NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan yang Canggung

Rumah sakit selalu punya aroma yang sama: perpaduan antara bau obat yang tajam dan kecemasan yang menggantung tipis di udara. Tapi bagi Arini, indra penciumannya justru dipenuhi oleh sisa wangi sandalwood dari kemeja Aris yang menempel di bajunya. Sisa dekapan pria itu saat membawanya ke ruang gawat darurat tadi seolah enggan hilang.

​Setelah melalui rontgen yang melelahkan, dokter memastikan tidak ada tulang yang patah. Pergelangan kaki Arini kini dibebat perban elastis yang tebal. Pesan dokter singkat saja: jangan banyak bertingkah kalau mau cepat sembuh.

​Sepanjang di rumah sakit, Aris lebih banyak diam. Ia berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, mengamati dokter dengan tatapan yang sulit dibaca. Tapi, dia tidak pergi. Dia yang mengurus semua kerumitan administrasi dan memastikan Arini mendapatkan kursi roda yang paling empuk. Ada rasa aneh yang menggelitik hati Arini; pria yang biasanya menganggapnya tidak kasatmata, kini justru menjadi orang yang paling sigap menjaganya.

​Sesampainya di rumah, jantung Arini kembali berpacu. Tanpa aba-aba, Aris membuka pintu mobil, membungkuk pelan, dan kembali mengangkat tubuhnya.

​"Mas, aku bisa pakai kruk atau pegangan tembok..." protes Arini lirih. Sejujurnya, ia merasa sangat aman di dalam dekapan itu, tapi rasa sungkan jauh lebih besar.

​"Jangan membantah. Dokter bilang kakimu tidak boleh menahan beban," jawab Aris kaku. "Aku tidak mau proses sembuhmu lama. Bisa repot kalau Ibu curiga karena kamu tidak kunjung datang berkunjung."

​Arini terdiam. Selalu ada alasan "Ibu" di balik setiap kebaikan Aris. Ia membiarkan kepalanya bersandar sejenak di bahu Aris saat pria itu menaiki tangga. Ini pertama kalinya Aris membawa Arini masuk ke kamar utama setelah sekian lama mereka tidur terpisah. Aris membaringkan Arini di atas kasur dengan sangat hati-hati, seolah takut istrinya itu akan pecah jika diletakkan terlalu kasar.

​"Istirahat di sini. Jangan mencoba turun tanpa memanggilku," ucap Aris sambil menarik selimut hingga menutupi kaki Arini.

​"Memanggilmu? Tapi Mas harus kerja di ruang bawah, kan?" tanya Arini heran.

​Aris melirik laptopnya yang sudah terpajang di meja rias. "Aku kerja di sini sore ini. Aku tidak mau dengar suara benda jatuh lagi karena kamu mencoba melakukan hal konyol sendirian."

​Arini terpaku. Aris akan bekerja di kamarnya? Keheningan yang menyusul kemudian terasa berbeda. Jika biasanya sepi di antara mereka terasa seperti tembok es, kali ini rasanya seperti kabut tipis yang hangat tapi membingungkan. Arini memperhatikan Aris yang duduk di sofa sudut kamar, fokus pada layar laptop dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Cahaya sore dari jendela menyoroti rahang tegasnya, membuat Aris terlihat sedikit lebih... manusiawi.

​Suara ketikan keyboard menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu. Arini hanya bisa berbaring, menatap langit-langit. Biasanya, kamar ini adalah benteng tempat ia bisa menangis sepuasnya. Sekarang, kehadiran Aris mengubah segalanya.

​Satu jam berlalu, Aris tiba-tiba menutup laptop dan keluar ruangan tanpa pamit. Tak lama kemudian, ia kembali membawa nampan berisi bubur hangat, air putih, dan beberapa butir obat.

​"Makan. Kamu belum masuk nasi dari pagi," ucap Aris singkat. Ia membantu Arini duduk bersandar dengan menumpuk bantal di belakang punggungnya.

​Sentuhan tangan Aris di bahunya membuat Arini merinding halus. "Terima kasih, Mas. Tapi... nggak perlu repot. Aku bisa minta tolong Bi Ijah nanti," bisik Arini sungkan.

​Aris menatapnya tajam, jenis tatapan yang membuat Arini langsung bungkam. "Bi Ijah sedang pulang kampung, kamu lupa? Dan aku tidak suka melihat orang di rumahku menderita hanya karena egonya sendiri. Cepat makan."

​Arini mengambil sendok dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, saat hendak menyuap, nyeri di kakinya berdenyut hebat. Ia meringis, dan tangannya tanpa sengaja menyenggol pinggiran mangkuk hingga sedikit bubur tumpah ke seprai putih itu.

​"Maaf, Mas! Maaf, aku nggak sengaja..." Arini panik. Ia mencoba mengelap tumpahan itu dengan tangannya, takut Aris akan murka karena kasur mahalnya kotor.

​Tapi, Aris hanya menghela napas panjang. Bukan napas marah, melainkan napas pasrah. Ia mengambil tisu, membersihkan sisa tumpahan, lalu mengambil alih sendok dari tangan Arini.

​"Duduk yang tenang," ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut. Aris menyendokkan bubur, meniupnya perlahan, lalu menyodorkannya ke mulut Arini.

​Arini tertegun. Matanya membulat. Pemandangan ini terasa surealis. Aris, pria yang menyebut pernikahan mereka sebagai kegagalan bisnis, kini menyuapinya dengan sabar. Di bawah cahaya lampu yang temaram, wajah Aris tidak sedingin biasanya.

​"Kenapa diam? Buka mulutmu," ujar Aris lagi. Kali ini ia membuang muka sedikit, seolah malu dengan apa yang dia lakukan.

​Arini menerima suapan itu dengan perasaan campur aduk. Hangat bubur itu menjalar hingga ke dadanya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah di balik dinding es yang Aris bangun dengan sangat kokoh itu, sebenarnya ada luka lama yang membuatnya takut untuk menjadi hangat?

​Setelah selesai, Aris membantu Arini minum obat. Ia berdiri sejenak di samping tempat tidur. "Istirahatlah. Aku lanjut kerja di sofa. Kalau butuh apa-apa, panggil. Jangan nekat turun sendiri."

​"Mas..." panggil Arini saat Aris berbalik.

​Aris menoleh. "Apa lagi?"

​"Terima kasih. Untuk semuanya."

​Aris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar—gerakan yang sangat minimalis—lalu kembali ke sofanya. Namun, Arini sempat melihat tangan Aris sedikit kaku saat menyentuh keyboard. Di tengah malam yang mulai larut, Arini menyadari satu hal: terkadang, retakan pada dinding yang paling kokoh sekalipun adalah jalan bagi cahaya untuk masuk.

1
Panda
kak kok kayanya aku pernah baca yaaaaa
Kaka's: baca di mana hayoo... 🤭🤭🤭
total 1 replies
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!