk masuk.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.